Saturday, February 25, 2012
SASMITA
Sasmita terjebak dalam keriuhan di alam batin dan pikirannya. Dilema dalam hatinya jelas-jelas mengusik damai di tengah keheningan yang dirajai oleh purnama.
Sasmi aku memanggilnya. Dia terlalu polos, terkadang sangat naif. Bagiku, menjadi sedikit naif saja di jaman sekarang sama saja mengelompokan diri untuk menjadi bagian manusia yang ditertawakan. Tapi Sasmi seakan tak pernah mau mendengar. Kepolosannya sudah mendarah daging. Aku bisa apa.
Aku dan Sasmi berdiri dalam dua sisi yang berbeda;
Ketika terjatuh, akulah sosok yang akan menjerit dan menangis dan kemudian Sasmi datang menghapus air mata sambil berkata " Tidak apa-apa,,, semuanya baik-baik saja. Kamu kuat ", kemudian dia tersenyum.
Ketika menunggu, akulah sosok yang menggurutu ketika Sasmi sibuk menikmati detik demi detik dengan penuh senyuman
Ketika gagal, akulah sosok yang menyalahkan semua hal dan kemudian Sasmi menepuk dadaku sambil berbisik, "Tuhan punya rencana yang lebih besar untuk mu !!
---
Ditanganku ada selembar kertas. Sebuah puisi cinta dan sebuah gambar goresan tangan.
"Apakah ini berarti dia menyukaiku Sasmi?" tanyaku.
"lebih dari itu, dia mengagumimu Mita" ujar Sasmi dengan senyum seperti biasanya.
" Lalu bagaimana?" tanyaku lagi.
" Apa yang hatimu rasakan?" tanyanya kembali.
" Aku bahagia... tapi... aku tidak merasakan apa-apa..." jawabku ragu.
"Apakah kau masih akan menunggu? aku akan menemanimu Mita" jawabnya singkat.
Kemudian ada jeda di antara kami. diam.
" Sasmi,,, haruskah aku menyakiti dia juga?!" Aku membuka suara.
" AKu tak pernah menyuruh mu untuk menyakiti siapapun Mita..."
" Dan kau tidak pernah mengizinkan aku untuk mencintai atau dicintai oleh siapapun!", aku menyerah. Air mata mulai mengalir dan dadaku mulai terasa berat untuk bernafas. Aku melihat air wajah Sasmi berubah. Aku juga melihat air mata di matanya.
" Kau dicintai... sangat dicintai... Kau tahu itu Mita, hanya saja kau mengingkarinya. Aku tidak pernah melarang mu untuk mencintai ataupun dicintai oleh siapapun, tidak pernah..." Nada Sasmi mulai fluktuatif.
" Tapi kau selalu menanyakan hal itu!! pertanyaan itu yang kemudian membuat aku... aku..."
" Kaulah yang akhirnya menentukannya Mita..., bahkan menjawabpun aku tidak pernah. Aku hanya kembali bertanya atas pertanyaanmu, dan kemudian jawaban itu kaulah yang memiliki. Bukan. Kaulah yang punya kuasa atas jawaban apa yang kau inginkan. Bukan aku"
Kali ini air mata kami sama-sama mengalir dari sepasang mata. Untuk ku, ini adalah air mata lelah. Sebuah kelelahan dalam menunggu seseorang yang benar-benar pantas untuk ku nantikan. Seseorang yang nantinya akan kutambatkan hatiku dan mengahabiskan sisa hidup yang ku punya. Seumur hidupku, dalam waktu menungguku, beberapa kaum adam silih berganti mengentuk pintuku. Mereka datang dengan cara yang berbeda. Mengetuk hati dengan cara yang berbeda pula. Apapun yang mereka lakukan terhadapku, aku tak pernah berani untuk melakukan apa-apa. Aku hanya selalu menoleh ke arah Sasmi. Menangkap air wajahnya. Kemudian kuputuskan untuk mengatakan "Aku rasa bukan aku orang yang kau cari" , kemudian dia pergi meninggalkan aku dan Sasmi.
Aku dan Sasmi kembali menunggu.
Lalu kembali datang lelaki yang berbeda mencoba mengetuk hatiku. Lagi. Aku menoleh ke arah Sasmi. Senyumnya selalu sama, membuatku mengatakan "Aku rasa bukan aku orang yang kau cari". Hampir tidak ada jawaban lain.
Dan terus begitu.
Kali ini, sosok lelai yang berbeda datang lewat puisinya dan gambar wajahku yang ia ciptakan lewat goresan tangannya. Aku rasa ia menginginkanku. Tapi seperti sebelumnya, aku selalu bimbang apakah aku menginginkannya.
Kebimbangan ini mulai tumbuh subur di benak dan pikiranku hari demi hari. Banyaknya cerita cinta yang berakhir air mata dan kemunafikan yang menjijikan menetapkan hatiku untuk menjadi wanita yang menunggu. Aku memang peragu, tapi adan keyakinan yang lebih besar daripada raguku bahwa Tuhan sudah menciptakan satu orang yang akan memperjuangkan hatiku, dan aku yakin aku akan bertemu dengannya. Yang kulakukan saat ini hanyalah menunggu. Menunggu bersama Sasmi.
Kali ini aku bertanya kepada Sasmi, tidak lagi hanya menoleh dan menangkap air wajahnya. Dan pertanyaanku hanya dijawab oleh pertanyaan kembali olehnya. Tapi entah kenapa setiap pertannyaannya memberikan jalan bagiku untuk menemukan jawaban yang aku cari.
Walau sekarang aku ragu dengan jawaban yang kutemukan itu.
"Sasmi, katakan padaku apakah aku harus mengatakan hal yang sama kepada orang ini?" tanyaku setengah berbisik.
"Apakah harus aku yang menjawab?" ujar Sasmi.
