Sunday, November 3, 2013

FIGHTING FOR SOMETHING, and let it be... (Pengalaman Melamar CPNS BAPPENAS)


3 November 2013

Hampir 12 jam, yang harus saya tuliskan di blog ini agar saya bisa terus mengingat, bahwa salah satu cara menghargai kehidupan adalah dengan mengikhlaskan suatu hal untuk sebuah kebaikan.


bermula di hari Sabtu, 02 November 2013

Bangun pukul 04.30, solat subuh dan kemudian menyiapkan semua hal untuk tes CPNS Bappenas tahap Psikotes dan FGD hari ini. Semua harus disiapkan dengan benar-benar siap. Bukan main-main, kedua orang tua saya sangat menaruh harapan besar agar anak bungsunya bisa diterima kerja di Bappenas ini.
Menuju Taman Suropati, pukul 06.45 saya sampai di depan gedung Bappenas. Pagi itu saya bertemu lagi dengan dua sosok yang baru saja saya kenal kemarin. Namanya Rahma, lulusan UGM (saya lupa jurusan apa), saat ini dia sedang menetap di Bali bersama suaminya, yup! dia seumuran dengan diri saya dan sudah menikah. Saya sempat kaget saat melihat perut Rahma dan sontak bertanya "Rahma kamu sedang hamil?" , Rahma hanya tersenyum dan mengangguk sembari mengelus perutnya... "Berapa bulan?" tanya saya lagi. Masih sambil tersenyum Rahma menjawab "Delapan bulan, Nisa".

Sosok berikutnya, saya kenal juga bersamaan dengan Rahma. Saya memanggilnya Mbak Windi. Dia seorang pengusaha online yang menurut saya sudah cukup mapan. "Anak saya sudah dua, Nisa" kata Mbak Windi saat saya bertanya angkatan masuk universitas kepadanya. "Mbak, nikah muda ya? anaknya masih kecil-kecil pasti ya? habis enggak keliatan kalau mbak sudah punya anak dua!!" jawab saya. Saya, Rahma dan Mbak Windi mengobrol panjang lebar, sampai akhirnya Rahma bertanya,"Mbak Windi ini ngapain lagi ngelamar di sini? toh bisnisnya sudah mapan." lalu Mbak Windi menjawab, "Iya... tapi saya rasa-rasanya kurang tenang kalau belum punya penghasilan tetap. Anak saya dua, sedangkan suami saya sudah meninggal empat tahun yang lalu. Saya harus punya persiapan untuk membesarkan anak-anak saya kan?" katanya sambil tersenyum. Saat mendengar itu, saya dan Rahma saling bertatap sambil mengucap lirih Innalillahi wa innalillahi roji'un.

TPA Bappenas akhirnya dimulai. Dari 250 soal, dipastikan tidak kurang dari 60 dari 90 soal matematika saya "tembak" tanpa melihat soal. Lebih baik seperti ini daripada saya kejang-kejang sendiri di ruangan tes?.
Rahma duduk di belakang saya, Mbak Windi lebih belakang lagi.Seusai TPA, saya dan Mbak Windi serempak menghampiri Rahma dan bertanya "Rahmaaaa... kamu enggak apa-apa? enggak pusing? enggak mual kan?" tanya saya. "Iya Rahma,,, kamu enggak apa-apa? saya yang enggak hamil aja mual banget nih ngebaca soal TPA nya?" timpal Mbak Windi. Rahma lagi-lagi hanya tersenyum sambil bilang "Alhamdulillah enggak apa-apa kok" . "Semoga satu posisi di Bappenas ini jadi rejeki kamu dan bayi kamu yah" entah kenapa tiba-tiba saya mengucapkan itu. Mungkin karena saya tahu perjuangan Rahma dari Bali dalam kondisi hamil tua seperti ini layak untuk mendapatkan pekerjaan ini.

Oiya, saya hampir lupa menceritakan satu kejadian. Di pagi hari, saat absen masuk TPA Bappenas ada seorang panitia pelaksana--seorang bapak-bapak--yang memerhatikan Rahma dan perutnya. Kemudian bapak itu bertanya kepada Rahma "Nak, kamu diantar suami kamu?", "Endak, Pak" jawab Rahma singkat. "Kalau nanti pas TPA kamu ngerasa mules atau kenapa-napa kamu bilang saja ya... tapi semoga tidak ada apa-apa. Tadinya kalau kamu sama suami kamu, bapak mau bilang agar dia standby di dekat ruangan. Tapi ya enggak papa, semoga bayinya kuat." Saya yang berdiri tepat di belakang Rahma tersenyum mendengar ucapan bapak tadi. Dan di dalam hati berucap "Ayo Rahma pasti bisa!" tidak peduli, tidak ada satupun yang bisa mendengar :)

