Sunday, January 2, 2011

bisakah lagu ini berubah menjadi kata "MAAF"?



Memilih By; Novi

Saat kita berjumpa
engkau tersenyum manja
hatiku terbang melayang
saat kau bilang cinta
tapi kau harus tahu
ku tlah bersamanya

kasih kumohon maafkan diriku
karna aku tlah memilih dirinya
bukan maksudku tuk melukaimu
tapi ku tak akan mampu
tuk menduakanmu

saat ku telah sendiri,
kau menjauh dan pergi.


kasih kumohon maafkan
karna aku tlah memilih dirinya
bukan maksudku tuk melukaimu
tapi ku tak akan mampu
tuk menduakanmu

tapi ku tak akan mampu
tuk menduakanmu



Semoga, Lirik ini bisa menjelaskan semuanya. Bukan untuk merubah keadaan. Sama sekali bukan. Hanya saja, prasangka-prasangka buruk yang pernah ada, bisa benar-benar hilang.


Dan semoga seseorang yang disana bisa mengerti, bahwa selama tiga tahun ini, setiap bertemu, hanya kata "maaf" yang terucap di hati ini.

2011 Bersama keluarga-tiga-tahunku.


30 desember 2010 Pizza Hut, Yogyakarta.

Entah kenapa saya merasa sedih tenggelam di dalam tawa kalian. Rasa sedih akan cepat meninggalkan nuansa ini. Nuansa tawa dan canda bersama kalian.
Rasanya ingin menghabiskan waktu berjam-jam dalam khayalan konyol kita di masa yang akan datang. Tentang Pesawat Jet milik suami Cula, tentang mobil BMW buat pembantu saya, tentang rumah besar nan luas milik Puspa, Pengusaha Cupang impian Lia, dan masih banyak lagi kekonyolan itu. Termasuk Ijan yang mau jadi direktur ICW dan Eel yang mau jadi Ketua Serikat Buruh Bantul. Konyol. Tapi siapa yang bisa membantah ketika kekonyolan itu berubah menjadi kenyataan kelak?

Semua berawal dari mimpi bukan? dan biarlah kekonyolan ini mengalir dan menguap menjadi doa untuk dikabulkan Tuhan. Amin.




31 Desember 2010 s/d 1 Januari 2011

Buku sejarah ini yang nantinya akan kita kenang dan kita ceritakan kawan. Kita berkutat dalan ruang sempit itu. sesekali menghujat, sesekali tertawa, sesekali benrnyayi, sesekali menari dan menggila.
Ruangan itu tak juga meluas. Kipas angin itupun tak juga lebih bersemangat untuk memutar balingnya. Tapi kehangatan ini semakin meresap. Kebersamaan yang mungkin baru saat ini terasa lebih lekat. Saya merasakan anugrah dari penghujung tahun yang indah.

Pergi melayap malam-malam mencari mercon bersama Ijan, Lia dan Ka Bonar. honestly, that was my first time beli petasan dan mercon!! Dan si Ijan kegirangan. Menunggu pergantian tahun, Saya, Lia, Puspa, Kirun, Ka Bonar, dan Eel, duduk asik dikursi panjang MAHKAMAH sambil memperhatikan kelakuan liar Bosche (Romi)dan Ijan yang kegirangan main petasan. Sesekali membuat saya takut, tapi tampaknya mereka berdua sangat menikmati ruang waktu yang membiarkan mereka kembali ke zaman kebebasannya.

I januari, pukul 00.00 2011

Air mata itu mengalir begitu saja. Kesedihan saya memuncah. Sudah tak mampu lagi saya berpura-pura. Saya sungguh menikmati hari-hari terakhir di 2010 ini. Saya takut melangkah dan menyadari akan bergantinya hari yang hanya akan menyudahi kehangatan ini. Mungkin saya berlebihan. Tapi sungguh ini semua semata karena rasa cinta saya kepada kalian semua :')

Teras Mahkamah, bangku panjang merah, dan pohon sukun ini yang menjadi saksi. Mereka akan terus menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan rasa kekeluargaan ini.


