Monday, August 11, 2014

Tulisan dalam rangka nungguin jadwal sidang tesis...



Apakah kalian sedang tidak baik-baik saja?

Jika “ya”, maka mungkin perasaan yang kita miliki sama saat saya menulis tulisan ini. Saya merasa sedang tidak baik-baik saja. Menunggu Mas Memet (bagian administrasi perkuliahan) yang tidak kunjung mengabarkan jadwal ujian tesis saya membuat saya sedikit tidak baik-baik saja. hih.
Tapi kemarin saya diberitahu seseorang, bahwa merasa tidak baik-baik saja adalah suatu hal yang baik-baik saja (sebenarnya).

“Kamu tahu, Nisa? Kita tidak akan pernah mendapatkan pelajaran apa-apa dari kondisi yang selalu baik-baik saja. Saat kita kecewa, saat kita bersedih, saat kita ketakutan, saat kita sedang tidak baik-baik saja, maka kita sebagai manusia yang diberi akal pikiran ini akan mencari tahu bagaimana kita bisa keluar dari ketidak-baik-baik-sajaan ini. Dan dari sana tanpa kita sadari bahwa kita telah mendapatkan pemahaman yang baru tentang kehidupan”

Teman, kalian setuju dengan perkataan di atas?
Apa yang kalian lakukan saat kalian sedang tidak baik-baik saja?

Kalau saya...
Saya akan membaca lebih banyak tulisan-tulisan dan lebih mendengar banyak orang. Bagi saya, membaca dan mendengarkan salah satu proses penyembuhan. Alih-alih disuruh curhat panjang lebar, saya lebih memilih untuk mendengarkan curhat seseorang. Karena saya setuju dengan pernyataan saat berbicara, kita hanya akan mengulang informasi yang ada di dalam pikiran kita dalam bentuk ucapan. Sedangkan saat mendengarkan, kita akan mendapatkan informasi baru yang tidak ada sebelumnya dalam pikiran kita. Oleh karenanya saya suka mendengarkan orang bercerita. 

Kembali dengan perasaan ‘tidak baik-baik saja’. Kali ini, yang menjadi alasan bagi saya adalah kebingungan karena terlalu banyak dugaan-dugaan yang saya ciptakan dalam pikiran saya terhadap hidup yang akan saya miliki KELAK. Terlalu banyak kekhawatiran untuk hidup masa depan saya.

Pertanyaan terbesar saya saat ini adalah: sebenarnya, saya akan dijadikan apa oleh Tuhan kelak? Sebenarnya, tugas apa yang saya emban dalam hidup saya? entahlah, apakah ini karena saya terlalu sering nonton power rangers atau sailormoon ketika masih kecil atau tidak, akan tetapi, entah sejak kapan saya memercayai bahwa setiap orang di bumi ini mengemban tugasnya masing-masing. Paling tidak, saya selalu percaya bahwa setiap orang yang hadir dalam hidup kita, baik dalam waktu singkat maupun cukup lama adalah mereka yang membawa pesannya masing-masing untuk kita.

Tidak ada kebetulan dalam dunia ini. Bagi saya, kebetulan hanyalah kamuflase dari hal yang telah direncanakan oleh Tuhan. Keterbatasan pengetahuan kitalah yang membuat banyak hal seolah-olah terjadi karena kebetulan. Jika kalian percaya Tuhan layaknya saya, kalian pasti pernah mendengar dan paling tidak sedikit percaya bahwasanya semenjak kita dalam rahim pun, ada takdir-takdir yang telah dituliskan Tuhan untuk kita. Tentang kelahiran, jodoh dan kematian, percaya?
Lalu saya pernah menjadi muak dengan segala pilihan yang ada di dalam hidup. haruskah saya memilih dan berusaha mempertahankan pilihan saya ketika ada kemungkinan: bisa jadi pilihan saya bukanlah bagian dari takdir yang dituliskan Tuhan untuk hidup saya? maka haruskah saya berusaha sekuat tenaga atas segala kemungkinan dan ketidakjelasan yang dibawa oleh pilihan-pilihan yang ada, oh percayalah saya pernah sangat muak dengan pemahaman ini.

Untuk apa kita berusaha kalau takdir sudah menuliskannya?
Untuk apa kita berdoa kalau Tuhan sudah memutuskan sebelumnya?
Untuk apa?

