Wednesday, March 26, 2014

semoga... :)

"... betapa bahagianya menemukan seseorang yang bahagia ketika melihat kita bahagia. Menyenangkan ketika menemukan seseorang yang senang untuk menyenangkan diri kita. Betapa damainya menemukan seseorang yang memandang dan mendefinisikan Tuhan dalam pandangan yang sama. Aku terlalu yakin untuk menghabiskan sisa hidupku dengannya. Menghabiskan hidup dengan sederhana; merasa bahagia untuk saling membahagiakan, mengisi karena kita paham dan sadar bahwa kita saling membutuhkan, menopang karena mengerti kita akan terus berjalan beriringan dan tak mau sendirian..."

"... dia datang di luar perhitunganku. Dia bukan seperti yang kuminta, tapi kemudian aku sadar dia lebih indah. Dia paham bagaimana menemukan senyumanku ketika aku bersedih, dan paham menemukan kesedihanku ketika aku tersenyum. Dia mengerti melunakan egoku, dia berani untuk membenarkan kesalahanku tanpa menyakiti perasaanku. Dan menyenangkan memilikinya dengan segala indah dan kurangnya. Kami telah ditemukan. Pada akhirnya kami saling menemukan. Dan kini saatnya kami saling menjaga."


Sebuah surat yang datang sore tadi bersamaan sebuah undangan pernikahan.

Tuesday, March 25, 2014

Kita (tidak) Memiliki Apapun




Pada kenyataannya, Tuhan menakar kebahagiaan yang berbeda di hidup manusia. Yang harus kamu pahami, tak semua orang seberuntung dirimu. Sesakit apapun kamu terjatuh dan merasa kecewa, percayalah, bahkan ada yang tak merasa apa-apa dengan sakit seperti yang kamu punya karena terlalu sering ia merasakannya. Jangan mudah bersedih, murung dan menyalahkan Tuhan, Nisa. Dia paling tahu seberapa kuat dirimu. Belajarlah untuk tidak mudah menyalahkan. Belajarlah untuk menerima dan belajarlah untuk selalu belajar dari rasa sedih yang kamu punya.

-K-


Pesan itu sampai lagi di kepala saya malam ini. Entah kenapa dan mengapa, tapi berhasil membuat saya berpikir cukup dalam. Mengingat hal-hal buruk apa saja yang pernah saya lakukan di masa lalu. Bagaimana seringnya saya menggugat Tuhan atas rasa sedih dan kecewa yang saya rasakan.

Waktu itu umur saya masih delapan tahun, mungkin umur yang masih rapuh dan belum tahu bagaimana menghadapi yang namanya perpisahan. Di umur itu, saya harus berpisah dengan semua bagian terpenting masa kecil saya. Hampir setiap malam saya menangis. Merasakan hal yang saya pahami sebagai kata rindu saat ini.

Saya tumbuh dengan pemahaman sendiri, bahwa perpisahan terasa begitu menyakitkan karena rasa terlalu mencintai dan memiliki.

Saya tidak mau merasakan kesedihan yang serupa. Maka saya memutuskan untuk tidak terlalu mencintai hal-hal yang mungkin akan saya tinggalkan nantinya.

Saat umur saya empatbelas tahun, perpisahan harus kembali saya rasakan. Tapi, kali ini tak sesedih dulu. Entah karena saya sudah mulai belajar ikhlas, atau mungkin saya sudah tak selugu enam tahun yang lalu--tidak ingin mencintai sesuatu dengan terlalu.

Memasuki umur belasan tahun, saya mencoba memahami makna memiliki. Kemudian hal yang saya dapati adalah bahwa tidak ada satupun di dunia ini yang bisa selamanya saya miliki. Meminjam istilah sahabat saya Puspa, perjumpaan adalah perpisahan yang tertunda, dan perpisahan adalah rasa rindu yang tertunda. Apa artinya? bahwa cepat atau lambat, dari sebuah perjumpaan kita akan berjumpa dengan kerinduan. Sesederhana apapun pertemuan itu, kelak (mungkin) akan kita rindukan.

