Tuesday, March 10, 2015

KETIKA TAMAT MEMBACA 'RINDU'

Apa hal yang sering saya lakukan ketika saya bahagia? Jawabannya adalah menulis.

Saat saya merasa bahagia selepas berkumpul dengan teman-teman dan menghabiskan waktu dengan mendengarkan banyak hal serta bercerita, saya akan menulis.

Saat saya merasa bahagia selepas menyaksikan sebuah kejadian yang memberikan saya pemahaman baru, saya akan menulis.

Saat saya merasa bahagia selepas menonton sebuah film atau menamatkan sebuah buku, maka saya akan menulis.

Menulis bagi saya menjadi tempat untuk berbagii atas kebahagiaan yang saya rasakan. Atas pemahaman-pemahaman baru yang semoga bernilai baik yang saya dapatkan. Maka izinkanlah saya kali ini untuk berbagi kebahagiaan saya atas pemahaman baru yang saya dapatkan setelah menamatkan sebuah novel berjudul RINDU karya Tere Liye.

sumber : http://ruangmaknaqu.blogspot.com/2014/10/resensi-novel-rindu.html

Novel ini pemberian sahabat saya; Eka. Entahlah, mungkin Eka paham bahwa saya memang menyukai karya-karya Tere Liye. Saya mengoleksi novel-novelnya, saya jatuh cinta dengan tulisan Tere Liye sejak saya menamatkan novel karangannya yang pertama saya miliki: Aku, Kau dan sepucuk Angpao Merah. Kemudian saya terus membeli karya Tere Liye lainnya. Saya suka, saya suka dengan semua konsep yang ditawarkan Tere Liye dalam melihat kehidupan. Tentang bagaimana caranya mencintai, bagaimana caranya bermimpi, bagaimana cara menghargai kehidupan, saya selalu menyukai cara Tere Liye menyajikan itu semua dalam cerita-cerita karangannya.

Kembali pada RINDU. Novel yang memiliki 544 halaman ini memberikan kesan ‘lelah’ bagi saya saat pertama kali menerimanya dari Eka. Saya memang suka membaca karya Tere Liye, tapi sebelumnya saya harus menyatakan bahwa saya adalah pembosan. Saya tidak pernah bisa duduk diam lebih dari setengah jam hanya untuk membaca buku. Saya tidak terlalu suka cerita yang panjang, lebih tepatnya saya tidak terlalu suka melihat buku bacaan yang terlalu tebal. Karena saya selalu tidak sabaran menebak-nebak akhir cerita. Saya akui saya kurang sabar, tapi RINDU, membuat saya paham bahwa untuk memahami dan menemukan ‘keberhargaan’ sebuah buku, kita pun butuh sabar.

Jujur, novel ini saya tamatkan selama dua bulan. Bab 1 hingga Bab 30 terasa membosankan bagi saya. tidak ada konflik yang terlalu berarti. Tidak terlalu banyak perkataan-perkataan yang bisa diresapi dan dimaknai, maka jadilah novel ini selalu saya kesampingkan dan saya buka sekali-kali jika saya sedang tidak ada kerjaan. Saya tidak terlalu ingin menamatkannya. Tapi saya kembali berpikir, tidak mungkin penerbit sebesar REPUBLIKA menerbitkan buku yang isinya biasa saja. saya mulai bertanya, ceritanya yang membosankan, atau saya yang belum bisa memahami isi ceritanya?

Maka untuk mendapatkan jawabannya, tidak lain dengan terus melanjutkan membacanya dan menamatkannya.

BAB 31. Pertanyaan pertama mulai diajukan. Pertanyaan tentang apa? Bacalah sendiri.

Selanjutnya hingga BAB 50-51 pertanyaan-pertanyaan lain mulai diajukan dan dijawab. Ada lima pertanyaan dari lima kehidupan manusia yang berbeda. Empat dari lima pertanyaan itu terjawab oleh seorang guru besar bernama Ahmad Karaeng yang akrab dipanggil Gurutta dalam cerita ini. Kemudian satu pertanyaan terakhir, sebuah pertanyaan yang berasal dari Gurutta tanpa disangka-sangka terjawab oleh seorang kelasi kapal yang patah hati. Seorang pemuda yang dangkal ilmu agamanya dan tokoh paling muda di antara tokoh utama dalam cerita ini.

Kalian tahu apa yang saya dapatkan setelah membaca novel ini khususnya di BAB 31 hingga 51? Banyak hal! Dan salah satunya adalah saya kemudian mengerti bahwa setiap manusia yang hidup dengan segala macam takdir yang ia miliki akan selalu memiliki satu atau lebih pertanyaan hidup dalam dirinya. Pertanyaan yang berbeda-beda setiap orangnya, dan terkadang kita akan menemukan jawabannya itu dari orang-orang yang kita temui dalam hidup kita. Bahkan dari seseorang yang tidak pernah kita kira, seperti kelasi rendahan yang pada akhirnya mampu menjawab pertanyaan seorang Gurutta.

Ya, kita tidak pernah tahu serumit apapun pertanyaan yang kita bawa dalam hidup bisa jadi akan menemukan jawabannya dari seorang yang memiliki tingkat pendidikan, sosial atau bahkan agama yang jauh dari kita. Itu sebabnya, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak menghargai siapapun yang kita temui dalam hidup kita, karena bisa jadi, orang yang kita sepelekan karena kemampuanyalah yang memegang jawaban atas pertanyaan kita. Bisa jadi, orang yang paling tidak kita perhitungkanlah yang akan memberikan pemahaman hidup yang lebih baik untuk kita. Bisa jadi, orang yang paling membutuhkan pertolongan kitalah yang malah akan menolong kita keluar dari kebingungan.
Bisa jadi seperti itu.

Hal lain yang saya temui dalam buku ini adalah tentang penerimaan dan sabar. Tentang bagaimana kita belajar untuk menerima takdir Tuhan yang terkadang terasa tidak adil bagi kita. Bagaimana kita bisa menerima bahwa hal yang kita inginkan tidak selalu menjadi hal yang terbaik untuk diri kita. Maka atas luka, atas rasa kecewa, atas rasa marah dan rasa bersalah, ada baiknya mulai saat ini kita belajar menerima. Menerima tidak sekedar menerima. Menerima dengan pemahaman yang baik untuk belajar mengerti bahwa atas sebuah proses hidup yang baik, atas sebuah kesalahan yang dilakukan karena ketidaktahuan, atas sebuah luka yang entah mengapa diberikan Tuhan, selalu ada pelajaran dan pesan yang ingin disampaikan Tuhan.

Dan ketika itu berasal dari Tuhan, maka itu akan selalu menjadi kebaikan. Belajarlah menerima dengan konsep yang seperti itu.

Kemudian, sabar. Dalam novel ini dituliskan bahwa sabar adalah penolong kita yang luar biasa. Bagaimana bisa? Begini, ketika kita menerima sebuah takdir Tuhan, takdir yang tidak kita inginkan, takdir yang entah mengapa dan kita tidak paham dan mengerti alasannya, bukan berarti kita jadi membenci dan tidak menyukai takdir tersebut. Jika kita bersabar, menerima, maka kelak waktu akan menjelaskan hal-hal yang tidak kita pahami sebelumnya. Dan apabila kita sabar dan menerima, waktu akan mengobati semua luka dan kecewa yang sempat kita dapatkan sebelumnya. Ingatlah bahwa pengetahuan manusia terbatas, dan sungguh, kita tidak perlu tahu seluruh hal di dunia ini.
Sabarlah, ikhlaslah.

Saya hingga detik ini yakin, atas semua hal yang selama ini saya perjuangkan namun belum bisa saya menangkan atau dapatkan adalah karena (mungkin) memang belum pantas saya dapatkan atau (mungkin) akan diganti yang lebih baik oleh Tuhan. Hal yang terus saya lakukan adalah berjuang dengan cara yang benar, agar saya mendapatkan hasil yang benar juga, walau mungkin hasilnya tidak sesuai dengan keinginan saya, karena sekali lagi saya ingin belajar memercayai bahwa hal yang saya ingini belum tentu menjadi hal terbaik bagi hidup saya. semoga pemahaman ini akan selalu saya pegang agar saya bisa belajar ikhlas saat bertemu dengan kegagalan ataupun kekecewaan dalam bentuk apapun.

