Monday, December 19, 2011

PAPAH

Ada dua malikat dalam hidupku; Ibu, Dan Ayahku, yang kupanggil "Papah"

Papah manusia yang tidak terlalu banyak kata. Papah bukan sosok ayah yang mudah meng-"iya"-kan apa yang anak-anaknya inginkan. Ketika kecil, aku berpikir bahwa Papah tidak pernah mengerti apa yang aku inginkan;
Saat aku menginginkan tas koper bergambar Princes Walt Disney, Papah membelikanku tas punggung bertulisan "MACHO".
Saat aku menginginkan jam tangan Baby-G, Papah membelikanku jam sederhana dengan detik wajah karakter Mr. Smile. Jam yang sangat sederhana jika dibandingkan dengan jam Baby-G yang aku inginkan.
Saat aku menginginkan boneka barbie, Papah membelikanku white teddy bear berhidung merah.

Saat Papah memberikan itu semua, aku marah. Tidak suka dengan kado-kado itu semua


Papah tidak pernah memberikan apa yang benar-benar aku inginkan...

Setelah jarum jam berputar cukup lama dan membawa umurku menginjak dewasa, aku mulai menyadari satu-persatu hadiah pemberian Papah;

Kelas lima SD, buku pelajaranku mulai menumpuk... setiap hari aku harus membawa 5 buku cetak tebal-cukup membuat punggungku sakit. Suatu hari tas punggungku putus. Di hari papah dan ibu sedang dinas ke luar kota dan itu membuat aku kebingungan untuk melaporkab putusnya-tas-sekolah-ku kepada siapa. Kubuka lemari penyimpanan tas,,, kemudian kutemukan tas "MACHO" hadiah dari Papah 4 tahun yang lalu. Tas yang hampir tidak pernah kupakai. Setelah beberapa saat aku memandang tas MACHO--satu-satu tas yang kupunya saat ini--beberapa menit, kuputuskan untuk kupakai besok kesekolah.
Aneh, beban bukuku terasa lebih ringan. Saat itu aku sadar, mungkin benar papah tidak membelikan tas yang bagus seperti tas koper barbie yang aku inginkan, tapi Papah sudahmemilihkan tas yang nyaman untukku

Era jam tangan Baby-G sudah lewat lebih dari tiga tahun yang lalu, dan aku masih mengenakan jam tangan Mr. Smile pemberian Papah. Suatu siang aku menerima lembar ujian matematika; aku dapat angka 4... tidak pakai koma, cuma 4! Aku menunduk. Air mataku berlinang tanpa kuperintah. Lalu ada sebuah senyum berputar-putar di jam tanganku. Aku memperhatikannya tanpa sadar. Dan aku tersenyum. Hatiku berbisik, "Tuhan, seandainya tiga tahun yang lalu Papah membelikanku jam tangan digital Baby-G, apakah detik ini aku akan tersenyum?"


"Dedek lagi bikin apa?" tanya ibu.
"Baju barbie Bu,,, buat dijual ke temen-temen,,, nanti kalau duitnya udah agak banyak, Dedek mau beli barbie ya Bu... tapi kalau duitnya enggak nambah-nambah, Ibu yang nambahin ya" jawabku. Ibu mengangguk sambil tersenyum. Keesokan harinya ibu membeli kain warna-warni, kata ibu kain itu untuk modal bahan baju barbie. Setiap sore aku sibuk membuat baju-baju barbie untuk kemudian dijual. Aku sibuk membuat baju, Papah tenang membaca koran, kami di ruangan yang sama, tidak banyak bicara.

Suatu siang ada dua boneka barbie di atas meja tamu. Boneka barbie yang sangat cantik. Lebih cantik daripada yang dimiliki oleh teman-teman dan tetangga-tetanggaku.

"Ini barbie siapa, Pah?" tanyaku.
"Itu hadiah, buat Mbak Arum dan Dek Anis. Satu-satu ya". titik.


Semakin hari aku menyadari bahwa Papah sangat menyayangi anak-anaknya. Papah memang cenderung diam, tapi bukan berarti Papah tidak mendengar rengekan aku yang meminta ini-itu. Dulu, Papah sering sekali mengucapkan, "buat apa? itukan mahal?" atau "belajar untuk menentukan prioritas kebutuhan, Dek!". Aku selalu melengos kalau Papah sudah mengeluarkan kalimat tadi. Tapi kemudian, beberapa hari kemudian, kalimat Papah berubah menjadi "Dedek benar-benar perlu itu?" dan kemudian aku mendapatkan apa yang kuinginkan, bahkan melebihi dari apa yang kuharapkan.

Aku ingat, dulu ketika SMA aku harus mondar-mandir meminjam kamera untuk membuat tulisan majalah sekolah. Suatu sore Papah dan Ibu bertanya, "memang kameranya buat apa?" lalu aku menjawab sekenanya. Seminggu kemudian, sepulang study tour, kamera digital sudah ada di atas meja ruang tamu. kamera digital yang jauh lebih bagus daripada milik siapapun. Setidaknya itu menurutku.


Aku tahu Papah tidak pernah mengabaikan satupun "rengekan" anak-anaknya yang manja ini. Aku tahu Papah selalu memikirkan kebahagiaan kami--anak-anaknya-- ketiika Papah berkata "Papah selalu berdoa saat tahajud biar kalian mendapatkan yang terbaik, biar kalian bisa sukses! makanya belajar yang benar". Atau ketika Papah memberikan kami secarik kertas berisi doa dan dzikir untuk diberi kemudahan dalam belajar.

Papah... Terimakasih... Terimakasih telah menjadi hadiah terindah di dalam hidup...
Terimakasih telah memilihkan hadiah terbaik untukku...
Terimakasih telah berusaha untuk terus memenuhi apa yang diinginkan anak-anakmu... Terimaksih sudah menjadi ayah yang sangat membanggakan untukku...
Tuhan... izinkan aku menjadi hadiah terindah untuk hidupnya...
Tuhan... izinkan aku memilihkan hadiah terbaik untuknya...
Tuhan... izinkan aku memenuhi keinginannya...
Tuhan... Izinkan aku membanggakannya... Tuhan... Terimakasih sudah memberikan Papah sebagai ayahku.


Anyway,,, sesungguhnya, white teddy bear yang dulu Papah belikan, sekarang masih ada dan wujudnya masih sangat bagus,,, sekarang hak milik sudah beralih, ke OBI, cucu pertama Papah :) Terakhir, Obi memberi nama Dedeh!

Wednesday, December 14, 2011

Al-Hajj

Akhir-akhir ini...

Sering menangis tiba-tiba;

Sering kehilangan kata dalam doa;

Sering merasa sangat lemah.

Saya... saya seperti kehilangan cita-cita.

Di ruang yang melapangkan waktu yang saya miliki, saya duga bahwa Tuhan sedang menguji keimanan saya.

Hingga detik ini, saya akui bahwa mempertahankan iman ataupun sebuah keyakinan akan suatu hal tidaklah mudah.

Di masa ini, saya sedang mencoba untuk mengenal TUhan saya dengan segala sifatnya, dalam agama saya sifat-sifat Allah disebut dengan Asmaul Husna.

Suatu ketika sahabat saya pernah menyampaikan kepada saya, sesungguhnya ketika kita memahami dan mempelajari Asmaul Husna maka tak ada kekhawatiran dalam menjalani hidup. Katanya lagi, mempelajari Asmaul Husna bukan sekedar menghapal, tapi meyakini dan mencamkan dalam hati.

Kemudian saya mencoba untuk (sekedar) mengetahui 99 sifat Allah. Sayangnya--tidak seperti yang teman saya ucapkan--saya sekedar menghapal. Tidak memahami. Tidak mengimani.

Kemudian, suatu malam, saya pikir Tuhan merangkul hati saya untuk membantu saya belajar mengimani keberadaanNya...

Malam itu kondisi kesehatan saya tidak begitu baik. Kondisi hati pun sama tidak baiknya.

Usai solat Isya, saya memanjatkan do'a yang lebih panjang daripada biasanya. Kelemahan saya menjadi pemicu untuk merangkai kata yang jujur kepada Pemilik saya. Tuhan.

"Tuhan... jadikan hambaMu ini menjadi apapun yang Kau inginkan. Tapi Tuhan... izinkan hidup hamba yang sekali ini bisa bermanfaat untuk orang banyak. Hamba tidak ingin menjadi manusia yang sia-sia.

Tuhan... atas kondisi raga yang lemah ini maka jadikan penyakit ini obat untuk menguatkan jiwa hamba untuk belajar tentang sabar.

Tuhan... ketika hamba tidak termasuk 10.000.000 besar umatMu yang taat, apakah Kau masih mau sekedar mendengarkan doa-doa hamba?..."

Doa saya menggantung di pertanyaan itu.

Kemudian, saya mengambil Al-Qur'an yang sudah dua bulan mandek di jus ke 17. Malam ini harus saya tuntaskan Jus 17!

ternyata tinggal dua halaman lagi Jus 17 usai tepatnya di Surat ke 22;Al-Hajj. Saya baca dua halaman itu. Lalu saya baca terjemahannya dengan suara lirih seperti biasa, kemudian...


Mata saya berkaca-kaca.

Bola mata saya berhenti di sebuah kalimat...

Ayat (74-75): Mereka tidak mengenal Allah dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa. Allah memilih utusan-utusan- (Nya) dari malaikat dan dari manusia; sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Dan kemudian tanpa saya perintah, air mata berlinang. Seperti gundah yang membuyar keluar atas diterimanya sebuah kepastian atas sebuah hal yang masih disangsikan "apakah Kau masih mau sekedar mendengarkan doa-doa hamba...?"

Dan Tuhan menjawab


Kemudian saya peluk erat Al-Qur'an yang ada di tangan saya. Sesungguhnya Tuhan sangatlah dekat dengan Hambanya. Kitalah yang membuat jarak kepada Nya.

Sunday, December 11, 2011

CANTIK

Duduk di sudut dengan kondisi (agak) "salah kostum" saya memiringkan kepala untuk mencari spot pandang yang pas.
Di depan, wanita berjilbab memeragakan busana--tampak sangat luar biasa. Badan tinggi, wajah putih mulus, terlihat sangat fashionable, dan tentunya penuh percaya diri.

Saya tersenyum. Terpesona tepatnya.

Dari satu sudut di tengah keriuhan, saya melempar pandang ke kanan dan ke kiri. "Wah... pada cantik-cantik semuaaa" hati saya bergumam. Rok panjang lambai-lambai, make up yang tidak berlebihan, sepatu dengan hak super tinggi (bahkan super tajam) dan masih banyak lagi.

Kemudian saya hilang konsentrasi dan mempertanyakan satu hal: sesederhana inikah yang namanya kecantikan?

Apakah kecantikan hanya bisa didefinisikan tentang apa yang ditangkap mata?

Apakah kecantikan hanya bisa didefinisikan dari apa yang dikenakan seseorang, dari apa yang ditampilkan secara kasat mata?

Saya pikir TIDAK.



Karena tidak satu, dua atau tiga kali saya mengagumi sosok wanita karena keanggunanna bersikap. Dan bagi saya mereka cantik.

Karena tidak satu, dua atau tiga kali saya membanggakan sosok wanita karena kerendahan hatinya dalam berilmu. Dan bagi saya mereka cantik.

Karena tidak satu, dua atau tiga kali saya terpesona dengan sosok wanita karena kemandiriannya. Dan bagi saya mereka cantik.

Karena tidak satu, dua atau tiga kali saya terperangah dengan sosok wanita dengan keberaniannya memilih untuk hidup dengan pikiran yang bebas dan bertanggung jawab. Dan bagi saya mereka cantik.

Karena tidak satu, dua atau tiga kali saya terkesima dengan sosok wanita yang menjaga aqidahnya dalam kesederhanaan senyuman. Dan bagi saya mereka sangat cantik.


