Thursday, June 9, 2016

PRODJEK BAHAGIA #2



Prodjek Bahagia 2 adalah buah hati dari proses mencari dan memberi kebahagiaan. Prodjek Bahagia 2 adalah ihktiar kami untuk menjelaskan bahwa kebahagiaan adalah bukan tentang mencari, tapi menciptakan; bukan tentang seberapa banyak yang kita miliki, tapi tentang seberapa banyak yang bisa kita bagi.

”Katakanlah, ’Sungguh, Tuhanku melapangkan rezeki dan membatasinya bagi siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya.’ Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi Rezeki yang terbaik.”(QS Saba, 34: 39)

Di bulan Ramadhan kali ini, kami mencoba untuk menghadirkan lagi wadah kebahagiaan untuk kita semua.

Sebuah wadah berisi “ingat” bagi yang lupa bahwa ada hak orang lain di dalam harta kita.

Sebuah wadah yang berisi “pesan” bagi yang tidak tahu akan menyalurkan sebagian rejeki nya kemana.

Sebuah wadah yang berisi “harapan” bagi kita semua untuk menciptakan kebahagiaan lebih banyak lagi, dan lebih banyak lagi.

Dunia, dan semua hal yang kita khawatirkan terkadang membuat mata, telinga dan hati kita kurang peka dan lupa bahwa ada hak orang lain dalam harta kita. Kemudian waktu terasa menyempit akibat rutinitas-rutinas yang kita benarkan sebagai kewajiban tanpa sadar kita melalaikan kewajiban kita yang sesungguhnya kepada Tuhan.

Maka, saat ini dengan Prodjek Bahagia 2, kami mengajak anda untuk merenggangkan waktu sejenak dari sekedar memikirkan ‘aku ataupun saya’ saja.
Di bulan yang penuh berkah ini, Prodjek Bahagia kembali dilaksanakan untuk mengajak kita semua berbahagia bersama dengan membahagiakan orang-orang di sekitar kita. Sesungguhnya, bahagia adalah kata sifat yang anomali: semakin banyak kebahagiaan yang kita beri, semakin banyak kebahagiaan yang kita dapatkan.


Prodjek Bahagia 2 kali ini memiliki cakupan wilayah pesebaran yang lebih luas, karena kali ini kami dibantu oleh kawan-kawan dari Sulawesi , Sumatra, dan Kalimantan, sehingga semua hasil kebahagiaan ini akan disalurkan ke tempat-tempat tersebut. Adapun kegiatan yang kami rancang dalam Prodjek 2 ini adalah:


Bahagia Bersama Anak Yatim

Alat Solat Untuk Semua

Bercerita Kebaikan Lewat Buku dan Kemakmuran Taman Pendidikan Al-Qur’an

Memperindah Rumah Allah



Bahagia Bersama Anak Yatim

Bentuk penyaluran dana adalah secara tunai, hal ini atas dasar pertimbangan kami dan pelajaran yang kami dapat dari PRODJEK BAHAGIA #1, bahwa bantuan dalam bentuk tunai adalah bantuan yang paling flexsibel untuk dimanfaatkan dan digunakan sesuai kebutuhan yang diperlukan. Namun kami tetap akan merencanakan untuk melakukan kegiatan buka puasa bersama atau sahur bersama anak yatim di salah satu daerah lingkup PRODJEK BAHAGIA #2 ini.
Semakin banyak dana yang terkumpul, semakin banyak anak yatim yang tersenyum dan (semoga) bahagia :)


Alat Solat untuk Semua

Tidak jauh berbeda dengan PRODJEK BAHAGIA #1, kali ini kami tetap akan melaksanakan distribusi alat solat, di temapt-tempat umum. Masih banyak tempat umum yang memiliki mushola dengan fasilitas alat sholat yang kurang memadai untuk dikenakan. Beberapa tempat umum yang memiliki mushola dengan keterbatasan alat sholat antara lain di pusat perbelanjaan (pada umumnya yang sholat ibu-ibu dan mukena sangat memprihatinkan), pom bensin, dan tempat-tempat lain.