Saya memiliki pemahaman bahwa saya akan baik-baik saja dengan sebuah perpisahan ketika saya bisa lebih memahami bagaimana caranya mengikhlaskan. Memahami benar bahwa semua yang datang pasti akan pergi. Bahwa semua lahir pasti akan mati. Bahwa semua yang pernah tercipta pasti akan musnah. Bahwa semua yang ada pasti akan hilang.

Iya. Semua akan menghilang.

Saya menanamkan benar bahwa semua yang saya miliki, apapun itu, nantinya akan menghilang.


Saya menanamkan pemahaman kepada diri saya sendiri bahwa sesungguhnya tak ada yang perlu saya takuti dari sebuah kehilangan. Karena pada akhirnya saya pun akan menghilang, musnah, hancur dan menjadi tidak ada.

Saya menanamkan pemahaman kepada diri saya sendiri bahwa sesungguhnya tidak ada yang perlu saya takuti dari sebuah kehilangan. Karena sesungguhnya saya tidak pernah memiliki apa-apa.

Yang datang biarlah datang.

Yang pergi biarlah pergi.

Iya. Tanpa saya sadar saya memahami sepotong hidup dengan cara seperti ini. Sederhana. Walau tidak mudah sesungguhnya.

Apa saya terbaca terlalu pasrah? Tidak juga.

Karena sepotong pemahaman saya yang lain adalah bahwa saya bertanggungjawab untuk menjaga dan mempertahankan selama mungkin apa yang dititipi Tuhan kepada saya. Menjaga sebaik mungkin. Karena 'menjaga' apa yang kita miliki adalah bentuk terimakasih kepada Tuhan yang telah memberikan sementara kepada saya sesuatu itu. Dan ketika saya telah menjaga sekuat tenaga, sesuatu itu hilang, pergi atau bahkan musnah. Yasudah. Karena memang seperti itulah hukumnya.

Apakah saya berhak sedih atas kehilangan itu? Hmm... untungnya Tuhan Maha Baik kawan. Dia memberikan kita hak penuh atas apa yang Ia titipi kepada hidup kita. Jadi bersedihlah jika kehilangan itu terasa menyakitkan. Menangislah.

Tapi kemudian, ikhlaslah.

Saya tahu, mengikhlaskan sesuatu bukan perkara yang mudah, tapi bukan berarti tidak bisa :)

Saya pun masih belajar. Dan mungkin masih banyak 'materi ikhlas' yang harus saya pelajari dan pahami. Dan saya berterimakasih kepada bidadari tak bersayap saya (ibu) yang mengajarkan ikhlas dengan cara yang sangat sederhana.

Dari sini saya mulai membangun kerangka berpikir bahwa, tidak ada di dunia ini yang harus dicintai dengan terlalu, karena sesuatu itu akan hilang. Saya mencoba mencintai apapun dengan sewajarnya. Mencintai karena ingin mencintai saja. Mencintai karena saya bahagia. Ya! cintailah sesuatu yang membahagiakan kita :)

Sekali lagi, cintailah sesuatu karena kita bahagia mencintainya. Itu saja cukup. Oh, bahkan itu lebih cukup menurut saya. (Apa yang lebih indah dari merasa bahagia?)

Jadi jangan menuntut lebih dari itu. Jangan berespektasi lebih dari itu.

Mencintailah karena kita ingin mencintainya. Karena kita bahagia mencintainya. Mencintai saja.
Memberilah karena kita ingin memberi. Karena kita bahagia kita bisa memberi. Memberilah saja.


Janganlah kita mencintai seseorang karena kita ingin memiliki cintanya

Janganlah kita menemani seseorang karena kita ingin memiliki perhatiannya

Janganlah kita baik kepada seseorang karena kita menginginkan simpatinya

Jangan...

Karena sesungguhnya, kita tak pernah diizinkan untuk memiliki siapapun dan apapun di dunia ini.

Karena ketika kita melakukan sesuatu dengan harapan untuk memiliki sesuatu, sangat mungkin kita akan kecewa.