"Jawab saja Sasmi! AKu tidak tahu!" suaraku mulai meninggi.
"Aku pun tidak tahu Mita. Tapi yang harus kau ingat, terkadang ungkapan ketidaktahuan adalah sebuah pengingkaran akan keyakinan sebuah jawaban. Mungkin kau tahu, atau paling tidak kau meyakini akan perasaan yang kau rasakan, kemudian kau ingkari itu dengan ucapan 'aku tidak tahu'"
"Ini terlalu tidak logis Sasmi! sampai kapan aku harus menunggu? sedang aku tidak tahu siapa dan seperti apa manusia yang kutunggu!"
"Aku tidak tahu Mita,,, tanyakan pada dirimu. Apa yang membuatmu bertahan untuk menunggu selama ini?", kemudian Sasmi melanjutkan, "Seperti kau yang yakin untuk menghabiskan waktu menunggu nya... mungkin... ada keyakinan yang sama saat kau bertemu dengan nya. Keyakinan bukanlah hal yang bisa dijabarkan Mita. Karena tidak terjelaskan itulah sebuah keyakinan hadir; bahwa apapun dan bagaimanapun bentuknya kau yakin dengan semua keyakinanmu selama ini."
Kemudian aku dan Sasmi terperangkap dalam diam. Mungkin benar, pernyataan ketidaktahuanku (mungkin) adalah pengingkaran akan keyakinanku. Sebuah pengingkaran yang kecetuskan karena kelelahanku menunggu--mungkin saja aku memang mengetahui apa jawabannya.
Itulah aku dan Sasmi.
Aku yang melahirkan bimbang, kemudian dialah yang memekatkan keyakinan.
Akulah yang menumpahkan air mata, kemudian Sasmi yang menyekanya dengan senyuman,
Akulah yang mengumpat, kemudian Sasmi menyelanya dengan kata istigfar
Akulah yang membenci, kemudian Sasmi yang memaafkan
Akulah yang menyerah, kemudian Sasmi yang membangkitkan
Mengapa aku tidak bisa seyakin Sasmi walau akulah yang memiliki hak jawab untuk semua pertanyaan hidupku. Aku terlalu mempercayainya. Ya, aku terlalu mempercayainya. Karena dia selalu mempercayaiku bahwa aku memiliki jawaban atas semua pertanyaan yang kulontarkan.
Akulah gelap, kemudian Sasmilah terang.
Seperti gelap dan terang, sesungguhnya kami tidak pernah hadir bersama dalam detik yang sama. Kami adalah dua jiwa yang timbul tenggelam dalam satu tubuh bernama SASMITA.
Friday, February 17, 2012
Selamat Tinggal Adek Shafa...
"Bagi saya, Tuhan bercerita dalam banyak bahasa; dalam banyak cara; dalam banyak cinta"
Sore ini, 17 Februari 2012, Tuhan berbicara dan mengajarkan satu hal kepada saya... untuk kesekian kalinya...
Saya merasa tertampar.
"Jadi, adek Shafa sakit apa ka?" tanya saya hati-hati kepada Ka Lili, kakak kelas sekaligus mentor liqo saya saat SMA. Ini pertemuan pertama kami setelah hampir lima tahun tidak bertemu. Sedikit saya sayangkan, mengapa harus dalam kondisi seperti ini kami bersua lagi. Mengapa harus di rumah sakit ketika anak pertama Ka Lili yang baru berusia belum genap dua bulan trebaring lemah dalam inkubator.
"Adek Shafa sekarang sedang masa kritis Nisa. Kata dokter beberapa organnya sudah tidak bisa berfungsi, ginjal dan hatinya udah tidak bisa beroprasi dengan semestinya. Kata dokter adek Shafa dalam kondisi gagal organ." terang Ka Lili dengan sangat tenang dan tampak sangat tegar. Berbeda dengan saya yang bahkan untuk berucap menyemangati saja sulit. Kemudian Ka Lili melanjutkan,"Adek Shafa ada riwayat gagal jantung juga, kemarin trombositnya merosot, yang seharusnya 15.000 untuk keadaan normal, adek Shafa cuma punya sekitar 4600-an trombosit, kurang dari sepertiganya". Saya semakin terdiam, tak pernah terbayangkan kalau saya yang berada dalam posisi Ka Lili. Saya yang orang awam dengan masalah kedokteran seperti itu saja sudah bisa memprediksi kemungkinan terburuk yang akan terjadi dengan bayi dua bulan ini. Tidak, saya meyakinkan hati saya bahwa semua bisa terjadi atas kehendak Tuhan. Kalau Tuhan mengizinkan Shafa sembuh, pasti sembuh, tanpa kenapa dan tanpa mengapa.
"Ka Lili kuat kan?" tanya Eka teman saya satu liqo yang juga ikut menjenguk Shafa di Rumah Sakit. Saya tahu, bahwa kegetiran Eka sama seperti yang saya rasakan. Teranalisa jelas dari gerak bibir Eka yang bergetar saat berucap. "Eka kuat kan?" Kak Lili membalik pertanyaan Eka. Wajah Kak Lili sangat tenang. Mungkin masa "gundah" sudah lulus dilalui Ka Lili. "Waktu aku hamil Shafa, Abi Shafa ditugaskan ke Kalimantan. Selama hamil Shafa, aku bolak-balik periksa kandungan sendirian. Alhamdulillah dua bulan menjelang kelahiran Shafa, Abinya dipindah tugaskan ke Jakarta. Rezeki Shafa untuk ditemani abinya ketika dilahirkan." Roman wajah Ka Lili mulai berubah sendu. "Shafa lahir, tapi katanya ada kelainan di jantung dan paru-parunya. AKu baru bisa ketemu Shafa di hari kesebelas. Aku yang mandiin Shafa, Jemur Shafa, jadi aku kerasa banget..." Ka Lili menjelaskan semuanya dengan nada yang datar, tapi saya dan Eka adalah perempuan, kami tahu ada segunung kesedihan yang terendam dalam datar suara Ka Lili. "Aku dan keluarga sudah mengusahakan yang terbaik, jadi biarin Tuhan yang nentuin apa yang terbaik untuk adek Shafa".