Ini adalah pertanyaan yang ada di kepala saya saat saya berumur enambelas tahun. Saat saya sudah sangat muak mengerjakan try out ujian masuk universitas. Bingung saat teman-teman sangat sibuk untuk menentukan universitas dan jurusan apa yang akan diambil setelah lulus SMA. Sedangkan saya? sementara teman-teman wara-wiri cari info formulir ujian masuk masing-masing universitas, saya nangis di kolong meja karena saya bingung, kenapa saya tidak punya tujuan sejelas yang dimiliki mereka :’(

Saya terlalu yakin bahwa pasti akan ada jalannya yang diberikan Tuhan, kemana saya akan melanjutkan kuliah. Singkat cerita saya mendapatkan surat yang menyatakan saya dapat masuk tanpa tes di fakultas hukum salah satu universitas swasta favorit di Yogyakarta. Surat ini membuat saya tenang dan senang pastinya. Saya merasa bahwa memang takdir saya untuk berkuliah di sana. Saya bersyuku tidak disuguhi pilihan (lagi). Ini penawaran yang Tuhan turunkan kepada saya. Akhirnya saya terlepas dari kegilaan dalam memilih universitas dan fakultas. Saat itu, dengan surat itu, saya tinggal menjalankan. Saya akui, terkadang saya orangnya terlalu (kalau kata orang Jawa) nrimo.

Tapi ternyata cerita tidak berakhir di sini...

Pembukaan pendaftaran ujian tulis UGM mulai tersebar. Hasil dari permintaan orang tua dan dorongan teman-teman, saya mengikuti (juga) ujian tulis masuk UGM. Tidak ada harapan yang terlalu besar saat itu. dalam pikiran dan hati saya: lulus atau enggak toh gue udah keterima di universitas yang enggak jelek-jelek amat.

Saya sudah membulatkan hati, untuk memilih jurusan komunikasi atau fisipol UGM di pilihan pertama. Sampai akhirnya beberapa menit sebelum ujian dimulai, papah menelpon saya. kata papah, “jangan lupa berdoa, minta yang terbaik sama Allah apapun hasilnya”. Begitu saja.

Sampai akhirnya selepas kami diberikan waktu untuk berdoa, kertas jawaban dibagikan dan saya harus mengisi pilihan fakultas, tiba-tiba wajah papah terlintas di pikiran saya dan detik itu juga saya menuliskan fakultas hukum di pilihan pertama (JFYI, Papah saya praktisi hukum), kemudian fisipol. Semuanya berjalan begitu saja. Saya tertidur di kelas saat ujian karena saya sudah selesai mengerjakan soal (yang berbau) sosial, sedangkan bagian matematika hanya saya isi dua soal. Terkait pilihan pertama, kedu, ketiga atas fakultas yang ingin dipilih, sesungguhnya saya tidak tahu sama sekali kalau itu pada akhirnya sangat berpengaruh saya akan diterima di fakultas mana.

Sekali lagi, semua berjalan begitu saja.
Dan saya LULUS. Tujuh tahun yang lalu saya resmi menjadi mahasiswa fakultas hukum UGM. Belakangan saya diberi tahu bahwa FH UGM hanya menerima peserta yang memenuhi grade nilai dan MENGISI FH UGM DI PILIHAN PERTAMA, jadi.. walaupun ada nilai yang lebih tinggi dari nilai saya tapi menulis FH UGM pada pilihan kedua maka tetap ia tidak diterima.

Dan setelah tujuh tahun berlalu, hal ini membuat saya berpikir...
Seandainya saat itu saya begitu yakin dengan surat “undangan” universitas swasta dan menolak untuk mengikuti ujian tulis UGM, mungkin...
Seandainya saat itu Allah tidak menghadirkan bayangan Papah saat menulis pilihan fakultas, mungkin...

Mungkin saya tidak mendapatkan kesempatan untuk berkuliah di UGM, dengan SPP yang lebih murah dibanding universitas swasta itu, dengan lingkungan yang lebih bersahaja, dengan kebanggan yang lebih besar tentunya.

Apakah itu adalah salah satu cara bagaimana tangan Tuhan bekerja? Dengan cara yang serba “begitu saja”?