Dan kemudian saya mengerti, bahwa cantik bukan sekedar hal yang memanjakan mata. Cantik adalah keindahan baik yang kasat maupun tidak kasat mata. Cantik adalah ketika ada kekaguman yang jujur diakui oleh hati akan sebuah sikap, pola pikir dan perilaku seorang wanita.

Karena cantik sesungguhnya dimiliki oleh semua wanita di dunia. Karena cantik akan terpancar ketika seorang wanita tersenyum tulus dalam menghargai orang-orang disekitarnya serta dirinya sendiri.

Jadi...

Banyak cara untuk menjadi wanita cantik kaaan!! :D

Saturday, December 3, 2011

Lagu untuk Ibu

Saat mendengarkan lagu ini dan mendengarkan liriknya, entah kenapa ingat Ibu.

Saya jarang atau hampir tidak pernah bilang " dedek sayang sama ibu " - yang mungkin selama ini ibu saya tunggu.

Tapi,,, atas alasan pembenar yang saya bikin-bikin; bahwa hati saya dan ibu sebenarnya satu; sebuah rasa berbentuk doa dengan perantara Tuhan, saya harap ibu tahu bahwa saya sangat menyayangi ibu...






Ibu itu malaikat.

Ibu itu selimut.

Ibu itu harapan.

Ibu itu cinta.

Ibu itu cahaya.

Ibu itu ruang yang penuh kasih sayang.

Ibu itu lautan yang penuh impian.

Ibu itu guru yang mengajarkan keikhlasan.

Ibu itu warna dalam hitam.

Ibu itu kehidupan.

Ibu itu ...

Ibu itu malaikat yang siap menyelimuti dan memberi kehangatan akan sebuah harapan yang penuh cinta--seperti cahaya, Ibu adalah pelita di hidup saya.


Annisa Rahmah

AOP do you really love me(cerita cinta)



Saya percaya bahwa Cinta tidaklah sederhana.



Seperti saat kita harus memilih untuk mencintai atau dicintai...

Sunday, November 27, 2011

Saat Dicintai Diam-diam




Seperti dua kapal yang berpapasan sewaktu badai, kita telah bersilang jalan satu sama lain, tapi kita tidak membuat sinyal, kita tidak mengucapkan sepatah kata pun, kita tidak punya apa pun untuk dikatakan.
-Oscar Wilde-


Mungkin ini tulisan pertama saya tentang... sebut saja romantisme sebuah rasa yang sering kita namai dengan "KASMARAN".

Selama saya hidup, jelas ada beberapa lelaki yang pernah singgah di hati. Saya mengingat mereka, karena saya pernah memiliki sebuah rasa kasmaran karena mereka. Tapi,, suatu saat ada seorang teman lama--laki-laki--yang tiba-tiba muncul lewat chatt-fb yang bercerita suatu hal di saat itu yang sungguh membuat saya merasa... sebut saja, tersanjung.

Saya jarang; merasa tabu bila harus menulis tentang kisah percintaan yang pernah saya alami. Kenapa? karena setelah saya menceritakan kepada beberapa orang, mereka pasti menganggap kalau itu adalah cerita jenaka! bukan cerita cinta. Apa daya. sigh.

Baiklah, kembali kepada si kawan lama yang berhasil menyanjung saya. Sebut saja nama dia Soni. Jelas bukan nama sebenarnya.

Soni adalah sosok laki-laki kecil, rentan dan lemah saat itu. Mejanya tepat di depan meja saya. Karena postur tubuh yang kecil, dia cukup sering jadi korban keisengan anak-anak cowok yang nakal di kelas. Salah satu anak ternakal di angkatan saya saat itu mari kita namai dengan Bongal (Bocah Bengal).

Entah racun apa yang tertelan oleh Bongal, tapi sungguh hidupnya Bongal benar-benar meresahkan saya. Badan Bongal yang besar, pencicilan membuat Bongal dinobatkan sebagai anak ternakal urutan kedua di sekolah saya. Saya cukup sering berantem dengan si Bengal. Selalu ada alasan untuk berantem dengan bocah yang satu ini. Dia boleh menindas teman-teman yang lain, tapi jangan coba-coba menindas gue!! itu yang selalu saya camkan.

Dan Yak!! entah racun apa lagi yang dia telan, si Bengal mengaku jatuh cinta kepada saya. *langsung jedotin kepala*

Jelas saya memasang sikap "MENOLAK" . Tidak perlu pake cara halus. Langsung to the point: ENAK AJA! KAYA GUE GA WARAS JADIAN MA LO!! PERGI SONO! yup kurang lebih itulah jawaban saya ke Bengal.

Bengal tidak patah arang. Dia mengeluarkan manuver-manuver pendekatan YANG-SUMPAH-NGE-BETE-IN-ABIS!!
Bengal mengeluarkan semacam ultimatum kepada teman-teman cowok di kelas untuk tidak berbicara kepada saya. Tidak ada yang boleh "mengganggu" saya--padahal kelakuan dialah yang paling ngeganggu saya!!

Dan itu berimbas ke Soni, si kecil yang rentan nan lugu yang ditakdirkan duduk di depan meja saya. Saya masih ingat ucap Soni saat saya mengajak ngobrol dia di kelas tentang pelajaran, Soni cuma menjawab;

"Sa,, Bongal ngeliatin gue... please lo jangan ngobrol ma gue, nanti gue pasti dipukul ma BOngal pas istirahat"

Saat itu saya menoleh ke belakang, dan benar si bocah setan itu lagi melototin Soni.

Manuver pendekatan Bongal semakin menjadi-jadi!! suatu hari, siang bolong, panas terik, saat saya berjalan kaki menuju rumah sepulang sekolah, tiba-tiba perasaan saya SANGAT TIDAK ENAK. saya hanya membatin: ah... mungkin ada anjing di belokan itu kaya kemarin, jadi mungkin hari ini harus lebih hati-hati.Semakin melangkah, semakin hati tidak enak.

Dan semakin tidak enak saat saya menuju belokan komplek rumah dan melihat segerombolan laki-laki yang di pimpin oleh sosok yang tidak diragukan lagi ke-bengalannya!! SI BONGAAALL!! seketika mata Bongal menangkap kehadiran saya di ujung belokan dan tiba-tiba dia berteriaak kurang lebih seperti ini:

"ANNISSAAAA AAAIII LOOOVVVEEE YOOOUUUU!!" dan dilanjutkan dengan joget-joget India!! What the aaarrrggghhh!! tanpa ba-bi-bu, da-di-du, saya ngacir dengan kecepatan kuda tenaga hena ke arah berlawanan. Dan terus berdoa dalam hati... TUHAAAN... LINDUNGI AKU DARI SEGEROMBOLAN SETAN TERKUTUK!!

sampai akhirnya saya ketemu Soni lagi duduk di pinggir jalan komplek. Spontan saya berhenti mendadak, menarik Soni, dan kembali lari menuju tempat aman untuk bersembunyi.

Soni : Nisa gue mau diapain?!!
Saya : Sinting tuh si Bongal Son!! aseeellliii Gila gue rasa!!
Soni : Ya,,, tergila-gila sama lo kali Sa,,, hahahaha...
Saya : *noyor Soni* yeee ni bocah! jangan ikut2an deh yaa...
Soni : Terus kenapa lo narik gue?
Saya : Soniiii...!! lo harusnya makasih sama gue!! kalau gerombolan gila itu ngeliat lo, lo bisa habis jadi pelampiasan mereka!!
Soni : *diam dan menunduk* emang tadi lo di kejar ma Bongal?
Saya : Parah!! iya Soniii!!
Soni : Dia beneran suka ma lo kali Sa...
Saya : lo jangan ikut-ikutan deh Son! paling bentar lagi dia bosen ma gue, terus nyari anak cewek lain buat jadi incarannya!! hahahhaa
Soni : *menunduk sambil tersenyum tipis*
Saya : Soni... sorry ya,,, gara-gara gue sering maksa lo ngobrol ma gue di kelas, lo jadi sering diisengin... sorry ya Son...
Soni : Ga papa Sa.. udah nasib gue kali yang badannya kecil gini ditindas...
Saya : Soniiii!! makanya olahraga biar keker kaya ade ray!! ahahhaa

dan percakapan terus berlanjut dengan tawa menunggu keadaan aman terkendali.

Benar dugaan saya. selang beberapa minggu kemudian, Bongal bosan dengan saya dan beralih ke siswi lain. Semenjak itu saya bisa pulang ke rumah dengan aman dan tentram. Selain karena bebas hama gangguan Bongal, ternyata rumah Soni di belakang komplek perumahan saya. Jadi hampir setiap hari saya pulang bareng Soni dan teman-teman lainnya. Karena Soni kecil, sebenarnya saya juga sering menindas dia,,, tapi ya Soninya juga mau-mau aja... heee...

Sepuluh tahun sudah dari masa itu. Sampai akhirnya jendela chatt facebook saya terbuka dengan nama yang tidak saya kenal.

"Hey Nis... apa kabar?"
"Baik" --> sambil kepo buka profil and cari foto terjelas dan mencari tahu siapa sebenarnya si orang yang menyapa saya. Karena saya yakin "friends" di facebook saya adalah orang yang saya kanal atau paling tidak memiliki banyak mutual friend dengan saya. lama mengamati foto, saya yakin kalau saya tidak kenal lelaki ini.

"Gimana kuliah lo?"

="alhamdulillah... eh sorry,,, ini siapa ya? habis nama facebook lo enggak gue kenal"

"Masa lo ga kenal gue Sa? liat info doong"

dih.. pede banget ni cowok? ngapain juga gue begitu semangat ngepoin elo?

"Gue Soni Sa!! kacung lo dulu!!"


="Soni... Soni... ??? (sambil buka profil dan lebih memperhatikan foto dan wajah)"
="OOOOOO MAAAAAAIIII GGGOOOOTTTT SSSOOOOONNNIIIII!!!! sumpaaaaah lo beda banget sekaraaaang!! kenapa jadi gede bangeeet badan lo sekarang???"

"hahaha ya iyalah Sa,, masa mau kecil terus!! entar ditindas terus lagi ma lo!!"

dan percakapan kita terus berlanjut seputar kehidupan sepuluh tahun yang lalu. Sampai akhirnya...

"Kalau lulus mau kerja atau langsung nikah?"

=" Yee!! belagu lo Son! mentang-mentang lo in relationship gue single, mau mamer lo ye ma gue?!! toyor dulu laah!!"

"Hhahahaha lo masih demen ya toyor gue!! masa sih lo single? jual mahal bangeeet lo!"

="embeeerrr gue mahal!! hihihiii"

"Iya... iya... lo emang mahal, ampe Bongal tergila-gila ma lo!"

="Siaul lo ye... hahaha... kocak ya kalau inget-inget masa culun kita!!"

"Iya Sa... seandainya dulu badan gue segeda kaya sekarang, gue enggak bakal takut sama Bongal yang gangguin lo terus... gue enggak perlu tiap hari pulang lewat semak-semak"

="Lhaaa,,, apa hubungannya lo pulang lewat semak-semak Son! emang lo pernah dijahilin sama Bongal di semak-semak??!! seriiiuusss??!!"

"Enggak sih Sa... maksud gue, kalau dulu gue ga penakut karena badan gue kecil, gue bisa suka sama lo sesuka hati gue"

="mmmmm..... maksud you apa yaaa.... m.... "

"Lo enggak sadar apa kalau tiap hari gue pulang lewat depan rumah lo?"

="Dih! lha emang rumah lo di belakang komplek gue kan?"

"-___- jadi selama itu lo beneran ga sadar ya...? mana ada rumah di belakang komplek lo Sa! kan belakangnya lapangan golf... masa iya rumah gue di tengah lapangan golf -__-"

=" Eiyaaa yaa...!! ahhahaa!! baru sadar gue!! lha terus kenapa lo waktu itu bilang rumah lo di belakang komplek gue... tiap hari lo juga lewat rumah gue!!"