Beberapa menit kemudian, dokter yang menangani Shafa datang dengan tergesa dan memasuki ruangan ICU tempat Shafa di-inkubator. Kegetiran Ka Lili semakin sulit untuk disembunyikan. Tapi Ka Lili tetap bersikeras untuk tetap memasang wajah semuanya-akan-baik-baik-saja.
"Kalian mau lihat foto adek Shafa?" masih sempat ia menunjukan foto-foto Shafa dari telepon selulernya. Kak Lili tidak berubah dari lima tahun yang lalu, selalu bertingkah seperti tidak ada apa-apa walau jelas-jelas kami tahu bahwa ini sedang apa-apa! Aku dan Eka bertingkah mengikuti keinginan Ka Lili untuk pura-pura tidak gelisah dnegan melihat foto-foto Shafa. Sejujurnya, saya pribadi rasanya ingin menangis dan memeluk Kak Lili dan mengatakan bahwa Shafa akan baik-baik saja. Tapi tidak bisa. Kak Lili seolah tidak mengizinkan orang lain ikut bersedih atas apa yang ia sedihkan.
"Orang tua Shafa, bisa masuk" tiba-tiba suara suster dari balik pintu ICU. Ka Lili segera masuk dengan air wajah yang getir. "Semoga enggak ada apa-apa sama Shafa ya Sa" ujar Eka, saya hanya bisa mengamini. Aku dan Eka kembali melihat foto-foto yang ada di dalam telepon seluler Ka Lili. Melihat foto-foto Shafa yang cantik yang kemudian melihat foto Shafa yang terlilit banyak selang. "Gue enggak tega Sa ngeliat foto ini! Ga kuat gue ngeliat bayi sekecil Shafa harus dililit banyak kabel kaya gitu" ucap Eka. Saat itu aku hanya bisa diam.
Beberapa menit kemudian, wajah Ka Lili terlihat dari balik tirai ruang ICU, sambil memberi isyarat "tolong hubungi abinya Shafa", kepada anggota keluarga yang juga gundah bersama saya dan Eka di lorong rumah sakit. Kemudian seorang laki-laki tinggi yang ternyata kakak kandung kak Lili terlihat terkejut ketika tiba-tiba suster berada tepat di depannya sambil berucap "Bapak keluarganya Shafa?", "Saya kakak orang tua Shafa" jawabnya singkat. Lalu suster melanjutkan "Pada jam 15.45 (sependengaran saya) adek Shafa sudah meninggal dunia ya Pak, Bapak silahkan masuk sembari menunggu ayahnya Shafa, dan untuk keluarga lain mungkin bisa menyiapkan bedong atau kain penutup". Kontan kami semua yang berada di lorong terkejut mendengar penjelasan suster yang benar-benar terasa sangat tiba-tiba.
Saya dan Eka saling memandang. Kami mampu memahami perasaan masing-masing hanya dengan saling melempar tatapan. "Nisa..." bisik Eka. Saya diam. Ini kali pertama saya berada dalam kondisi saat ini. Bingung, karena banyak perasaan yang bercampur aduk di dada saya. Banyak hal yang meletup-letup dalam pikiran dan hati saya; bagaimana Kak Lili? apakah akan baik-baik saja? aaah bodoh! pastinya dia tidak baik-baik saja! Bagaimana dengan Shafa? Apa yang harus saya lakukan ditengah kebingungan anggota keluarga Kak Lili yang berada di lorong itu.
***
"Gue bakal nyesel kalau gue nunda untuk jengukin anaknya Kak Lili Sa! Ya Allah kita pas banget datengnya,,," ujar Eka di dalam lift untuk kembali pulang. Di kepala, hati dan semua organ yang bisa menangkap perasaan batiniah saya masih limbung. Selama perjalanan saya terus berpikir bagaimana hancurnya perasaan seorang wanita yang baru saja menjadi seorang ibu, lalu sekejap mata harus kehilangan buah hatinya yang selama 9 bulan berbagi darah, berbagi makanan dan berbagi kehidupan.
Kemudian, di tengah kelimbungan saya, wajah tenang Ka Lili kembali tergambar dalam ingatan. Wajah itu bukan hanya wajah wanita yang menggambarkan ketegaran, tapi wajah yang menggambarkan ketabahan dan mengisyaratkan kepasrahan dengan penuh keihlasan. Kesedihan Ka Lili memang tidak sempurna ia sembunyikan, tapi ada wajah lain yang akhirnya kutangkap; wajah yang meronakan pesan bahwa semua yang ada di kehidupan kita, bahwa semua yang datang dan pergi dalam kehidupan kita adalah milikNya. Bahwa Ia mempunyai hak penuh untuk mengambil semua yang (sesungguhnya) Ia titipkan kepada kita. Tidak semua orang bisa mengerti itu atau mungkin menerima itu, tapi saya yakin Ka Lili adalah manusia yang mampu memahaminya. InsyaAllah.
Subhanallah... sungguh sore yang penuh dengan kejutan. Sore yang penuh pengajaran, Sore yang penuh tamparan ketika saya harus membandingkan kemampuan saya dan Kak Lili menerima cobaan. Ya Allah... saya umatMu yang payah. UmatMu yang selalu berkesusahan hanya untuk menyukuri segala apa yang telah engkau berikan.