Sekarang... kebingungan itu terulang... di saat satu persatu teman-teman saya sudah menemukan karirnya, dan beberapa lainnya sibuk mencari informasi lowongan kerjaan. Lagi-lagi saya hanya bisa diam dalam bimbang. Kenapa setelah sekian lama proses pendewasaan pikiran dan penuaan badan ini tetap saja tidak memberikan saya tujuan yang jelas ingin saya capai dalam hidup? Bisakah... bisakah saya berharap hal seperti tujuh tahun yang lalu itu terjadi lagi? Berharap tangan-tangan Tuhan mengarahkan (lagi) dengan begitu saja atas segala niat dan usaha yang saya lakukan?

Bisakah kali ini tangan Tuhan kembali mengarahkan? Mengarahkan bukan sekedar kepada yang saya inginkan, tapi yang saya butuhkan dan yang terbaik untuk kehidupan saya di saat ini dan di masa yang akan datang. Tuhan... saya ingin Kau jadikan apa sebenarnya?

Kau Maha Tahu apa yang saya inginkan, dan pun tahu apa yang saya butuhkan.
Saya tahu apa yang saya inginkan, tapi sayangnya saya tak tahu atau setidaknya tidak begitu yakin tentang apa-apa saja yang sesungguhnya saya butuhkan. Bisa jadi, apa yang saya nilai baik belum tentu baik untuk saya, pun sebaliknya.

Jadi... bisakah Kau bantu saya mengarahkan apa yang harus saya lakukan dan perjuangkan?

Hal yang baik. Hal yang baik pilihan Mu.

Karena saya mengharapkan bahwa keberadaan saya di dunia ini bisa menjadi sepotong kebaikan yang pernah ada di dunia ini. Izinkan hidup saya bisa menjadi alasan kebahagiaan sebanyak-banyaknya orang di dunia ini, terutama kedua orang tua saya.

Kebingungan tujuh tahun yang lalu kembali terulang. Jujur, kekhawatiran dan dugaan-dugaan ini menggelisahkan pikiran saya. tapi... setidaknya, saya yang saat ini adalah saya yang tujuh tahun lebih dewasa dari Annisa yang dulu. Annisa yang setidaknya mulai memegang jawaban atas pertanyaan...

Untuk apa kita berusaha kalau takdir sudah menuliskannya?

(mungkin)Untuk menempa diri kita sendiri agar lebih menghargai saat kita telah memilikinya. Kita menghargai sesuatu itu karena kita tahu itu hasil perjuangan. Rasa menghargai itu akan berubah menjadi syukur, dan rasa syukur akan berubah menjadi rasa cukup. Bukankah bagian terpenting dalam kebahagiaan adalah hati yang terus merasa cukup?

Lalu...

Untuk apa kita berdoa kalau Tuhan sudah memutuskan sebelumnya?

(mungkin)Untuk terus meyakinkan dan mengingatkan hati kita, bahwa kehidupan kita telah diatur oleh sesuatu yang memiliki kemampuan Maha atas segala kemampuan yang ada di alam semesta. Maka berdoa akan selalu membuat perasaan kita menjadi tenang terjaga. Dan bukankah bagian terpenting lainnya dari kebahagiaan adalah hati yang senantiasa merasa tenang?

B.A.H.A.G.I.A


Bahagia itu bukan untuk ditunggu. Ia tidak akan pernah datang untuk bertamu. Jadi jangan pernah menunggu kebahagiaan. Bahagia itu diciptakan. Jika kita tidak bisa menciptakan kebahagiaan untuk hati kita sendiri, mungkin kita bisa memulainya dengan menciptakan kebahagiaan untuk orang lain.
Dan ketika itu berhasil...
Tanpa kita sadari, kita tidak sedang membahagiakan orang lain, tapi sedang membahagiakan diri kita sendiri.

Bahagia itu bukan tentang mendapatkan apa yang kita inginkan. Juga bukan tentang tidak pernah merasa sedih. Sedih adalah waktu jeda bagi kita untuk bersyukur bahwa artinya kita pernah bahagia.

(bagi saya) Bahagia itu tentang merasa cukup. Seseorang pernah berkata kepada saya,”jika sedikit sudah cukup, maka untuk apa lebih banyak?”. Saya suka dengan kalimat itu. Sederhana. Tapi kita sering kepayahan memahaminya.