Baiklah, kembali pada tanggal 03 November.
Bukan Annisa Rahmah kalau saat jam FGD saya tidak salah kelompok. Yup! Saya sempat salah kelompok, salah ruangan dan kemudian... saya bolak-balik keluar ruangan, dan dilihat banyak orang yang pada akhirnya saya sedikit telat... dampaknya... nama saya yang paling dihapal sama teman-teman FGD dan panitianya. Sedih, tapi Alhamdulillahnya, saya mendapatkan temn sekelompok yang baik-baik; Hani (angkatan 2009 UNPAD; Anaknya manis sekali dan menyenangkan), INA (angkatan 2008 UNPAD; Anaknya lucu dan bisa mengimbangi jalannya diskusi), kemudian ada Yogi dari UNAIR, Arif dari UGM, Aji dan Mas Adi.Diskusi kami berjalan menyenangkan. Tidak ada yang terlihat mendominasi. Semuanya saling menguatkan argumen satu sama lain. Seru pokoknya!! seusai FGD, ada sisa waktu empat jam sebelum masuk pada Psikotes. Akhirnya, Saya, Ina, Hani, Yogi dan Aji sempat mengobrol sedikit banyak terutama tentang Ina yang melamar Lima Kementerian sekaligus. Betapa kagumnya kami melihat perjuangan Ina yang minggu ini udah menjalani beberapa kali tes tertulis CPNS. 11-12 dengan Ina, Hani yang baru luluspun melamar cukup banyak, maklum pasca wisuda semangat menggebu-gebu untuk mencari kerjaan luar biasa! Hani bercerita tentang pacarnya yang tidak lolos verivikasi OJK, padahal semua ketentuan sudah terpenuhi dan dari segi IPK, pacarnya Hani seharusnya sangat bisa dipertimbangkan. Kemudian kami sepakat, yang namanya mencari kerja itu ya sama saja mencari jodoh. Jodoh-jodohan. Lebih baik tidak terlalu bertanya "kenapa saya enggak lolos?" tapi lebih kepada "mungkin memang kerjaan itu belum rejeki saya" atau mungkin memang ada orang yang lebih berhak dan memerlukan pekerjaan itu dibanding saya. Iya, kami sepakat untuk menggunakan pemikiran itu. "Yang penting mah teteup usaha!" kata Ina. "Iya bener!soal nanti dapet atau enggak itu mah udah urusan Allah" timpal Hani. Ah... saya suka dan merasa bersyukur sekali bertemu orang-orang seperti mereka.

Sepertinya sudah diduga, Psikotes Bappenas memang bukan Psikotes biasa...
kami mengerjakan empat jam,,, mulai dari test dari modul, hapalan, menggambar, menulis cita-cita dan Pauli. Karena ini temanya Psikotest, jadi saya tidak terlalu memaksakan diri saya. Saya kerjakan sesuai dengan kemampuan saya. Begitupun dengan Pauli, saya sama sekali tidak merasa terintimidasi saat saya baru mengerjakan satu halam tes pauli, sedangkan di sebelah saya sudah menyelesaikan empat halaman bahakan minta kertas tambahan berkali-kali ("-__-). Entah dia manusia atau kalkulator abang sayur!

Yup! entah kenapa saat psikotes berlangsung saya tidak terlalu bisa berkonsentrasi. Saya hanya berpikir, bahwa dua hari ini saya terlalu banyak mendapatkan "pelajaran" hidup yang berharga dari mendengar cerita-cerita orang-orang yang baru saya temui. Bahwa dua hari ini, sepertinya, Tuhan sedang mencoba untuk membuka mata hati saya tentang bagaimana berjuang untuk hidup dan harapan. Bagaimana tentang mengikhlaskan suatu hal yang sesungguhnya sangatdiharapkan, tapi memang selayaknya untuk diikhlaskan ketika tidak ditakdirkan menjadi milik kita.

Kemudian hati kecil saya berbicara...

Bagaimana kalau lo enggak lolos Bappenas ini Sa? Orang tua lo kan benar-benar berharap lo bisa pengisi dua dari posisi kosong yang dibutuhkan Bappenas? Coba udah berapa duit yang dikeluarin buat beli tiket pesawat bolak-balik ke Jogja-Jakarta?

