Monday, March 2, 2015

KUCING DAN KELINCI BUTA YANG SELALU BERSYUKUR


“kuberitahukan kau sebuah rahasia, Kucing. Semua hal di dunia ini hanyalah permainan pikiranmu. Kau akan merasa cukup jika kau berpikir kau telah cukup. Kau akan merasa bahagia jika kau berpikir kau bahagia. Begitulah yang dikatakan ibuku”



Suatu hari, di tengah hutan tampak seekor Kelinci sedang sibuk mengumpulkan daun-daun untuk makan malamnya. Tak lama kemudian, seekor Kucing datang dengan wajah masam menghampirinya.

“Hai Kelinci, apa yang sedang kau lakukan dengan daun-daun itu?” tanya Kucing.

Kelinci yang sedang sibuk memetik daun-daun berhenti lalu menoleh perlahan ke arah Kucing, “kau berbicara kepadaku?” tanya Kelinci.
“Ya. Aku berbicara kepadamu. Siapa lagi yang ada di sini selain kau dan aku.” kata Kucing kesal.
“Ah, iya. Maafkan aku. Aku hanya...”
“Apa yang akan kau perbuat dengan daun-daun itu?” potong Kucing, bertanya untuk kedua kalinya.

Kelinci mengangkat keranjang rotannya yang sudah hampir penuh terisi oleh daun. Kelinci melompat-lompat menuju Kucing. Kucing memandangi Kelinci dari ujung kaki hingga ujung telinganya yang panjang dan lebar, baju yang dikenakan Kelinci sangatlah lusuh dan kotor.

“Hey! Jangan dekat-dekat, Kelinci! Kau sungguh kotor dan bau! Nanti kau akan mengotori baju baruku” teriak Kucing.
“Ah.. Maafkan aku.” kemudian Kelinci mundur beberapa lompatan mematuhi perintah Kucing untuk tidak terlalu dekat dengannya. “Daun-daun ini adalah makan malamku dan pamanku untuk hari ini. Pamanku sedang sakit, maka aku harus mencari makan dan merawatnya.” Jelas Kelinci

Kucing diam mengamati Kelinci sekali lagi. Ada yang tampak tidak biasanya.


“Hey Kelinci, mengapa bola matamu tampak aneh?” tanya Kucing
“Aneh seperti apa? Apakah mataku tampak menyeramkan?” jawab Kelinci sambil tersenyum.
“Tidak, tidak menyeramkan, hanya saja...”
“Hey, Kucing... kau harus segera pulang, sebentar lagi malam akan datang dan hutan ini akan sangat gelap untukmu. Kau pasti tidak menyukai kegelapan kan?” ujar Kelinci.
“Aku tak ingin pulang. Aku akan membayarmu dengan banyak wortel dan daun-daunan kalau kau mengizinkan aku untuk ikut tinggal bersamamu semalam saja, wahai Kelinci”
“Bagaimana kalau kedua orang tuamu mencari-cari dirimu. Kau harus minta izin terlebih dahulu kepada mereka.”
“Orang tuaku sudah mengizinkan, dan mereka akan memberikan kau dan pamanmu dengan makanan yang banyak jika kau mengijinkan aku tinggal bersamamu malam ini.”

Akhirnya Kelinci mengizinkan Kucing untuk tinggal bersamanya. Sore itu mereka berdua menuju rumah Kelinci di tengah hutan, dan betapa terkejutnya Kucing saat tiba di depan rumah Kelinci. Rumah Kelinci hanyalah rumah pohon yang sangat kecil. Tidak ada lampu-lampu indah seperti di rumah Kucing, hanya ada beberapa lampu minyak yang menggantung di dinding rumah pohon. Di dalamnya hanya ada beberapa kursi kayu yang di ujungnya tampak ditumbuhi jamur.
“Maafkan aku, aku tidak punya ikan ataupun daging yang bisa kau makan,Kucing. Aku hanya ada beberapa wortel ini dan sayuran” ujar Kelinci.
“Tak apa-apa, aku tidak lapar” jawab Kucing pelan. Sesungguhnya ia sangatlah lapar, tapi melihat kondisi rumah Kelinci dan pamannya yang sedang terbaring sakit ia tak punya hati untuk meminta macam-macam makanan kepada Kelinci.
“Kucing, aku harus merawat pamanku sebentar, agar kau tak bosan pergilah keluar dan kau akan melihat bintang yang sangat indah” tawar Kelinci.