Jika sedikit sudah cukup, maka untuk apa lebih banyak? Karena lebih banyak sesungguhnya tidak pernah menjamin kita merasa cukup.

Tahukah kalian bahwa mencukupkan hati tidak selalu mudah. Banyak teman mengatakan bahwa membandingkan kehidupan kita dengan orang lain adalah bentuk kejahatan untuk diri kita sendiri. Tapi... bagi saya, adakalanya membandingkan hidup kita dengan hidup orang lain adalah cara kita untuk menyadari kenikmatan apa yang telah kita miliki yang belum tentu dimiliki oleh orang lain.

Sesekali melihat ke atas untuk memotivasi diri.
Sesekali melihat ke bawah untuk menyukuri.

Sesekali berpikir ...

Bahwa tidak semua orang bisa merasakan apa yang kita rasakan,
Bahwa tidak semua orang (bahkan) berani bermimpi setinggi apa yang kita mimpikan,
Bahwa tidak semua orang bisa merasakan cukup seperti Tuhan mencukupi hidup kita.
Dan percayalah, kita adalah manusia yang cukup beruntung terlahir sebagai diri kita sekarang.


Saat manusia hidup tanpa diberikan pilihan, banyak dari kita kemudian menyalahkan Tuhan. Namun pada kenyataannya, kadang hidup tanpa pilihan menjadi harapan beberapa orang, karena kemudian ia tidak perlu kebingungan untuk memilih.
Beberapa orang kebingungan untuk menjelaskan apa yang akan dituju dalam hidup ini. Kesuksesan? Kesejahteraan? Atau kebahagiaan? Lalu... apa itu sukses, apa itu sejahtera, apa itu bahagia saat banyak orang menerjemahkannya dengan konsep yang berbeda-beda?

(salah satu cuplikan dialog dalam film Indonesia yang maaf saya lupa judulnya)
“Tidak perlu kau kaya harta, Nak, karena semakin kita menumpuk harta maka akan semakin kepayahan kita menjaganya. Sedang jika kita kaya ilmu maka semakin banyak ilmu yang kita punya maka ilmu itu yang akan menjaga kita”.



Maka.. apa kebahagiaan itu sebenarnya? Punya banyak uang? Punya keluarga yang bahagia? Dikelilingi oleh orang-orang yang mencintai kita? Terkenal? Berkuasa? Atau... selalu merasa cukup dengan apapun yang ada dalam hidup kita?

Saya beri tahu...

Merasa cukup itu hal yang paling sederhana untuk dimengerti,,, tapi tidak terlalu mudah untuk dirasakan :)

Mengingatkan lagi... mungkin benar, kebahagiaan bukan sekedar dinanti... tapi juga diciptakan. (Ah... saya juga maih belajar tentang ini... )


Saturday, June 7, 2014

Memaafkan untuk Mengerti


Tidak semua orang bisa memahami orang lain dengan baik, maka pahamilah hal itu dengan baik. Jika ada dari mereka yang salah mengerti, salah paham atas kondisi yang kau miliki, pahamilah, bahwa mereka tak bermaksud menyakiti, hanya saja mereka yang belum mengerti.

Jika mereka belum mengerti, seharusnya mereka tidak menghakimi.

Ya, kau benar, memang seharusnya demikian. Maka berterimakasih lah kepada mereka. Kau belajar sesuatu: jangan menghakimi apapun yang tidak kau mengerti dengan baik.

Air mataku menetes... aku tidak bisa mengingkari bahwa apa yang ia katakan memang benar. Tapi aku juga ingin sesekali ia mendukung atas rasa marah dan sedih yang aku punya.

Ya, aku belajar. Aku belajar dan menyimpulkan bahwa mereka salah. Dan atas kesalahan mereka berarti kemarahan aku tidak salah, kan?

Apa yang kau dapat dari sebuah kemarahan? Beritahu aku, apa yang kau dapatkan?
Ya, aku sepakat bahwa apa yang mereka lakukan terhdap mu salah. Tapi bukankah sebuah kesalahan harus dibenarkan dengan cara yang baik? Seperti anak kecil yang melakukan kesalahan, mereka tidak sungguh-sungguh ingin melakukannya, mereka hanya tidak mengerti bahwa apa yang mereka lakukan itu salah. Dan orang tua yang bijak adalah orang tua yang memaafkan dan kemudian menjelaskan bahwa mereka salah dan menunjukan apa yang benar, bukan memarahi.
Aku tahu kau bersedih karena mereka, tapi jangan tunjukan itu. Tetaplah berjalan dengan tegak, penuh senyuman, dan teruslah menjadi seseorang yang melakukan hal benar.