"Karena gue berharap bisa liat lo Sa..."

=" mmmmm.... serius -__- percayaaaaa deh... guee... "

"Serius Gue Sa! Dulu gue suka banget sama lo... tapi... geu siapa sih... kacungnya anak-anak, selalu dijahilin, lemah... sedangkan lo, lo pinter, lucu, baik, disukain Bongal lagi... *(ehem.. Soni lhoo yang bilang)* yaa.. mana berani gue nunjukin perasaan gue... lagian lo juga sering nindas gue Sa! hahahaa"

sejenak saya diam membaca kalimat di atas. saya tersenyum. sungguh, saya tersanjung.



=' Lo serius Son? gue tersanjung lho ini... :D"

"Iya Sa... :} beneran... makanya gue ikhlas ditindas sama lo... walau lo kadang judes, tapi lo ga pelit ngajarin gue kalau gue enggak ngerti pelajaran... makasih ya Sa..."

="Aaaa,,, Sooonnniiiii... toyor dulu deeeh.... :'D Maaf ya.. kalau geu nindas lo... huhuhuuhuu.. habis muka lo wajah pribumi yang minta di jajah sih!! hahahaa"

Dan pembicaraan kami terus berlanjut. Sampai akhirnya kami mengakhiri percakapan digital itu. Dan sungguh saya tersenyum, tersanjung sangat dalam. Saya merenung... selama ini saya selalu merasa kalau Tuhan cukup Iseng mengahadirkan lelaki-lelaki yang cukup aneh yang menyatakan cinta kepada saya... apa sosok seperti saya hanya disukai laki-laki aneh? sebaaaaalll!! Waktu kuliah apalagi!! saya cuma jadi bulan-bulanan keisengan teman-teman laki-laki saya... kekesalan saya kebahagiaan bagi mereka!! EEeeerrrRrrRRR...

Tapi...

Pengakuan Soni saat ini membuat saya berpikir... selama sepuluh tahun ini saya tidak pernah sadar pernah disukai dengan seseorang yang cukup tulus seperti Soni. Walau kondisinya sudah berubah, sangat berubah, tapi saya senang... senaaaang sekali

Hal yang ingin saya bagikan dari kisah ini adalah:

Terkadang kita merasa bahwa kita sosok yang tidak terlalu spesial untuk dikagumi. Terkadang kita mengacuhkan hal-hal kecil dan mengabaikan sebuah kesederhanaan yang hadir di hari-hari kita. Tanpa kita sadari di balik sebuah kesederhanaan, dangat mungkin kita menemukan hal besar yang menunjukan betapa istimewanya Tuhan menciptakan kita.


Wednesday, November 23, 2011

Saatnya... "menikmati"-- (saja)

Aku menggambarkan kehidupan itu layaknya sebuah buku. Lembar demi lembar.

Kehidupanku seperti buku. Tersegmentasi ke dalam bab demi bab kehidupan--bab demi bab meunju pendewasaan.

Aku rasa begitu.

---




Aku termangu. Sejenak kubiarkan khayalku menggebu dan bertanya: Bagaimana akhir cerita hidupku?
Sudah cukup banyak cerita dan lembaran yang ku mainkan. Tapi tak pernah ku tahu benang merah apa yang akan kujalani sebagai pertanggungjawaban nyawa yang tertanam di jasadku. Aku diciptakan untuk menjadi apa, siapa dan untuk apa--aku tidak tahu.

---

Kalian tahu, jujur dalam hati yang terdalam saya merindukan rasa letih. Saya merindukan saat-saat saya menepuk-nepuk pundak saya atau saat di mana saya harus merebahkan dengan helaan nafas panjang di atas kasur saya. Saya rindu untuk menjadi orang sibuk. Saya rindu untuk melakukan sesuatu yang lebih banyak daripada apa yang dilakukan oleh orang-orang di sekitar saya.

Kemudian saya tertunduk malu. Satu atau dua tahun yang lalu, tidak pernah saya bayangkan akan menuliskan ini. Satu atau dua tahun yang lalu, hidup saya penuh dengan keluhan "Tuhaaaan... saya lelah..." atau penuh dengan air mata yang menangisi waktu-waktu yang berlalu dengan begitu penuh dengan kegiatan. Yang saya tahu, saya hanya mengeluh, tanpa saya sadari sesungguhnya saya menikmatinya.

dan mungkin... kemudian... saat ini TUhan menjawab saya,,,

Dengan segala kesenggangan waktu yang saya miliki,,, saya (justru) sekarat.

Saya rindu bertemu banyak orang, bertukar pendapat, beradu argumen, dan menyiapkan sesuatu untuk diciptakan.

Dan apakah saya pantas untuk kembali mengeluh "Tuhan.. beri saya kesibukan" ??

Kemudian saya menyadari satu hal, bahwa kehidupan itu memang berputar. Adakalanya kita di atas, adakalanya kita di bawah. Adakalanya kita sibuk dengan segala rutinitas, dan adakalanya kita memang tidak harus melakukan apa-apa.

Kebahagiaan itu akan datang dnegan satu kunci: Syukuri saja semua kondisi yang kamu miliki saat ini.

Syukuri. Nikmati.

Berhentilah mengeluh lelah karena kesibukan, karena mungkin suatu saat kamu akan merindukan kesibukan itu. Seperti saya.

Berhenti mengeluh saat kamu merasa di titik terendah, karena itu bertanda kamu akan menaiki puncak berikutnya dalam hidupmu.

Selama kamu melakukan yang terbaik, Tuhan selalu punya rencana yang indah untuk umatNya. Dia yang paling tahu apa yang terbaik untuk kita... Dia yang paling mengerti kapan waktu yang tepat untuk memberikan sesuatu kedalam hidup kita.

Seperti bumi yang berputar; membagi malam dan siang dengan adil, begitu lah Tuhan bercerita untuk kehidupan manusia.

Thursday, November 17, 2011

HAMPA




Semakin lama semakin hampa.
Kata demi kata minggat ke luar kepala.

Semakin hampa,
karena rasa membaur tanpa makna


Aku bisa apa ketika kata demi kata minggat dari kepala karena aku kehilangan banyak rasa.
Rasa yang biasanya berloncat-loncat, yang kemudian didefinisikan oleh kata yang liar menjalar dalam sebuah tulisan--kini selesai.

Tak ada rasa yang singgah. Kosong lah hati menyisakan gundah.

Rasa yang tersisa hanya memerlukan satu kata, tak perlu banyak, karena semakin rasa ini dijelaskan hanya semakin dalam kegelapan sepi ini.

Rasa yang ingin ku usir dalam benak dan kepala. Tapi aku tak ingin kehilangan banyak kata lagi!! Biarlah kali ini kurasa 'rasa' itu, agar aku masih memiliki kata, walau itu adalah HAMPA.

Friday, November 11, 2011

APA YANG DIINGINKAN SETIAP MANUSIA DI USIA SENJA?



Saya diberitahu oleh sahabat saya. Dia khawatir melihat kondisi saya setelah tahu penyakit ini. Dia bilang, “Mungkin memang benar penyakit ini diberika Tuhan untuk kamu, dan Dia berhak untuk menentukan jalan hidup kamu. Semua terserah Tuhan… dan tugas kita berserah… berserah, bukan terserah…”
-seorang Bapak, yang belum sempat saya tanyakan siapa namanya-


Pagi itu di stasiun Gambir pukul 07.45 WIB, saya menunggu kedatangan kereta saya yang dijadwalkan tiba pukul 08.45. Di awali dengan sebuah sapaan biasa. Lalu membagi cerita yang luarbiasa
B : Selamat pagi, apa bangku ini kosong?
S: Silahkan Pak 
B: Mbaknya menunggu kereta kemana?
S: Yogyakarta. Taksaka Pak. Bapak?
B: Oh, saya menunggu kereta ke Bandung. Mbaknya asli Jogja?
S: Ah,, saya bingung jawabnya apa Pak… saya sempat 4 tahun di Jakarta, tapi semenjak kuliah saya menetap di Jogja. Kesini karena ada panggilan kerja Pak. Bapak sendiri asli sini?
B: Tidak. Rumah saya di Bandung. Saya habis jenguk istri, istri saya kerja di sini jadi saya harus pulang-pergi Jakarta-Bandung.
S: Oh… Istri bapak kerja di Jakarta, Bapak kerja di Bandung? *dengan sok tahunya*
B: Ah,,, enggak Mbak… saya pengangguran, tidak bekerja .
S: *Aduuuuhhh nisaaa… salah nanya kan lo…* *cengar-cengir dan tersenyum*
B: Dulu saya bekerja, tapi semenjak saya sakit, saya dilarang bekerja oleh dokter…
S: *menanyakan penyakit bukan suatu ide yang bagus, jadi saya sempet bingung mau merespon apa. Dan akhirnya, lagi-lagi sok tahu....* aaaah… mungkin memang sudah saatnya bapak istirahat, menikmati waktu-waktu saat ini bersama anak dan cucu Pak… 
B: Saya tidak punya anak Mbak…
S: *(0.o) heeh?!! Aduuuh saya salah lagi nanyanya!! Rasanya pengen lompat ke rel kereta!* ah… gitu ya Pak… ahahahaa… *tertawa maksa*
B: Iya,,, saya pengangguran dan tidak punya anak. Jadi dari hari senin sampai kamis saya bujangan, jumat sampai minggu waktu saya untuk nyonya (nyonya=istri)
S: Oh.. begitu… hehehe… *dua kali salah nanya, saya lebih berhati-hati*
B: Mbaknya lulusan mana? UGM?
S: Iya Pak… hehee…
B: Jurusan Apa?
S: Hukum Pak…

Lalu perbincangan kami terus berlanjut dengan tanya-jawab seputar keluarga. Saya menjawab seperlunya, tapi tidak dengan si Bapak. Terkadang saya berpikir apa yang ia sampaikan terlalu pribadi untuk dibagi kepada orang asing yang baru ia kenal beberapa menit di stasiun seperti saya.

B: Kenapa tidak lanjut s2? Ayah kamu mampu tho membiayakan kamu?
S: Hehe… Tapi saya ingin bekerja dulu Pak. Kalaupun nanti saya diberi kesempatan untuk lanjut s2, saya ingin membiayai nya sediri Pak. Hehehe…
B: Yah… apapun jalan pikiran kamu, mungkin itu yang terbaik buat hidup kamu, walau saya pikir akan lebih baik kamu melanjutkan S2 dibanding bekerja. Tapi… terkadang, sesuatu yang menurut orang lain suatu kesempatan emas, bagi kita malah tampak biasa-biasa saja buat kita kan? Mungkin di sisi lain banyak temanmu yang ingin melanjutkan S2 tapi terhalang biaya dan terpaksa bekerja, tapi kamu malah sebaliknya… tapi itu pilihan kamu, teruskan saja. *si Bapak tersenyum*
S: *mengangguk-angguk* hehehe… iya Pak, mohon doanya biar tes ini saya bisa lulus.
B: Yah *sambil mengangguk-angguk* kalau nanti kamu lolos, bekerjalah dengan sungguh-sungguh, karena ini jalan yang kamu pilih. Tapi kalau belum lolos jangan putus asa dan minder. Tuhan sudah punya garisan untuk setiap rezeki manusia. Terus mencoba dan berdoa pokoknya!