Bercerita Kebaikan Lewat Buku dan Kemakmuran Taman Pendidikan Al-Qur’an

Kekerasan dan tindak asusila rentan di usia yang masih sangat dini saat ini. Hari ini, banyak anak-anak yang tidak memiliki masa kecilnya dengan utuh. Maka, melalui Program ini, kami berencana untuk membagikan buku yang bersifat edukasi ke tempat-tempat dalam rangka pembinaan akhlak anak.
Kemudian, kami sangat paham bahwa di balik sebuah proses pembelajaran anak, harus ada sosok yang bisa turut mendidik dan mengajarkan nilai-nilai budi pekerti luhur di luar lingkungan keluarga.
Taman Pendidikan Al-Qur’an sebagai sebuah wujud pendidikan dasar bagi anak-anak dalam mempelajari Al-Qur’an merupakan suatu lembaga yang vital keberadaannya demi mewujudkan generasi yang Qur’ani. Hal tersebut masih bertolak belakang dengan kesejahteraan yang diperoleh oleh para ustad-ustadzah yang memberikan pengetahuan pada anak-anak didik dalam mempelajari Al-Qur’an. Dengan demikian, perlu adanya gerakan untuk memberikan perhatian lebih bagi para ustad-ustadzah tersebut.

”Sesungguhnya di antara amalan dan kebaikan seorang mukmin yang akan menemuinya setelah kematiannya adalah: ilmu yang diajarkan dan disebarkannya, anak shalih yang ditinggalkannya, mush-haf Alquran yang diwariskannya, masjid yang dibangunnya, rumah untuk ibnu sabil yang dibangunnya, sungai (air) yang dialirkannya untuk umum, atau shadaqah yang dikeluarkannya dari hartanya diwaktu sehat dan semasa hidupnya, semua ini akan menemuinya setelah dia meninggal dunia.” (HR. Ibnu Majah dan Baihaqi, dinilai hasan oleh Syaikh Al Albani).

Memperindah Rumah Allah


Terdapat banyak tempat ibadah yang fasilitasnya masih kurang memadai, seperti sajadah yang mulai usang karena penggunaan, tempat wudhu yang belum layak dan berbagai kekurangan yang lain. Oleh karena itu, perlu adanya kepedulian yang ekstra terhadap kondisi tempat ibadah kaum Muslim ini demi pelaksanaan ibadah yang khusyuk.

“Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. At Taubah : 18).

Bisa kebayang enggak berapa amalan jariyah yang bisa kita dapat ketika Yatim yang kita santuni bisa tumbuh menjadi manusia yang bermanfaat untuk orang lain; Buku yang kita beri senantiasa menjadi ilmu yang terus diajarkan kepada siapa saja yang membacanya; Ilmu yang bermanfaat tidak putus-putusnya disebar oleh punggawa-punggawa Islam di TPA; Dan berapa sujud yang khusyuk yang bisa kita dapat ketika dana bisa dibelikan untuk emngganti sajadah yang telah usang di sebuah masjid??

Dan ketika amalan-amalan baik itu terus mengalir untuk kita, dan bermanfaat untuk orang lain? bisakah kelak kita mendefinisikan KEBAHAGIAAN dengan sederhana?

InsyaAllah, Iya.

”Katakanlah, ’Sungguh, Tuhanku melapangkan rezeki dan membatasinya bagi siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya.’ Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi Rezeki yang terbaik.”(QS Saba, 34: 39)


Salam Bahagia

Annisa dan Ayunita


klik lin di bawah


Yang mau tahu PRODJEK BAHAGIA #1
>>

Thursday, June 2, 2016

CERITA MENTARI PAGI INI


Sebut saja namanya Mentari, yang pagi ini sudah menemui saya pagi-pagi, “Aku sudah enggak tahan sama bosku”, katanya. Maka pagi itu Mentari dan saya duduk berdua untuk mendengarkan cerita ajaib bos Mentari.
Saya tidak akan menuliskan tentang keajaiban bos Mentari di sini. Jika keajaiban itu membuat Mentari tidak betah dengan bosnya, sudahlah pasti keajaiban bos Mentari bukanlah hal yang menyenangkan untuk diceritakan. Maka kali ini saya ingin menulis tentang Mentari itu sendiri.