Saya adalah pelupa yang akut. Saya sering melupakan nama-nama orang yang saya temui. Saya sering melupakan jalan cerita sebuah film atau buku yang saya baca. Saya sering melupakan arah jalan yang (padahal) sering saya lewati. Tapi entahlah untuk yang satu ini saya harus bersyukur atau tidak atas saya yang sebagai pelupa akut; saya sering melupakan hal-hal yang tidak menyenangkan yang terjadi dalam hidup saya. Bahkan sering saya lupa jika saya sedang marah dengan seseorang. Saya hanya tidak ingin terbiasa membenci. Saya tidak ingin merasa sedih dan kecewa terlalu lama. Maka tanpa saya sadar, saya menggunakan kemampuan saya—jika saya boleh mengakui pelupa saya sebagai sebuah kemampuan—melupakan hal-hal yang tidak menyenangkan. Saya hanya berusaha menjadikan kekurangan pelupa saya sebagai kelebihan tersendiri untuk beberapa hal.

Dan seperti yang saya nyatakan di awal, inilah yang dilakukan pelupa saat merasa bahagia; menulis.

Saya menulis agar kelak, suatu saat nanti yang entah kapan, ketika saya membaca tulisan ini lagi saya bisa merasakan bahagia yang sama seperti malam ini saat saya menuliskan ini semua. Inilah kejujurannya, saya menulis untuk diri saya sendiri sebenarnya, tapi jika tulisan ini bisa membuat orang lain juga merasa bahagia, maka kebahagiaan saya berkali-kali lipat. Adakah hal bahagia selain ketika kebahagiaan kita menjadi sumber kebahagiaan (juga) bagi orang lain?

Saya tidak perlu menjawab.

Terakhir saya ingin menuliskan tentang pengalaman saya menamatkan novel ini. Saya sempat berpikir, adakalanya kita hampir menyerah untuk menyelesaikan suatu hal—seperti saya yang hampir menyerah menuntaskan novel ini—tapi kemudian ada di mana kita seolah ‘dibisikan’ untuk terus menyelesaikannya. Jika itu terjadi dalam kehidupan kita kelak, maka, yakinilah bahwa itu petunjuk alam semesta dan Tuhan agar kita tidak lekas menyerah, karena ada hal berharga yang bisa kita dapatkan di ujung sana. Jadi... membaca saja butuh sabar, apalagi memahami dan menemukan keseruan akan kehidupan. Jika alur cerita hidup kita saat ini terasa datar dan kurang seru, maka bersabarlah. Sabar! Tetap teruskan dengan penuh harapan baik. Akan ada waktunya kalian memasuki bab baru dalam kehidupan kalian yang membuat kalian kehilangan rasa lelah dan kehilangan kesempatan untuk sekedar menggerutu!!

Monday, March 2, 2015

KUCING DAN KELINCI BUTA YANG SELALU BERSYUKUR


“kuberitahukan kau sebuah rahasia, Kucing. Semua hal di dunia ini hanyalah permainan pikiranmu. Kau akan merasa cukup jika kau berpikir kau telah cukup. Kau akan merasa bahagia jika kau berpikir kau bahagia. Begitulah yang dikatakan ibuku”



Suatu hari, di tengah hutan tampak seekor Kelinci sedang sibuk mengumpulkan daun-daun untuk makan malamnya. Tak lama kemudian, seekor Kucing datang dengan wajah masam menghampirinya.

“Hai Kelinci, apa yang sedang kau lakukan dengan daun-daun itu?” tanya Kucing.

Kelinci yang sedang sibuk memetik daun-daun berhenti lalu menoleh perlahan ke arah Kucing, “kau berbicara kepadaku?” tanya Kelinci.
“Ya. Aku berbicara kepadamu. Siapa lagi yang ada di sini selain kau dan aku.” kata Kucing kesal.
“Ah, iya. Maafkan aku. Aku hanya...”
“Apa yang akan kau perbuat dengan daun-daun itu?” potong Kucing, bertanya untuk kedua kalinya.

Kelinci mengangkat keranjang rotannya yang sudah hampir penuh terisi oleh daun. Kelinci melompat-lompat menuju Kucing. Kucing memandangi Kelinci dari ujung kaki hingga ujung telinganya yang panjang dan lebar, baju yang dikenakan Kelinci sangatlah lusuh dan kotor.

“Hey! Jangan dekat-dekat, Kelinci! Kau sungguh kotor dan bau! Nanti kau akan mengotori baju baruku” teriak Kucing.
“Ah.. Maafkan aku.” kemudian Kelinci mundur beberapa lompatan mematuhi perintah Kucing untuk tidak terlalu dekat dengannya. “Daun-daun ini adalah makan malamku dan pamanku untuk hari ini. Pamanku sedang sakit, maka aku harus mencari makan dan merawatnya.” Jelas Kelinci

Kucing diam mengamati Kelinci sekali lagi. Ada yang tampak tidak biasanya.


“Hey Kelinci, mengapa bola matamu tampak aneh?” tanya Kucing
“Aneh seperti apa? Apakah mataku tampak menyeramkan?” jawab Kelinci sambil tersenyum.
“Tidak, tidak menyeramkan, hanya saja...”
“Hey, Kucing... kau harus segera pulang, sebentar lagi malam akan datang dan hutan ini akan sangat gelap untukmu. Kau pasti tidak menyukai kegelapan kan?” ujar Kelinci.
“Aku tak ingin pulang. Aku akan membayarmu dengan banyak wortel dan daun-daunan kalau kau mengizinkan aku untuk ikut tinggal bersamamu semalam saja, wahai Kelinci”
“Bagaimana kalau kedua orang tuamu mencari-cari dirimu. Kau harus minta izin terlebih dahulu kepada mereka.”
“Orang tuaku sudah mengizinkan, dan mereka akan memberikan kau dan pamanmu dengan makanan yang banyak jika kau mengijinkan aku tinggal bersamamu malam ini.”

Akhirnya Kelinci mengizinkan Kucing untuk tinggal bersamanya. Sore itu mereka berdua menuju rumah Kelinci di tengah hutan, dan betapa terkejutnya Kucing saat tiba di depan rumah Kelinci. Rumah Kelinci hanyalah rumah pohon yang sangat kecil. Tidak ada lampu-lampu indah seperti di rumah Kucing, hanya ada beberapa lampu minyak yang menggantung di dinding rumah pohon. Di dalamnya hanya ada beberapa kursi kayu yang di ujungnya tampak ditumbuhi jamur.
“Maafkan aku, aku tidak punya ikan ataupun daging yang bisa kau makan,Kucing. Aku hanya ada beberapa wortel ini dan sayuran” ujar Kelinci.
“Tak apa-apa, aku tidak lapar” jawab Kucing pelan. Sesungguhnya ia sangatlah lapar, tapi melihat kondisi rumah Kelinci dan pamannya yang sedang terbaring sakit ia tak punya hati untuk meminta macam-macam makanan kepada Kelinci.
“Kucing, aku harus merawat pamanku sebentar, agar kau tak bosan pergilah keluar dan kau akan melihat bintang yang sangat indah” tawar Kelinci.

Kucing mengikuti saran Kelinci. Sementara Kelinci mengurus pamannya untuk makan malam, ia keluar dan duduk di depan rumah pohon. Untuk kedua kalinya Kucing terkejut melihat taburan bintang yang sangat indah di langit. Ia tidak pernah melihat langit penuh bintang seperti ini sebelumnya. Di rumahnya, cahaya bintang tampaknya tersaingi dengan benderang lampu-lampu taman dan lampu lain yang terpasang. Ia tak pernah melihat cahaya bintang sebenderang ini. Tak pernah melihat langit malam seindah ini. Saking senangnya, ia melupakan perut laparnya.

Beberapa saat kemudian, Kelinci keluar menghampiri Kucing yang masih sangat takjub dengan pemandangan langit malam itu. melihat Kelinci yang baru saja keluar dari rumah pohon, Kucingpun segera memanggilnya. “Hai Kelinci!! Duduklah di sampingku. Lihat lah langit malam ini sunggulah sangat indah!”. Kelincipun melompat ke arah kucing, tentu saja masih menjaga jarak, ia takut mengotori baju Kucing yang hingga malam inipun masih tercium sangat harum.
“Pamanmu bagaimana?” tanya Kucing kepada Kelinci.

“Paman sudah tidur. Kucing sungguh kau tidak lapar? Makanlah beberapa wortel milikku, kau belum makan sedari sore saat kita bertemu.”
“Tidak Kelinci, sungguh aku tidak lapar Sebelum aku bertemu denganmu di hutan tadi, aku sudah makan banyaaaak sekali makanan lezat! Lagipula Kucing tak makan wortel” jelas Kucing, “hey Kelinci, lihatlah ke atas, langitnya sangat indah!”