Kalau gue ga lolos? kalau gue ga lolos Bappenas ini sepertinya gue akan baik-baik saja. Bagaimana gue tidak baik-baik saja setelah bertemu manusia-manusia seperti Rahma, Mbak Windi, Hani dan Ina? Toh dua hari ini gue belajar dan mulai paham tentang arti rezeki dan keberjodohan :) soal harapan orang tua gue, gue yakin papah dan ibu sangat paham kalau anaknya ini sudah sangat berusaha. Mungkin awalnya mereka akan kecewa, tapi enggak bakal lama. Karena mereka orang yang paling tahu bagaimana gue berusaha sekuat tenaga selama ini. Jadi... Apapun hasil dari TPA dan Psikotes ini, gue dan orang tua gue sepertinya akan baik-baik saja. Iya, pasti akan baik-baik saja :)


"Waktunya hanya 15 menit ya untuk menyelesaikan karangan tentang cita-cita dan gambar-gambar tadi", suara panitia pelaksana membuyarkan lamunan saya. Kemudian saya mulai menulis, membuat karangan tentang cita-cita saya. Saya masih ingat 80% apa yang saya tulis kemarin. Tapi mungkin dengan kata yang berbeda. Kalian ingin tahu saya menulis apa? saya menulis ini...


Bisa menjadi manusia yang dihargai karena mampu dan terbiasa menghargai hidup orang lain adalah salah satu tujuan hidup saya. Saat ini, sesungguhnya saya tidak terlalu memikirkan kelak akan menjadi apa. Bagi saya, menjadi "apa" tidak lebih penting dari menjadi "siapa". Iya, menjadi "apa" saya kelak bukan menjadi hal yang terlalu saya pusingkan, akan tetapi, menjadi sebagai "siapa" saya dikenal orang itu jauh lebih saya usahakan. Saya ingin sebagai orang yang bisa memberikan kehidupan yang lebih baik untuk orang lain. Saya ingin dikenal sebagai orang yang menghargai kehidupannya dan kehidupan orang lain. Saya ingin dikenal sebagai orang yang bermanfaat.
Akan tetapi... seandainya saya boleh berandai-andai untuk menjadi "apa", saya ingin menjadi Deputi Meneg PPN/BAPPENAS bidang Kemiskinan, Ketenagakerjaan dan Usaha Kecil Menengah. Saya bermimpi, ketika saya diizinkan menjadi seorang Deputi Bappenas, saya bisa memaksimalkan kebermanfaatan hidup saya untuk orang banyak. Saya merasa memiliki tanggungjawab atas kehidupan dan kesempatan yang telah Tuhan berikan dalam hidup saya. Lahir dalam keluarga yang berkecukupan, diberikan kesempatan menimba ilmu hingga S2, jelas itu menjadi tanggungjawab moral saya untuk membagikannya sebagai 'kompensasi' buat mereka yang keberuntungannya harus diambil oleh saya.


kemudian saya berhenti sejenak... mengetuk-ngetuk pensil di meja... menunggu hal yang sepertinya ingin saya tuliskan di lembar kertas itu

Ketika kemudian saya belum diberi kesempatan untuk dapat bergabung dengan institusi ini dan menjadi seorang Deputi BAPPENAS, saya tidak merasa keberatan. Dari awalpun saya menyadari bahwa mungkin banyak orang di luar sana yang memiliki kapabilitas lebih dibanding saya untuk mengisi jabatan ini, atau mungkin, ada banyak orang di luar sana yang lebih membutuhkan pekerjaan ini di banding saya. Saya paham konsep itu dan saya tidak akan berhenti berharap untuk tetap menjadi manusia yang bermanfaat. Karena saya yakin, Tuhan selalu akan membukakan banyak jalan bagi umatNya yang ingin berbuat kebaikan.

Tulisan saya tutup dengan Jakarta, 3 November 2013. tanda tangan. Annisa Rahmah, S.H.


Kemudian saya tersenyum. Apapun hasilnya, saya sudah menjalani tes ini dengan menjadi diri saya sendiri. Melalukan sesuai apa yang ingin saya lakukan dan saya pikirkan, dan ini semua sudah sangat cukup untuk disyukuri. Saya sedang diberikan kesempatan belajar tentang berjuang dan mengikhlaskan sepertinya.





2 comments:

  1. Hallooo, Mbak Annisa! :)
    Salam kenal. Mbak saya mau tanya kalau TPA Bappenas itu apakah soal2nya merupakan soal2 TPA Bappenas yang banyak digunakan untuk tes TPA pada umumnya? Kemudian tema apa yang diberikan pada sesi FGD Mbak? Dan apakah pada saat FGD kita akan dicampur (pelamar antar formasi)? atau satu tidak dicampur? (pelamar yang satu formasi)? Mohon informasinya Mbak Annis. Terima kasih banyak sebelumnya. Senang bisa membaca postingan Mbak Annisa. Salam :)

    ReplyDelete
  2. Yampun,,, kayanya aku telat baca komen yaa.... maaf ya kalau jawabanku sangat terlambat... Aku belum pernah TPA Bappenas sebelumnya jadi aku juga enggak tahu apa TPA yang lakuin kemarin sama dengan TPA BAppenas pada umumnya. Untuk FGD dicampur kok,, kesempatan buat kenalan sama orang baru :) semoga sukses yaa!

    ReplyDelete