Kucing mengikuti saran Kelinci. Sementara Kelinci mengurus pamannya untuk makan malam, ia keluar dan duduk di depan rumah pohon. Untuk kedua kalinya Kucing terkejut melihat taburan bintang yang sangat indah di langit. Ia tidak pernah melihat langit penuh bintang seperti ini sebelumnya. Di rumahnya, cahaya bintang tampaknya tersaingi dengan benderang lampu-lampu taman dan lampu lain yang terpasang. Ia tak pernah melihat cahaya bintang sebenderang ini. Tak pernah melihat langit malam seindah ini. Saking senangnya, ia melupakan perut laparnya.

Beberapa saat kemudian, Kelinci keluar menghampiri Kucing yang masih sangat takjub dengan pemandangan langit malam itu. melihat Kelinci yang baru saja keluar dari rumah pohon, Kucingpun segera memanggilnya. “Hai Kelinci!! Duduklah di sampingku. Lihat lah langit malam ini sunggulah sangat indah!”. Kelincipun melompat ke arah kucing, tentu saja masih menjaga jarak, ia takut mengotori baju Kucing yang hingga malam inipun masih tercium sangat harum.
“Pamanmu bagaimana?” tanya Kucing kepada Kelinci.

“Paman sudah tidur. Kucing sungguh kau tidak lapar? Makanlah beberapa wortel milikku, kau belum makan sedari sore saat kita bertemu.”
“Tidak Kelinci, sungguh aku tidak lapar Sebelum aku bertemu denganmu di hutan tadi, aku sudah makan banyaaaak sekali makanan lezat! Lagipula Kucing tak makan wortel” jelas Kucing, “hey Kelinci, lihatlah ke atas, langitnya sangat indah!”

“Iya... kata ibuku langit selalu tampak indah dari hutan kami”
“kata ibumu? Mengapa harus kata ibumu? Lihatlah sendiri dengan matamu!”

“Kucing, apakah kau belum menyadarinya?”
“menyadari apa?”

“Aku tak bisa melihat. Itu mengapa bola mataku tampak aneh seperti yang kau katakan tadi sore”
Untuk keempat kalinya Kucing terkejut.
“Tapi kau tak terlihat seperti Kelinci yang buta?! Kau tak pernah menabrak pohon atau apapun saat perjalanan kita pulang. Kau pun tidak seperti Kelinci buta saat sedang merawat pamanmu”

“Begitukah?” Kelinci tersenyum,”kata ibuku,aku hanya tak bisa melihat dengan mata, tapi aku tidak buta. Aku tidak bisa melihat sedari aku masih bayi. Ibu dan ayahku mengajarkan aku dan mengenalkan aku kepada setiap sudut tempat di hutan ini hingga aku sangat hapal setiap pohon yang tumbuh ataupun setiap jengkal tanah yang kupijak.
“Kata kedua orang tua ku, aku tak perlu takut dengan kekuranganku. Tuhan Maha Adil. Jika ia memberikan kekurangan, maka bersama kekurangan itu ia karuniakan juga kelebihan. Aku tak bisa melihat, tapi pendengaranku, penciumanku dan kemapuan menghapalku sangatlah bisa aku andalkan.
“Mereka selalu bilang walau aku tidak bisa melihat dengan mataku, bukan berarti aku tidak bisa seperti kelinci lainnya. Mungkin mataku tak bisa melihat dan menangkap cahaya, tapi aku, dan siapapun akan selalu bisa melihat sesuatu lebih jelas dengan hati yang kita miliki. Penglihatan yang diberikan dari mata terkadang malah memberikan kekeliruan, sedangkan pandangan yang diberikan oleh hati, akan selalu tampak seperti apa adanya” jelas Kelinci.