Allah. Aku percaya; Kau selalu memiliki alasan atas semua yang terjadi dalam kehidupan manusia, dan Kau selalu mempunyai rencana terbaik untuk umatMu. Begitupun Ka Lili. Aku yakin ini cara Mu menguatkannya. Bahwa ada alasan dan rencana indah yang kau persiapkan untuk Ka Lili dan keluarganya setelah ini semua. Kuatkan Ka Lili dan keluarga ya Allah. Timang adek Shafa sebagai bidadari mu di SurgaMu yang kekal.
Amin.
"Dan saya percaya ini salah satu caraMu bercerita kepada ku dan kami semua"
Sunday, January 22, 2012
di sudut kebebasan
Saya seperti diungsikan.
Saya duduk sendiri di ujung pantai entah di mana, di atas batu karang. Sendiri.
Hanya deburan ombak yang mampu saya pandangi. Sesekali saya menutup mata untuk berpikir, dalam gelap, terdengar bisikan angin dan kicauan burung. Laut. Penuh kebebasan.
Saya tak mampu banyak bergerak. Karang yang ku duduki cukup licin dan tak cukup memberikan keleluasaan untuk bergerak. Saya sungguh diungsikan. Oleh Tuhan. Mungkin.
Maka hanya ombak ku dedikasikan mataku untuk memandang. Selepasnya hanya laut bebas yang ramai tapi sendu dengan birunya yang ambigu.
Aku diungsikan sendiri--seperti dipaksa--mendengarkan celoteh alam lewat semua keriuhan yang sepi ini.
Akhir-akhir ini sepertinya saya terlalu banyak meminta.
Saya lupa untuk bersyukur.
Ini bencana; maka Tuhan mengungsikan saya di sudut laut ini sendiri. Agar saya tidak hancur dengan kerusakan yang saya buat sendiri dengan sadar.
Saya duduk sendiri di ujung pantai entah di mana, di atas batu karang. Sendiri.
Hanya deburan ombak yang mampu saya pandangi. Sesekali saya menutup mata untuk berpikir, dalam gelap, terdengar bisikan angin dan kicauan burung. Laut. Penuh kebebasan.
Saya tak mampu banyak bergerak. Karang yang ku duduki cukup licin dan tak cukup memberikan keleluasaan untuk bergerak. Saya sungguh diungsikan. Oleh Tuhan. Mungkin.
Maka hanya ombak ku dedikasikan mataku untuk memandang. Selepasnya hanya laut bebas yang ramai tapi sendu dengan birunya yang ambigu.
Aku diungsikan sendiri--seperti dipaksa--mendengarkan celoteh alam lewat semua keriuhan yang sepi ini.
Akhir-akhir ini sepertinya saya terlalu banyak meminta.
Saya lupa untuk bersyukur.
Ini bencana; maka Tuhan mengungsikan saya di sudut laut ini sendiri. Agar saya tidak hancur dengan kerusakan yang saya buat sendiri dengan sadar.
Saturday, January 7, 2012
HUJAN
Aku menutup mata.
Mendengar irama alam yang sederhana.
Memanggil bebebrapa peri dari dalam imajinasi,
mengajaknya ikut bermain, dan kutawarkan siapa saja yang ingin bernyanyi...
Aku memebiarkan diri semakin masuk dalam irama alam yang sederhana.
Aku berjumpa dengan sunyi di sini.
Ia mengajak Damai. Katanya, Damai baru benar-benar akan datang jika aku memberikan semua ambisi dan sedihku.
Peri-peri yang menari di atas kepala ku dengan sigap masuk satu persatu ke dalam dadaku dan mengambil berkarung-karung sedih dan ambisi.
Aku mulai melihat Damai.
Iya menari, melompat mengikuti alunan irama alam yang sederhana.
Sunyi mulai berubah bentuk menjadi embun yang bening.
Kemudian para peri kembali menari.
Tetesan embun semakin menjadi-jadi.
Damai melompat-lompat, sesekali memamerkan sayap.
Irama ini indah.
Aku suka hujan.
Monday, December 19, 2011
PAPAH
Ada dua malikat dalam hidupku; Ibu, Dan Ayahku, yang kupanggil "Papah"
Papah manusia yang tidak terlalu banyak kata. Papah bukan sosok ayah yang mudah meng-"iya"-kan apa yang anak-anaknya inginkan. Ketika kecil, aku berpikir bahwa Papah tidak pernah mengerti apa yang aku inginkan;
Saat aku menginginkan tas koper bergambar Princes Walt Disney, Papah membelikanku tas punggung bertulisan "MACHO".
Saat aku menginginkan jam tangan Baby-G, Papah membelikanku jam sederhana dengan detik wajah karakter Mr. Smile. Jam yang sangat sederhana jika dibandingkan dengan jam Baby-G yang aku inginkan.
Saat aku menginginkan boneka barbie, Papah membelikanku white teddy bear berhidung merah.
Saat Papah memberikan itu semua, aku marah. Tidak suka dengan kado-kado itu semua
Papah tidak pernah memberikan apa yang benar-benar aku inginkan...
Setelah jarum jam berputar cukup lama dan membawa umurku menginjak dewasa, aku mulai menyadari satu-persatu hadiah pemberian Papah;
Kelas lima SD, buku pelajaranku mulai menumpuk... setiap hari aku harus membawa 5 buku cetak tebal-cukup membuat punggungku sakit. Suatu hari tas punggungku putus. Di hari papah dan ibu sedang dinas ke luar kota dan itu membuat aku kebingungan untuk melaporkab putusnya-tas-sekolah-ku kepada siapa. Kubuka lemari penyimpanan tas,,, kemudian kutemukan tas "MACHO" hadiah dari Papah 4 tahun yang lalu. Tas yang hampir tidak pernah kupakai. Setelah beberapa saat aku memandang tas MACHO--satu-satu tas yang kupunya saat ini--beberapa menit, kuputuskan untuk kupakai besok kesekolah.