Saat ini saya sedang belajar bagaimana hidup dengan bahagia dengan cara saya sendiri:
1. Mensyukuri hal-hal kecil dan sederhana dengan senyuman;
2. Mengingat-ingat hal-hal baik dalam hidup yang sering saya lupakan kemudian menyukurinya;
3. Mengerjakan apa yang harus dikerjakan dan menyerahkan hasilnya kepada Tuhan;
4. Memberi waktu untuk bersedih, menangis ketika ingin menangis;
5. Menjaga semua hal yang membuat saya merasa bahagia...

Dan yang terakhir adalah... MENERIMA








Saturday, March 22, 2014

Ketika Jatuh Cinta Begitu Saja dengan Lagu Ini >> Lenka- Everything's Okay




Keep giving me hope for a better day
Keep giving me love to find a way
Through this heaviness I feel
I just need someone to say, everything's okay

Terkadang ada lagu yang tanpa sengaja ditemukan dan terdengar seperti tercipta khusus untuk kita :)

Waktu saya menemukan lagu ini, pertama kali dengar saya langsung senyuuuumm lebaaar... :D
mendengar kedua kalinya saya mulai ikut bernyanyiii...
mendengar ketiga kalinya saya mulai bernyanyi, tersenyum dan menari!!! HAHAHAHA...

Ah... kata siapa jatuh cinta selalu butuh waktu yang lama? ;)

Ya! Saya suka semua lagu LENKA dari dulu... dan saya jatuh cinta dengan lagu ini :)

Passenger - Let Her Go (Lyrics)





"... Cause love comes slow and it goes so fast..."



Mungkin benar, kehilangan adalah cara terbaik untuk menyadarkan kita dari lupa bahwa kita (pernah) memiliki sesuatu yang berharga... 



Tuesday, February 25, 2014

Sudahlah...

Mereka yang kepayahan untuk berdamai dengan masa lalu mungkin saja mereka yang lupa bagaimana cara melupakan dan memaafkan. Sayang, mereka hanya akan terus merasakan rasa sakit dari luka yang sesungguhnya telah hilang. Tak ada yang bisa menyembuhkan selain mereka sendiri, karena sesungguhnya saat ini tak ada luka yang harus disembuhkan, ini hanya tentang rasa sakit yang seharusnya dilupakan. Berdamailah. Ikhlaslah. Aku, kamu, kita layak untuk merasa bahagia sekarang.

Tak ada manusia yang terus-menerus berjalan tegak tanpa kemudian terjatuh dan mengenal darah. Tidak aku, kamu dan mereka. Semua pernah terjatuh, terluka dan kemudian kecewa. Tak perlu khawatir, waktu cukup bisa diandalkan untuk meniup luka kita dan menghapus rasa sakitnya. Seharusnya begitu. Asal kau izinkan ikhlas memenuhi jiwamu yang sedikit bompal karena luka tadi. Tidak apa-apa. Jika sakitmu masih betah mengakar diingatanmu maka kelak akan ada seseorang yang dengan sabar meninabobokan nestapamu untuk mengundang lupa yang tak kunjung datang membawa pergi luka.

Ah. Kita dari tadi sibuk berputar dengan lupa dan luka, kawan... Kita menjadi benar-benar lupa bahwa mencoba melupakan adalah cara terlicik mengingat lara.


Mungkin sudah saatnya kita menertawakan semua duka. Membuat semuanya menjadi baik-baik saja. Membuat kita tanpa sadar melupakannya.



YOGYAKARTA, 23.30, 25 FEBRUARI 2014
Annisa Rahmah

Friday, February 21, 2014

Perbincangan kali ini: Bagaimana menemukan belahan hati?

Bagaimana menemukan belahan hati?

Tidak tahu.

Kok begitu? Biasanya kamu selalu punya jawaban untuk semua pertanyaanku?

Aku tidak tahu bagaimana cara menemukan belahan hati, karena yang aku tahu dan aku percayai, dua hati yang saling mengenapi akan selalu dipertemukan bagaimanapun caranya.

Beritahu aku lebih banyak lagi hal yang kamu tahu dan percayai...

Ada tiga hal yang aku dan kamu percaya bahwa itu adalah takdir yang pasti akan terjadi: kelahiran, jodoh dan kematian.Kita sempitkan jodoh di sini adalah pasangan hidup, ya...