Aku tidak sebaik itu... aku bukan manusia sebaik itu...

Dia tersenyum, kemudian berucap, “ya sudah, marahlah jika kau merasa dengan marah kau akan merasa lebih baik. Aku pikir kau butuh sendiri untuk mengerti apa yang sesungguhnya kau inginkan. Aku pulang dulu, dan hubungi aku kapanpun kau butuh tempat untuk mendengarkan. Saat sedih seperti ini, kau selalu lebih suka mendengarkan ketimbang bercerita, bukan?”

Dia kemudian pergi. Aku menangis sendiri. Aku lelah, dan kurasa aku tak cukup banyak tenanga untuk marah. Aku belum bisa memaafkan mereka, tapi akupun tak ingin marah kepada mereka. Aku hanya berharap kelak mereka bisa paham bahwa menghakimi tanpa mengerti adalah hal yang menyakitkan. Mungkin aku harus mencoba memahami mereka: mereka tidak bermaksud jahat, hanya saja mereka yang tidak cukup mengerti dan memilih untuk menyimpulkan sendiri. Ya, mungkin memang seperti itu.

Tunggu..., mungkin aku memang harus berterima kasih kepada mereka, karena berkat mereka aku belajar bagaimana caranya memahami orang-orang yang tidak bisa memahami dengan baik.

Thursday, June 5, 2014

PERCAKAPAN PAGI ITU, SAAT AKU BERJUMPA LAGI DENGAN MATI

Apa yang manusia pahami tentang mati?

Apa yang kau pahami tentang mati?

Apa aku sudah cukup paham tentang mati?


Entahlah. Entah sejak kapan mati terlupakan untuk dipikirkan kebanyakan orang. Kalah dengan harapan-harapan masa depan yang selalu ingin diwujudkan. Kemudian kita lupa; bahwa mati adalah sebuah keniscayaan. Kepastian yang lebih pasti dari mimpi-mimpi yang kita karang untuk masa depan. Dia pasti akan datang.

Pahamkah kita tentang pelajaran yang alam terangkan setiap harinya?

Cukup sadarkan kita bahwa sebenarnya kita tidak pernah cukup pintar untuk merasa pintar?

Rendahkanlah hatimu...
Pejamkan mata sesaat dan biarkan hitam mengosongkan segala rasa yang terkadang tak penting untuk dirasakan. Mengosongkan segala kekhawatiran yang terkadang tak penting untuk dikhawatirkan.
Mengundang hitam untuk menghapus lupa: lupa pada kematian--bahwa pada akhirnya, kita akan ditinggalkan dan meninggalkan.

Mati.



Aku diingatkan tentang mati dua bulan terakhir semenjak aku memutuskan untuk menuliskannya dalam tulisan ini dan saat ini. Menulis tentang kehilangan dan kematian tidaklah pernah mudah untukku, kawan.
Dua kematian yang membuat aku kebingungan bagaimana mengeluarkan air mata.

Satu kematian pertama, saat aku mendengar kabar kematian itu, aku hanya bisa diam. Mencerna. Kemudian berpikir, apakah aku harus menangis?


Satu bulan kemudian, saat kebingunganku belum terjawab sepenuhnya, kematian kedua datang di hadapanku. Lagi, aku diam. Melihat tubuh kaku itu di depanku. Wajahnya tenang, awalnya kupikir ini hanya sebuah tidur. Kemudian aku tahu, ini bukan hanya tidur, ini bentuk lain kehilangan yang hakiki: kematian.
Kucingku, oh bukan, Bumbum lebih dari sekedar kucing untuk ku. Bumbum teman. Teman yang benar-benar menemani ku selama ini.

dan dia mati pagi itu.


Aku diam... aku merasa kehampaan jasad di depanku. Kehampaan dalam jiwaku. D

dan kemudian aku menangis begitu saja.