“Lalu di mana ayah dan ibumu sekarang? Aku tidak melihatnya sedari tadi.”

“Ayah dan ibuku sudah pergi. Mereka tertangkap oleh manusia saat ingin melepaskan rusa yang terjerat jebakan manusia. Kata paman, ibu dan ayah tidak bisa untuk tidak menolong rusa yang sedang hamil dan terlihat kesakitan, maka ayah dan ibu mengerat jaring jebakan itu. Rusa berhasil lepas, namun ayah dan ibu tertangkap oleh manusia. Itulah yang diceritakan paman kepadaku”

Kucing terdiam mendengar cerita Kelinci. Ada getir yang mengalir di hatinya saat ini.

“Walau aku tidak bisa melihat bintang dengan mataku, tapi aku bisa membayangkannya dalam pikiranku. Dulu, ibu dan ayah selalu menceritakannya dengan sangat detil, kemudian aku bisa memabayangkannya dalam pikiranku. Seperti tadi sore, walau aku tidak bisa melihat dirimu, tapi aku bisa membayangkan alangkah cantiknya baju yang kau kenakan. Bau badanmu sungguhlah harum, kau pasti cantik bagaikan seorang putri, Kucing, bajumu pastilah juga sangat indah”
Mendengar penjelasan Kelinci.

Kucing mulai membuka suara, “sungguh tak adil hidup ini kepadamu wahai Kelinci, pastilah kau sangat menderita selama ini. Kau buta sedari kau kecil dan kaupun tak punya ayah dan ibu untuk berlindung, malah kau harus merawat pamanmu yang sakit-sakitan di rumahmu yang sangat sempit dan pengap ini” kata Kucing.

“Tidak Kucing, aku tidak pernah merasa menderita. Aku bersyukur atas hidupku. Dulu, aku pernah bertanya kepada ibuku tentang mengapa Tuhan tidak memberikanku mata yang bisa melihat dunia, kemudian ibuku menjawab, Tuhan memberikanku mata yang tidak bisa melihat dunia karena Tuhan ingin aku melihat dunia dengan lebih indah daripada orang lain melihatnya. Seperti aku membayangkan indahnya langit, bisa jadi langit yang ada di bayanganku jauh lebih indah dari langit malam ini. Bajuku yang sempat kau katakan lusuh dan kotor, aku tidak pernah melihatnya seperti itu, di pikiranku, baju ini adalah baju terbaik dan tercantik yang kupunya karena baju ini dirajut oleh ibuku sendiri. aku selalu merasa hangat mengenakan baju buatan ibu. Aku selalu merasa ibu memelukku saat aku memakainya. Rumahku yang kau bilang sempit dan pengap ini, aku tak pernah merasakannya begitu, rumah pohon ini penuh dengan kenangan aku dan kedua orang tuaku. Banyak cerita dan ilmu pengetahuan yang ayahku ajarkan kepadaku sehingga aku bisa melihat dunia dengan lebih luas. Sesempit apapun yang kau lihat dengan matamu, tapi hatiku selalu merasakan rumah pohonku sangatlah luas dan lapang. Akupun tak merasa keberatan merawat pamanku yang sakit, paman adalah pengganti ayah semenjak aku tak punya kedua orang tua lagi, ia selalu merawatku dengan penuh kasih sayang, dan aku beruntung diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk membalas kebaikan hatinya dengan merawatnya saat ini
“kuberitahukan kau sebuah rahasia, Kucing. Semua hal di dunia ini hanyalah permainan pikiranmu. Kau akan merasa cukup jika kau berpikir kau telah cukup. Kau akan merasa bahagia jika kau berpikir kau bahagia. Begitulah yang dikatakan ibuku”

Kucing meneteskan air mata mendengar cerita dari Kelinci. Tiba-tiba dia rindu dengan kedua orang tuanya, pasti mereka sedang sangat khawatir mencarinya. Sungguh ia malu dengan Kelinci yang selalu bersyukur dengan kehidupan yang ia miliki walau terlihat sangat kekurangan.
Kucing mulai terisak.