Gue takut. Takut untuk ngerasain sedihnya perpisahan. Selama ini, sebagai anak seorang hakim, gue sudah cukup sedih harus berpindah empat kali dimasa sekolah gue. Dan jujur, gue enggak mau merasakan hal itu lagi.


Saya, Puspa, Lia dan Eel, membuka tahun 2011 dengan kesenduan. Air mata bagi saya dan Puspa. Saya bahagia. Ini kali pertama saya menghabiskan malam tahun baru "agak" jauh dari rumah. dan air mata ini terasa menghangatkan dan melegakan.


Pukul 02.00 KFC, Yogyakarta.




Malam yang panjang dengan tawa. Cula emang bakatnya membuat suasana menggila. Walau sempat stuck macet, tapi... jelas ini semua membayar kelelahan kita.
Selesai makan, kembali ke sekre mungil kita. Akhirnya, lagi dan lagi, ini kali pertama saya menghabiskan malam di ruang ini semenjak 3 tahun menjadi penghuninya.
Dan saya benar-benar menghabiskan hari saya bersama kalian. Terimakasih.




Pukul 05.40, 1 Januari 2011
Saya, Ijan, Romi dan Lia cabut ke atas (Merapi),,
Agak disayangkan empat orang yang gagap ini lupa membawa kamera. Ditambah Lia yang tiba-tiba kebelet pipis dan ogah untuk pipis di mushola atau Pom Bensin. Ahhh,,, sudahlah,,, dengan segala kekonyolan inipun saya masih bisa menikmati awal tahun saya.

Terimakasih semuanya.


Nisa Sayang Kalian.

Semoga 2011 ini semua harapan dan perjuangan kita mendapatkan hasil yang baik dan terbaik untuk kita semua. Amin


Selamat Tahun Baru 2011 MAHKAMAH!!!

Thursday, December 30, 2010

Ketika saya menemukan "saya" di dalam seorang Putu Wijaya






Atas semua kata, bahkan kebisuan yang menyimpan berjuta makna,
terimakasih.


2007.
Saat semua berawal dari sebuah rencana Tuhan. Takdir saya menyebutnya.

Saya bukan pribadi yang terlalu merencanakan kehidupan. Saya tidak terlalu suka memilih, saya hanya ingin menjalani. Nilai raport saya yang memungkinkan saya diterima di FH UII tanpa test, ternyata tidak lebih mutlak dari kehendak Tuhan yang meluluskan saya untuk mengecap rasa kehidupan mahasiswa di FH UGM.

Itu tiga tahun yang lalu.
Saya tidak memilih UGM sebagai sekolah saya. Tuhan yang menakdirkan itu untuk saya.
Terimakasih Tuhan.

Catatan ini pada akhirnya saya tulis seteleh mendapatkan petuah dari seorang kakak kelas beda zaman: PUTU WIJAYA.
Kali pertama saya bertemu dengan beliau, dan saya jatuh cinta dengan pribadi ini.
Dalam ceritanya yang tenang, saya menemukan diri saya dalam hidupnya. Apa yang beliau ceritakan tentang hidupnya, seperti sedang menceritakan kehidupan saya saat ini.

"Entahlah, selama saya menjadi mahasiswa Hukum, saya merasa saya tidak begitu memahami dan memaknai tentang hukum itu sendiri. Saya seperti tidak belajar apa-apa. Mungkin karena beberapa teori hukum tidak sejalan dengan pemaknaan hukum dalam diri saya".

Oh Crap!! Putu Wijaya seolah menyampaikan apa yang ada di dalam fikiran saya selama ini. Dan saya terdiam mendengarkan tuturan demi tuturan beliau selanjutnya. Semakin membuat jantung saya berdebar. Raga saya melemas. Dan harap saya berkobar.
Saya sedang mendengar curahan hati saya yang selama ini berusaha saya anggap "tidak pernah ada".