Baiklah,,, lanjutkan,,,

Aku dan kamu percaya bahwa sesungguhnya manusia diciptakan berpasang-pasangan. Kita cukupkan sampai sini saja. Kita tidak perlu membahas ada orang yang tidak menikah, atau ada orang yang sudah menikah berkali-kali dan pada akhirnya memilih sendiri lalu kita pertanyakan; "berarti mereka tidak memiliki pasangan?". Jangan. Karena hal-hal demikian adalah rahasia langit yang tak akan pernah bisa kita jelaskan dengan sederhana. Kita cukupkan bahwa kita memercayai bahwa kita, aku dan kamu diciptakan secara berpasangan.

Oke,,, lalu?

Kamu tadi bertanya bagaimana menemukan belahan hatimu, bagaimana menemukan pasanganmu, bagaimana menemukan seseorang yang akan menemanimu dan melengkapi hidupmu hingga kamu menemukan takdir terakhirmu; mati.
Percayalah, ketika sesuatu memang harus terjadi maka akan terjadi, seperti hati, jika memang harus bertemu maka akan bertemu. Sejauh apapun kamu dengan dia saat ini, sebesar apapun ketidakmungkinan yang kamu lihat saat ini, sesulit apapun itu, jika kalian ditakdirkan bertemu, maka kalian akan bertemu. Entah bagaimana caranya, aku tidak tahu. Kalian kan dipertemukan untuk saling menemukan.

Jadi aku hanya harus menunggu dipertemukan?

Ya. Kamu hanya harus menunggu, tapi tidak sekedar menunggu.

Maksudmu?

Satu hal yang harus kita pahami, bahwa takdir sesungguhnya adalah kepastian yang datangnya tidak pasti. Aku yakin kamu paham maksudku,,, bahwa tidak ada yang pasti di dunia ini. Tentang kelahiran seseorang, jodoh seseorang dan kematian seseorang. Tidak ada yang pasti. Ralat, lebih tepatnya tidak ada yang tahu pasti. Ya, keterbatasan pengetahuan kitalah yang menyebabkan semua kepastian itu tampak tidak pasti. Dan Tuhan membatasi pengetahuan kita dengan tujuan; agar kita membangun sebuah ruangan untuk menempatkan Tuhan di hati kita, dan itulah namanya iman.
Tuhan ingin kita bergantung pada Nya, dalam ketidaktahuan kita, Dia ingin kita selalu bertanya kepada Nya.

Berdoa?

Berdoa, berikhtiar dan bertawakal.

Bagaimana berikhtiarnya?

Selalu menjadi yang terbaik dari dirimu. Mungkin hanya itu.

Maksudnya?

Jadilah yang terbaik dari dirimu. Jadilah dirimu sendiri, sebaik-baiknya kualitas yang bisa kamu capai untuk dirimu sendiri. Itu akan memudahkan "belahan hati"-mu menemukan mu. Dengan menjadi dirimu sendiri, dia akan tahu kekurangmu yang bisa ia lengkapi, dan menemukan kelebihanmu yang bisa ia miliki untuk melengkapinya. Kalian akan paham, bahwa tidak ada manusia yang sempurna, kamu maupun dia adalah dua ketidaksempurnaan yang saling menerima.


Bagaimana dengan jatuh cinta yang berkali-kali dengan orang yang berbeda?

Kamu jawablah sendiri pertanyaan itu, entahlah, aku sendiri percaya jika dia jodohmu maka kamu akan selalu menemukan alasan untuk jatuh cinta berkali-kali dengan orang yang sama.

Bagaimana kita tahu bahwa kita akan jatuh cinta berkali-kali dengan seseorang?

Tidak tahu. Ingat, jodoh itu adalah kepastian yang tidak pasti karena ketidaktahuan kita. Jika kau tanya aku, jawabanku juga tidak tahu. Tapi kita tahu, siapa yang tahu akan hal ini kan...

Tuhan?

Iya.

Jadi?

Jadi... saat kau merasakan jatuh cinta, jatuh cintalah saja. Belajarlah mencintainya dengan tulus, itulah batas ikhtiar kita. Lalu serahkan semuanya kepada Tuhan, Ia yang akan menggiring hati kita, hatimu dan hatinya, apakah kalian akan saling ddekatkan untuk dipertemukan atau saling dijauhkan.