S: hahaha… iya Pak…
B: Kalau nanti diterima, berarti siap-siap jauh sama pacar ya… kaya Bapak dan nyonya *si bapak tertawa*
S: Aaa,,, itu… saya belum punya pa..ca..ar.. paa..k.. hehehe…
B: OYA?! Kamu yakin?! Seleksi ketat ya tampaknya…
S; Aaa,,,aaa,,, bukan seleksi ketat Pak.. tapi emang blm ada yang diseleksi… *miris*
B: Kenapa?
S: Kenapa apa Pak?
B: Apa yang salah?
S: Haaa? Apa yang salah gimana Pak? Emangnya kalau enggak punya pacar suatu kesalahan ya Pak? *tertekan*
B: HAHAHAHAA… dengarkan ini ya… hidup, mati, jodoh, itu sudah ada yang atur! Tidak ada yang salah degan kondisi kamu saat ini! Percaya saja Tuhan sedang mempersiapkan yang terbaik untuk kamu, asal kamu yakin!!
S: *senyum sumringah* amiiin Pak.. hehehe…

Lalu perbincangan kami melanglang buana kesana-kemari… tapi di setiap sesi tanya-jawab ini si Bapak selalu memancing saya untuk bertanya tentang penyakitnya..

S: Maaf Bapak, kalau boleh saya tahu, bapak sedang sakit apa?
B: hmm… ada infeksi di pancreas saya. saya tidak ingat istilah kedokterannya. Saya harus menjalani oprasi tujuh kali agar infeksinya tidak menyebar hahhaa…
S: *Bingung harus merespon seperti apa* *kenapa bapaknya malah ketawaa???*
B: Penyakit yang datang tiba-tiba… karena penyakit ini saya harus berhenti bekerja dan membiarkan istri saya yang bekerja… yah… tapi itu sudah digariskan oleh Tuhan, saya bisa apa. Hem… Ada hal yang ingin saya beritahu kamu, inipun saya tahu dari teman saya. Ceritanya dia khawatir melihat kondisi saya setelah tahu penyakit ini. Dia bilang, “Mungkin memang benar penyakit ini diberika Tuhan untuk kamu, dan Dia berhak untuk menentukan jalan hidup kamu. Semua terserah Tuhan… dan tugas kita berserah… berserah, bukan terserah…”
S: Hmm…
B: Beberapa tahun yang lalu, saya sering berlibur ke Jogja bersama istri saya. kami wisata kuliner, memburu novel-novel bekas yang berbahasa Inggris,, setiap minggu. *sambil tersenyum dengan mata menatap sendu ke depan*
Saya hanya bisa tersenyum dan menyediakan telinga dan perhatian kepada bapak tersebut. Mungkin memang itu yang dia perlukan saat ini—didengar.
B: Tapi itulah hidup. Berputar. Dan selalu ada tempat bagi yang cukup pintar untuk tetap menikmati segala kondisi dengan bersyukur.
S: Iya Pak…


Tak lama kereta saya datang. Saatnya berpamitan dengan sosok di sebelah saya yang bahkan saya tidak tahu siapa namanya.
Di dalam kereta, sembari memperhatikan semua objek yang bergerak tertinggal di luar jendela, saya berpikir:
Apa yang diharapkan seorang manusia di usia senjanya? Duduk di teras rumah memandangi kebun bunga kecil perkarangannya, menyeduh the dan berbagi cerita dengan pasangan senjanya. Menunggu kedatangan anak-anaknya yang beranjak dewasa; memandang senyuman cucu-cucu yang tertawa, menangis ataupun menari lincah. Iya, hal-hal sederhana yang luar biasa seperti itulah yang diharapkan setiap manusia di usia senjanya. Tapi, bagaimana dengan Bapak tadi… bahkan dia tidak memiliki kesempatan untuk memimpikan itu semua. Pasangan yang selalu ada di sampingnya, anak-anak, apalagi gelak ceria polos cucu dan keturunan lainnya. Di usia senja ia harus bertarung dengan penyakit pangkreasnya. Jauh dari istri tercinta. Dan tidak memiliki anak untuk berbagi sakit yang mungkin ia rasa”





Sepersekian menit pikiran saya kosong. Menghela nafas panjang berkali-kali, memikirkan kesepian yang mungkin dirasakan si Bapak. Kemudian saya tersenyum , dan kembali mennghela nafas,,,

“Tuhan, inikah caraMu bercerita kepada ku? Aku berpikir untuk memahami seberapa kuat manusia yang kutemui tadi. Mungkin dalam hidupnya tak ada kesempatan untuk memimpikan kesederhanaan harapan di masa tua, tapi selalu ada kesempatan baginya untuk bahagia menikmati hidupnya… bersyukur. Dia tersenyum mungkin dalam sedih dan lemah yang ia miliki Tuhan, tapi Kau kuatkan dengan iman yang kuat dan rasa syukur yang besar di hatinya. Dan dia pasti menjadi salah satu manusia yang bahagia dengan kesederhanaan Mu ini. Kesederhana manusia tua, kesederhanaan dalam bentuk lain. Iya Tuhan. Dia bahagia.”

Monday, October 31, 2011

Adele - Lovesong

KOREA

Jigeum mannareo gamnida (I'm Going to Meet Her Now) 지금 만나러 갑니다 - Kim Bum


Friday, October 14, 2011

Meraba Kata "CINTA"




Tulisan ini saya dedikasikan untuk dua sahabat saya yang sangat ingin namanya disebut di dalam blog saya : Tutut Dwi Putranti a.k.a Tutuy; dan Fitria Noer Azizah a.k.a Ciro. Atas pertemuan yang aneh sore ini, atas kebimbangan yang hadir dalam mengartikan 'cinta' yang terlalu dirumitkan.


Aku tidak mempunyai kata yang bisa melayangkan sebuah makna akan sebuah kata yang kau tanya...
Aku tidak mempunyai cukup waktu untuk membagi rasa atas sebuah perasaan yang kau rasa...
Aku tidak mempunyai cukup keyakinan bahwa aku akan mendefinisikan satu kata "rasa" itu dengan tepat

Tapi aku cukup mempunyai keyakinan bahwa aku memilikinya.


dan akan kuusahakan agar jariku meraba kata untuk mejelaskan apa itu CINTA.



Pernahkah kau menyadari bahwa di dunia ini ada sepasang malaikat yang sangat mencintai mu. Malaikat yang selalu tersenyum ketika melihat mu tersenyum bahagia, dan menangis saat kau merenung dalam kesedihan?
Saat kau lahir di dunia, maka tanpa ia bertanya tentang apa yang akan kau berikan kelak kepadanya, ia mengasihimu dengan tulus cintanya.

Mereka berusaha sekuat tenaga memenuhi apa yang kau butuhkan,
Mereka berusaha sekuat tenaga untuk meletakan kebanggan di atas hidupmu dengan penuh keyakinan,
Mereka berusaha sekuat tenaga (bahkan) untuk menyamankan mu dengan dirimu sendiri untuk melahirkan kepercayaan.

Mereka begitu bukan karena suatu tujuan...

Mereka begitu karena suatu alasan...

dan alasan itu CINTA.


Rentang waktu yang berjalan, kau akan menemukan sosok lain yang berjalan beriringan dengan diri mu...
sosok yang membagi mimpi dan sedihnya kepada mu...
sosok yang menepuk pundak mu untuk menguatkan kala ragu mengganggu

Sosok itu kau sebut dengan sahabat.

Mereka akan berjalan menemani mu,
merangkul saat kakimu terasa goyah akan lelah,
dan menarik lengan mu saat langkah mu bimbang dan kepercayaan terbelah.

Mereka menemani mu dalam suka dan duka...
Mereka membagi tawa dan canda,,,

Kau dan sosok itu akan saling mengajarkan CINTA.



Kemudian, kau akan menemukan seseorang yang tersenyum hanya untuk dirimu
Seseorang yang hanya diciptakan SATU untuk menemani sisa hidupmu

Dia yang telah diajarkan CINTA oleh malaikatnya untuk mencintaimu

Dia yang telah mengenal CINTA untuk ia kenalkan pada dirimu.

Dia yang telah diciptakan dengan CINTA-Nya untuk memeberimu cinta.

Lalu ketika pada akhir perabaan kata ini kau bertanya; lantas apa itu Cinta?

Mungkin aku hanya bisa menjawab; Cinta adalah rasa tanpa ragu untuk saling melindungi, menyayangi, mengasihi tanpa tujuan, namun dengan satu alasan yang pasti: CINTA.


*Note: Cinta bukan mainan yang bisa dijadikan untuk pelarian sepi. Cinta itu tentang memahami. Cinta itu tentang berbagi. Cinta itu tentang saling mempercayai. Cinta itu selayaknya sejati; tanpa pamrih; dan tak terbagi.

Thursday, October 13, 2011

Priscilla Ahn - Dream



I was a little girl alone in my little world who dreamed of a little home for me.
I played pretend between the trees, and fed my houseguests bark and leaves, and laughed in my pretty bed of green.

I had a dream
That I could fly from the highest swing.
I had a dream.

Long walks in the dark through woods grown behind the park, I asked God who I'm supposed to be.
The stars smiled down on me, God answered in silent reverie. I said a prayer and fell asleep.

I had a dream
That I could fly from the highest tree.
I had a dream.

Now I'm old and feeling grey. I don't know what's left to say about this life I'm willing to leave.
I lived it full and I lived it well, there's many tales I've lived to tell. I'm ready now, I'm ready now, I'm ready now to fly from the highest wing.

I had a dream

Monday, October 10, 2011

VISUALISASI MIMPI

Manusia berencana, Tuhanlah yang menentukan.
Semacam petuah, atau mungkin sebuah hukum yang harus kita pahami.


Sebuah nasihat yang membantu kita menghapus kecewa ketika kita dititik "gagal".

Malam ini saya mengingat-ingat kembali apa yang telah Tuhan tentukan atas hidup saya-- hidup yang tak pernah saya rencanakan dengan baik.

Teman-teman dekat saya paham tentang ini; tentang saya yang tidak pernah terlalu memiliki ambisi akan suatu hal apapun. Saya yang terlalu pasrah. Saya yang terlalu mengikuti apa keputusan Tuhan nantinya.

Tapi tidak untuk saat ini. Kedewasaan dan menuanya umurlah yang mengaharuskan saya untuk mulai merencanakan apa yang saya ingin wujudkan, dapatkan dan rasakan di kehidupan saya mendatang. Saya, dan kalian semua tentunya, sudah seharusnya memiliki mimpi dengan alur yang jelas agar Tuhan tahu apa yang sebenarnya kita butuhkan.

saat menulis ini, umur saya telah 22 Tahun 2 Bulan 5 Hari. Dan saya mempunyai mimpi yang ingin saya bagi:



Keinginan saya yang terbesar saat kuliah di Fakultas Hukum UGM adalah memiliki buku sendiri... saya selalu berharap akan ada penerbit yang mau berbaik hati untuk membukukan blog saya,,, tapi ternyata penerbit itu tak kunjung datang,,,

Tapi,,, tidak ada penerbit bukan berarti saya enggak bisa punya buku sendiri kan?! akhirnya saya membukukan catatan mata kuliah konsentrasi saya,,, saya cetak covernya sendiri,,, dan walaupun diterbitkan sendiri,,, tapi udah banyak tuh yang minjem dan fotocopy,,,
Walau belum bisa nerbitin buku sendri, tapi tulisan kita bisa bermanfaat buat orang lain, kebahagiaannya sama kok!!

Hei... pada akhirnya doa saya didengar,,,!! walau bukan buku sendiri, tapi saya diberi kesempatan oleh kampus untuk menyusun buku sejarah 65 Tahun Fakultas HUkum UGM... Yes!! That's my first book... BANGGA!! HAhahaha

Semoga suatu sata nanti tulisan saya bisa bermanfaat untuk lebih banyak orang lagi! AMin.