Aku menangis tak lama. Di beberapa menit kemudian aku menyeka air mata. Menarik nafas dalam walau kemudian tetap saja terasa sesak.

Bukankah mati adalah keniscayaan, Nisa? Lalu buat apa kau menangis?, logikaku mulai menalar.

Aku menangis karena aku bersedih. Jawabku.

Jawaban diterima dan masuk akal, katanya, kau boleh menangis, tapi kau harus tahu kapan kau harus berhenti menangis.

Aku tidak tahu kapan rasa sedih ini selesai. Aku kehilangan. Jawab ku.

Jawaban tidak dapat diterima. Kalau kehilangan adalah alasanmu, maka besok, besok lusa, besok dari keesokan hari lainnya kau akan terus bersedih. Karena setelah hari ini kau tak akan pernah memiliki Bumbum lagi. Ini kematian, Nisa, ini selamanya. Jika kau menangis karena kau kehilangan, kau akan menangis dan bersedih untuk selamanya. Itu argumennya.


Bisakah aku menangis dan bersedih hanya karena aku merasa sedih dan ingin menangis? Bisakah aku menangis dan bersedih karena alasan satu-satu yang ku miliki karena AKU MERASA SEDIH DAN INGIN MENANGIS?! . Perasaanku menang kali ini. Air mata keluar lagi. Aku menangis lagi. Sesak ini hanya bisa dikurangi dengan bulir-bulir air mata yang kupunya.


Aku tak pernah melarang mu menangis. Menangislah. Bersedihlah. Tapi kau paham bahwa menangis bukanlah bentuk lain perayaan dari sebuah kesedihan. Kau paham tidak ada yang mengharuskan manusia untuk menangis saat bersedih. Dan itu yang kau lakukan bulan lalu saat Bibik meninggal. Kau menangis bukan karena kau terlalu bingung, Nisa. Kau menangis karena kau dalam pemahaman yang sangat baik: bahwa mati adalah sebuah kepastian; mati adalah hal yang sesungguhnya ditunggu dari sebuah kehidupan. Kau tidak menangis saat itu. Tapi kemudian, saat perasaanmu mulai memainkan segala kenangan, kau paham bahwa kelak, akan ada rindu yang membuat kau bingung bagaimana memenuhinya. Karena dia yang kau rindukan, tak akan pernah bisa kau temukan di dalam hidupmu lagi.

Kau dalam pemahaman yang baik akan sebuah kematian. Ku beri tahu kondisimu yang sesungguhnya. Kau menangis karena kau bersedih, tapi kau bersedih bukan karena sebuah kehilangan. Kau bersedih karena kau terlalu takut untuk memenuhi rindu yang akan datang di masa depan. Jadi, jadilah wanita yang bijak, Nisa. Kau tak akan bersedih karena kehilangan. Kau hanya terlalu takut saat rindu datang.

Belajarlah untuk mengikhlaskan segala hal yang kau sayangi dan kau cintai di dunia ini. Pahamilah lebih dalam bahwa kau pun nanti akan pergi dan mati.

Kita tak pernah memiliki apa-apa di dunia ini. Bahkan tidak juga dengan jasad yang menyatu dengan jiwa kita.

Menangislah jika kau ingin menangis saat ini. Tapi aku tahu bahwa kau paham kapan kau akan mencukupkan kesedihan ini dengan air mata yang kau miliki. Tuhan memang Maha Baik. Tapi Tuhan juga Maha Bijaksana. Dia tidak akan menghidupkan mereka yang mati agar umat lainnya tidak bersedih hanya agar Tuhan dikatakan BAIK. Tuhan akan membiarkan yang mati tetap mati walau seluruh dunia menangisi dia yang mati, karena sesungguhnya dalam kesedihan Tuhan memberi kesempatan bagi kita untuk belajar mengikhlaskan dan sabar. Tuhan mengajarkan kita untuk tumbuh menjadi manusia yang lebih bijaksana.

Kematian mengajarkan banyak hal, Nisa. Kau hanya tak sadar telah mempelajari hal-hal itu. Kau paham bahwa cepat atau lambat kau akan ditinggalkan dan meninggalkan seseorang, oleh karenanya kau tak pernah ingin membenci seorang pun yang datang dalam hidupmu. Karena kau paham, sejahat apapun dan sebesar apapun seseorang memberikan kau luka atau bahagia, kau paham bahwa itu tidak akan selamanya.