"Feeling guilty itu ada. Seperti menggugat saya untuk mempertanggungjawabkan ilmu yang saya dapat. Logika dan hati saya berperang saat itu. Saya jatuh cinta dengan dunia kreatif.Dunia dimana manusia menemukan 1000 cara untuk menciptakan sesuatu. Dunia dimana kehidupan berjalan atas sebuah keinginan yang bebas, tidak terikat dengan teori dan aturan pelaksanaannya. Sampai akhirnya seorang teman datang menenangkan saya sambil berucap, 'Keadilan tidak melulu hadir dari sebuah meja pengadilan. Ada banyak cara untuk menciptakan keadilan. Kamu suka menulis, suka seni, seni pun bisa menciptakan keadilan'. Dan saya merasa tenang sata itu. sirna sudah rasa bersalah itu. Dan saya sadar, itulah hebatnya dari dunia kreatif."

Hukum melahirkan peraturan, semakin banyak peraturan akan semakin banyak hak-hak kita yang diatur, dan kita akan semakin sulit bergerak. Itu pemikiran salah! Hukum dalam sebuah ilmu adalah pembebas. Dengan mengetahui hukum kita menjadi tahu apa yang boleh dan tidak boleh kita lakukan. Sebaliknya, ketidaktahuan lah yang mempenjarai kita dalam sebuah kebodohan; atas ketidaktahuan kita takut untuk melakukan apapun karena kita takut melakukan sesuatu yang salah.

Saya diam. semakin tenggelam dengan permainan kata-kata dan pemikiran beliau.

Beri saya seribu hal yang tidak boleh saya lakukan! Saya akan tetap bisa melakukan hal-hal yang ingin saya lakukan. Karena saya tahu hukumnya. Dan saya tahu bagaimana membuat hal-hal yang dilarang itu menjadi tidak dilarang. Karena saya sarjana Hukum!!
dan sebuah tawa keluar renyah dari mulutnya.

saya tersenyum.





Saya bertanya kepada beliau tentang mimpi dan harapan apa yang ingin tersampaikan untuk almamater kami. dan beliau menjawab,

"Bisakah perguruan tinggi tidak hanya mengedepankan teori? saya tahu teori itu penting sebagai dasar pijakan. Tapi saya ragu kalau teori bisa mengajarkan mengenai moral, apakah teori bisa mengajarkan kita untuk merasakan bahagia diatas kebahagiaan orang lain?! Bukankah hakikat hidup manusia adalah bisa membahagiakan orang lain?"
ada jeda, dan beliau melanjutkan
"seperti saya yang selalu merasa bahagia ketika melihat istri dan anak-anak saya tersenyum"


Dan senyum saya semakin lebar mendengarnya.


Wednesday, December 15, 2010

Mencintai Dengan Sederhana

Saya selalu beranggapan: ketika kamu mencintai sesuatu, cukup cintai. Tak perlu memikirkan apakah sesuatu atau seseorang itu akan mencintai mu juga. Cinta itu ikhlas. Bukan suatu hal yang kita berikan atas sebuah pertimbangan mengenai apa yang akan kita dapatkan. Pembalasan itu hak Tuhan.

Mungkin memang benar kata teman-teman saya yang beranggapan saya adalah sosok perempuan yang naif. "Dunia ga sebaik yang ada di kepala lo Sa!" itu kata mereka. Mungkin mereka benar, tapi mungkin juga harapan saya ini yang benar.
Saya hidup dalam harapan yang selalu saya jaga. Terkadang satu sisi saya berkata: atau jangan-jangan mereka memang benar Sa? dan kau salah?, hal ini selalu membuat saya terdiam.

Saat ini saya merasa sendu. Harapan yang saya jaga semakin terasa hampa.

Saya mencintai mereka. Itu yang saya tahu. titik.

Tapi megapa perasaan yang saya yakini ini semakin hari seperti racun yang melemahkan saya?
dan saya semakin lemah dengan harapan ini.

Tuhan,
Saya ingin dicintai dengan sederhana,
dicintai dengan jujur dan apa adanya.
Saya ingin dicintai dengan sederhana,
seperti cintaMu kepada hamba.
Saya ingin dicintai dengan sederhana,
dicintai dengan sebenarnya.