Mentari yang karena cerita-ceritanya kemarin dan tadi pagi, membuat saya ingin bercerita kepada banyak orang, bahwa dari Mentari saya mengerti bahwa sekian persen dari hidup adalah tentang bertahan.
Mentari adalah seorang ibu juga istri yang—sebutlah bukan keinginannya—harus merantau ke Jakarta.

“Banyak orang yang enggak tahu apa-apa menilai aku lebih mementingkan uang daripada keluarga, padahal kalaupun aku bisa milih, yo aku maunya ngumpul sama anak dan suamiku”, tutur Mentari saat lalu kepada saya dan beberapa teman saya. Saat itu saya khidmat mendengarkan Mentari. Saya tahu benar bagaimana lemahnya hati saat diserang rindu untuk orang yang terkasihi, apalagi anak kandung sendiri. Saat itu Mentari bisa menceritakan dengan selipan canda, tapi aku pikir itu hanyalah usahanya untuk membuat ceritanya tidak menjadi cerita yang menyedihkan bagi dirinya sendiri.

Mentari bercerita, bahwa di awal masa kerja dulu, hampir setiap hari dia menangis sendiri di kamar kos nya karena beban rindu yang terlalu besar untuk keluarga kecilnya di kampung halaman. Hingga di satu titik, Mentari sadar, bahwa pilihan telah dibuat dan harus dipertanggungjawabkan. Menangis kadang meringankan kesedihan, namun sedih yang terlalu larut dan berkelanjutan hanya akan melemahkan keyakinan akan kebaikan rahasia Tuhan atas jalan hidup yang telah digariskan.

Jika situasi terasa sangat sulit untuk diubah bahkan hampir tidak mungkin, maka cara pandang kitalah yang harus kita ubah, berusaha melihat hal-hal baik sekecil apapun, berusaha menyukurinya dan menerimanya dengan ikhlas, hal ini yang bisa saya pelajari dari Mentari.

Saya tahu pasti, bahwa tidak mudah melalui hari yang digelantungi rindu kepada buah hati. Itulah mengapa saya tidak pernah melihat mana yang lebih baik antara ibu bekerja dengan ibu tidak bekerja. Semua ibu adalah baik. Bekerja dan tidak bekerja adalah pilihan dari kondisi kehidupan yang tidak bisa disamakan untuk semua orang.
Teringat seorang teman mengirimkan pesan yang cukup indah bagi saya untuk dipahami:

Kita diberi rezki dapat hidup selalu di dekat suami, maka ketika kawan kita berpisah jarak dengan suami dan keluarganya, kita bilang ia menggadaikan rumah tangga demi materi. Ternyata mereka tetap hidup rukun dan bahagia dalam perjuangan rumah tangganya.

Kita diberi rezki menjadi ibu rumah tangga, maka ketika kawan kita memilih untuk bekerja di kantor, kita bilang ia menggadaikan masa depan anaknya. Ternyata ia bangun lebih pagi dari kita, belajar lebih banyak dari kita, berbicara lebih lembut kepada anak-anaknya, dan berdoa lebih khusyuk memohon kepada Tuhan untuk kehidupan anak-anaknya.


Saya sangat suka tulisan ini. Kita memang tidak pernah cukup adil dalam menilai kehidupan seseorang. Karena kita tidak pernah cukup tahu tentang apa yang telah mereka lewati, atau kehidupan seperti apa yang sedang mereka jalani. Toh, hidup adalah tentang pilihan. Hidup adalah tentang bertanggungjawab dengan pilihan tersebut.

Kembali kepada Mentari. Pagi ini Mentari bercerita tentang bosnya yang ajaib tadi, saya melihat matanya berkaca-kaca memantulkan rasa lelah yang mungkin terasa di dalam hatinya.

“Dia itu seolah-olah orang kaya, tapi kelakuannya ngelebih-lebihi dari orang yang enggak punya! Apa-apa duid, duid, duid, heran aku, di kepalanya kok kayanya cuma duid aja tu lho, Sa!”

“Sabar, mbak... Allah itu enggak akan ngasih cobaan di luar kemampuan kita. Allah ngasih cobaan bos rese ke Mbak, karena Dia tahu kalau ngasihnya ke aku, aku belum tentu bisa sabar kaya Mbak Tari... orang kaya bosnya mbak sering-sering di al-fatihah-in aja mbak sehabis solat... Allah itu kan Maha Pembolak-balik hati manusia... siapa tahu nanti si bos bisa sadar sama kelakuannya yang keliru selama ini...” jawab saya.