Aneh, beban bukuku terasa lebih ringan. Saat itu aku sadar, mungkin benar papah tidak membelikan tas yang bagus seperti tas koper barbie yang aku inginkan, tapi Papah sudahmemilihkan tas yang nyaman untukku
Era jam tangan Baby-G sudah lewat lebih dari tiga tahun yang lalu, dan aku masih mengenakan jam tangan Mr. Smile pemberian Papah. Suatu siang aku menerima lembar ujian matematika; aku dapat angka 4... tidak pakai koma, cuma 4! Aku menunduk. Air mataku berlinang tanpa kuperintah. Lalu ada sebuah senyum berputar-putar di jam tanganku. Aku memperhatikannya tanpa sadar. Dan aku tersenyum. Hatiku berbisik, "Tuhan, seandainya tiga tahun yang lalu Papah membelikanku jam tangan digital Baby-G, apakah detik ini aku akan tersenyum?"
"Dedek lagi bikin apa?" tanya ibu.
"Baju barbie Bu,,, buat dijual ke temen-temen,,, nanti kalau duitnya udah agak banyak, Dedek mau beli barbie ya Bu... tapi kalau duitnya enggak nambah-nambah, Ibu yang nambahin ya" jawabku. Ibu mengangguk sambil tersenyum. Keesokan harinya ibu membeli kain warna-warni, kata ibu kain itu untuk modal bahan baju barbie. Setiap sore aku sibuk membuat baju-baju barbie untuk kemudian dijual. Aku sibuk membuat baju, Papah tenang membaca koran, kami di ruangan yang sama, tidak banyak bicara.
Suatu siang ada dua boneka barbie di atas meja tamu. Boneka barbie yang sangat cantik. Lebih cantik daripada yang dimiliki oleh teman-teman dan tetangga-tetanggaku.
"Ini barbie siapa, Pah?" tanyaku.
"Itu hadiah, buat Mbak Arum dan Dek Anis. Satu-satu ya". titik.
Semakin hari aku menyadari bahwa Papah sangat menyayangi anak-anaknya. Papah memang cenderung diam, tapi bukan berarti Papah tidak mendengar rengekan aku yang meminta ini-itu. Dulu, Papah sering sekali mengucapkan, "buat apa? itukan mahal?" atau "belajar untuk menentukan prioritas kebutuhan, Dek!". Aku selalu melengos kalau Papah sudah mengeluarkan kalimat tadi. Tapi kemudian, beberapa hari kemudian, kalimat Papah berubah menjadi "Dedek benar-benar perlu itu?" dan kemudian aku mendapatkan apa yang kuinginkan, bahkan melebihi dari apa yang kuharapkan.
Aku ingat, dulu ketika SMA aku harus mondar-mandir meminjam kamera untuk membuat tulisan majalah sekolah. Suatu sore Papah dan Ibu bertanya, "memang kameranya buat apa?" lalu aku menjawab sekenanya. Seminggu kemudian, sepulang study tour, kamera digital sudah ada di atas meja ruang tamu. kamera digital yang jauh lebih bagus daripada milik siapapun. Setidaknya itu menurutku.
Aku tahu Papah tidak pernah mengabaikan satupun "rengekan" anak-anaknya yang manja ini. Aku tahu Papah selalu memikirkan kebahagiaan kami--anak-anaknya-- ketiika Papah berkata "Papah selalu berdoa saat tahajud biar kalian mendapatkan yang terbaik, biar kalian bisa sukses! makanya belajar yang benar". Atau ketika Papah memberikan kami secarik kertas berisi doa dan dzikir untuk diberi kemudahan dalam belajar.
Papah... Terimakasih... Terimakasih telah menjadi hadiah terindah di dalam hidup...
Terimakasih telah memilihkan hadiah terbaik untukku...
Terimakasih telah berusaha untuk terus memenuhi apa yang diinginkan anak-anakmu... Terimaksih sudah menjadi ayah yang sangat membanggakan untukku...
Tuhan... izinkan aku menjadi hadiah terindah untuk hidupnya...
Tuhan... izinkan aku memilihkan hadiah terbaik untuknya...
Tuhan... izinkan aku memenuhi keinginannya... Tuhan... Izinkan aku membanggakannya... Tuhan... Terimakasih sudah memberikan Papah sebagai ayahku.
Anyway,,, sesungguhnya, white teddy bear yang dulu Papah belikan, sekarang masih ada dan wujudnya masih sangat bagus,,, sekarang hak milik sudah beralih, ke OBI, cucu pertama Papah :) Terakhir, Obi memberi nama Dedeh!
Papah manusia yang tidak terlalu banyak kata. Papah bukan sosok ayah yang mudah meng-"iya"-kan apa yang anak-anaknya inginkan. Ketika kecil, aku berpikir bahwa Papah tidak pernah mengerti apa yang aku inginkan;
Saat aku menginginkan tas koper bergambar Princes Walt Disney, Papah membelikanku tas punggung bertulisan "MACHO".
Saat aku menginginkan jam tangan Baby-G, Papah membelikanku jam sederhana dengan detik wajah karakter Mr. Smile. Jam yang sangat sederhana jika dibandingkan dengan jam Baby-G yang aku inginkan.
Saat aku menginginkan boneka barbie, Papah membelikanku white teddy bear berhidung merah.
Saat Papah memberikan itu semua, aku marah. Tidak suka dengan kado-kado itu semua
Papah tidak pernah memberikan apa yang benar-benar aku inginkan...