“Iya... kata ibuku langit selalu tampak indah dari hutan kami”
“kata ibumu? Mengapa harus kata ibumu? Lihatlah sendiri dengan matamu!”

“Kucing, apakah kau belum menyadarinya?”
“menyadari apa?”

“Aku tak bisa melihat. Itu mengapa bola mataku tampak aneh seperti yang kau katakan tadi sore”
Untuk keempat kalinya Kucing terkejut.
“Tapi kau tak terlihat seperti Kelinci yang buta?! Kau tak pernah menabrak pohon atau apapun saat perjalanan kita pulang. Kau pun tidak seperti Kelinci buta saat sedang merawat pamanmu”

“Begitukah?” Kelinci tersenyum,”kata ibuku,aku hanya tak bisa melihat dengan mata, tapi aku tidak buta. Aku tidak bisa melihat sedari aku masih bayi. Ibu dan ayahku mengajarkan aku dan mengenalkan aku kepada setiap sudut tempat di hutan ini hingga aku sangat hapal setiap pohon yang tumbuh ataupun setiap jengkal tanah yang kupijak.
“Kata kedua orang tua ku, aku tak perlu takut dengan kekuranganku. Tuhan Maha Adil. Jika ia memberikan kekurangan, maka bersama kekurangan itu ia karuniakan juga kelebihan. Aku tak bisa melihat, tapi pendengaranku, penciumanku dan kemapuan menghapalku sangatlah bisa aku andalkan.
“Mereka selalu bilang walau aku tidak bisa melihat dengan mataku, bukan berarti aku tidak bisa seperti kelinci lainnya. Mungkin mataku tak bisa melihat dan menangkap cahaya, tapi aku, dan siapapun akan selalu bisa melihat sesuatu lebih jelas dengan hati yang kita miliki. Penglihatan yang diberikan dari mata terkadang malah memberikan kekeliruan, sedangkan pandangan yang diberikan oleh hati, akan selalu tampak seperti apa adanya” jelas Kelinci.

“Lalu di mana ayah dan ibumu sekarang? Aku tidak melihatnya sedari tadi.”

“Ayah dan ibuku sudah pergi. Mereka tertangkap oleh manusia saat ingin melepaskan rusa yang terjerat jebakan manusia. Kata paman, ibu dan ayah tidak bisa untuk tidak menolong rusa yang sedang hamil dan terlihat kesakitan, maka ayah dan ibu mengerat jaring jebakan itu. Rusa berhasil lepas, namun ayah dan ibu tertangkap oleh manusia. Itulah yang diceritakan paman kepadaku”

Kucing terdiam mendengar cerita Kelinci. Ada getir yang mengalir di hatinya saat ini.

“Walau aku tidak bisa melihat bintang dengan mataku, tapi aku bisa membayangkannya dalam pikiranku. Dulu, ibu dan ayah selalu menceritakannya dengan sangat detil, kemudian aku bisa memabayangkannya dalam pikiranku. Seperti tadi sore, walau aku tidak bisa melihat dirimu, tapi aku bisa membayangkan alangkah cantiknya baju yang kau kenakan. Bau badanmu sungguhlah harum, kau pasti cantik bagaikan seorang putri, Kucing, bajumu pastilah juga sangat indah”
Mendengar penjelasan Kelinci.

Kucing mulai membuka suara, “sungguh tak adil hidup ini kepadamu wahai Kelinci, pastilah kau sangat menderita selama ini. Kau buta sedari kau kecil dan kaupun tak punya ayah dan ibu untuk berlindung, malah kau harus merawat pamanmu yang sakit-sakitan di rumahmu yang sangat sempit dan pengap ini” kata Kucing.

“Tidak Kucing, aku tidak pernah merasa menderita. Aku bersyukur atas hidupku. Dulu, aku pernah bertanya kepada ibuku tentang mengapa Tuhan tidak memberikanku mata yang bisa melihat dunia, kemudian ibuku menjawab, Tuhan memberikanku mata yang tidak bisa melihat dunia karena Tuhan ingin aku melihat dunia dengan lebih indah daripada orang lain melihatnya. Seperti aku membayangkan indahnya langit, bisa jadi langit yang ada di bayanganku jauh lebih indah dari langit malam ini. Bajuku yang sempat kau katakan lusuh dan kotor, aku tidak pernah melihatnya seperti itu, di pikiranku, baju ini adalah baju terbaik dan tercantik yang kupunya karena baju ini dirajut oleh ibuku sendiri. aku selalu merasa hangat mengenakan baju buatan ibu. Aku selalu merasa ibu memelukku saat aku memakainya. Rumahku yang kau bilang sempit dan pengap ini, aku tak pernah merasakannya begitu, rumah pohon ini penuh dengan kenangan aku dan kedua orang tuaku. Banyak cerita dan ilmu pengetahuan yang ayahku ajarkan kepadaku sehingga aku bisa melihat dunia dengan lebih luas. Sesempit apapun yang kau lihat dengan matamu, tapi hatiku selalu merasakan rumah pohonku sangatlah luas dan lapang. Akupun tak merasa keberatan merawat pamanku yang sakit, paman adalah pengganti ayah semenjak aku tak punya kedua orang tua lagi, ia selalu merawatku dengan penuh kasih sayang, dan aku beruntung diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk membalas kebaikan hatinya dengan merawatnya saat ini
“kuberitahukan kau sebuah rahasia, Kucing. Semua hal di dunia ini hanyalah permainan pikiranmu. Kau akan merasa cukup jika kau berpikir kau telah cukup. Kau akan merasa bahagia jika kau berpikir kau bahagia. Begitulah yang dikatakan ibuku”

Kucing meneteskan air mata mendengar cerita dari Kelinci. Tiba-tiba dia rindu dengan kedua orang tuanya, pasti mereka sedang sangat khawatir mencarinya. Sungguh ia malu dengan Kelinci yang selalu bersyukur dengan kehidupan yang ia miliki walau terlihat sangat kekurangan.
Kucing mulai terisak.


“Kucing, apakah kau menangis?” tanya Kelinci.
“Aku rindu sama ayah dan ibuku... Kelinci... maaf aku telah berbohong kepadamu, sebenarnya aku kabur dari rumah karena ayah tidak membelikan boneka yang aku inginkan. Aku kesal... tapi... setelah mendengar ceritamu aku sadar betapa tidak bersyukurnya aku. Selama ini aku hidup berkecukupan, berlebih bahkan. Apa yang aku pinta ayah dan ibuku selalu berusaha untuk memenuhinya, tapi aku selalu tidak merasa cukup dan puas. Aku malu denganmu, Kelinci... yang terus bersyukur dengan kehidupan yang kau miliki. Kupikir mungkin aku tidak akan sanggup hidup bila aku menjadi dirimu” jelas Kucing sambil menangis tersedu.

“Satu hal yang harus kau ingat, Kucing, bahwa Tuhan tidak akan memberikan cobaan di luar kemampuan mahkluk ciptaanNya. Dan hal kedua yang juga sangat penting untuk kau ingat bahwa kita tidak akan selamanya bisa bersama dengan orang tua kita, Kucing. Selama mereka masih bersama kita, maka kita wajib membahagiakan mereka. Tuhan akan selalu mencintai ciptaanNya yang memperlakukan baik orang tuanya.” Lalu Kelinci melanjutkan, “besok pagi, akan aku antar kau kembali ke rumahmu, ayah dan ibumu pasti sangat khawatir.”

Keesokan harinya, Kelinci mengantar Kucing kembali ke rumahnya. Alangkah bahagianya ayah dan ibu Kucing saat melihat anak satu-satunya kembali. Sebelum pulang, Kucing memberikan banyak sayuran dan buah-buahan kepada Kelinci untuk dibawa pulang sesuai dengan janjinya. Selain itu Kucing juga menceritakan kehidupa Kelinci dan Pamannya yang hanya tinggal di rumah pohon yang sempit. Kemudian orang tua Kucing sepakat untuk membuatkan rumah yang lebih bagus untuk Kelinci dan Pamannya. Semenjak pertemuannya dengan Kelinci, perlahan demi perlahan sikap Kucing berubah semakin baik. Ia mulai lebih menghormati orang tuanya dan menghargai teman-temannya.