“Aku sudah sangat berusaha buat bersabar, Sa... tapi kadang ya aku ga tahan juga... dan sering bingung mau cerita ke siapa... Maaf ya, Sa... kamu jadi tong sampahku pagi ini, dengerin cerita-cerita bosku yang enggak penting”

“Mungkin Allah tuh lagi menyiapkan Mbak Tari jadi orang besar nantinya... Allah kasih contoh bos yang salah saat ini, biar nanti kalau Mbak Tari jadi bos, mbak enggak melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan bos mbak saat ini”

“Amin ya, Sa...”

Saya bersyukur pagi ini Mentari menghampiri saya dengan ceritanya. Sudah lama sekali saya tidak mendengarkan. Dulu, saya bisa menghabiskan waktu berjam-jam di ruang tamu untuk mendengarkan teman-teman saya yang silih berganti bercerita tentang banyak hal. Saya suka mendengarkan. Karena saat mendengarkan saya berpikir dan menebak-nebak apa yang dipikirkan Tuhan saat menciptakan kehidupan seorang manusia. Sesedih apapun cerita itu, segetir apapun seseorang menceritakan hidupnya, tapi saya selalu yakin Tuhan Maha Baik. Seperti sebuah luka yang kita dapat, adalah untuk mengajarkan kita bagaimana caranya mengobati dan meredakan rasa sakit, juga tentang bagaimana kemudian kita paham, bahwa luka adalah sesuatu yang sementara.

Hidup itu tidak selalu mudah, maka itu berarti hidup tidak akan terus-menerus susah. Adakalanya kita di bawah, dan melihat banyak ketidak-adilan di atas sana, tapi sekali lagi, keadilan adalah hal terabstrak di dunia ini selama manusia terlalu mudah menilai seseorang sesederhana benar dan salah, hitam dan putih. Bertahanlan saat di bawah, belajarlah banyak hal, agar kelak kita paham benar bagaimana berada di atas dengan gagah, dan memberi contoh kebaikan untuk mereka yang di bawah. Amin.

Monday, May 23, 2016

Thursday, December 10, 2015

BELAJAR




Hidup itu seharusnya tentang bagaimana merasakan bahagia, bukan? Tentang proses bagaimana kita bisa mempertanggungjawabkan kesempatan hidup yang Tuhan beri sesuai dengan apa yang kita yakini benar.

Hidup itu bagi saya adalah tentang melakukan apa yang harus saya lakukan, bukan sekedar apa yang ingin saya lakukan. Dalam hidup harus ada tanggung jawab, baik kepada diri sendiri maupun orang lain. Ada kesadaran bahwa semua yang kita miliki, kita lewati, kita dapatkan, kelak akan dimintai pertanggungjawabannya. Maka saya sadar benar, bahwa hidup adalah kesempatan kita untuk belajar bertanggungjawab.

Saya belajar, bahwa hidup saya bukan hanya sekedar untuk menyenangkan semua orang atau terlihat baik di mata banyak orang. Tidak, saya pastikan saya tidak akan menjalani hidup semenyedihkan itu.

Saya belajar, bahwa benar dan salah adalah relatif di mata manusia satu dengan manusia lainnya, dan saya tidak memiliki kekuasaan untuk menjelaskan kepada semua orang kebenaran seperti apa yang saya yakini agar saya dianggap benar. Tidak, saya tidak akan menghabiskan waktu saya hanya untuk memberikan penjelasan agar seseorang menerima saya seperti itu. kebenaran bisa relatif di mata orang lain, tapi tidak bagi saya, benar adalah benar, salah adalah salah. Titik.