Setelah jarum jam berputar cukup lama dan membawa umurku menginjak dewasa, aku mulai menyadari satu-persatu hadiah pemberian Papah;
Kelas lima SD, buku pelajaranku mulai menumpuk... setiap hari aku harus membawa 5 buku cetak tebal-cukup membuat punggungku sakit. Suatu hari tas punggungku putus. Di hari papah dan ibu sedang dinas ke luar kota dan itu membuat aku kebingungan untuk melaporkab putusnya-tas-sekolah-ku kepada siapa. Kubuka lemari penyimpanan tas,,, kemudian kutemukan tas "MACHO" hadiah dari Papah 4 tahun yang lalu. Tas yang hampir tidak pernah kupakai. Setelah beberapa saat aku memandang tas MACHO--satu-satu tas yang kupunya saat ini--beberapa menit, kuputuskan untuk kupakai besok kesekolah.
Aneh, beban bukuku terasa lebih ringan. Saat itu aku sadar, mungkin benar papah tidak membelikan tas yang bagus seperti tas koper barbie yang aku inginkan, tapi Papah sudahmemilihkan tas yang nyaman untukku
Era jam tangan Baby-G sudah lewat lebih dari tiga tahun yang lalu, dan aku masih mengenakan jam tangan Mr. Smile pemberian Papah. Suatu siang aku menerima lembar ujian matematika; aku dapat angka 4... tidak pakai koma, cuma 4! Aku menunduk. Air mataku berlinang tanpa kuperintah. Lalu ada sebuah senyum berputar-putar di jam tanganku. Aku memperhatikannya tanpa sadar. Dan aku tersenyum. Hatiku berbisik, "Tuhan, seandainya tiga tahun yang lalu Papah membelikanku jam tangan digital Baby-G, apakah detik ini aku akan tersenyum?"
"Dedek lagi bikin apa?" tanya ibu.
"Baju barbie Bu,,, buat dijual ke temen-temen,,, nanti kalau duitnya udah agak banyak, Dedek mau beli barbie ya Bu... tapi kalau duitnya enggak nambah-nambah, Ibu yang nambahin ya" jawabku. Ibu mengangguk sambil tersenyum. Keesokan harinya ibu membeli kain warna-warni, kata ibu kain itu untuk modal bahan baju barbie. Setiap sore aku sibuk membuat baju-baju barbie untuk kemudian dijual. Aku sibuk membuat baju, Papah tenang membaca koran, kami di ruangan yang sama, tidak banyak bicara.
Suatu siang ada dua boneka barbie di atas meja tamu. Boneka barbie yang sangat cantik. Lebih cantik daripada yang dimiliki oleh teman-teman dan tetangga-tetanggaku.
"Ini barbie siapa, Pah?" tanyaku.
"Itu hadiah, buat Mbak Arum dan Dek Anis. Satu-satu ya". titik.
Semakin hari aku menyadari bahwa Papah sangat menyayangi anak-anaknya. Papah memang cenderung diam, tapi bukan berarti Papah tidak mendengar rengekan aku yang meminta ini-itu. Dulu, Papah sering sekali mengucapkan, "buat apa? itukan mahal?" atau "belajar untuk menentukan prioritas kebutuhan, Dek!". Aku selalu melengos kalau Papah sudah mengeluarkan kalimat tadi. Tapi kemudian, beberapa hari kemudian, kalimat Papah berubah menjadi "Dedek benar-benar perlu itu?" dan kemudian aku mendapatkan apa yang kuinginkan, bahkan melebihi dari apa yang kuharapkan.
Aku ingat, dulu ketika SMA aku harus mondar-mandir meminjam kamera untuk membuat tulisan majalah sekolah. Suatu sore Papah dan Ibu bertanya, "memang kameranya buat apa?" lalu aku menjawab sekenanya. Seminggu kemudian, sepulang study tour, kamera digital sudah ada di atas meja ruang tamu. kamera digital yang jauh lebih bagus daripada milik siapapun. Setidaknya itu menurutku.
Aku tahu Papah tidak pernah mengabaikan satupun "rengekan" anak-anaknya yang manja ini. Aku tahu Papah selalu memikirkan kebahagiaan kami--anak-anaknya-- ketiika Papah berkata "Papah selalu berdoa saat tahajud biar kalian mendapatkan yang terbaik, biar kalian bisa sukses! makanya belajar yang benar". Atau ketika Papah memberikan kami secarik kertas berisi doa dan dzikir untuk diberi kemudahan dalam belajar.
Papah... Terimakasih... Terimakasih telah menjadi hadiah terindah di dalam hidup...
Terimakasih telah memilihkan hadiah terbaik untukku...
Terimakasih telah berusaha untuk terus memenuhi apa yang diinginkan anak-anakmu... Terimaksih sudah menjadi ayah yang sangat membanggakan untukku...
Tuhan... izinkan aku menjadi hadiah terindah untuk hidupnya...
Tuhan... izinkan aku memilihkan hadiah terbaik untuknya...
Tuhan... izinkan aku memenuhi keinginannya... Tuhan... Izinkan aku membanggakannya... Tuhan... Terimakasih sudah memberikan Papah sebagai ayahku.
Anyway,,, sesungguhnya, white teddy bear yang dulu Papah belikan, sekarang masih ada dan wujudnya masih sangat bagus,,, sekarang hak milik sudah beralih, ke OBI, cucu pertama Papah :) Terakhir, Obi memberi nama Dedeh!
Wednesday, December 14, 2011
Al-Hajj
Akhir-akhir ini...
Sering menangis tiba-tiba;
Sering kehilangan kata dalam doa;
Sering merasa sangat lemah.
Saya... saya seperti kehilangan cita-cita.
Di ruang yang melapangkan waktu yang saya miliki, saya duga bahwa Tuhan sedang menguji keimanan saya.
Hingga detik ini, saya akui bahwa mempertahankan iman ataupun sebuah keyakinan akan suatu hal tidaklah mudah.