Saya tidak menuntut mereka mencintai saya Tuhan,
saya ingin dicintai Engkau karena rasa cinta saya untuk mereka.
Bukankah Kau yang mengajarkan agar umatMu untuk saling mencintai?
Maka akan saya lakukan itu.

Tuesday, December 7, 2010

Ketika semua itu menjadi cerita kita





Saya heran. Tidak habis fikir.
Sampai akhirnya saya berada di satu titik—walau masih dalam keheranan—bahwa (ternyata) saya terberkati.
Beberapa tahun yang lalu, saya adalah mahkluk yang ingin selalu terlihat benar di mata semua orang; dan ternyata itu adalah sebuah kesalahan.

Saya terlalu senang. Tidak sabar. Sangat menanti yang namanya KKN.
Dalam pikiran saya, tiga momen besar di masa kuliah adalah: OSPEK, KKN dan WISUDA. saya punya segudang cerita tentang masa OSPEK saya di tiga tahun yang lalu. Hanya tiga hari. Dan sangat berkesan.

Buku catatan sudah saya siapkan untuk menyatat semua yang akan terjadi nanti ketika KKN. Pasti menjadi momen yang tidak terlupakan. Menyenangkan. Tidak terbayangkan.

Dan kenyataannya; memang ”sangat tidak terbayangkan”.

Diberi kepercayaan untuk menjadi seorang kormasit (kordinator mahasiswa sub unit), saya pasrah. Tapi, saya berfikir lagi, mungkin akan banyak pelajaran yang akan saya dapatkan melalui kondisi ini.
Saya bersyukur, ada tiga sahabat—Puspa, Noe, Tiara—yang selalu siap menopang keletihan dan kelemahan saya saat KKN. Dan ada empat orang lainnya yang mempunyai karakteristik berbeda. Kirun yang cenderung cuek dan galak, Aryo si buku biru berjalan, Asrul yang perhatian, si pemilik senyum-choki-sitohang, dan Afi si misterius sang belahan hati mas jumal (hehehee maaf fi...). Setidaknya mereka menjadi alasan bagi saya untuk tetap tersenyum setiap harinya. Terimaksih teman-teman.

Saya tidak tahu apakah kalian merasakan hal yang sama dengan diri saya atau tidak. Tapi ini bukanlah KKN yang saya bayangkan. Seandainya saya bisa menangis, mungkin hampir setiap hari saya menangis. Tapi kenyataannya, saya hanya bisa duduk di teras pondokan bersama laptop saya di pagi hari ketika yang lain masih tertidur. Sekedar menumpahkan beban yang saya rasakan. Lagi, kalian yang memaksa saya untuk tetap tersenyum.
Saya ingin menulis ini semua. Dengan sederhana, dan dengan jujur.
Betapa setiap hari ketika saya membuka mata, rasa takutlah yang pertama menyapa saya. Lantas, rasa bingung yang menyapa kemudian. Saya pasrah. Tapi bukan itu yang ingin saya tuliskan di catatan ini.

Ini tentang kalian.









Beberapa kali saya merasa terpojok dan terasing. Tapi kalian selalu merubahnya menjadi hangat seakan saya berada di antara pelukan. Beberapa kali saya merasakan kebencian yang dalam. Tapi (lagi) kalian membuatnya jadi mudah untuk dimaafkan. Beberapa kali saya ingin menangis sejadinya, memaki, menyalahkan, dan segala hujatan yang ingin saya keluarkan. Dan kalian, membuat saya lebih memilih untuk menertawakan itu semua dibanding menyesalinya.







Saya sedih, ketika saya merasakan mereka menilai kita hanya dari ”tampak” kita didepan mereka. Saya marah ketika kita seperti bagian lain dari KITA yang sesungguhnya. Saya benci ketika harus dinilai oleh mereka yang tidak pernah mau untuk mengenal kita lebih dalam. Perasaan saya kacau saat itu.
Tapi ternyata benar. Waktu adalah obat terampuh untuk menyebuhkan luka. Luka itu tidak lagi menjadi sesuatu yang menyakitkan, tapi berubah menjadi sesuatu yang penuh dengan pelajaran untuk menjadi manusia yang bisa memaafkan dan saling menerima kekurangan.