Saya belajar, bahwa saya tidak perlu takut menjadi minoritas. Tidak perlu takut untuk tidak memiliki banyak orang di sekeliling saya, karena teman bukan tentang proses mencari, tapi teman adalah proses menemukan dan menerima. Dulu, seseorang pernah mengatakan hal ini kepada saya, ‘Jika ada 100 dari 1000 orang yang berjuang untuk kebenaran, maka jadilah bagian dari yang 100 itu. Jika ada 50 yang berjuang untuk kebenaran, maka jadilah bagian dari yang 50 itu. jika hanya ada 10 dari 1000 yang berjuang untuk kebenaran, maka pastikan kamu ada di antara 10 itu. Dan jika hanya ada 1 orang yang berjuang untuk kebenaran, berjanjilah bahwa 1 orang itu adalah kamu. Maka mulailah untuk jujur kepada dirimu sendiri. mulailah untuk mampu mempertahankan kebenaran yang kamu yakini mulai saat ini, sekecil apapun itu, jika menurutmu benar, maka perjuangkan.’

Maka kemudian saya akan selalu mengingatkan diri saya sendiri bahwa hidup saya adalah tentang menyenangkan Tuhan dan diri saya sendiri dengan segala kebenaran yang saya yakini. Tentang menyenangkan diri sendiri dengan menyenangkan orang-orang yang sungguh-sungguh ingin saya senangkan dengan ketulusan. Bukan tentang menyenangkan orang-orang yang tidak terlalu ingin saya senangkan.

Adakalanya saya bahagia ketika bisa membahagiakan orang yang saya sayangi. Membahagiakan orang yang saya anggap pantas untuk saya bahagiakan. Bahagia ketika bisa bermanfaat untuk orang lain yang membutuhkan. Saya adalah manusia yang membahagiakan orang lain karena saya ingin, bukan karena saya butuh. Saya membahagiakan orang lain yang saya anggap pantas, bukan agar terlihat pantas.

Saya belajar, dan akan terus belajar.

Tentang bagaimana berjalan dengan tegak dan langkah ringan. Bukan dengan ketakutan-ketakuan terhadap penilaian orang.

Tentang bagaimana utnuk mengatakan tidak terhadap sesuatu yang tidak ingin saya lakukan. Bukan yang latah mengiyakan semua permintaan.

Saya punya Tuhan, dan Tuhan memberikan saya keluarga yang luar biasa, sahabat-sahabat yang tulus dan luar biasa, dan itu sudah lebih dari cukup.


*tulisan yang dibuat kala hati penuh perasaan marah dan entah harus marah kepada siapa. Huh Hah!

Sunday, December 6, 2015

KEBERUNTUNGAN


Semua pasti sepakat jika hidup itu rahasia. Seperti tentang siapa yang akan mengisi celah jemari kita dan menggenapkan hati kita. Siapa yang akan terus berusaha dengan sabar memahami tentang sisi kita yang bahkan kita sendiri tidak bisa memahami.
Tidak semua keberuntungan dua orang yang saling jatuh cinta dipahami oleh banyak orang. Mungkin keberuntungan kalian salah satunya. Atau mungkin awalnyapun kalian tidak juga punya jawaban mengapa saling mejatuhkan hati satu sama lain.

Dan tulisan ini... semoga bisa menjadi secuil pengingat bahwa pertemuan kalian berdua adalah keberuntungan bagi kalian berdua. Keberuntungan menemukan seseorang yang tepat untuk saling menjatuhkan hati. Dan pernikahan hari ini adalah bukti, bahwa pada akhirnya kalian percaya satu sama lain, bahwa hubungan ini tidak lagi (hanya) tentang memilih menjatuhkan hati kepada siapa , tapi tentang kesanggupan untuk sabar menjaga dan setia.


Lewat tulisan ini, saya ingin berterimakasih kepada mempelai wanita yang cukup banyak berbagi cerita semasa saya masih di Jogja, mulai dari buku, keluarga dan tentunya sang kekasih—yang saat ini sah menjadi suaminya. Selalu menyenangkan mendengarkan kakak yang satu ini bercerita. Lewat cerita-ceritanya saya mengerti satu hal, bahwa sebuah hubungan tidak sekedar menerima, tapi tentang komitmen untuk saling menyesuaikan dan bertahan.