Terkadang kita selalu mengukur kebahagian dari hal-hal yang kita lihat, entah itu uang, jabatan, pendidikan ataupun barang-barang yang kita miliki. Padahal, Tuhan menakar kebahagiaan setiap mahkluknya dengan hal yang berbeda-beda. Sesungguhnya, seseorang yang mampu merasa cukup dan terus bersyukurlah adalah orang kaya yang sebenarnya menghargai apa yang ia miliki dan terus berbagi serta mengasihi orang lain.

Orang yang terlihat bahagia dengan segala kebercukupan harta yang ia miliki tidaklah menjamin seseorang itu benar-benar merasakan bahagia. Sebaliknya, seseorang yang terlihat sangat menderita ketika ia memiliki pemahaman kehidupan yang baik maka mungkin ia adalah orang yang paling bahagia di dunia ini.

Dan ingatlah... Tuhan telah berjanji, bahwa Dia akan menambahkan karuniaNya bagi umatNya yang bersyukur















Saturday, February 28, 2015

11 Jam Perjalanan Pulang

11 Jam Perjalanan Pulang

28 Februari, 2015. Pukul 05.00, saat itu.

Saya akhirnya mebulatkan tekad, saatnya keluar dari zona nyaman. Sekarang, atau tidak sama sekali.

Tulisan ini mungkin akan menjadi tulisan yang super tidak penting bagi kalian yang akan membaca. Peringatan ini semacam kesempatan bagi kalian untuk tidak melanjutkan membaca tulisan ini hingga selesai. Tapi jika kalian tetap ingin membacanya, saya bisa apa.

===

05.20 angka digital yang tertera di jam tangan saya. Suasana masih gelap. Jalanan komplek masih sepi. Saya berharap di ujung jalan ada ojek. Harapan saya kosong, ternyata tidak ada ojek. Dan saya mulai ragu untuk melangkahkan kaki keluar pagar, ‘apa gue telefon taksi aja ya kaya biasa?’, membatin.

Tidak. Itu keputusannya.

Saya membuka pagar rumah, dan melangkah sendirian di tengah komplek yang masih gelap dan sepi. Takut? Iya. Tapi, mari berpikir lebih tenang, ini sudah pukul 05.30 di depan komplek pasti aktivitas pagi sudah dimulai, ‘santai, semuanya pasti lancar!’ kata saya kepada diri saya sendiri. alhamdulillah, belokan pertama, saya melihat satu ojek sedang ngetem.

05.30. Stasiun Cakung. Saya tersenyum lebar, akhirnya sampai juga ditujuan pertama saya.

“Mbak beli tiket ke Pasar Senen ya”
Mbak dari balik loket hanya mengangguk, dengan cekatan ia menyiapkan kembalian.

“Mbak, kalau mau ke Pasar Senen pas transit di Jatinegara saya harus pindah jalur berapa ya?”
“Hmmm... kalau enggak jalur tiga jalur empat, mbak, tapi coba nanti ditanyakan saja sama petugas kereta di sana” jawab mbaknya ramah.
“Oke, Terimakasih ya, Mbak” tiga kali lebih ramah. Ehhehe.

05.48. Commuterline dari Bekasi datang. Tempat duduk banyak yang kosong. Ini hari sabtu. Dan saya masih senyum-senyum sendiri di dalam kereta ini. Bangga.

06. 10. Stasiun Jatinegara. Dua sisi pintu sama-sama terbuka, saya bingung harus keluar di sisi pintu sebelah mana. Beberapa orang yang turun dari sisi sebelah kiri langsung memasuki Commuterline yang terparkir tepat di sebelah commuterline tempat saya berdiri sekarang. Di pintu sebelah kanan menuju ke peron jalur satu. Saya (mulai) panik. Commuterline yang saya naiki sudah bersiap untuk melaju lagi. Baiklah, saya putuskan untuk turun dari sisi kiri. Menuju ke arah commuterline yang sedang terparkir tadi. Kemudian keluar lagi. Kemudian (untungnya) ada seorang bapak-bapak berteriak dari jauh, “Adek mau kemana?” (asik! Udah lama enggak dipanggil adek! Hahaha, oke lupakan), sepertinya kepanikan dan kebingungan saya terlihat jelas bahkan dari jauh.

“Mau ke Pasar Senen, Pak!” balas saya.

“Naik kereta yang di belakang kamu!”

Saya menunju commuterline di belakang saya. Memastikan.

“Iya! Masuk kereta itu, dek!”

Akhirnya saya masuk ke kereta itu dan untungnya ada petugas yang lewat. Maka dengan sigap saya berlari menghampiri petugas kereta tersebut dengan semangat 45, karena telat sedikit saya bisa terbawa oleh kereta yang salah.
“Pak! Ini kereta ke Pasar Senen?” saya sadar petugas kereta agak kaget tiba-tiba disamperin dengan cara yang agak tidak biasa. Habis gimana, saya panik.
“Iya... ini ke Pasar Senen...”

Dan entah kenapa tiba-tiba seolah keluar cahaya dari belakang tubuh si petugas kereta ini... mata saya berbinar, suasana haru menyelimuti hati saya. saya tidak salah naik keretaaaa!!
Belum sempat saya keluar untuk mengucapkan terimakasih kepada bapak-bapak yang tadi teriak, pintu KRL sudah tertutup. Yasudahlah semoga Tuhan yang membalas kebaikan bapak-bapak tadi.

06.15. Di dalam Commuterline menuju Pasar Senen. Saya lega. (masih) Senyum-senyum sendiri.

06.25. Stasiun Pasar Senen.
Saya berjalan lega. Benar-benar lega. Saya sudah sampai pada tujuan kedua saya. ‘tinggal cetak tiket dan saya bisa duduk manis menunggu kereta ke Jogja’. Aaaah senang!

06.30. (di luar perkiraan) Antrian panjang di mesin cetak (tiket kereta) mandiri. Saya tersenyum. Saya masih punya banyak waktu untuk sampai ke antrian depan. Sampai akhirnya...

Saya sudah di barisan kedua dari salah satu mesin cetak mandiri di situ. Kemudian datang petugas KAI yang minta pengertian untuk penumpang selain tegal express dan gadjahwong untuk mempersilahkan terlebih dahulu para penumpang dua kereta itu untuk menyetak tiket karena keretanya sudah mau berangkat.
Saya melihat jam tangan, masih 45 menit lagi jadwal kereta saya. saya tidak keberatan. Sayangnya, mesin yang digunakan hanya mesin tempat antrian saya. padahal masih ada tiga mesin lagi yang bisa dipergunakan. Saya masih diam mempersilahkan, hingga akhirnya, mulai terdengar keributan di belakang saya.

“Pak! Kok jadi enggak adil gini sih? kasian dong yang udah antri dari tadi?!”

Saya masih diam. Berpikir, ‘iya juga sih’.

Kemudian mbak-mbak di samping saya yang merupakan penumpang tegal ekspres membalas, “tolong lah pengertiannya,, kareta kami berangkat lima menit lagi,, sabar sebentar kan enggak apa-apa”

Saya, manusia yang berdiri hanya dua baris lagi dari mesin cetak mandiri masih diam dan membatin, ‘iya juga, kasian kalau mereka sampai ketinggalan kereta’.

Kemudian mas-mas di belakang saya menepuk pundak saya, “Mbak, udah maju aja, kalau mbaknya enggak maju, kasian yang lain juga enggak maju2! Salah sendiri mereka udah tahu kereta jam segitu, harusnya datang lebih pagi”

Gue mikir, ‘iyaa bener juga sih!’.
Belum sempat gue jawab, datang lagi another penumpang Tegal express dan Gadjahwong, minta didahulukan. Kondisi mulai kacau, dan petugas KAI juga agak kebingungan. Sampai akhirnya....

Saya (refleks) maju ke depan nepuk pundak petugas KAI, dan di situ ada beberapa petugas keamanannya juga.

“Mas... kereta saya masih 45 menit lagi, saya enggak keberatan untuk ngasih kesempatan penumpang Tegal Express dan Gadjah wong duluan. Tapi kalau bisa jangan semua penumpang dua kereta itu ditumpuk di satu mesin ini aja. Kasian yang antri di barisan ini, enggak maju-maju”

“Jadi gimana, mbak enaknya?” salah satu petugas bertanya kepada saya.
“Di sini kan ada empat mesin, dispensasi antrian buat penumpang Tegal Express sama Gadjahwong jangan dipusatin di satu mesin ini aja, mas! Antrian dimundurin dulu untuk semua mesin terus diganti untuk penumpang dua kereta tadi, jadinya juga lebih cepat dan yang nunggu enggak Cuma satu barisan ini doang. Enggak adil dong, mesin yang lainnya penumpang lain bisa nyetak sesuai antrian, masa kami yang antri di mesin ini harus nunggu sampai mempet jadwal keberangkatan kami?”