Suatu saat nanti,,, secepatnya,,, saya ingin logo di atas terpampang di baju-baju yang dikenakan orang banyak. Menyenangkan bisa bermafaat bagi orang banyak,,, untuk itu, saat ini saya dengan modal "mari mencoba" memberanikan diri untuk membuat online butik CUSTOMIZE [ silahkan klik link annisa-amorfia.blogspot.com ] yang memungkinkan semua orang untuk memesan baju impian mereka. Satu setengah bulan sudah bisnis ini berjalan. Kebanyakan memesan karena memiliki ukuran badan yang sulit mencari ukuran baju yang pas. Ada yang memiliki badan terlalu kecil, ada yang terlalu besar,,, dan syukurlah saya dan partner kerja saya [@gitragitra ,twitter.] sudah menghasilkan hampir dua puluh pesanan. :)
Bahagia banget kalau konsumen bilang "Wow,, bajunya pas banget di aku"

Sudah seharusnya semua orang bisa merasa nyaman dengan dirinya kan? tanpa harus terbentur dengan ukuran tubuh...



Mimpi saya yang lainnya; secepatnya ketika bisnis ini berkembang dan maju saya ingin memiliki website yang memungkinkan wanita--siapapun--dapat saling berbagi tentang apa saja yang membuat para wanita menjadi nyaman dengan dirinya. Tentang fashion, sosial, kehidupan sehari-hari, apapun itu,,, Karena saya wanita, saya tahu wanita sangat suka berbagi, apapun itu bahkan gossip sekalipun ;p





Saya selalu percaya, dengan memvisualisasikan mimpi kita, maka mimpi kita akan semakin cepat tesampaikan kepada Alam semesta. Saya suka menggambar, menghayal dan tentunya menulis. Jadi mungkin tulisan inilah yang menyatukan segala apa yang benar-benar saya inginkan melalui apa yang benar-benar saya sukai--menggambar, menghayal dan menulis.

Teman,, saat mimpi kita belum tercapai dalam sebuah usaha dan doa yang maksimal, bukan berarti Tuhan tidak mendengarkan doa dan harapan kita. Hanya saja Tuhan sedang mengajarkan kita bagaimana kita bisa terus bermimpi dalam segala cara yang bisa kita lakukan. Contohnya saya; saya lulus bulan Mei dan sampai sekarang belum dapet kerjaan... awalnya saya pikir semua perjuangan saya kuliah dengan nilai yang saya perjuangkan mati2an sia-sia... Mimpi saya untuk berpenghasilan 6.800.000/bulan tidak kesampaian... [note: angka 6,8 juta didapat begitu saja,,, hehehe...]



Tapi hey!! coba coba balik pemikiran saya... Tuhan belum memberikan pekerjaan "kantoran" kepada saya, tapi Tuhan memberikan banyak waktu luang bagi saya untuk mengerjakan mimpi saya yang lainnya. Membuat Online Butik. Dan pada akhirnya saya dan Kakak angkatan saya merintis online butik impian kita... online butik yang membantu mewujudkan baju impian pemesannya... sungguh mulia bukaaan? :D hahahaa

Tapi dari itu semua... Hal yang paling ingin saya wujudkan segera dan selamanya dalam hidup saya adalah membahagiakan dan membanggakan kedua malaikat yang ada dalam hidup saya.

Ibu dan Papah.


Siapapun yang membaca ini, tolong amini ya...

tertanda,

Annisa Rahmah



*semoga Tuhan juga membaca ini.

Tuesday, October 4, 2011

Dia yang Sendiri dan Memaki




Saya tahu sedikit tentang dirinya. Tentang hidupnya yang jauh berbeda dengan hidup yang saya jalani. Hidup saya yang penuh dengan manusia-manusia yang tersenyum. Hidup yang menyediakan bahu-bahu kuat ketika jiwa saya rapuh. Hidup yang hangat bahkan ketika saya menyendiri memilih sepi. Hidup yang penuh mimpi, harapan dan cinta yang terus tercukupi.
Tapi tidak dengan hidupnya.

Saya manusia yang mempercayai bahwa dengan berbagi kita akan tercukupi. Saya manusia yang mempercayai bahwa hidup adalah sebuah rencana indah yang lebih hebat dari sebuah mimpi. Bagi saya, hidup adalah tentang bagaimana kita bisa “menghidupi” orang lain. Cinta adalah bagaimana kita bisa mencintai orang lain. Harapan adalah ketika kita bisa mengisi harapan di kehidupan orang lain. Manusia yang bisa memanusiakan orang lain. Saya ingin berguna. Itu saja.

Seorang guru berpetuah kepada saya di waktu silam yang tak bisa saya jamah lagi dengan ingatan; sedikit dan sekecil apapun ilmu yang kamu punya, ketika kamu membagikannya maka kau menjadi manusia yang besar. Lagi, seorang sahabat saya bernasihat: Enggak perlu nunggu sukses ketika niat lo untuk berbagi Sa. Dengan apa yang lo punya saat ini, sebenarnya lo sangat bisa untuk berbagi. Dari kalimat-kalimat yang berbentuk ucap itulah saya menyadari bahwa hidup akan berarti ketika kita mau berbagi.

Suatu malam, ada setumpuk pemikiran yang ingin saya bagikan. Tentang kesetiaan. Kesetiaan seperti meloncat-locat di kepala saya minta untuk dijabarkan. Tak heran, ini efek dari sebuah tayangan televisi yang sedikit banyak mengenalkan pada diri saya tentang makna kesetiaan. Berkicaulan saya di sebuah media social. Saya tuliskan satu persatu pemahaman yang saya dapati tentang ketulusan. Bukan untuk menguliahi dan mengatakan saya yang paling mengerti tentang ketulusan, tapi tentang bagaimana saya membentuk sebuah pemahaman yang tidak pernah saya batasi untuk dikoreksi.

Dia yang sendiri dan memaki. Entah iri atau benci ia mulai memaki. Sudahlah, hati saya membatin. Dia hanya manusia sepi yang sendiri. Manusia yang selalu menempatkan hidupnya sebagai manusia yang tersakiti. Dia terlalu egois untuk menerima kenyataan bahwa tidak hanya dia yang memiliki kehidupan yang tidak terlalu indah. Banyak di luar sana! Bahkan banyak yang lebih tidak beruntung di luar sana bila dibandingkan dengan kehidupannya. Tapi dia terlalu nyaman dengan kehidupan sedih yang ia bangun sendiri. Ia terlalu nyaman dengan segala tuduhan-tuduhan ketidakadilan Tuhan terhadap hidupnya.

Dia. Dia adalah salah satu orang yang hadir untuk menceritakan kisah hidup yang tidak terlalu membahagiakan. Dia adalah salah satu orang yang mengucapkan iri atas kehidupan saya yang menurutnya hampir sempurna. Dia cukup membuat saya paham bahwa Tuhan menulis takdir manusia tidak sekedar hitam-putih, sedih-bahagia, atau salah-benar. Untuk saya sendiri, selalu ada kekaguman yang hadir dalam hati saya ketika mendengar kisahnya. Kisah tentang sebuah kehilangan, keterasingan dan kesepian. Saya ingin hadir untuk menjadi seseorang yang mengatakan kepadanya: Tuhan memberikan itu semua untuk membuktikan kepada semua orang bahwa kamu manusia yang kuat dan hebat!! Dan telah saya ucapkan itu kepadanya.

Namun dia menjawab: Tidak.

Saya diam ketika dia menjawab, Tidak.

Tidak, saya tidak perlu menjadi orang yang hebat ataupun kuat untuk tidak merasakan semua kesedihan ini. Ini bukan tentang saya, ini tentang Tuhan saya yang melupakan saya. lalu untuk apa saya mengingatNya. Saya tidak perlu menjadi hebat kalau pada akhirnya saya harus merasakan kehilangan atas orang yang sangat saya cintai dalam hidup saya. Saya tidak perlu menjadi kuat ketika pada akhirnya saya harus merasakan bagaimana sakitnya diasingkan.
Di mata saya kamu hebat, karena kamu mempunya kehidupan yang nyaris sempurna. Ini bukan tentang saya, ini benar-benar tentang Tuhan yang melupakan saya. jelasnya.

Awalnya saya mencoba memahami tentang rasa “dilupakan Tuhan” seperti apa yang ia ungkapkan. Tapi setiap waktu dan kesempatan yang saya miliki, saya mencoba mengatakan bahwa Tuhan tidak pernah melupakan dia, keluarganya ataupun siapapun. Ini bukan tentang Tuhan yang melupakan, tapi ini tentang Tuhan dan rencanaNya. Ia tidak pernah mau mengerti.

Setiap saat dia selalu menyalahkan Tuhan. Setiap sedikit sepi, ia besarkan dengan segala sepi yang ia akumulasikan sendiri. Setiap rintangan kecil langsung ia merasa kerdil. Dan selalu saya ingatkan, itu bukan cara yang cukup bijak dalam menjalani kehidupan. Tapi dia memilih untuk terus menyalahkan.

Bisakah saya mengatakan “muak”?
Sampai kapan ia menyalahkan Tuhan saat ada cobaan dan kemudian melupakan saat ia mendapat kesenangan? Sampai kapan ia memilih untuk menjadi manusia pencibir dan merasa bahwa dialah satu-satunya penderita di dunia ini?
Saya tidak tahu teori ini benar-benar mutlak terjadi atau tidak dalam kehidupan, tapi saya percaya bahwa dunia adalah tentang apa yang ada di dalam pikiran kita. Hai kawan, cobalah mengerti itu.
Sampai kapan kau menyangsikan akan keadilan Tuhan ketika kau tidak cukup bijak mendefinisikan keadilan itu? Sampai kapan kau merasa yang tersakiti dan merasa teraniaya dengan (yang sesungguhnya) pikiran sendiri?

Ayolah,,, mari sama-sama untuk mulai bersahabat dengan kehidupan. Perjuangkan apa yang kita inginkan dan syukuri apapun yang akhirnya kita dapatkan. Tidak ada perjuangan yang sia-sia. Begitu juga dengan perjuangannya dalam melawan kesendirian, kehilangan dan keterasingan. Jangan sampai kata “picik” benar-benar tersemat dalam dirimu. Tuhan itu Maha Adil. Setidaknya itu yang ku yakini dari dulu hingga saat ini. Dan mungkin itulah yang membuat hidupku tampak nyaris sempurna di matanya.

Thursday, September 29, 2011

Saturday, September 24, 2011

Selalu Tersenyum Dengan Tingkahnya yang SEDERHANA


Tak Terjawab; Sepi Memilih Diam



Aku memejamkan mata. mencoba melihat hidup seperti apa yang ku inginkan di masa depan.

Sepi, aku ingin bercerita.

Maka tetaplah kau diam mencipta keheningan untuk mendengarkan.

Sepi, mengapa kau memilih sunyi untuk terus bersama mu?

ini kah yang namanya setia?

Kau sengaja memilih sunyi agar dia tidak bercerita betapa sedih kau merasa sendiri?

Mencari Tuhan [yang tampaknya] Terlupakan



Aku berada dalam penerawangan mimpiku,
Ada cahaya, namun tetap tidak kulihat titik yang jelas kemana aku harus melangkah.

Semakin aku memberanikan untuk melangkah dan melawan diam, ternyata, semakin bimbang.

Tuhan.

Aku meraba dinding lorong untuk mencari Tuhan.

Semakin gelap, semakin bimbang, aku tak yakin apakah cahaya ini menuntun ku ke suatu tempat yang benar.

Aku mencari Tuhan.

"Tuhan Kau di mana?"

Siapa lagi yang harus ku percaya ketika aku tidak percaya (bahkan) kepada diriku sendiri...

Aku kehilangan waktu,

dan aku kehilangan Tuhan,,,

Apa sebaiknya aku hanya diam. Duduk. Menunggu Tuhan?

Aku dalam penerawangan mimpiku.

Tuhan... sambut aku,,,

Beri aku kekuatan hingga aku menemukan Mu dan kembali percaya pada keyakinanku.

Keyakinanku dalam penerawangan mimpi ini; bahwa ini rencanaMu... dan Kau akan selalu ada didekat ku.

Dalam terang.


Dalam Gelap.

Menghapus bimbangku.