Jawabanmu kali ini tidak menenangkan...

Hm... kamu tidak tenang karena kamu tidak percaya. Kamu terlalu gelisah menebak-nebak apa yang akan dibawa oleh waktu di masa depan. Tidak ada apa-apa di masa depan kecuali mimpi dan harapan yang imajiner.. Hiduplah untuk saat ini. Bukan untuk besok atau karena kemarin.
Percayalah bahwa Tuhan cukup adil dan bijaksana. Kamu sendiri yang selalu meyakinkan aku bahwa semua hal yang terjadi selalu dengan alasan yang cepat atau lambat kita akan memahaminya.

Jika memang harus terjadi maka akan terjadi?

Iya. Jika sesuatu harus terjadi maka akan terjadi.


Dua hati yang dtakdirkan untuk saling menggenapi akan saling dipertemukan dan menemukan?


Iya. Dengan keadilan dan kebijaksanaan Tuhan.


Aku hannya harus percaya dan menjadi sebaik-baiknya diriku?

Iya. Jadilah sebaik-baiknya dirimu. Kamu tak perlu menjadi siapa-siapa selain dirimu sendiri. Kamulah yang dia cari, bukan orang lain.


Sunday, February 16, 2014

Siapa yang harus ditemukan?


Malam ini... saya memikirkan satu hal...

tentang menemukan seseorang yang mencintai kita,

atau,

tentang menemukan seseorang yang kita cintai?

Dan...

Pada akhirnya saya harus mengakui bahwa saya menemukan jawaban yang indah dari sahabat saya, Lintang Hapsari, dalam sebuah chatt-LINE malam kemarin.

Sebelumnya, Ibu pernah menyampaikan pesan kepada saya,"Dek, kita ini perempuan... akan lebih baik jika kita mendapatkan laki-laki yang sayang sama kita..."

"Ya.. enggak gitu juga dong, Bu... Dedek mau ketemu sama orang yang sayang sama Dedek dan Dedek juga sayang sama dia", respon cepat dari saya.

"Ya... itu juga benar,,, tapi kalau seumpamanya nanti ada lelaki yang sudah baik banget sama Dedek, ya dia harus dipertimbangkan... nanti yang namanya perasaan sayang itu akan tumbuh sendirinya kok"

Saya hanya diam. Membenanmkan kepala dalam bantal. Pokoknya, saya mau menemukan orang yang saya sayangi dan menyayangi saya! Tapi... saya juga tidak bisa menutup mata bahwa tidak semua orang bisa menikah dengan orang yang ia cintai. Tapi saya pastikan saya bukan bagian dari orang kurang beruntung itu.

Kembali kepada Lintang.

Malam kemarin, Lintang menulis ini dalam sesi curhat via LINE kami:

Satu hal yang nguatin gue, bahwa gue tahu Tuhan ga tuli. Tuhan punya semuanya.
Sekarang masalahnya cuma... Dia mau enggak mangasih itu buat kita,
the thing is i wanna marry the man i love. I love him because I know he loves me. I know deep inside I'm the one he loves the most. I know Allah is between us right now. Allah reads our chatt!


Dan harus saya akui bahwa Lintang telah menemukan redaksional (yang sejauh ini) terbaik tentang orang seperti apa yang harus ditemukan! Bahwa saya ingin menikahi seseorang yang saya cintai. Saya mencintainya karena saya tahu bahwa ia mencintai saya. Saya tahu, bahwa dari hati yang terdalam, sayalah satu-satunya yang dia cintai. (Kalau buat saya sendiri ada tambahan:bahwa dari hati yang terdalam, sayalah satu-satunya yang dia cintai setelah Tuhan dan kedua orangtuanya ;) Atau... saya akan mencintai seseorang yang berhasil membuat saya jatuh cinta kepadanya... widiiih... hahahaha... geli sendiri... (eh. lupa ini lagi bahasan serius) (kembali ke tampang serius) )

Anyway... saya rasa, semua orang punya "syarat" tersendiri tentang dengan manusia seperti apa yang akan ia pilih untuk menghabiskan sisa hidup mereka bersama. :)