Pada awalnya, saya terlalu sibuk mendengar penilaian mereka terhadap kita. Belakangan, saya belajar, bahwa tidak semua penilaian orang lain terhadap diri kita harus selalu kita dengar. Mereka berhak menilai. Dan kita berhak untuk mengabaikan. Karena saya cukup bersyukur memiliki kalian. Akhirnya saya belajar, bahwa hanya Tuhan dan diri kitalah yang memiliki posisi tertinggi untuk menilai benar atau salahnya sesuatu yang kita kerjakan. Karena tidak ada kemutlakan di antara salah dan benar. Setidaknya itu berlaku bagi saya.

Hari-hari terakhir, kita belajar lebih banyak hal lagi teman. Kita belajar untuk memaafkan ketika kelelahan dan keikhlasan kita terbayar dengan kesalahpahaman. Ketika sebuah harapan terpupuskan dengan kesensitifan yang berlebihan. Tidak ada satupun yang menangis saat itu. Kita lebih memilih untuk menertawakanya.






Hari-hari terakhir, kita belajar untuk lebih mengenal satu sama lain. Afi yang awalnya dinilai sangat misterius dan tampak egois, berubah 180 derajat menjadi sangat terbuka dan selalu berusaha untuk berbagi. Dan saat itu saya sadar bahwa saya telah salah menilai teman kita yang satu ini.

Hari-hari terakhir yang penuh dengan perenungan; kita memilih untuk menyelesaikan masalah-masalah dengan terhormat; dengan memaafkan.

Dua bulan kita hidup bersama. Banyak luka yang kita sulap menjadi suka untuk kita bagikan. Banyak nasihat yang saling kita berikan. Banyak pelajaran yang saling kita ajarkan. Banyak momen yang saling kita rasakan.

Dan pada akhirnya...


Kita akhiri ini semua dengan kelegaan.

dengan sebuah kesadaran bahwa dalam KKn 2 bulan ini,banyak kisah yang kita ciptakan.





Additional note:
Gara-gara kalian gue jadi ketagihan yang namanya tempura!! Padahal awalnya gue agak jijik aja ama tu makan. Kangen cabut ke pantai!! Kangen klayaban bingung malem-malem. Kangen ngajar TPA bareeeng!! Kangen minta toloong Asrul buat masukin motor! Kangen sama masakan Tiara!! Kangen ngeladenin bocil-bocil, Kangen sama curhatan Afi, Puspa n Noe!!


sayang kalian





Monday, November 29, 2010

JINGGA



Senja itu terulang dalam jingga yang samar, langitku terasa damai. Bumi menyepi.
Aku melihat awan-awan itu beriringan, melebur untuk menari bersama angin.

Hitam menang mencipta malam. Sendu bulan membingkai sepi dalam gelap. tak ada bintang.
Dan aku mengartikannya, sunyi.

Temanku di beberapa malam ini hanyalah helaan nafas dalam.
seperti menanti nasib. Bimbang tak karuan. Sampai akhirnya aku memanggil air mata.
Menatap wajah galau dalam gerakan dunia yang cepat.
Aku tertinggal,,,

Malam ini benar-benar sunyi.
Tak ada malaikat yang melayang membagikan mimpi dan harapan untukku,
bahkan kepakan sayapnya pun tak terdengar
Cahaya malamku hanyalah remang-remang, tak sampai untuk menghangatkan kalbuku.
Aku rindu,,,

Semakin sakit ketika air mata ini berteriak bahwa aku rapuh,
aku luluh,,
lumpuh,,
nyaris hancur.

Hitam tak sekuat yang ku kira. Ia lenyap perlahan ketika pagi merangkak di atas bumi.
Awan-awan baru mulai menggumpal--langit tak lagi kosong--burung-burung berlomba menembusnya satu-satu.
Remang-remang ini menjadi cahaya yang utuh.