Aku ingin membuat samar ini menjadi nyata.

Friday, September 16, 2011

Uji Coba Cotton shawl...

Tuhan dan Dunia 140 Huruf


Sebuah kicauan @annisarahmah

Apakah di sana, entah di mana, Tuhan mempunyai akun twitter?

Apakah suatu saat nanti, entah kapan, Tuhan akan me-reply, atau sekedar me-retwitt doa-doa atau cacian yang tertulis dalam setiap update-an status twitter?


Saya, katakan saja, cukup beruntung hidup di jaman di mana orang-orang sangat terbuka untuk mempublikasi hal-hal kecil dari kehidupannya secara cuma-cuma. Cukup beruntung bagi saya untuk dapat belajar, setidaknya memahami kesederhanaan kehidupan. Kehidupan sederhana yang sering dirumitkan oleh pemikiran manusia itu sendiri.
Dunia yang mengijinkan manusia menceritakan hidupnya dengan sederhana.
Hanya dengan 140 karater huruf.

Twitter.

Apakah Tuhan memiliki akun twitter? Apakah kerumitan akan kepercayaan beberapa insan terhadap keberadaan Tuhan bisa terjawab dengan sederhana ketika Tuhan memiliki akun twitter. Sempat saya berpikir, mengapa tidak Tuhan turunkan saja wahyu-wahyuNya melalui status twitter. Agar tidak ada lagi manusia-manusia yang mengakui titisan nabi. Agar tidak ada lagi manusia yang mengkultuskan dirinya sendiri. Agar tidak ada lagi manusia yang menyatakan kesempurnaannya akan sebuah kebenaran yang sesungguhnya tidak benar sama sekali. Mungkinkah?

Apakah bumi semakin sepi? Ketika manusia, termasuk saya, memilih untuk berbagi dalam dunia semu, berkicau dalam rangkaian huruf untuk menghujam waktu daripada bertatap muka dan berkisah cerita seru. Apakah kesendirian saat ini menjadi terlalu kuat untuk mengikat kebebasan manusia untuk berbagi dan menciptakan kebersamaan yang nyata? Waktu untuk sekedar berbicara sudah tidak relevan di zaman ini ternyata. Bekerja dan hidup untuk diri sendiri.

Berlebihankah ketika saya menggambarkan twitter itu semacam ruang pelarian bagi mereka yang sendiri namun ingin tetap “merasa” dalam keramaian. sebuah dunia yang memungkinkan saya bisa melihat siapa saja yang cukup berani berterus terang untuk menyamakan dunia mayanya dengan dunia nyata yang mereka miliki. Bagi saya, twitter adalah sebuah kerumuan; seperti pasar. Di mana ketika saya membuka nya selalu saja membuat saya sadar; betapa hebat Tuhan menciptakan kehidupan manusia yang luar biasa beragam dalam sebuah pikiran yang sama sekali tak seragam pula.
Harapan selalu datang dipagi hari, begitu juga di dunia semu ini. Harapan dan doa akan berserakan berderet di timeline twitter. Ada yang meminta kemudahan kepada Tuhannya, ada yang lebih memilih meminta kekuatan. Siapa yang paling benar tidaklah penting. Apapun yang di minta setidaknya mesinyalkan bahwa mereka masih sadar memiliki Tuhan untuk dipinta.

Mereka berubah hanya dalam hitungan jari satuan jam. Mereka yang meminta menjadi sangat pintar untuk menyalahkan apapun yang bisa mereka salahkan; Panas, hujan, kesibukan bahkan kebosanan akan keluangan waktu! Tak ada kondisi yang pantas dinikmati sepertinya. Tak ada lagi puji untuk Tuhan yang mereka ploroti di pagi hari.
Malam yang menyudahi siang ternyata tak menyudahi galau. Masih saja manusia tidak kehabisan bahan menyalahkan keadaan. Beberapa cupid gila sepertinya lepas berkeliaran di malam hari menembakan sesuka hati panah asmara mereka. menghamburkan semua rasa yang tertata menjadi kusut tak karuan. Kini bukan alam sebagai kambing hitam. Tapi cinta. Ada yang merasa dikhianati, ada yang merasa terlalu dicintai, adanya yang merasa terlalu sepi dan ada yang memilih untuk membenci diri sendiri. Kemudian, lagi, Tuhan yang dicari.

140 huruf; mereka merangkai kata, rasa dan do’a.

Setidaknya dunia kicauan ini lebih jujur: Kita bisa me-retwitt sesuka kita atas 140 huruf yang kita suka dan setujui. Kita bisa mengomentari sesuka hati kita walau tidak ada yang meminta untuk berkomentar. Kita bisa me-follow sosok yang kita sukai sesuka hati. Kita bisa mem-block akun siapapun yang tidak kita inginkan dengan kebebasan yang penuh. Sederhana. Dunia 140 huruf yang luar biasa. Bebas. Dan saya belum menemukan batasnya.

Ada ruang saling berbagi di dunia ini. Saling mencintai. Saling menasihati. Dan saling menggurui.

Di mana Tuhan dalam dunia 140 huruf ini?
Adakah dari milyaran akun twitter, satu menjadi milikNya? Atau setidaknya dioprasikan oleh malaikat sebagai adminnya?


Ada sebuah kepercayaan dalam diri pribadi bahwa Tuhan membaca semua kata yang tersusun dari 140 huruf itu. Dari pagi hingga berganti hari. Dengan atau tanpa akun twitter atas nama @TUHAN , @ALLAHSWT, @YESUS, @BUDHA atauapun sesuatu yang “MAHA”, dunia 140 huruf ini tidak lebih nyata dari dunia yang kita miliki.

*Tuhan dan Dunia 140 Huruf sudah tidak dipermasalahkan lagi.

Sunday, August 21, 2011

Sebuah "Seandainya saja"


Seandainya saja kita bisa lebih jujur dengan perasaan cinta kita, lebih jujur dengan apa yang sebenarnya kita rasakan.

Seandainya saja kita bisa meyakinkan diri sendiri bahwa sesungguhnya ucapan dan penilaian orang lain atas hidup kita hanyalah "sebuah penilaian", bukan sebuah penilaian yang mutlak akan kebenarannya.

Seandainya saja kita tidak terlalu picik untuk terus mengejar sebuah idealita yang sesungguhnya hanya menjadi angan dalam kehidupan nyata.


Semua "seandainya saja" ini adalah nasihat untuk diri saya sendiri; atau mungkin kalian yang merasakan kesesakan serupa atas penantian harapan yang terlalu sempurna.

Saya bercermin dari seorang teman. Saya mengamati hari ini. Saya menganalnya cukup baik. Dan saya tahu saat ini ia sedang tidak baik...
Sejak kemarin, status Facebooknya terus-menerus ia update. Dari statusnya, ia ingin mengatakan bahwa saya bahagia, saya beruntung, saya dicintai dan mencintai, dan sayang ingin semua orang tahu bahwa saya bahagia. Komen-komen teman positif. Mereka turut bahagia atas kebahagiaan "status" facebooknya itu. Tapi tidak untuk saya; status itu adalah sebuah kesedihan atas kesepian yang ia rasakan karena teracuhkan oleh seseorang yang ia sayangi. Dia mencoba untuk mengatakan saya tidak apa-apa; nyatanya, dia merana.

Bolehkah saya mengulang "seandainya saja" yang saya punya sebagai nasihat kepada diri sendiri...?

Seandainya saja kita bisa lebih jujur dengan perasaan cinta kita, lebih jujur dengan apa yang sebenarnya kita rasakan.

Seandainya saja kita bisa meyakinkan diri sendiri bahwa sesungguhnya ucapan dan penilaian orang lain atas hidup kita hanyalah "sebuah penilaian", bukan sebuah penilaian yang mutlak akan kebenarannya.

Seandainya saja kita tidak terlalu picik untuk terus mengejar sebuah idealita yang sesungguhnya hanya menjadi angan dalam kehidupan nyata.



Dengarlah ucapa-ucapan mereka sebatas ucapan yang tidak akan membuat kepercayaan mu kandas.

Dengarlah hatimu dan tangkaplah bahasa waktu yang sudah memberi mu cukup bukti mana yang benar dan yang salah.

Kau tidak sendiri.

Kau terberkahi oleh dia yang kau cintai (dan akupun yakin) mencintai mu setulus hati...


Wednesday, July 6, 2011

Hurricane Season Trailer

Sebuah film yang HARUS anda tonton... tentang mimpi, hasrat, perbuatan, dan sebuah kemenangan



Saya berharap siapapun yang menonton film ini akan mendapatkan keyakinan dan kekuatan yang sama seperti yang saya rasakan. Semoga rekomendasi saya atas film ini bermanfaat.

Monday, July 4, 2011

Lima Vidio Klip dan Lirik Indonesia Terbaik Pilihan Gue ;p

NAIF Karena Kamu Cuma Satu (Official Music Video)



Sherina " Cinta Pertama dan Terakhir



Sania- ibunda




Nikita Willy - Lebih dari Indah



RAN Ft Shila - Tunjukkan Cintamu

Sunday, July 3, 2011

Apa Kabar Kawan?





menjelang 22 tahun. Lalu membalik semua kejadian yang pernah dilewati.

Orang-orang yang pernah singgah dengan senyuman, para sahabat yang berbagi waktu untuk tumbuh bersama. Kucing-kucing yang pernah menjadi penghibur ketika sunyi tidak bisa diucapkan lewat bahasa manusia. Ah... benar-benar saya ingin memastikan bahwa 'mereka' tetap ada dalam ingatan saya. Ingin memastikan bahwa mereka tetap terekam bersama kejadian-kejadian yang akan menyenangkan untuk diceritakan suatu saat nanti.

Apa kabar sahabat? belasan tahun berlalu, sekarang kalian di mana? bagaimana kabar kalian? sungguh sangat ingin menegur kalian satu persatu dan berbagi cerita dan waktu seperti dulu. Semoga kalian membaca tulisan ini...
Semoga kesempatan mengizinkan kita untuk bersua atau sekedar menyapa, syukur bila kita dapat berbagi rasa.

semoga.

1994-1995. TK Tunas Harapan Dumai Riau

Hal yang masih saya ingat di masa ini hanyalah suasana TK dengan halaman yang luas. Sangkar burung yang besar. Kalkun bersebaran di taman sekolah. Ayunan. Kuda-kuda kayu di lorong sekolah. terowongan di tengah taman. kecebong :)
Teman yang saya ingat: Rama. Cindi. Andika. Ikhsan. Bu Mira.
ternyata tidak banyak yang saya ingat :(

1995-1998 SD 03 YKPP Dumai Riau

sekolah yang cukup besar yang pernah saya masuki. setiap tingkatan kelas terdiri dari empat kelas : A, B, C dan D. di kelas dua sempat saya salah masuk kelas karena ada nama Annisa Rahma (without 'h') nama saya seharusnya Annisa Rahmah. Yang saa seharusnya masuk kelas A, karena mencari kelas dari belakang jadi saya masuk di kelas 2C dan Annisa Rahma yg tidak masuk saat itu ditukar di kelas 2A. Berterimakasih sekali saya dengan si Annisa Rahma yang mau bertukar tempat dengan saya. Karena di Kelas 2A saya bertemu dengan Bu Aan (Ibu Siahaan), wali kelas yang paling semangat mengajarkan murid2nya bernyanyi. Sosok guru yang penuh gelak tawa dan keceriaan. Kegemaran yang sering dan selalu saya ingat saat duduk di kelas 2 adalah emmandang pohon kelapa yang tertiup angin. Entah kenapa, kegiatan itu selalu berhasil mebuat saya tenang :)

Hal yang paling saya ingat disekolah ini adalah pelajaran arab melayu, dengan buku panduan-PAYUNG. Saya juga ingat masa-masa hapalan matematika tentang perkalian 1 sampai 100.