Di masa ini, saya sedang mencoba untuk mengenal TUhan saya dengan segala sifatnya, dalam agama saya sifat-sifat Allah disebut dengan Asmaul Husna.
Suatu ketika sahabat saya pernah menyampaikan kepada saya, sesungguhnya ketika kita memahami dan mempelajari Asmaul Husna maka tak ada kekhawatiran dalam menjalani hidup. Katanya lagi, mempelajari Asmaul Husna bukan sekedar menghapal, tapi meyakini dan mencamkan dalam hati.
Kemudian saya mencoba untuk (sekedar) mengetahui 99 sifat Allah. Sayangnya--tidak seperti yang teman saya ucapkan--saya sekedar menghapal. Tidak memahami. Tidak mengimani.
Kemudian, suatu malam, saya pikir Tuhan merangkul hati saya untuk membantu saya belajar mengimani keberadaanNya...
Malam itu kondisi kesehatan saya tidak begitu baik. Kondisi hati pun sama tidak baiknya.
Usai solat Isya, saya memanjatkan do'a yang lebih panjang daripada biasanya. Kelemahan saya menjadi pemicu untuk merangkai kata yang jujur kepada Pemilik saya. Tuhan.
"Tuhan... jadikan hambaMu ini menjadi apapun yang Kau inginkan. Tapi Tuhan... izinkan hidup hamba yang sekali ini bisa bermanfaat untuk orang banyak. Hamba tidak ingin menjadi manusia yang sia-sia.
Tuhan... atas kondisi raga yang lemah ini maka jadikan penyakit ini obat untuk menguatkan jiwa hamba untuk belajar tentang sabar.
Tuhan... ketika hamba tidak termasuk 10.000.000 besar umatMu yang taat, apakah Kau masih mau sekedar mendengarkan doa-doa hamba?..."
Doa saya menggantung di pertanyaan itu.
Kemudian, saya mengambil Al-Qur'an yang sudah dua bulan mandek di jus ke 17. Malam ini harus saya tuntaskan Jus 17!
ternyata tinggal dua halaman lagi Jus 17 usai tepatnya di Surat ke 22;Al-Hajj. Saya baca dua halaman itu. Lalu saya baca terjemahannya dengan suara lirih seperti biasa, kemudian...
Mata saya berkaca-kaca.
Bola mata saya berhenti di sebuah kalimat...
Ayat (74-75): Mereka tidak mengenal Allah dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa. Allah memilih utusan-utusan- (Nya) dari malaikat dan dari manusia; sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
Dan kemudian tanpa saya perintah, air mata berlinang. Seperti gundah yang membuyar keluar atas diterimanya sebuah kepastian atas sebuah hal yang masih disangsikan "apakah Kau masih mau sekedar mendengarkan doa-doa hamba...?"
Dan Tuhan menjawab
Kemudian saya peluk erat Al-Qur'an yang ada di tangan saya. Sesungguhnya Tuhan sangatlah dekat dengan Hambanya. Kitalah yang membuat jarak kepada Nya.
Sering menangis tiba-tiba;
Sering kehilangan kata dalam doa;
Sering merasa sangat lemah.
Saya... saya seperti kehilangan cita-cita.
Di ruang yang melapangkan waktu yang saya miliki, saya duga bahwa Tuhan sedang menguji keimanan saya.
Hingga detik ini, saya akui bahwa mempertahankan iman ataupun sebuah keyakinan akan suatu hal tidaklah mudah.
Di masa ini, saya sedang mencoba untuk mengenal TUhan saya dengan segala sifatnya, dalam agama saya sifat-sifat Allah disebut dengan Asmaul Husna.
Suatu ketika sahabat saya pernah menyampaikan kepada saya, sesungguhnya ketika kita memahami dan mempelajari Asmaul Husna maka tak ada kekhawatiran dalam menjalani hidup. Katanya lagi, mempelajari Asmaul Husna bukan sekedar menghapal, tapi meyakini dan mencamkan dalam hati.
Kemudian saya mencoba untuk (sekedar) mengetahui 99 sifat Allah. Sayangnya--tidak seperti yang teman saya ucapkan--saya sekedar menghapal. Tidak memahami. Tidak mengimani.
Kemudian, suatu malam, saya pikir Tuhan merangkul hati saya untuk membantu saya belajar mengimani keberadaanNya...
Malam itu kondisi kesehatan saya tidak begitu baik. Kondisi hati pun sama tidak baiknya.
Usai solat Isya, saya memanjatkan do'a yang lebih panjang daripada biasanya. Kelemahan saya menjadi pemicu untuk merangkai kata yang jujur kepada Pemilik saya. Tuhan.
"Tuhan... jadikan hambaMu ini menjadi apapun yang Kau inginkan. Tapi Tuhan... izinkan hidup hamba yang sekali ini bisa bermanfaat untuk orang banyak. Hamba tidak ingin menjadi manusia yang sia-sia.
Tuhan... atas kondisi raga yang lemah ini maka jadikan penyakit ini obat untuk menguatkan jiwa hamba untuk belajar tentang sabar.
Tuhan... ketika hamba tidak termasuk 10.000.000 besar umatMu yang taat, apakah Kau masih mau sekedar mendengarkan doa-doa hamba?..."
Doa saya menggantung di pertanyaan itu.
Kemudian, saya mengambil Al-Qur'an yang sudah dua bulan mandek di jus ke 17. Malam ini harus saya tuntaskan Jus 17!
ternyata tinggal dua halaman lagi Jus 17 usai tepatnya di Surat ke 22;Al-Hajj. Saya baca dua halaman itu. Lalu saya baca terjemahannya dengan suara lirih seperti biasa, kemudian...
Mata saya berkaca-kaca.
Bola mata saya berhenti di sebuah kalimat...