Jadi, Nisa... ambilah kesempatan itu. Belajarlah untuk mengikhlaskan. Belajarlah untuk sabar. Rindu yang kelak datang, biarlah datang. Seandainya rindu mengundang sedih yang dalam tentang kenangan, maka menangislah saja, tak ada yang melarang—termasuk aku.

Ini bukan tentang kau yang tak boleh menangis terlalu lama...

Tapi tentang aku yang tak ingin kau bersedih terlalu lama...



Aku menyeka air mataku. Aku masih bisa merasakan bulir-bulir itu masih ingin mengalir keluar. Tapi kucukupkan. Ku simpan agar saat rindu yang kutakuti itu datang, aku tidak lagi menjadi kebingungan.
Aku akan menangis.

Ya. dia benar. Menangis bukanlah bentuk perayaan ceremonial yang harus kita lakukan saat kita bersedih. kalau kau bisa meredakan sedihmu tanpa menangis, maka lakukanlah itu. Tidak peduli seberapa banyak mata yang menghakimimu bahwa kau tak cukup baik dan tidak mempunya hati yang lembut karena kau (memilih) tidak menangisi kehilangan dan kesedihan. Terserahlah mereka ingin menilai mu apa. Karena kau sangat memahami dirimu. Kau menangis bukan karena kau tak bersedih, tapi karena kau paham ada hal-hal menyakitkan yang memang harus kita terima (saja).

Selamat jalan Bik Tinah... terimakasih sudah merawat dedek selama enam tahun di jogja... semoga amal ibadah bibik diterima di sisi Allah SWT, dan segala dosa bibik dapat diberikan pengampunan. :')

RIP BUMBUM, 2 Mei 2014



entah harus menulis pesan apa... terimakasih, bumbum pernah ada.

Thursday, April 17, 2014

tentang kita yang tidak tahu apa-apa :)

17 April 2014

Hari ini saya mendapat pemahaman baru tentang kehidupan.


bahwa sesungguhnya, kita tidak pernah tahu sebanyak hal yang kita rasa tahu

Ya. Kita tidak pernah cukup tahu tentang hal-hal yang kita anggap tahu;
Tentang apa yang seharusnya kita dapat dan kita berikan,
tentang apa yang seharusnya kita ingat dan kita lupakan,
tentang apa yang seharusnya kita jaga dan kita biarkan,
tentang apa yang seharusnya kita lakukan dan kita tinggalkan,

Iya, kita sesunguhnya tak pernah benar-benar tahu tentang seharusnya...

Karena sesungguhnya tak pernah ada kata seharusnya... di dalam hidup yang terlalu penuh dengan rahasia

Seperti mereka, sayapun tak tahu apa-apa

Kita tidak pernah terlalu paham dengan semua rahasia yang bahkan sering tak kita sadari sebagai sebuah rahasia,
kita terlalu angkuh menilainya dengan benar dan salah. Terlalu angkuh dengan menilainya lewat kata seharusnya...

Hari ini saya paham,

mungkin memang lebih baik kita belajar untuk menerima. Belajar untuk menikmati. Belajar untuk tidak terlalu angkuh dengan ketidaktahuan kita yang manusiawi ini.

Kita sesungguhnya tidak tahu apa-apa tentang tebak-tebakan nasib kita
Kita sesungguhnya tidak paham apa-apa tentang harapan-harapan liar kita

Katanya, banyak sisi kehidupan yang tak cukup mampu kau lihat dengan dua matamu... ada banyak ketidaktahuan yang bahkan tidak kau sadari. Bukan karena kau bodoh, tapi karena memang seharusnya kita hidup dengan cara seperti ini. Ini tentang hal-hal manusiawi. Ini tentang keterbatasan yang hakiki. Karena sesungguhnya.... memang ada hal-hal yang akan lebih baik kita tak tahu. Jangan tanya mengapa. Karena tidak semua hal harus dimengerti, kadang yang harus kita lakukan hanyalah menerimanya.

Hidup itu tentang ketidakpastian.
Ketidakpasatian karena ketidaktahuan.
Ketidaktahuan karena keterbatasan.
Keterbatasan karena ketidaksempurnaan.
Ketidaksempurnaan karena kita bukan Tuhan.