Selalu ingat pulang sekolah dengan bersepeda, melalui danau dan taman kota. Masjid yang deket sekolah kalau tidak salah masjid Muhajirin. Masjid yang cukup luas dan besar. Hhhh.... kapan ya bisa ke dumai lagi... kangeeeen


1998-2001 SD 045 Balikpapan

Kelas Tiga caturwulan 2. Dari sekolah swasta dengan fasilitas serba ada, menuju sekolah negeri kecil tengah perkampungan penduduk. Dari yang satu tingkat yang terbagi 4 kelas, kini hanya satu kelas. Bisa ditebak, dari kelas 3 sampai kelas 6, temannya ya itu-itu saja.

Masa awal yang tidak mungkin saya lupa: berantem sama doli sampai dibawa ke ruangan bu Barnitje a.k.a kepala sekolah. Berantem sama Guin (kalau yg ini saya yg salah dan keterlaluan, untungnya udah sempet baikan) Kenal sosok Asih yang mengaku punya 7 pembantu, dan macam manusia lain dengan segala bentuk rupa.

Bu Martha. Guru cantik yang sabar yang selalu bisa jadi teladan anak muridnya. Bu Ning, Guru tegas yang berhasil membuat SD kami menang SKJ berkali-kali; kangen dengan latihan sore.

Sepertinya di sini saya mulai belajar arti sahabat. Belajar untuk saling mendukung dan tetap bersama dalam segala perbedaan. TIMI TIO, nama yang terdengar bodoh, terdiri dari saya, Reni, Priska, Ulfa, Tinu, Eti.

Selalu kangen dan mengingat suara ombak, bau angin laut dan pasir pantai belakang brimob. Main Auo, main jembatan goyang, kejebur di kolam comberan... aaaa.... kangeeeen!!


2001-2003 SMP Negeri 07 Balikpapan
sosok yang paling saya ingat adalah Pak Sumarwoko. Satu-satunya guru yang membuat saya sangaaaat suka dengan matematika. Guru yang selalu membuat saya semangat mengerjakan soal-soal matematika dan yang membuat saya pernah mendapatkan nilai ulangan matematika 90 dan 100. Jauh berbeda dengan saat ini dan masa SMA. hhffhh...

Pak Suwarno, guru Bahasa Indonesia yang bercerita tentang TENGGELAMNYA KAPAL VAN DER WIJK (semoga penulisannya tidak salah)karangan HAMKA.

Teman-teman terdekat: Ika, Adita, Ayunita, Puji, Erik, Kusuma. udah nih gengnya nyontek bareng *hehehe

2003-2004 SMP Negeri 252 Jakarta Timur
Mendapat sahabat yang luar biasa menguatkan saya. Fauziah, Maya dan Alm. Imas. Selalu ingat bel listrik buatan kita. Selalu ingat sesi curhat di kamar gue. Selalu ingat saat dikejar seseorang di rumah maya... hahahaha... dan akan selalu ingat dengan panggilan "mah" dari kalian... I'm so missing you...

2004-2007 SMAN Negeri 12 Jakarta Timur
Di sini segudang cerita hadir. Yeah That's true, Senior high school time is unforgatable time in your life!! Mulai dari Vermes, OSIS, LIRA, Sweater Veliciomatic, Pensi, awawawaaaww... kenal banyak orang luar biasa,,, yang selalu hadir untuk menguatkan: Audi, Yudith, Gista, Andaru, temen-temen OSIS, Mentoring (obe, tika, ismiyati, nyunyung a.k.a nungki). Di sini mimpi yang lebih nyata mulai di susun dan diceritakan...


Teman-teman... bertahun-tahun tidak bertatap muka dan bertanya kabar, bagaimana hidup kalian? bagaimana eksekusi mimpi-mimpi kemarin? Bagaimana cerita hidup kalian sekarang? menyenangkan? atau kurang menyenangkan?

Apapun kondisi kalian, jangan pernah lupa dengan mimpi-mimpi yang pernah kita bagi...

mimpi kalian untuk menjadi dokter, menjadi pengusaha, menjadi bintang film bahkan. Sayapun selalu tersenyum ketika saya membuka buku tahunan SMA. Dengan kesotoyan tingkat tinggi saya menulis: Nanti reuni di Moncibi Hotel--hotel gue. Tapi semoga kalian aminkan. Teman-teman, saat ini saya sedang mengejar mimpi saya untuk bsa punya brand baju sendiri...





bagaimana caranya? tidak tahu. Tapi saya ingin sekali kelak orang-orang memakai baju dengan brand nama saya. Sekarang saya hanya bisa menyusun mimpi, berusaha dan memanjatkan doa. Tolong diaminkan ya teman-teman.

Kalian juga... saya doakan apapun yang kalian lakukan saat ini adalah sesuatu yang memang kalian inginkan untuk dikerjakan. Sesuatu yang membuat kalian bahagia. Sesuatu yang selalu menyemangatkan jiwa kalian... sukses selalu.

Sampai bertemu di masa depan.

Semoga cerita yang membanggakan yang kita ceritakan di saat itu. Amin






Annisa Rahmah, SH

Sunday, June 19, 2011

Allah tidak pernah bohong :)



Cerita ini sederhana, tapi mungkin akan merubah jalan pikiran kalian.

Cerita ini base on true story, pengalaman sahabat baik saya. Cerita yang semakin membuat dia dan saya tentunya percaya bahwa kami hanyalah manusia.


Tahun 2009

Di kamar tidur saya, kami berempat (bersama eka dan cita)saling melepas rindu dan cerita setelah kurang lebih dua tahun kita berpisah. Inilah alasan kenapa perempuan suka sekali menghabiskan waktu dengan mengobrol dan berkumpul. Karena saat kami berkumpul, saat nya kami belajar dan saling bertukar pengalaman. Dan di sini cerita Audi dimulai (dengan beberapa penyesuaian krn saya agak lupa kata per kata yang diucapkan oleh Audi)...


***


Lo tau ga, gimana gue sedih dan kecewa ketika gue ga bisa dapetin universitas negeri. Dua kakak gue, dua-duanya kedokteran universitas swasta yang biaya kuliahnya kalian tau sendirilah seperti apa... Awalnya gue kecewa dan marah sama Allah; kenapa sih ya Allah, padahal saya sudah berusaha sekuat tenaga, berdoa juga, tapi kenapa Kau tidak izinkan hamba meringankan keluarga hamba untuk mendapatkan universitas kedokteran negeri....

Sampai akhirnya di semester dua ini, nyokap gue nelepon gue; "Di... tahun ini adek mu masuk kuliah, kalau nanti kamu cuti dulu enggak apa-apa ya..." Yah kalian pasti tau kan maksudnya apa... mana sanggup gue jawab "enggak", gue ngertilah gimana kondisi keuangan keluarga gue.

Saat itu, gue bener-bener dalam kondisi terpuruk seterpuruknya. udah jauh dari keluarga, dan gue udah mikir apa gue bisa ngelanjutin kuliah kedokteran gue. Saat itu gue solat, sedikit menggugat Allah, kenapa cobaan ga berhenti-henti menimpa gue. Dalam doa gue, gue mohon pertolongan buat keluarga gue, dan mohon segera ditunjukan kebaikan dari semua ini, karena saat itu gue masih sangat yakin, disetiap kesulitan pasti ada kemudahan.

Akhirnya gue jalan keluar asrama mencari udara segar, dan menemukan sebuah poster mengenai lomba karya ilmiah bidang kedokteran. Iseng-iseng, gue catat informasinya dan saya mulai menyusun karya ilmiah, siapa tahu ini menjadi jalan ikhtiar gue untuk keluar dari masalah keuangan keluarga gue.

Lo tau gue bukan siswa yang terlalu pinter, tapi enggak tahu kenapa ada semangat dalam diri gue untuk menyelesaikan karya ilmiah. Saat itu gue coba berbaik sangka kepada Allah, siapa tahu di mata Allah, usaha gue masih kurang...

Selain usaha, gue juga persering solat malam dan duha... setiap gue gelisah, gue coba untuk membaca Al-Qur'an... gue yakin ada rencana Allah di balik ini semua..

Singkat cerita. Karya ilmiah gue masuk final. Dan gue mahasiswi satu-satunya yang berasal dari universitas swasta... Dekan gue datang saat itu dan sia bertanya kenapa gue enggak bilang ke pihak fakultas kalau mengikuti acara lomba ini. Alhamdulillah setelah gue jelaskan alasan gue juga tentang kesulitan keuangan keluarga gue, beliau memaklumi dan kata beliau, beliau bangga dengan pencapaian ini.

Nisa, Eka, Cita... Lo tahu apa yang gue dapet setelah itu... beberapa menit kemudian pak dekan menghampiri gue, lalu bilang ke gue : Audi... tadi Pak Rektor nelepon saya, dia bangga dan berterimakasih kepada kamu... sebagai hadiah,, kamu berhak mendapatkan beasiswa universitas, artinya kamu bebas biaya kuliah sampai kamu lulus Di...

Dan saat itu juga gue nangis... tangan gue bergetar dan secepat mungkin gue melakukan sujud syukur... Pertolongan Allah itu memang datang lewat jalan yang tidak terduga!!

SEmenjak saat itu gue yakin... Allah enggak pernah meninggalkan gue. Memang cuma Allah tempat sebaik-baiknya kita meminta Sa, Ka, cIT...

Dan kalian harus tau cerita gue tentang keajaiban "Bismillah". (Saya, Cita dan Eka semakin memasang telinga)

Waktu itu..., Audi mulai bercerita, Gue lagi mau menghadapi musim ujian... So, kita diizinan pulang beberapa hari buat nyiapin diri. Pulang ke rumah, gue ga bisa belajar sama sekali... kenapa, karena saat itu nyokap gue sakit... dua kakak gue lagi koas, adek gue 22nya sekolah, cuma gue yang bisa ngejaga dan ngerawat nyokap... bahan kuliah sama sekali belum tersentuh. Mau mulai belajar juga enggak pernah masuk. Alhamdulillah, satu hari sebelum balik ke asrama, nyokap gue sembuh, jadi gue agak tenang untuk ngikut ujian. Tapi tetep aja gue belum belajar....

Beberapa jam sebelum ujian dimulai, gue putar otak... bagaimana caranya gue cari perhatian ke Allah, daripada cari perhatian ke orang kan Sa? (gue mengangguk). Gue coba solat malam, sebelum ujian di mulai gue solat Duha,,, habis solat Duha gue mulai membaca slide kuliah... sedangkan teman-teman yang lain sudah belajar dari buku refrensi lain...

belum sempat slide gue selesaiin,,, Waktu ujian sudah datang. Waktu gue baca soalnya, gue udah enggak bisa panik... gue PASRAAH Sa, Ka, Cit!! Tangan gue sempet gemetar nulis jawaban. Mata Kuliah itu mata kuliah sakral yang banyak orang ngulang 2 atau sampai 4 kali...

Pasrah, bukan berarti nyerah... gue sudah berusaha dan gue akan berusaha sekuat tenaga untuk menyelesaikan ujian ini, Lo tau usaha apa yang gue lakuin? (kami bertiga menggeleng masih dengan wajah terhipnotis). Setiap gue memulai menjawab dari nomor satu ke nomor yang lainnya... gue enggak pernah lupa bilang "bismillahirahmanirrahim", itu terus gue lakuin sampai kertas ujian gue terisi semua.

Sa... Eka... Cita... setelah nilai keluar, ternyata Nilai gue adalah nilai 3 tertinggi di angkatan gue!! Subhanallaaaahhh...

Lagi-lagi gue sadar bahwa Allah itu Maha Berkehendak... setelah itu banyak sih suara sinis tentang gue... mereka bilang gue pura-pura bilang enggak belajar biar dikira belum siap... padahal Demi Allah kesempatan gue belajar cuma satu hari sebelum ujian dan sehabis Duha... semuanya datang berkat pertolongan Allah...