“Kucing, apakah kau menangis?” tanya Kelinci.
“Aku rindu sama ayah dan ibuku... Kelinci... maaf aku telah berbohong kepadamu, sebenarnya aku kabur dari rumah karena ayah tidak membelikan boneka yang aku inginkan. Aku kesal... tapi... setelah mendengar ceritamu aku sadar betapa tidak bersyukurnya aku. Selama ini aku hidup berkecukupan, berlebih bahkan. Apa yang aku pinta ayah dan ibuku selalu berusaha untuk memenuhinya, tapi aku selalu tidak merasa cukup dan puas. Aku malu denganmu, Kelinci... yang terus bersyukur dengan kehidupan yang kau miliki. Kupikir mungkin aku tidak akan sanggup hidup bila aku menjadi dirimu” jelas Kucing sambil menangis tersedu.

“Satu hal yang harus kau ingat, Kucing, bahwa Tuhan tidak akan memberikan cobaan di luar kemampuan mahkluk ciptaanNya. Dan hal kedua yang juga sangat penting untuk kau ingat bahwa kita tidak akan selamanya bisa bersama dengan orang tua kita, Kucing. Selama mereka masih bersama kita, maka kita wajib membahagiakan mereka. Tuhan akan selalu mencintai ciptaanNya yang memperlakukan baik orang tuanya.” Lalu Kelinci melanjutkan, “besok pagi, akan aku antar kau kembali ke rumahmu, ayah dan ibumu pasti sangat khawatir.”

Keesokan harinya, Kelinci mengantar Kucing kembali ke rumahnya. Alangkah bahagianya ayah dan ibu Kucing saat melihat anak satu-satunya kembali. Sebelum pulang, Kucing memberikan banyak sayuran dan buah-buahan kepada Kelinci untuk dibawa pulang sesuai dengan janjinya. Selain itu Kucing juga menceritakan kehidupa Kelinci dan Pamannya yang hanya tinggal di rumah pohon yang sempit. Kemudian orang tua Kucing sepakat untuk membuatkan rumah yang lebih bagus untuk Kelinci dan Pamannya. Semenjak pertemuannya dengan Kelinci, perlahan demi perlahan sikap Kucing berubah semakin baik. Ia mulai lebih menghormati orang tuanya dan menghargai teman-temannya.

Terkadang kita selalu mengukur kebahagian dari hal-hal yang kita lihat, entah itu uang, jabatan, pendidikan ataupun barang-barang yang kita miliki. Padahal, Tuhan menakar kebahagiaan setiap mahkluknya dengan hal yang berbeda-beda. Sesungguhnya, seseorang yang mampu merasa cukup dan terus bersyukurlah adalah orang kaya yang sebenarnya menghargai apa yang ia miliki dan terus berbagi serta mengasihi orang lain.

Orang yang terlihat bahagia dengan segala kebercukupan harta yang ia miliki tidaklah menjamin seseorang itu benar-benar merasakan bahagia. Sebaliknya, seseorang yang terlihat sangat menderita ketika ia memiliki pemahaman kehidupan yang baik maka mungkin ia adalah orang yang paling bahagia di dunia ini.

Dan ingatlah... Tuhan telah berjanji, bahwa Dia akan menambahkan karuniaNya bagi umatNya yang bersyukur















No comments:

Post a Comment