Akhirnya masukan saya diterima, antrian untuk penumpang dua kereta tadi dibagi menjadi empat mesin. Sehingga dalam waktu beberapa menit antrian barisan saya mulai berkurang, dan tiket saya diprintkan oleh petugas KAI. Kemudian saya menghampiri mas-mas yang tadi berdiri di belakang saya,

“Mas maaf ya... jadi nunggu lama, habisnya kasian juga kalau mereka ketinggalan kereta” ujar saya sok-akrab-seperti-biasa-nya.
“Enggak apa-apa mbak yang penting antriannya sudah jalan lagi, masalahnya kasian juga mbak kalau yang udah antri di belakang harus nunggu lama Cuma gara-gara mereka yang datengnya kesiangan.”
“Iya sih mas, bener juga. yaudah mas, saya permisi dulu, makasih ya mas buat pengertiannya”
“sama-sama, mbak” kali ini suara masnya jauh lebih ramah dari sebelumnya.

Dan akhirnya saya keluar dari antrian yang cukup membuat badan saya penuh peluh karena gerah dan karena selain pengap, saya juga sempat panik.

Novi teman saya sudah berdiri di ujung antrian. Fuuuh... entah kenapa saya 3x lebih lega dari rasa sebelumnya. Setidaknya saya punya cukup waktu untuk menghandle kondisi tak terduga seperti tadi. Masih ada 30 menit sebelum kereta saya berangkat membawa saya kembali ke Jogjakarta.

Kali ini tulisan saya berhenti sejenak sampai di sini.

Entah pukul berapa, saya sudah di atas kereta memandang hamparan hijau dari bingkai jendela. Novi tertidur di samping saya. Kereta melaju menuju Yogyakarta. Saya tersenyum puas. Bangga dengan apa yang sudah saya kerjakan di awal hari tadi hingga saat ini.

Seperti yang saya ceritakan di awal, tulisan ini tentang hal yang sangat sederhana. Tentang perjalanan pertama saya ke Pasarsenen di pagi hari menggunakan commuterline. Buat kalian mungkin sangat sederhana atau bahkan tidak penting, tapi ini cerita tersendiri untuk saya, yang memberikan pemahaman baru dalam hidup saya.

Tepat malam kemarin ibu menelfon, apakah saya sudah memesan taksi untuk hari ini menuju Pasarsenen, saya jawab belum. Saya bilang ke ibu bahwa saya mau mencoba ke Pasarsenen dengan naik KRL. Lalu ibu bertanya, apakah saya yakin, saya jawab tidak. Tapi, kalau saya tidak pernah mencoba dari mana saya tahu dan kemudian yakin bahwa saya bisa?

Ibu kemudian bertanya, kenapa mau naik KRL, kenapa tidak taksi saja mengingat saya harus pergi di pagi buta saat suasana masih gelap, kalau duit kurang ibu sudah menyiapkan duit kas di laci. Kemudian saya menjawan bahwa saya ingin mencoba, saya ingin tahu bagaimana rasanya, saya ingin tahu bagaimana caranya dan di dalam hati, sebenarnya saya ingin tahu apa saya bisa melakukannya atau tidak.

Ibu mengizinkan. Ibu paham bagaimana watak anak bungsunya. Sama halnya saat saya pertama kali minta izin untuk naik gunung padahal saya tidak punya pengalaman naik gunung sebelumnya, yang saya punya justru penyakit asma yang bisa kambuh kapan saja. Tapi saat itu ibu tetap mengizinkan saya naik gunung karena ibu tahu, saya tidak jauh berbeda dengan dirinya saat muda yang ingin tahu dan ingin mencoba banyak hal dengan satu tujuan: untuk tahu seberapa kuat saya bisa bertahan.

Saya tersenyum lebar. Hari ini saya bisa memuaskan diri saya sendiri. saya puas akhirnya bisa membuktikan kepada diri saya sendiri bahwa hari ini saya bisa berkompromi dengan rasa takut untuk berjalan sendiri di tengah subuh yang masih gelap untuk mencari ojek, alhamdulillah saya ketemu Pak Ruslan, bapak ojek tua yang super ramah.

Saya puas karena pagi ini saya bisa menaklukan kepanikan dan kebingungan saya, alhamdulillah ada bapak-bapak yang entah siapa yang memberi petunjuk kereta mana yang harus saya naiki.

Saya senang karena pada akhirnya—walau-sedikit-lama—bisa memberikan masukan dan solusi di tengah kondisi yang sedikit kacau saat di mesin cetak mandiri, alhamdulillah tidak ada yang terpancing emosi di situ.

Dan pada akhirnya, saya bahagia, kelak saya punya cerita yang bisa dibagikan kepada anak dan cucu saya bahwa dulu saya pernah melakukan ini semua dalam rangka keluar dari zona nyaman saya. ini hal kecil, saya tahu ini hal kecil. Tapi bukankah sebuah perjalanan yang panjang selalu dimulai dengan sebuah langkah yang tidak peduli seberapa lebar langkah tersebut?


Setidaknya hari ini saya berhasil memaksakan diri saya untuk melakukan hal yang benar bukan hal yang mudah.

Hal yang benar, karena pada akhirnya saya tahu proses ini membuat saya lebih yakin pada diri saya sendiri bahwa saya yang hobi nyasar dan mudah panikan bisa sampai ke tujuan dengan selamat sentosa! haahahha

Hal yang benar, karena pada akhirnya saya tahu proses ini membuat saya bisa lebih menghargai setiap rupiah yang saya miliki dan berpikir bersyukurlah kita yang tidak menggantungkan kemudahan hidup kepada uang.

Hari ini saya paham, mungkin benar uang bisa memudahkan banyak hal, tapi tidak dengan proses pendewasaan—karena pada akhirnya itu adalah pilihan yang kita buat sendiri.

Seperti yang dikatakan oleh entah siapa di dalam sebuah petikan tulisan: Kita tidak akan pernah mendapatkan hal yang baru jika kita terus melakukan banyak hal dengan cara yang sama.

Jadi, jika ada kesempatan yang bisa menantang kemampuan kita untuk semakin berkembang, lakukan!

Pukul 15.30. Stasiun Tugu Yogyakarta. Perjalanan hampir selesai.

Pukul 16.00. I’m home.


Setiap orang, mungkin, punya hasrat untuk membuktikan, menunjukan dan meyakinkan kepada orang lain akan kemampuan yang dimilikinya. Tentang hasrat dan kebanggan untuk mendapatkan pengakuan seseorang atas kemampuannya.

Siapa orang yang paling ingin kalian puaskan atas kemampuan yang kalian miliki?

Siapa orang yang bisa memuaskan hasrat kalian jika kalian berhasil menunjukan bahwa kalian bisa melakukan suatu hal yang mereka ragu kalian akan berhasil melakukannya?

Siapa?

Dalam hidup saya, seseorang yang paling ingin saya puaskan atas segala hal yang saya usahakan adalah diri saya sendiri.

Dan hari ini, saya berhasil membuktikan kepada diri sendiri bahwa saya bisa!

(Duh gila ya,,, ke Pasarsenen naik KRL sendirian aja udah sebahagia ini perasaan gue)

Semoga, kalian yang memilih untuk menamatkan tulisan ini tidak merasa menyesal menghabiskan sedikit waktu untuk membaca tulisan sesederhana ini. Tapi mungkin bisa menjadi pertimbangan dan masukan bagi kalian, bahwa semua selalu berawal dari hal yang paling sederhana. Jika kalian bisa menghargai kesederhanaan, mungkin kita akan terbiasa untuk merasa bahagia dengan lebih sederhana juga. Sekali lagi, semoga. :)

Tuesday, February 17, 2015

WHEN SOMEONE LOVES YOU


Ali Bin Abi Thalib pernah berkata,”never explain yourself to anyone, because the one who likes you you wouldn’t need it, and the ones who dislikes like you wouldn’t believe it.”, couldn't more agree!!

Kita tidak perlu menjelaskan kepada semua orang tentang siapa diri kita. Seseorang yang benar-benar peduli akan selalu menemukan jalan untuk mengerti, bahkan beberapa orang telah diciptakan Tuhan untuk mengerti diri kita effortless. We can understand each other, even there’s no words.

Seperti saat seorang sahabat yang tetap bertanya “apakah kamu baik-baik saja?” walau kita sedang tertawa begitu keras. Atau saat seseorang ibu yang memeluk anaknya tiba-tiba sambil berkata “semuanya akan baik-baik saja”. Atau saat seseorang menggemgam tangan kita dan bilang, “jangan takut aku di sini”.