Di mata saya, Ka Dewi adalah sosok wanita super cantik, menarik, baik dan menyenangkan walau sulit untuk dipungkiri kalau Ka Dewi ini agak sembrono (ya kena tilang lah, ya mobil ketabrak apalah, ya aki lupa diganti lah)hehehehe.. ampun, Kak..). Sekedipan matanya mungkin bisa meluluhlantakan hati laki-laki manapun. Seperkiraan saya, sangat mudah untuk Ka Dewi mendapatkan laki-laki sesuai keinginannya. Tapi, pada kenyataannya, Ka Dewi bertahan pada satu nama dengan sosok (ni maaf-maaf aja ya, Mas Aji) yang-agak-langka-bentuk-maupun-perangainya--adalah Kunto Aji alias Mas Aji. Entah apa yang dilihat oleh Ka Dewi dari sosok antah-berantah-ini. Sampai akhirnya di suatu perbincangan sore saya mengerti dan memahami alasannya kenapa laki-laki unik ini yang dipilih...


“Kalau aku lagi ‘dapet’ aku sadar sih, dek, aku nyebelin banget. Pernah ya waktu itu di tengah jalan aku marah-marah sama Aji gara-gara aku ga suka sama Matahari. Terus kata Aji, yaudah pake kacamata item ya? Aku bilang ‘ga mau!’ , terus Aji bilang lagi, yaudah pake jaket ya?, aku bilang ‘ga mau! Aku tuh ga suka sama Mataharinya!!’, terus Aji jawab lagi, ‘Ya terus aku harus ngapain Mataharinyaaa??’, ‘Ya diapain kek biar Mataharinya ga ada!’. ‘Yaaa manaaa aku bisaaaa!’, kalau inget itu suka ketawa sendiri aku, Dek”
Sampai situ saya diam, diam sambil mikir, gue kayanya kalau PMS ga pernah se-rese itu deh ampe minta ngilangin Matahari

“Terus, Ka? Mas Ajinya marah ya?”

“Ya gimana dia bisa marah, kan aku ngomel-ngomel terus, dek! Dia ga ada kesempatan buat marah”

“Terus... ?”

“Aku tahu aku rese, Dek... tapi kan kalau PMS kita sebagai perempuan juga ga punya kuasa ya atas hormon-hormon sensi dalam tubuh kita? Terus aku minta pulang aja karena aku ga suka sama mataharinya, padahal itu udah mau sampai ke tempat tujuan.”

“eum... akhirnya pasti mas Aji tetep tancap gas biar cepet sampai ke tujuan ya, Ka?”

“Enggak, dek. Aji Puter balik, terus kami pulang”

“Eh?! Kok sedih ya, Ka, jadi Mas Aji? Hehehe”

“Dia udah biasa, Dek... Dulu, kalau dipikir-pikir aku yang banyak sabar ngadepin tingkahnya dia, tapi makin kesini aku ngeliatnya dia mulai sabar dan lebih ngertiin aku yang makin uring-uringan. Mungkin karena faktor usia juga kali ya, Dek. Cewek itu cepat matangnya, cepet dewasanya, tapi kaya siklus lingkaran, kita cepet juga balik jadi childish lagi,,, kebalikan sama laki-laki, mereka emang telat dewasanya, tapi mereka bertahap. Ada waktunya mereka mulai mau memahami, mengerti dan mengalah sama situasi sekeliling mereka. Dan alhamdulillah ujung-ujungnya kami berdua jadi saling melengkapi gitu sekarang.”

Saya hanya tersenyum dan menghela nafas panjang saat itu.

“Hebat ya Ka, bisa bertahan selama ini sama Mas Aji”

“Hehehehe.. ga tau deh, Dek... Mungkin karena udah lama juga kali ya, Dek. Udah nyaman. Dan Kakak sendiri juga sadar kayaknya enggak semua cowok bisa meng-handle kakak kaya Aji. Ya kaya sekarang aja... pas kakak lagi ke Jakarta, Aji mau bolak-balik ke rumah ngasih makan kucing-kucing, Kakak”

“Hahahaha,,, bukan apa-apa sih, Ka... habisnya kalau Nisa perhatiin Kak Dewi sama Mas Aji itu sama-sama teledor-nya sama-sama tidak terorganisir dengan baik hidupnya, emang enggak mau nyari cowok yang lebih bisa ngemong gitu?”

