Monday, January 13, 2020

Sebuah Awal Untuk Belajar

Semuanya basah. Baju, sofa, kursi, kasur, dan kayu-kayu kitchen set yang melapuk setengah hancur.
Motor dan mobil yang mati total karena terendam air lebih dari duapuluhempat jam.
Sepatu-sepatu yang harus ikhlas dibuang karena sudah tak layak pakai.

Di awal tahun baru ketika menyusun harapan saja belum sempat, Tuhan memberi saya ruang untuk menerima kehilangan tanpa mengumpat.

"Innalillahi wa innalillahi roji'un. ini bukti, kalau Allah berkenhedak, apa saja yang mau Dia ambil dari kita, bisa kapan saja dan lewat mana saja.", kata Ibuk.

Mungkin lagi diajari soal sabar, lagi diingetkan ga boleh sombong, lagi diajarkan berserah, belajar ikhlas, menerima saat harus diminta untuk melepaskan.

Mungkin seperti itu.

Banjir kemarin adalah kali ketiga yang saya alami. Tanpa listrik, sedikit air bersih dan makanan. Di sela hening saya beristigfar,,
Sering dalam titik terendahnya, manusia bisa lebih rendah hati untuk bisa lebih paham dan mengerti sebuah pesan dari Penciptanya.

Apa yang kurang selama ini dala hidup saya?

jawabnya, tidak ada.

Apa yang sudah saya lakukan untuk membalas hadiah kecukupan ini?

jawabnya, belum ada.

dan di titik terendah ini, saya ingat dan sadar bahwa banyak hal yang lupa saya syukuri. Banyak hal yang belum saya lakukan. Banyak hal yang bahkan baru terfikirkan sekarang.

Kemana saja saya selama ini?

Mungkin lewat musibah ini, Tuhan sedang bertanya, " mau sampai kapan kamu lupa, kamu diam dan berhenti berfikir dengan semua yang ada di sekeliling kamu, Annisa?"

Dan jika benar seperti itu, saya tidak punya jawabannya--selain, "Maaf, Tuhan."



Tentang mobil dan motor yang tenggelam, tentang barang-barang yang basah bekas tergenang, dan semua kesombongan yang hilang terbawa air hujan--saya tidak pantas merasa kehilangan--Itu semua milik Tuhan.

Kapanpun Dia ingin mengambil, maka ambilah. Sesungguhnya manusia tidak memiliki apa-apa selain rasa kepemilikan yang ia ciptakan sendiri.

Jadi korban banjir tidak selamanya tentang hidup yang dirundung nestapa,, tapi kali ini saya merasa tentang Tuhan yang sedang
mencoba menarik umatNya yang akhir-akhir ini lebih sibuk urusan dunia. Lupa kalau Allah adalah sumber dari semua doa. Lupa
bahwa Allah adalah pusat dari segala harap. Lupa bahwa saya sesungguhnya tidak punya apa-apa tanpa izin dari Nya.


Tuhan sungguh baik. Di awal 2020 Tuhan ajarkan saya memahami suatu hal yang seharusnya saya pahami dari dulu.
Tapi apalah daya, saya adalah manusia si pusat lupa. Iman naik turun, kebanyakan turunnya. Tidak bisa dengan cara halus,
dikasihlah cara lewat banjir.

Buat para korban banjir, jangan terlalu sedih bisa jadi hal yang tidak kita sukai membawa berkah yang akan kita syukyri nantinya.
Semoga tulisan ini bisa sebagai obat untuk yang turut merasakan, dan sebagai pengingat untuk yang lupa merasakan (nikmatNya).