Mereka adalah orang-orang yang mengerti kita walau kita tidak menjelaskan sepatah katapun tentang apa yang kita rasakan, apa yang kita inginkan ataupun butuhkan, dan bahkan mereka tetap mengerti kita saat kita mencoba menipu diri kita sendiri. Dan mereka ada.

Ajaib. Terkadang saya berpikir dunia ini penuh keajaiban yang lebih sering kita ingkari. Entah karena takut terdengar seperti naif atau kita yang lebih sibuk menghitung harapan yang gagal diwujudkan dan memilih untuk tidak lagi percaya dengan keajaiban? Kemudian kita lupa bahwa ada hal-hal indah yang tidak kita minta tapi tetap diberikan oleh Tuhan dan alam semesta. Maka mari kita berfokus untuk bersyukur atas mereka yang mencintai dan TETAP MEMILIH untuk mencintai kita hingga detik ini.

Dan bagaimana untuk mereka yang memilih untuk meninggalkan kita? Just let them go.

Seseorang tetap berada di sisi kita maupun seseorang yang pada akhirnya pergi meninggalkan kita, semuanya adalah pilihan mereka. Kita tidak punya kuasa untuk tetap menahan seseorang ataupun siapapun untuk tetap dalam hidup kita. Karena saya percaya, setiap orang memiliki rumahnya masing-masing untuk di tuju. Kita bisa menjadi seperti rumah bagi seseorang, bisa jadi juga tidak.

Kita tidak pernah bisa memaksa seseorang untuk tetap tinggal, karena mungkin kita bukan rumah sebagai tujuan dia datang. Karena mungkin kita bukan orang yang sedang dicari. Jadi biarkan siapapun yang ingin pergi untuk pergi.
Saya selalu senang ketika ada seorang teman yang tiba-tiba menghubungi saya saat ia tertimpa masalah. Seseorang teman yang lain berkata, “ah dia mah dateng kalau lagi ada masalah aja, coba pas lagi seneng-seneng, lupa sama kita”. Saya memiliki pandangan yang berbeda. Bagi saya, menjadi orang yang diingat seseorang saat ia bersedih jauh lebih membanggakan, mengapa? Karena itu artinya kita adalah orang yang ia andalakan untuk menolong kesedihannya. Dia menghubungi kita karena dia percaya kita bisa menolongnya atau paling tidak membuat dirinya merasa lebih baik. Dan itu sudah cukup bagi saya untuk merasa bahagia, karena ada saya sebagai tujuan dia untuk menghapus sedihnya.

Kenapa pada akhirnya saya menulis tulisan ini? Karena kemarin seorang teman menasihati saya untuk tidak terlalu mudah melepaskan dan mengiklaskan sesuatu dan seseorang. Katanya, adakalanya kita dituntut untuk berjuang mempertahankan. Kita hanya boleh ikhlas dan pasrah membiarkan seseorang itu pergi setelah kita tahu bahwa kita cukup melakukan usaha agar dia tetap bersama kita.

Ya. Apa yang dikatakannya tidak salah, tapi kemudian saya bertanya kepadanya, bagaimana saat perjuangan yang kita lakukan tidak pernah dianggap sebagai suatu perjuangan baginya? Dan dia membalas, “kalau begitu sudah benar untuk melepaskannya, karena setidaknya, kamu sudah tahu bahwa kamu sudha cukup berusaha mempertahankannya”.
Saat ada orang-orang yang sangat mengerti diri kita tanpa sepatah kata yang kita ucapkan, Tuhan juga menyiptakan orang-orang yang sangat bisa menghargai diri kita atas hal-hal kecil yang kita lakukan—itulah orang yang pantas untuk diperjuangkan (bagi saya).

Menyukai, menyayangi dan mencintai seseorang ataupun sesuatu seharusnya tidak sulit—hanya karena kita menginginkannya. Dan melakukan hal yang ingin kita lakukan seharusnya menyenangkan dan membuat kita merasa bahagia bukan? Jadi, saya bertanya kepada diri saya sendiri, saat saya berada atau bersama seseorang, saya akan bertanya kepada diri saya, “apakah saya bahagia?” jika ya, maka saya akan bersyukur dan berjanji akan terus mempertahankan agar orang-orang ini akan tetap berada di dekat saya. Jika tidak, maka akan saya lepaskan. Kehilangan tidak lebih buruk dibanding dengan memaksakan diri untuk berada di sekitar orang-orang yang tidak membuat kita nyaman.

Bukankah hidup harusnya dihargai?

Dihargai dengan merasa bahagia.

Mengutip tulisan adik angkatan saya yang juga pujangga cinta, Jay Dewar:

“Tak ada yang lebih baik selain dua orang yang bertemu karena saling menemukan. Sama-sama berhenti karena telah selesai mencari. Tak akan ada yang pergi, sebab tahu bagaimana sulitnya mencari

Dan saya sepakat; Kebersamaan itu adalah tentang “saling” dan “sama-sama”, bukan sekedar ada karena “mengejar dan dikejar”.
Saling memperjuangkan dan sama-sama mempertahankan.


Tuesday, February 10, 2015

MEMAHAMI

Kalian tahu mengapa perempuan diciptakan rumit? mungkin karena Tuhan menciptakan laki-laki dengan kepintaran yang lebih. Perempuan itu seperrti teka-teki, dan tiap-tiap mereka memiliki tingkat kesulitan yang berbeda, maka berbeda pulalah laki-laki yang bisa menjawab teka-teki itu.

Itu kenapa tidak semua laki-laki bisa menaklukan seorang perempuan, dan tidak semua perempuan terasa menarik untuk ditaklukan oleh seorang lelaki.

hal terpenting yang harus dilakukan wanita dalam mencari pasangan adalah menjai dirinya sendiri. memperkenalkan kerumitannya dengan apa adanya agar kemudian laki-laki yang tepatlah yang akan mengerti dirinya
jadi seharusnya laki-laki yang mengaku jatuh cinta kepada wanita, tidak pernah mengatakan bahwa wanita terlalu rumit untuk dia mengerti.


*******************************

Wanita 1
“Lo pernah bilang ma gue, kalau soulmate itu kaya puzle. Sekilas mungkin ada beberapa bentuk yang sama, tapi pada akhinrnya hanya ada satu kepingan yang akan mengisi kepingan lainnya. Jadi diri lo apa adanya. Berbahagialah dengan segala kekurangan yang lo punya, karena akan ada laki-laki yang bisa sangat jatuh cinta dengan lo bahkan karena kekurangan yang lo punya itu”

Wanita 2
“Kalau kata kaka gue, seorang wanita yang merasa dirinya terlalu rumit harusnya berbahagia, karena dia hanya akan dimengerti oleh laki-laki yang pintar. Jangan terlalu sederhana jadi perempuan, apalagi berusaha menyederhanakan. Laki-laki butuh tantangan. Dan wanita yang standar-biasa-aja itu membosankan!”

Laki-laki 1
“Kami memang enggak ngebantah kalau fisik yang pertama kali kami perhatikan, tapi, pada akhirnya, kami juga nyari kenyamanan kok. Dan bentuk kenyamanan itu macem-macem. Ada laki-laki yang nyaman ketika wanitanya bisa diajak ngobrol serius, bercanda atau setema. Ada yang nyaman ketika wanitanya bisa menenangkan. Dan gue sebagai laki-laki juga harus mengakui, banyak juga cowok di luar sana yang nyaman kalau ceweknya ga banyak minta, bahkan kalau bisa dimintain, ya tapi buat gue sih itu jatohnya banci! Kalau lo macarin anak orang, ya lo usaha dong bisa nyenengin dia. Dan gue sih yakin sebenernya banyak cewek yang malah enggak nuntut macam-macem”

Wanita 3 –diam-

Wanita 2 ke Wanita 3
“Antena lo makanya dibenerin! Yang udah-udah kalau gue perhatiin, salahnya lo itu adalah kurang sensitif! Lo suka agak telat nyadarnya kalau lo lagi ada yang deketin!”

Wanita 3
“Kalau ada bengkel yang bisa benerin radar gue, udah dari kemaren gue masukin! Apa perlu gue nyoba ke ketok mejik?!”

Wanita 1
“Makanya sekarang mulai belajar lebih sensitif! Nih ya... kalau gue liatin yang bikin lo enggak sensitif itu karena lo keseringan denial kalau ada yang ngasih tahu lo lagi dideketin cowok!”