Tapi... satu waktu gue mendapatkan semua jawaban atas keanehan dan kejanggalan gue ini... Bahwa:

Mengenai wajib seorang anak berbakti kepada orang tua, Allah berfirman di dalam surat Al-Isra’ ayat 23-24.


“Arti : Dan Rabb-mu telah memerintahkan kpd manusia janganlah ia beribadah melainkan ha kpdNya dan hendaklah beruntuk baik kpd kedua orang tua dgn sebaik-baiknya. Dan jika salah satu dari kedua atau kedua-dua telah berusia lanjut disisimu maka janganlah katakan kpd kedua ‘ah’ dan janganlah kamu membentak keduanya” [Al-Isra : 23]

“Arti : Dan katakanlah kpd kedua perkataan yg mulia dan rendahkanlah dirimu terhadap kedua dgn penuh kasih sayg. Dan katakanlah, “Wahai Rabb-ku saygilah kedua sebagaimana kedua menyaygiku di waktu kecil” [Al-Isra : 24]

“Arti : Dan sembahlah Allah dan janganlah menyekutukanNya dgn sesuatu, dan beruntuk baiklah kpd kedua ibu bapak, kpd kaum kerabat kpd anak-anak yatim kpd orang-orang miskin, kpd tetangga yg dekat, tetangga yg jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya, sesungguh Allah tdk menyukai orang-orang yg sombong dan membanggakan dirinya” [An-Nisa : 36]

“Arti : Dan Kami perintahkan kpd manusia agar berperilaku baik kpd orang tuanya, ibu telah mengandung dalam keadaan lemah yg bertambah lemah dan menyapih dalam dua tahun, bersyukurlah kalian kpd-Ku dan kpd kedua orang tuamu. Ha kpd-Ku lah kalian kembali” [Luqman : 14]

“Arti : Dan jika kedua memaksamu mempersekutukan sesuatu dgn Aku yg tdk ada pengetahuanmu tentang Aku maka janganlah kamu mengikuti kedua dan pergaulilah kedua di dunia dgn cara yg baik dan ikuti jalan orang-orang yg kembali kpd-Ku kemudian ha kpd-Ku lah kembalimu maka Aku kabarkan kpdmu apa yg kamu kerjakan” [Luqman : 15]


Yang intinya:

Allah berjanji akan memuliakan umatNya yang memuliakan kedua orangtuaNya, Sesungguhnya Allah pasti menepati janjinya. SEbaik-baiknya tempat meminta adalah Allah SWT. Ingat dan pahami itu Kawan! :)


PS: Audi selalu jadi sahabat, saudara yang selalu menginspirasi hidup saya

Friday, June 17, 2011

Kekuatan Terkadang Hadir Dari Sebuah Kekurangan




Tulisan ini sudah lama ingin saya publishkan di blog saya, kenapa, karena saya tidak ingin isi dari tulisan ini hilang dari kehidupan saya. Ini penting. Sangat berharga. Untuk saya pahami dan pelajari, serta untuk saya bagi.

Selamat menikmati...

Menemukan buletin MAHKAMAH (Buletin bulanan Fakultas Hukum UGM)edisi kedua di masa jabatan saya dan teman-teman angkatan saya. Saya tersenyum memandang buletin yang bercover wajah manusia ternakal (dalam arti sebenarnya) angkatan 2007 FH UGM. Saya membolak balik-balik dan menemukan banyak coretan kesalahan ketik atau penggunaan istilah dalam tata bahasa yang saya gunakan dalam tulisan. Kempampuan saya sebagai editor memang masih sangat harus diasah dan dikembangkan. Sampai akhirnya saya menemukan sebuah tulisan dalam rubrik "POTRET", saya menmbaca lagi kalimat demi kalimatnya... dan saya tersenyum...
dalam hati saya berucap: Banyak orang harus membaca tulisan ini!


SEBUAH KEYAKINAN YANG MENGUATKAN
(Di saat manusia menjadi kuat karena sesuatu yang tidak ia miliki)




“Ahmat, S.H” inilah panggilan seorang muda Sumatra yang memiliki nama lengkap Ahmat Fauri, S.H. Ahmat terlahir sebagai anak ketujuh dari tujuh bersaudara, enam kakaknya sudah terlebih dahulu meninggal dunia. Sosok kelahiran tahun 1983, Serdang, Bedagai Sumatra ini sedang dalam proses menamatkan studinya sebagai mahasiswa Magister Fakultas Hukum UGM.

Terlahir dengan kondisi tubuh di mana banyak orang menganggap “kurang beruntung”, Ahmat mencoba untuk menerima dengan bersyukur. “Dalam bahasa medis penyakit ini disebut dengan Tetra Amalia, didefinisikan sebagai kegagalan atau tidak terbentuknya anggota badan baik sebagian maupun keseluruhan” jelasnya.

Cerita dimulai ketika Ahmat berumur enam tahun. Ia didaftarkan kedua orangtuanya ke sebuah Sekolah Dasar di Sumatra Utara. Sayangnya pihak sekolah terlalu melihat Ahmat sebagai sosok yang “berbeda” dan membuat keputusan untuk menolak Ahmat sebagai murid di sekolah itu. Tak patah arang, pada tahun kedua, orangtuanya mendaftarkan kembali Ahmat di sekolah yang sama, namun kembali ditolak oleh pihak sekolah. Kegigihan orangtua Ahmat terus terjaga sampai pada tahun ketiga di mana akhirnya pihak sekolah menyetujui dan menerima Ahmat sebagai siswa dengan syarat. Syaratnya adalah apabila Ahmat tidak bisa mengikuti pelajaran pada caturwulan pertama maka ia tidak dapat melanjutkan sekolah.


Tak disangka, Ahmat menorehkan prestasi yang luar biasa. Pada caturwulan pertama Ahmat berhasil menjadi juara kelas, (syarat terpenuhi) karena prestasinya ini Ahmat diizinkan untuk terus bersekolah dan menamatkan pendidikan sekolah dasarnya di sekolah tersebut. Tidak hanya pada caturwulan pertama, selama ia mengenyam pendidikan di sekolah dasarnya, ia sukses membuktikan kepada pihak sekolah bahwa ia memang pantas diperhitungkan bahkan dijejerkan di antara anak-anak berprestasi. Dari prestasi sekolah Ahmat yang membanggakan ini, kedua orang tua Ahmat semakin yakin dan terus termotivasi untuk melanjutkan pendidikan anaknya ketingkat yang lebih tinggi sampai akhirnya pada jenjang perkuliahan.

Singkat cerita, Ahmat pun meraih gelar sarjananya dari Universitas Islam Negeri Sumatra Utara. Kesedihan merundungi saat ia harus menerima kepedihan atas kehilangan ayahnya menjelang detik-detik wisudanya sebagai seorang sarjana hukum.

Setelah kelulusan, Ahmat berniat untuk meneruskan cita-cita melanjutkan pendidikannya di Universitas Gadjah Mada. Masih dalam rasa kehilangan atas meninggalnya sang ayah, ia hijrah ke Kota Pelajar di Pulau Jawa. Di Yogyakarta ia menghimpun mimpinya dan bertekad untuk meraih pendidikan di sana dan melupakan semua keterbatasan fisiknya. Semua itu tidak pernah bisa menjadi alasan baginya untuk mundur dari segala impian.

Pada proses pendaftaran Magister FH UGM, Ahmat mengaku tidak mengalami kesulitan atau masalah yang berarti atas keterbatasan fisik yang ia miliki. Padahal pada waktu itu terdengar kabar bahwa UGM memberlakukan syarat kesehatan bagi mahasiswa baru. Dan akhirnya Ahmat pun diterima sebagai mahasiswa Magister di Fakultas Hukum UGM pada tahun 2007 jurusan Hukum Pidana.

Semua berjalan sesuai harapan dengan semua ketangguhan dan harapan yang ia punya. Sampai pada tahun 2008, lagi-lagi ia harus menguatkan hati atas kematian sang bunda. Saat itu juga ia mengambil cuti kuliah dan pulang ke kampung halaman. Kebimbangan dan depresi yang sangat menyerang batinnya. Ia sadar saat itu ia sebatang kara. Tidak ada saudara. Ayah dan ibu pun kini tiada. Beruntung ia memiliki teman yang tak pernah lelah menyemangati Ahmat untuk menyelesaikan studinya di Yogyakarta. Dan di tahun 2009 ia memutuskan untuk kembali melanjutkan pendidikanya di Universitas Gadjah Mada. Untuk menuntaskan mimpinya-- yang ia yakin juag mimpi kedua orang tuanya.

Ia melangkah dengan keyakinan dan keinginan yang keras. Kata-kata yang ia pegang untuk terus bertahan adalah:

Apapun masalah yang ada harus saya hadapi! Kata-kata ini yang mengantarkan dia sampai saat ini—saat-saat penantian jadwal pendadarannya. Di dalam perjalanan hidupnya, ia berharap kepada teman-teman difablenya untuk terus mengejar pendidikan tanpa menjadikan “kekurangan” fisik sebagai penghalang. Selagi akal masih mampu berjalan, maka lakukanlah.


Sejauh ini ia tidak mengalami kesulitan yang berarti di fakultas hukum ini. Kuliah di lantai tiga ataupun transportasi menggunakan bis umum ternyata bukan menjadi pemberat dan alasan bagi Ahmat untuk mengasihani kondisi fisiknya. Namun terlahir sebuah harapan agar kedepannya kampus menyediakan fasilitas yang memadai untuk mahasiswa berkebutuhan khusus seperti dirinya.
Pada akhirnya, dari sebuah potret kehidupan kita dapati sepenggal cerita terselip petuah yang bermakna. Kepergian ayah dan ibunya mengajarkan banyak pemahaman hidup yang menjadi pegangan hidup Ahmat. Dan semoga ketangguhan Ahmat menjadi pelajaran dan kekuatan bagi kita semua.




Saya masih ingat saat saya harus menulis ulang hasil wawancara teman saya Agi dan Bayu. Karena saya hanya mendapat bahan berupa hasil wawancara yang masih snagat "random" konfirmasi berulang-ulang saya lakukan. Sampai akhirnya saya memutuskan untuk bertemu dengan pemilik cerita ini. Karena saya saat itu masihlah mahasiswa S1, sedang Ahmat adalah mahasiswa S2, jadi memang agak sulit bertemu dengan perbedaan jadwal kuliah yang berbeda.


Di suatu siang saat saya berkumpul dengan teman-teman MAHKAMAH,, saya terdiam ketika sosok yang saya cari selama ini melintas di depan saya. Harusnya, saya berlari dan melakukan langkah seribu untuk melakukan konfirmasi. Tapi kenyataannya, hingga saat ini saya tidak pernah melakukan itu. kenapa...?

Karena saat itu lewat di hadapan saya, kaki saya kaku terpaku. Hati saya menciut malu. Selama ini saya sering mengeluh tentang hal kecil tentang fisik saya, diri saya, hidup saya. Tapi saya yakin "mengeluh" bukan hobi Bang Ahmat (kalau saya boleh memanggilnya seperti itu). dengan kondisi fisik seperti itu (maaf), memang hanya manusia berjiwa kuat yang diberikan ujian seperti itu oleh Tuhan. Dan saya? hanya manusia lemah yang mengeluhkan (bahkan) anugrah yang saya miliki.

Maka... saya ingin bertanya kepada anda, wahai pembaca yang bijaksana,

Apakah anda sudah pernah menyatakan syukur atas Kedua tangan anda? Kedua kaki anda? Sudahkah?

Saya bersyukur Allah menciptakan manusia seperti bang Ahmat. Manusia yang penuh impian dan harapan baik, manusia yang mampu membuat saya tersentak untuk berskur dan belajar menghargai tentang kehidupan. Semoga anda merasakan hal yang sama.