“Lhooo... siapa tahu, anaknya Kakak nanti bisa lebih dewasa dan ngemong, Dek... mengingat orang tuanya ga bisa diandalkan. Kan lucu, dek, baru umur 6 tahun dia udah bilang gini ‘mama sama papa kerja aja deh, biar urusan rumah aku yang atur’, hahahaa kan lucu dek...”

“Hedeeeeeuh... malah bercandaaaa... tapi bisa jadi sih, Ka,,, mau enggak mau dia kaya adaptasi alam gitu karena Papah sama Mamahnya seleboran orangnya, terus dia menghandle hidupnya sendiri bahkan hidup orang tuanya walau dia masih kecil” *malah ikutan imajinasi*

***

Dear, Ka Dewi... entah kenapa obrolan sore itu yang ditutup dengan bibik yang maksa Ka Dewi makan sayur asem dan ikan asin sangat membekas dan terus teringat di kepala Nisa. Nisa jadi paham bahwa sebuah hubungan selalu punya warnanya masing-masing. Mungkin di luar sana banyak orang dengan sekejap saja menilai bahwa Mas Aji beruntung mendapatkan Ka Dewi,,, tapi menurut Nisa, pertemuan kalian, hubungan kalian, hingga pernikahan kalian hari ini adalah keberuntungan kalin berdua—satu sama lain—karena kalian saling melengkapi dan mengerti.

Nisa juga belajar dari Ka Dewi dan Mas Aji bahwa di dunia ini tidak ada pasangan yang sempurna, tapi ketidaksempurnaan itu sendirilah yang memberi runag bagi kita untuk belajar membuka hati, meluaskan pikiran dan kesabaran.

Kak Dewi, ditunggu cerita-cerita berikutnya ya...

Selamat untuk hari ini, kakak cantiiiiiiik banget... dan Mas Aji juga cakeeeeep banget... sneakernya... (hahahaha) Rukun-rukun ya... semoga Allah senantiasa melimpahkan keberkahan buat keluarga Ka Dewi dan Mas Aji.

Buat Kak Dewi, kalau nanti Kak Dewi lupa tentang alasan untuk tetap bersama Mas Aji, Inget ini: Mas Aji adalah lelaki yang memilih sabar untuk memahami dan menerima Ka Dewi, terutama saat Kak Dewi lagi PMS ;P

Buat Mas Aji, kalau nanti ada godaan yang membuat Ka Dewi terkesampingkan, Inget ini:Kak Dewi wanita yang setia di samping Mas Aji dalam rentang waktu yang cukup lama, walau marahnya Kak Dewi (konon katanya) serem, apalagi kalau mas Aji lupa nge-flash habis BAB ('-__-)

Sekali lagi selamat ya buat kalian berdua...


Selamat berjuang untuk bertahan dan saling mempertahankan. :)


Wednesday, November 18, 2015

ke.ti.dak.pas. ** . an

Kata mereka, hidup itu tentang bertahan di tengah ketidakpastian.

Tentang berjuang di tengah-tengah bayangan kekalahan dan harapan kemenangan.

Hidup itu, tentang bertahan dari ketidakpastian satu ke ketidakpastian lainnya.



Seorang teman (Litani Rahmasari) menulis di status PATH-nya

“Kalo jodoh tak lari kemana, kalau yakin jodoh dikejar aja”

kemudian saya berpikir, mungkin memang benar bahwa yang kita butuhkan dalam hidup ini adalah keyakinan. Tidak peduli seberapa besar ketidakpastian yang ada di hadapan kita, jika kita yakin untuk memperjuangkannya, maka perjuangkanlah.

Kenapa kita harus terlalu takut akan kesedihan?

Beberapa kesedihan mengajarkan kita tentang kapan harus berjuang, kapan harus mengikhlaskan.

Dan mungkin... kesedihan yang paling menyedihkan adalah penyesalan karena memutuskan untuk tidak mecoba berjuang.

Sunday, October 25, 2015


Semoga pada akhirnya kita bisa mengerti, bahwa waktu adalah hal yang tak bisa terbeli dan hanya ditawari satu kali. Kemudian, kita belajar bahwa menjaga adalah satu dari sekian banyak jalan untuk menghindar dari rasa penyesalan ketika waktu mempertemukan kita dengan kehilangan.