Wanita 3
“Enggak kok!”

Wanita 1
“Udeh lo diem aja dulu! Dengerin gue! Duduk anteng dulu lo. Sekarang gue tanya deh sama lo, kenapa sih lo harus sok-sok enggak mau ngaku kalau lo juga ngerasa lagi dideketin ma cowok?!”

Wanita 3
“Ya gue enggak mau keburu ke-GR-an aja, bray!”

Laki-laki 1
“Yaelah... dari jaman onta punuknya satu ampe onta punuk dua enggak berubah juga alasan lo, Kalau gitu, lo harus tingkatin ke-GR-an lo, GR dikit enggak apa-apa”

Wanita 3
“Apaan sih?! kayanya gue normal aja deh. Lagian kalau emang dia suka kenapa enggak langsung bilang aja sih?”

Laki-laki 1
“serba salah sih! kalau di-PDKT-in, lo nya lemot, giliran ada yang terang-terangan, lo katain norak! Lo tanya ma diri lo sendiri deh lo nyari cowok kaya gimana? At least mau di-PDKT-in kaya gimana?
“Oi! Cowok deketin cewek juga pake tak-tik kali!! Kami para cowok melakukan pendekatan terus kami nunggu sinyal, ni cewek suka juga ma gue?, gitu! Dan satu lagi ya, yang udah-udah kalau ada cwok yang deketin lo dan lo nya juga suka ma dia, lo tuh ngeresponnya datar banget!! Kaya ngasih lampu oren tau ga sih! cowoknya juga bakal bingung, mau maju apa mundur!”

Wanita 3
“Yaelaaaah apaan sih? emang mana yang salah sama respon gue? Udah bener juga! emang gue harus respon gimana?? Duh,,, gue enggak pengen jadi cewek norak kegatelan ya... ‘aku kangen sama kamu’ ogaaah gue... ogaaaah!!”

Laki-laki 1
“Ya enggak gitu jugaa kalii! dasar lo metromini 506, motong mulu kerjaannya! Dengerin ya... Gue tuh cowok ya,,, kalau dikasih respon macam lo kasih buat cowok yang udah-udah, gue juga sebagai cowok bakal bingung, ni cewek sebenernya nyaman ma gue sebagai temen doang apa gimana ya?, romantis enggak pernah, manja-manja juga enggak, mana kalau lo disuruh hubungin dia duluan aja susaaahnya minta ampun!”

Wanita 3
“Percayalah itu di luar kekuasaan gue!! Gue Cuma takut message yang gue kirim tu ngeganggu dia... lagian gue ga pinter nyusun kata!”

Wanita 2
“Lo emang ya! di suruh ngarang esai anti korupsi jaman Ospek lu juara, Jadi pemred kampus lo bisa, nyusun kalimat selamat pagi aja lo failed! Tuhan Maha Adil”

Wanita 3
“Solusi kaliiiii!!! Gue butuh solusi! Bukan penghakiman kaya gini!”

Laki-laki 2
“Yaudah, enggak papa. Jadi diri lo sendiri aja. Apa yang diomongin anak-anak itu emang bener sih, kadang cara lo ngerespon itu enggak jelas, lo mau apa enggak. Cuma, menurut gue itu bakal jadi tantangan tersediri buat para cowok yang mau kenal lo lebih deket. Gue boleh ya ngasih penilaian gue tentang lo?”

Wanita 3
“Boleh... jujur aja, enggak usah pake sensor. Gue orangnya selo!”

Laki-laki 1
“Emangnya lo blue film, pake acara sensor?! Orang macam lo mah cocoknya film boboho! apa kartun Arale si wajah besar... cuma kalau lo si hidup datar! hahahaha"


Wanita 3
“Tuh kan! Tuh kan! Ini nih! Ini niiiiiih!! Manusia macam ini yang mengikis kepercayaandiri gue! Yang mendoktrin gue kalau gue tuh Cuma bahan ketawaan!”

Laki-laki 2
“Udah-udah... tenang... jangan emosi. Boleh ya gue giliran ngomong?, Nih ya, gue sebagai temen lo yang atleast udah lima tahun lebih kenal sama lo. Bagi gue, enggak ada yang salah sama lo, sebagai cewek lo teman yang menyenangkan. Aura lo tuh nyenengin dan mungkin itu juga yang jadi alasan kenapa lo sering diisengin sama temen-temen yang lain. Karena lo itu enggak gampang marah, bahkan cenderung ngasih respon yang di luar dugaan, so kita makin seneng ngejahilin lo.

Wanita 1
“Nah berarti mulai sekarang lo dah ngerti kalau apa-apa yang keluar dari omongan temen-temen cowok lo kaya tadi itu Cuma bercanda, jangan dimasukin ke alam bawah sadar lo kalau lo beneran kaya pacarnya boboho, enggak lah, mendingan elo kemana-mana!!.

Laki-laki 2
“Bener!. Kedua, untuk beberapa hal lo tuh bisa sangat dewasa, mau lebih mengalah, mau lebih mendengarkan, plus lo selalu memberi respon yang bagus atas masalah yang kita share ke lo, dan itu nilai positif banget! Cuma terkadang mungkin sikap dewasa lo itu ada indikasi agak mengintimadasi para lelaki yang mau deketin lo,,, kaya minder gitu deh. Tapi inget! Ini nilai positif, terus seperti itu aja menurut gue, sekalian filter, biar laki-laki yang merasa pantas aja yang mau deketin lo.

“Ketiga, walau lo terkadang sangat dewasa, bijaksana dan kadang pemikiran lo terasa jauuh sangat tua!, tapi anehnya di waktu yang sama lo bisa sangat polos untuk memahami dan menerima suatu hal, lo ceroboh, dan suka ngelakuin hal-hal yang bikin kita yang liat dan denger ceritanya ketawa.

“Dan kadang yang gue tangkep, lo tuh ngerasa kalau lo sedang ditertawakan, padahal simpelnya, karena lo lucu! Bukan karena kami tidak berempati dengan kesedihan atau kemalangan yang sedang tertimpa sama lo. Lo sering bilang ma gue, ‘kenapa sih orang pada nahan tawa kalau gue lagi curhat sedih? Padahal gue butuh ditenangin, bukan diketawain, gue juga enggak mau ngelakuin hal bodoh kaya gitu, gue malu dan bla bla bla’, sekarang gini ya, lo cerita sama satpam yang jarang ketawa gih, lo cerita pas lo geplak orang dari belakang, terus lo narik-narik tasnya yang ujung-ujungnya ternyata lo salah orang?! Apalagi kalau lo lagi cerita itu full ekspresi, kalau tu satpam enggak ketawa, iris kuping gue! So,,, berhenti mengunderestimatekan diri lo. Semua hal yang lo anggap kekurangan selama ini justru hal yang menarik dan enggak semua wanita punya. Lo unik!”



Laki-laki 1
“ih bener banget tuh! kaya lo nendang gue pas gue ketawa dengerin lo curhat nabrak lemari kaca mading! Itu bukan karena gue ga simpati ma lo, Cuma gue ngebayangin aja gitu gimana respon orang-orang yang ngeliat cwek macam lo nabrak lemari kaca! Hahahaha”


Wanita 3
“bisa dilanjut aja enggak penilaiannya gue? Enggak usah diinget-inget lagi soal nabrak-nabrak begitu”

Wanita 2
“Percaya deh sama gue, bakal ada laki-laki yang akan memahami segala keunikan lo dan menerima lo apa adanya. Menerima kecerobohan lo, ketidaksensitifan lo dan hal lainnya. Karena dia bakal lebih melihat lo sebagai pendengar yang baik, lo sebagai orang yang sangat care dengan orang lain, lo sebagai orang yang menyenangkan dan selalu berpositif thinking, trust me! He is somewhere out there.”

Wanita 1
“Tapi ya... iyasih SE-MO-GA akan ada cowok yang jatuh bangun pantang menyerah dan sangat sabar untuk menerka-nerka kode morse dan sandi-sandi lo yang enggak jelas,, tapi apa salahnya sih kalau lo bisa lebih sensitif dan belajar buat lebih paham gimana ngasih feedback signal yang clear. Nih kadang ya... gue suka katawa-tawa aja ngeliat lo balesin komen di PATH, gue yakin ada beberapa tuh yang lagi ngincer lo, tapi lo balesnya lempeng aja... lempeng lo suka sok asik, Tapi sebenernya pasti enggak asik banget tuh buat tu cowok! hahahaha

Wanita 2
“Mana feeling lo cepet banget ilang udah kaya sinyal CDMA tau gak! ‘aku enggak suka ah sama dia habisnya dia gituuu,,, ngilfilin... , kalau yang itu aku enggak mau, habisnya gituu sih,,, enggak nyaman, kayanya semua ada aja cela-nya di mata lo! Kan cowok juga manusia, Ga ada yang sempurna!”