Ayat (74-75): Mereka tidak mengenal Allah dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa. Allah memilih utusan-utusan- (Nya) dari malaikat dan dari manusia; sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
Dan kemudian tanpa saya perintah, air mata berlinang. Seperti gundah yang membuyar keluar atas diterimanya sebuah kepastian atas sebuah hal yang masih disangsikan "apakah Kau masih mau sekedar mendengarkan doa-doa hamba...?"
Dan Tuhan menjawab
Kemudian saya peluk erat Al-Qur'an yang ada di tangan saya. Sesungguhnya Tuhan sangatlah dekat dengan Hambanya. Kitalah yang membuat jarak kepada Nya.
Sunday, December 11, 2011
CANTIK
Duduk di sudut dengan kondisi (agak) "salah kostum" saya memiringkan kepala untuk mencari spot pandang yang pas.
Di depan, wanita berjilbab memeragakan busana--tampak sangat luar biasa. Badan tinggi, wajah putih mulus, terlihat sangat fashionable, dan tentunya penuh percaya diri.
Saya tersenyum. Terpesona tepatnya.
Dari satu sudut di tengah keriuhan, saya melempar pandang ke kanan dan ke kiri. "Wah... pada cantik-cantik semuaaa" hati saya bergumam. Rok panjang lambai-lambai, make up yang tidak berlebihan, sepatu dengan hak super tinggi (bahkan super tajam) dan masih banyak lagi.
Kemudian saya hilang konsentrasi dan mempertanyakan satu hal: sesederhana inikah yang namanya kecantikan?
Apakah kecantikan hanya bisa didefinisikan tentang apa yang ditangkap mata?
Apakah kecantikan hanya bisa didefinisikan dari apa yang dikenakan seseorang, dari apa yang ditampilkan secara kasat mata?
Saya pikir TIDAK.
Karena tidak satu, dua atau tiga kali saya mengagumi sosok wanita karena keanggunanna bersikap. Dan bagi saya mereka cantik.
Karena tidak satu, dua atau tiga kali saya membanggakan sosok wanita karena kerendahan hatinya dalam berilmu. Dan bagi saya mereka cantik.
Karena tidak satu, dua atau tiga kali saya terpesona dengan sosok wanita karena kemandiriannya. Dan bagi saya mereka cantik.
Karena tidak satu, dua atau tiga kali saya terperangah dengan sosok wanita dengan keberaniannya memilih untuk hidup dengan pikiran yang bebas dan bertanggung jawab. Dan bagi saya mereka cantik.
Karena tidak satu, dua atau tiga kali saya terkesima dengan sosok wanita yang menjaga aqidahnya dalam kesederhanaan senyuman. Dan bagi saya mereka sangat cantik.
Dan kemudian saya mengerti, bahwa cantik bukan sekedar hal yang memanjakan mata. Cantik adalah keindahan baik yang kasat maupun tidak kasat mata. Cantik adalah ketika ada kekaguman yang jujur diakui oleh hati akan sebuah sikap, pola pikir dan perilaku seorang wanita.
Karena cantik sesungguhnya dimiliki oleh semua wanita di dunia. Karena cantik akan terpancar ketika seorang wanita tersenyum tulus dalam menghargai orang-orang disekitarnya serta dirinya sendiri.
Jadi...
Banyak cara untuk menjadi wanita cantik kaaan!! :D
Di depan, wanita berjilbab memeragakan busana--tampak sangat luar biasa. Badan tinggi, wajah putih mulus, terlihat sangat fashionable, dan tentunya penuh percaya diri.
Saya tersenyum. Terpesona tepatnya.
Dari satu sudut di tengah keriuhan, saya melempar pandang ke kanan dan ke kiri. "Wah... pada cantik-cantik semuaaa" hati saya bergumam. Rok panjang lambai-lambai, make up yang tidak berlebihan, sepatu dengan hak super tinggi (bahkan super tajam) dan masih banyak lagi.
Kemudian saya hilang konsentrasi dan mempertanyakan satu hal: sesederhana inikah yang namanya kecantikan?
Apakah kecantikan hanya bisa didefinisikan tentang apa yang ditangkap mata?
Apakah kecantikan hanya bisa didefinisikan dari apa yang dikenakan seseorang, dari apa yang ditampilkan secara kasat mata?
Saya pikir TIDAK.
Karena tidak satu, dua atau tiga kali saya mengagumi sosok wanita karena keanggunanna bersikap. Dan bagi saya mereka cantik.
Karena tidak satu, dua atau tiga kali saya membanggakan sosok wanita karena kerendahan hatinya dalam berilmu. Dan bagi saya mereka cantik.
Karena tidak satu, dua atau tiga kali saya terpesona dengan sosok wanita karena kemandiriannya. Dan bagi saya mereka cantik.
Karena tidak satu, dua atau tiga kali saya terperangah dengan sosok wanita dengan keberaniannya memilih untuk hidup dengan pikiran yang bebas dan bertanggung jawab. Dan bagi saya mereka cantik.
Karena tidak satu, dua atau tiga kali saya terkesima dengan sosok wanita yang menjaga aqidahnya dalam kesederhanaan senyuman. Dan bagi saya mereka sangat cantik.
Dan kemudian saya mengerti, bahwa cantik bukan sekedar hal yang memanjakan mata. Cantik adalah keindahan baik yang kasat maupun tidak kasat mata. Cantik adalah ketika ada kekaguman yang jujur diakui oleh hati akan sebuah sikap, pola pikir dan perilaku seorang wanita.
Karena cantik sesungguhnya dimiliki oleh semua wanita di dunia. Karena cantik akan terpancar ketika seorang wanita tersenyum tulus dalam menghargai orang-orang disekitarnya serta dirinya sendiri.
Jadi...
Banyak cara untuk menjadi wanita cantik kaaan!! :D
Subscribe to:
Posts (Atom)