Aku bangun.
Jingga datang. Kali ini tidak bersama senja.


Jingga datang bersama harap.

Thursday, November 18, 2010

Ketika Menulis Bukan Hanya SEKEDAR...


“Menulislah. Walau hanya selembar atau dua lembar. Menulislah. Tumpahkan pikiran anda dalam sebuah tulisan. Karena seorang sarjana hukum tidak hanya dituntut untuk bisa berbicara, namun juga menulis”
Prof. Sudikno



Kalimat itu saya tulis di notebook yang saya bawa. Tangan saya bergerak begitu saja ketika mendengar ucapan seorang guru besar yang sedang duduk di hadapan saya. Anggaplah ini cara Tuhan untuk memberikan sebuah pelajaran (lagi) kepada saya—si bodoh ini.

Di satu kesempatan, saya dan adik kelas saya Lia harus mengumpulkan data-data terkait dengan kekhasan kampus kami—Fakultas Hukum UGM—sebagai bahan penyusunan buku sejarah yang akan di launching di lustrum 65 tahun fakultas kami. bermula dari celoteh ramah dosen adat saya—Ibu Puji—saya mendapatkan rekomendasi nama untuk diwawancarai terkait bahan yang ingin saya cari, “Prof Dikno saja mbak. Beliau pasti punya banyak informasi tentang bahan yang sedang kamu cari” sambil tersenyum.
Dan singkat cerita, duduklah saya dihadapan seorang…, entahlah, mungkin banyak orang menyebut beliau dengan panggilan “Prof!” atau mungkin gelar Guru Besar yang anggun tersandar dalam profilnya yang jika digambarkan membuat beliau berada di kasta tertinggi dalam struktur sosial masyarakat kampus.
Sedangkan saya? Jelas, rakyat jelata.

Saya, Lia dan Prof Dikno larut dalam sebuah perbincangan yang mencoba untuki membuka sekat-sekat waktu dan zaman. Alangkah hebatnya sejarah. Benar saja ketika presiden pertama kita, Ir. Soekarno, mengatakan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya. Karena sejarah bukan sekedar cerita, bukan sekedar jejak langkah masa lalu. Lebih dari itu. Sejarah adalah ilmu, dan ilmu adalah salah satu hal yang berharga dalam sebuah peradaban manusia.

Di sela-sela perbincangan kami mengenai “kekhasan” FH UGM, Prof Dikno mencurahkan kegelisahannya, “itulah yang membuat saya prihatin. Mengapa semakin hari dosen-dosen terasa enggan untuk menulis. Bukannya salah ketika mereka pada akhirnya lebih memilih mengaplikasikan ilmu pengetahuannya langsung pada masyarakat, tapi menulis itu tetap penting.” Lalu beliau melanjutkan, “kalian berdua jangan takut untuk menulis! Jangan pedulikan ketika ada suara-suara yang mengatakan tulisan kalian tidak bagus. Jawab saja: maklumi ketika tulisan saya tdak bagus, kan saya belum menjadi sarjana hukum.” Ujarnya sambil tertawa.

Sungguh, ada kehangatan yang mengalir di dalam tubuh saya. Maaf, bagi saya—si mahasiswa yang tidak tahu apa-apa ini—rasanya lebih nyaman memanggil beliau dengan panggilan “Bapak”, karena bagi saya, title terhebat untuk seorang laki-laki dewasa adalah sebutan Bapak. Dan bagi saya, menjadi seorang bapak yang baik jauh lebih menawan dibanding sematan apapun. Dan Prof Dikno telah menjadi bapak yang baik di mata saya.

Ilmu yang beliau miliki jelas terasa dalam santun tutur ketika beliau berbicara. Kalimat yang terlontar dari mulut beliau seperti ilmu yang terselimut nasihat. Jauh dari kesan menggurui. Lebih pada menasihati. Bukan sekedar ilmu sejarah ataupun ilmu hukum sesuai jurusan kuliah saya yang saya dapat, lebih dari itu, sebuah ilmu kehidupan.