Wanita 1
“Kalau yang gue liat, sebenernya, gampang ilfil nya itu alasan yang dibuat-buat sama dia aja sebagai pembenar dan ngeyakinin dirinya sendiri kalau dia emang enggak suka dan enggak nyaman sama cowok. Buktinya dulu, jelas-jelas cowok yang ditaksir enggak banget, masih aja ditungguin ma dia. Untung keburu lo kemana dia kemana.”

Laki-laki 2
“Dia mah tipe yang harus klik aja sebenernya, Cuma suka ditutupi dengan banyak alasan yang bikin dia ribet sendiri! hahahah”

Wanita 2
Intinya, lo harus nyaman sama diri lo sendiri. lo harus yakin lo layak buat diperjuangin. Kadang suatu hal itu hanya menunggu waktu, bukan melulu karena ada hal yang salah. Kan jodoh di tangan Tuhan, sekarang tinggal berdoa aja yang kenceng biar si jodoh itu cowok yang baik.”

Laki-laki 1
“besok lagi kalau pembahasankita masih seputar kejombloan lo, fix, mending lo minta diodohin aja sama ortu lo!”

dan suara tawa mereka pecah malam itu.

Wednesday, February 4, 2015



Mungkin benar, ada banyak hal di dunia ini yang tidak perlu dimengerti secepatnya. Terkadang kita hanya harus menunggu dan membiarkan waktu memberikan ruang bagi pikiran kita untuk memahami hal-hal itu. Maka yang harus dilakukan saat ini adalah menerima
.
Saya percaya, Tuhan menciptakan beberapa hal saling bertolak belakang sesungguhnya agar memudahkan kita untuk mendefinisikan satu dan yang lainnya; seperti kita butuh merasakan sedih untuk menghargai kebahagiaan; kita butuh tahu bagaimana rasa pahit agar kita paham bagaimana manis; kita butuh tahu bagaimana dikecewakan agar kita bersyukur ketika kita dibahagiakan, dan seterusnya.

Tapi sering yang saya temukan adalah banyak orang yang mengeluh saat matahari bersinar terlalu terik, kemudian tetap mengeluh ketika hujan terlalu sering merintik. Apa mungkin ini karena kita yang terbiasa untuk menyalahkan banyak hal bahkan semua hal?

Yang saya tahu, sedih itu manusiawi. Kadang saya membiarkan hati saya mengakui bahwa saya sedang bersedih atau kecewa. Dan saya bersyukur, saya dikelilingi orang-orang yang selalu mengajarkan saya untuk bisa menghargai semua perasaan yang kita rasakan—dan kalian salah satunya. Jika kita bisa menikmati sebuah kebahagiaan, maka seharusnya kita juga bisa belajar menikmati sebuah kesedihan. Toh seperti yang saya bilang tadi, kita butuh paham apa itu bersedih agar kita jeli bagaimana cara terbaik untuk berbahagia.

Seperti kita butuh tahu bagaimana rasanya kehilangan untuk belajar bagaimana caranya mempertahankan.
Butuh tahu bagaimana rasanya disepelekan untuk belajar bagaimana caranya menghargai.

Jadi jika kita diberi kesulitan saat ini, diberi kesedihan, diberikan kehilangan, diberikan keputus-asa-an, mungkin Tuhan sedang membantu kita untuk memahami makna sebaliknya.

Kalian tahu, kadang sayapun muak untuk terus mencoba menenangkan dan menyenangkan hati dan pikiran melalui kalimat-kalimat bersayap seperti ini. Tapi, seseorang pernah mengatakan kepada saya, sesedih apapun kondisi yang kita punya, kita tidak boleh kehilangan kepercayaan kepada kebaikan Tuhan, karena mungkin kesedihan yang kita punya adalah kesempatan yang Tuhan berikan untuk membuktikan iman yang kita punya.

Ketika kita memercayai Tuhan, bukan berarti masalah kita akan tiba-tiba menghilang, tapi setidaknya, kita bisa meminta untuk menjadi lebih kuat. Karena kita percaya, jika kita punya Tuhan, kita punya segalanya


____ _____ _____

Dear teman-teman gue yang sedang bersedih karena sebuah kehilangan, sebuah kegagalan, sebuah kelelahan, dan sebuah kekecewaan dalam bentuk apapun. Tulisan ini gue tulis buat kalian, enggak tahu bisa nolong atau enggak, tapi semoga bisa sedikit mengurangi kesedihan kalian ya...

Gue cuma mau bilang kalau bersedih itu manusiawi. Engggak ada yang salah dengan rasa ini. Tapi kalau bisa sedihnya jangan lama-lama ya... :)

Monday, February 2, 2015

Menjadi Pendengar dalam Sebuah Perjalanan


Malam ini sebuah tulisan mematik keinginan saya untuk menulis tentang sebuah “perjalanan”. Tuhan mungkin tidak bisa didengar secara langsung lewat indra telinga, tapi sering saya merasakan Tuhan sedang berbicara kepada saya dalam bentuk sebuah cerita dari seseorang yang entah siapa, yang saya temui dalam sebuah perjalanan yang saya lakukan.
Saya selalu percaya bahwa setiap manusia yang saya temui dalam hidup ini, entah hanya beberapa jam atau menit bisa saja adalah sarana Tuhan untuk menyampaikan pesan kepada saya. Tuhan ingin saya mengerti dari sebuah proses perjumpaan dan mendengarkan. Itulah mengapa saya sangat mencoba untuk tidak pernah meremehkan siapapun yang saya temui, di manapun, dan kapanpun, karena saya selalu bertanya-tanya, pesan apa yang akan disampaikan Tuhan lewat cerita mereka kepada saya.

Saya pernah mendengar cerita dari seorang kakek tua yang dengan sangat sederhana ia mengatakan betapa ia sangat mencintai istrinya. Ia bilang bahwa ia mungkin tidak cukup banyak memberikan kebahagiaan kepada istrinya yang terbukti telah setiap menemaninya menua hingga saat ini.

Saya pernah mendengar cerita dari seorang ibu yang bercerita banyak hal tentang penderitaan Tenaga Kerja Wanita yang menjadi korban kekerasan para majikannya di Malaysia. Tentang bagaimana kita harus belajar berempati dengan kesusahan orang lain dan melakukan sesuatu untuk menolong mereka.

Saya pernah mendengar cerita dari seorang supir taksi yang mengaku sangat bersyukur atas kejutan-kejutan Tuhan dalam hidupnya. Dan darinya saya belajar bagaimana kita menggunakan iman, percaya bahwa Tuhan selalu bekerja lewat cara yang tidak terduga untuk mencukupkan hambaNya.

Saya pernah mendengar cerita dari seorang bapak yang sedang menderita disfungsi ginjal tentang betapa ia ingin kembali ke masa sehatnya dan menghabiskan lebih banyak waktu dengan keluarganya. Iya berkata kepada saya bahwa ia akan lebih banyak mengajak istrinya untuk berjalan-jalan ke Jogja, melakukan hal-hal menyenangkan di tempat-tempat yang dulu belum sempat mereka datangi.

Atau seorang ibu paruh baya yang sangat menyenangkan, mandiri, serta pintar, tak disangka beliau adalah salah satu putri dari seorang sastrawan ternama Indonesia, Chairil Anwar.

Saya bertemu mereka dalam perjalanan-perjalanan saya yang tak terduga, dan bagi saya cerita-cerita itu selalu meninggalkan sebuah pemahaman baru dalam melihat kehidupan. Saya kemudian sadar, bahwa siapapun dapat menginspirasi siapa saja.

Itu kenapa saya sangat suka sekali mendengarkan. Saya mungkin tidak bisa memberikan jawaban atau respon yang bisa menyamankan, tapi setidaknya, terkadang bukankah seseorang hanya butuh didengarkan?


Hidup itu seperti perjalanan. Akan banyak tempat yang akan kita kunjungi. Akan banyak manusia yang akan kita temui, sekedar kita sapa atau mungkin akan kita sayangi. Kita memang tidak akan tahu kemana tujuan akhir perjalanan ini. Tapi saya percaya, keyakinan atas kebaikan akan selalu membawa kepada tempat yang baik