Ya, ada saatnya kita membiarkan ketidaktahuan kita tentang masa depan dengan sekedar menerima dan percaya. Kemudian menggenapinya dengan nama 'Tuhan'

Tuesday, April 8, 2014

Aku tahu bahwa kau paham bagaimana konsep jatuh cinta yang sesungguhnya,,,
Tak ada kuasa kita memilih kepada siapa kita akan jatuh cinta,,,
Begitupun mereka...
Merekapun tak punya kuasa untuk jatuh cinta dalam memilih wanitanya,,,
Apalah artimu yang mencegah mereka jatuh cinta?

Berhentilah untuk ketakutan menyakiti hati mereka,
Kau tak akan menyakiti siapa-siapa.

Mereka laki-laki, hati mereka lebih tegar dari yang kau bayangkan
Paling tidak, biarlah mereka memperjuangkan perasaannya,,,
Dan kau tak punya kuasa untuk mencegahnya.
Tidak sama sekali.

Kau bilang kau sudah membuka hati?
Ya, aku adalah yang paling percaya kau telah membuka hati...
Tapi layaknya rumah, apalah arti pintu yang terbuka lebar jika tak ada izin yang tuan rumah berikan agar sang tamu masuk ke dalam?
Tak ada yang masuk,,, karena tak ada yang mengizinkan,,,


Ya,,,
Ini bukan lagi tentang membuka dan menutup hati,,,
Tapi tentang izin kepada seseorang untuk masuk dan memperkenalkan,,,

Berjalanlah dengan lebih tenang,
Dengan mengizinkan mereka untuk sekedar duduk di beranda rumah, kau tak akan menyakiti siapa-siapa

Ketakutanmu tidak masuk akal, kawan,,,,

Pahamlah,,, saat seorang telah jatuh cinta kepada seseorang,
Saat itulah ia paham untuk membiarkan hatinya terbenam

Biarlah mereka jatuh cinta,

Kau tak berhak memupuskannya...

Kau tak ingat apa yang ibu bilang?, "beri kesempatan mereka untuk mengejar".

Ya,,, berilah kesempatan itu,
Berilah pertanda bahwa hatimu yang katamu kau buka lebar masilah berpenghuni

Bukankah dulu kau selalu ingin diperjuangkan?
Maka biarkanlah mereka berjuang, mungkin saat ini mereka hanyalah berjuang untuk rasa yang mereka punya
Tapi kelak, mungkin salah satu dari mereka sudah tak terlalu peduli dengan rasa yang ada,
Karena semua telah tergantikan oleh mu

Berilah izin itu,,,

Memang, tak ada yang bisa memastikan akan menjadi apa mereka untuk mu,

Justru karena tak ada yang mampu memastikan itu, kau harusnya tahu,,,

Tahu untuk bagaimana menyambut mereka.

Berhentilah untuk terus ketakutan menyakiti
Berhentilah untuk terus menyalahkan hati

Kau berhak untuk juga dicintai

Dan mereka berhak untuk mencintai

Kemudian,,,

Biarkan Tuhan yang menggenapi


-k-

Sunday, April 6, 2014

yang saling menemukan

Malam ini tersenyum sendiri melihat foto pernikahan adik kelas.

Dua orang yang tak pernah saya bayangkan akan bersanding di pelaminan bersama.
Laki-laki culun bahan ejekan yang selalu bisa membuat teman-teman sekitarnya tertawa,
Wanita cantik, pintar yang pendiam dan selalu menarik hati mata laki-laki yang melihatnya,

Siapa yang paling beruntung antara mereka berdua?

Jelas mereka berdua beruntung saling memiliki satu sama lain pada akhirnya

Karena mereka menemukan seseorang yang bisa melengkapi hidup mereka

Karena mungkin jodoh bukan tentang hal-hal yang tampak dan terbaca dari luar,,,
Tapi tentang kesamaan iman dan pemahaman akan kehidupan :)

Bukan tentang fisik yang sama-sama rupawan, ataulah keluarga yang sama-sama berkecukupan,,,
Tapi tentang rasa nyaman yang sama-sama mereka berikan satu sama lain.

Mungkin,,,

Tapi entahlah,,,

Tapi saya sungguh bahagia atas pernikahan mereka :)