Dituntut untuk berhubungan dengan seorang Professor ataupun guru besar bukan tidak menjadi beban dalam benak saya. Ketakutan: bagaimana kalau saya ditanyai macam-macam tentang pelajaran hukum? Bagaimana kalau nanti saya di-jutekin, bagaimana kalau saya diusir karena para professor itu terlalu sibuk? bagaimana… dan semua bagaimana yang bernilai negative melintas di benak saya. Sampai akhirnya sisi lain dari hati saya berucap: bagaimana kamu akan tahu kalau kamu belum mencoba Sa?!. Saya jadi ingat kalimat bagus dalam sebuah buku yang pernah saya baca: Terkadang, hidup itu tidak melulu untuk meraih sesuatu. Namun hakikat hidup adalah untuk mencoba; mencoba untuk melakukan, menjadi bahkan meraih sesuatu.

Ternyata benar. Ketakutan saya tentang bagaimana kalau--- adalah ketakutan akan suatu hal yang bahkan belum terjadi. Orang mengatakannya sebagai sebuah ketakutan yang tidak beralasan. Dalam pertemuan yang singkat itu, saya dan Lia mendapat pelajaran yang berharga. Beruntung setelah itu Lia mendapat kesempatan mewawancarai Professor lain yang tak kalah hebat pemikirannya. Beliau adalah Prof. Soehino. Jujur, awalnya saya sempat mempunyai penilaian negative kepada Prof Hino (panggilan akrab beliau) karena memberi saya nilai C di matakuliah Ilmu Negara. Tapi, setelah saya membaca hasil wawancara Lia dengan Prof. Hino, saya harus mengakui kalau penilaian negative yang saya berikan kepada beliau hanyalah penilaian kekanak-kanakan yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Saya harus mengakui bahwa pemikiran beliau adalah pemikiran seorang pendidik yang berdedikasi atas ilmu yang ia bagikan.
Cuplikan wawancara dengan Prof Hino yang saya sukai adalah:

Tulisan-tulisan itu bukan hanya akan berguna untuk memulihkan ingatan kita sendiri sebagai penulisnya, tapi juga bisa digunakan sebagai ilmu untuk diwariskan bagi generasi yang akan datang. Tidak baik rasanya jika ilmu hanya disimpan untuk diri sendiri, ilmu itu tidak lagi punya manfaat.

Lalu dalam hasil wawancara yang Lia berikan kepada saya untuk saya olah menjadi tulisan, saya merenungi satu jawaban yang terlontar dari seorang Prof. Soehino yang memaparkan:

Orang diajar dalam institusi pendidikan berkelas tetapi hanya sekedar diajar, tidak dididik. Dosen-dosen hanya mengajar para mahasiswa, tidak mendidik juga sebagaimana mestinya. Mengajar dan mendidik adalah dua hal yang berbeda, tetapi saling mendukung. Mengajar itu hubungannya dengan ilmu dan mendidik adalah perkara membangun moral dan karakter seseorang.

Saya hanya bisa menghela nafas panjang ketika selesai membaca bahan-bahan hasil wawancara saya dan Lia dengan dua guru besar kami tersebut. Lagi dan lagi saya membenarkan ucapan yang mengatakan bahwa pengalaman adalah guru yang berharga. Pengalaman saya untuk mewawancarai dua orang guru besar ini jelas memberikan banyak pelajaran bagi saya. Pelajaran untuk saling berbagi, pelajaran untuk tidak takut dalam mencoba, dan pelajaran yang paling penting (khususnya untuk diri saya): tidak perlu takut berhadapan dengan seorang proffesor!! Walau sampai saat ini saya masih agak takut dengan salah satu professor yang juga pembimbing skripsi saya. :D (hehe…)

Lewat tulisan ini saya harap saya bisa mengaplikasikan ilmu baru yang saya dapat: ilmu untuk saling berbagi (ilmu). Dan semoga apa yang saya dapatkan—sekecil apapun itu—bisa dirasa manfaat bagi orang lain. Amin.