Semuanya basah. Baju, sofa, kursi, kasur, dan kayu-kayu kitchen set yang melapuk setengah hancur.
Motor dan mobil yang mati total karena terendam air lebih dari duapuluhempat jam.
Sepatu-sepatu yang harus ikhlas dibuang karena sudah tak layak pakai.
Di awal tahun baru ketika menyusun harapan saja belum sempat, Tuhan memberi saya ruang untuk menerima kehilangan tanpa mengumpat.
"Innalillahi wa innalillahi roji'un. ini bukti, kalau Allah berkenhedak, apa saja yang mau Dia ambil dari kita, bisa kapan saja dan lewat mana saja.", kata Ibuk.
Mungkin lagi diajari soal sabar, lagi diingetkan ga boleh sombong, lagi diajarkan berserah, belajar ikhlas, menerima saat harus diminta untuk melepaskan.
Mungkin seperti itu.
Banjir kemarin adalah kali ketiga yang saya alami. Tanpa listrik, sedikit air bersih dan makanan. Di sela hening saya beristigfar,,
Sering dalam titik terendahnya, manusia bisa lebih rendah hati untuk bisa lebih paham dan mengerti sebuah pesan dari Penciptanya.
Apa yang kurang selama ini dala hidup saya?
jawabnya, tidak ada.
Apa yang sudah saya lakukan untuk membalas hadiah kecukupan ini?
jawabnya, belum ada.
dan di titik terendah ini, saya ingat dan sadar bahwa banyak hal yang lupa saya syukuri. Banyak hal yang belum saya lakukan. Banyak hal yang bahkan baru terfikirkan sekarang.
Kemana saja saya selama ini?
Mungkin lewat musibah ini, Tuhan sedang bertanya, " mau sampai kapan kamu lupa, kamu diam dan berhenti berfikir dengan semua yang ada di sekeliling kamu, Annisa?"
Dan jika benar seperti itu, saya tidak punya jawabannya--selain, "Maaf, Tuhan."
Tentang mobil dan motor yang tenggelam, tentang barang-barang yang basah bekas tergenang, dan semua kesombongan yang hilang terbawa air hujan--saya tidak pantas merasa kehilangan--Itu semua milik Tuhan.
Kapanpun Dia ingin mengambil, maka ambilah. Sesungguhnya manusia tidak memiliki apa-apa selain rasa kepemilikan yang ia ciptakan sendiri.
Jadi korban banjir tidak selamanya tentang hidup yang dirundung nestapa,, tapi kali ini saya merasa tentang Tuhan yang sedang
mencoba menarik umatNya yang akhir-akhir ini lebih sibuk urusan dunia. Lupa kalau Allah adalah sumber dari semua doa. Lupa
bahwa Allah adalah pusat dari segala harap. Lupa bahwa saya sesungguhnya tidak punya apa-apa tanpa izin dari Nya.
Tuhan sungguh baik. Di awal 2020 Tuhan ajarkan saya memahami suatu hal yang seharusnya saya pahami dari dulu.
Tapi apalah daya, saya adalah manusia si pusat lupa. Iman naik turun, kebanyakan turunnya. Tidak bisa dengan cara halus,
dikasihlah cara lewat banjir.
Buat para korban banjir, jangan terlalu sedih bisa jadi hal yang tidak kita sukai membawa berkah yang akan kita syukyri nantinya.
Semoga tulisan ini bisa sebagai obat untuk yang turut merasakan, dan sebagai pengingat untuk yang lupa merasakan (nikmatNya).
Monday, January 13, 2020
Sunday, September 29, 2019
Semoga Tuhan selalu memberi kita ingat
Sering,
Bahkan (mungkin) terlalu sering, manusia terlalu sibuk mencari dan memperhitungkan hal yang belum mereka miliki,
kemudian lupa untuk memperhitungkan dan menjaga yang telah dimiliki...
Sudah tabiatnya manusia,
suka lupa, suka abai, suka menyepelekan.
segala hal yang sudah menjadi "kebiasaan" sering dianggap lagi tidak istimewa... padahal bisa jadi itu hal terbaik yang bisa kita rasa
"kenapa saat aku memilih untuk pergi, dia baru menyadari..."
di suatu siang seorang teman me-WA saya. Sang perempuan sudah menetapkan "cukup" untuk semua abai yang diberikan suaminya
Perceraian adalah yang mengerikan, tapi bisa jadi hal yang diharapkan jika masing2 pasangan memilih saling mengabaikan alih-alih saling memberikan perhatian.
Atau bisa jadi, sudah terlalu banyak maaf untuk sebuah perubahan yang diharapkan namun tak kunjung berubah.
"Setidaknya, dia sudah sadar", balas saya.
"terserah kamu saja. tapi aku pribadi berharap kamu bisa lebih bersabar untuk menjaga luka itu hingga akhirnya kamu sembuh dan menjadi lebih kuat daripada sebelumnya"
Percakapan saya dan dia sudah tidak bisa lagi saya tuliskan di sini...
Kita semua punya luka,,, yang bisa saja saat ini ada yang sedang bertahan dengan luka yang terus-menerus dilukai;
atau sedang menjaga agar luka yang ada tidak terlihat sampai-sampai lupa untuk menyembuhkan luka itu sendiri.
Masing-masing dari kita punya luka, dan banyak luka tadi berasal dari sebuah pengabaian.
Dan naas nya lagi, pengabaian adalah sumber luka yang tak penah sadar sering melukai hati.
Iya,,,
Mungkin memang betul... banyak manusia sibuk mencari dan memikirkan hal yang belum miliki...
sampai-sampai lupa... mensyukuri apa-apa yang telah dimiliki...
Kita sering lupa, dulu, pernah sungguh-sungguh meminta hal yang saat ini kita miliki.
Dulu, pernah berjanji akan menjaga apa yang menjadi jawaban Tuhan di doa-doa kita.
Kemudian "lupa" datang...
dan hati kita merasa tidak tercukupi lagi dengan apa yang kita miliki.
Sampai akhirnya kita sadar,, bahwa hati kita akan benar-benar terasa kosong setelah ada yang pergi dari sisi.
Semoga Tuhan selalu memberi kita ingat, bahwa apa yang sudah kita miliki tak kalah berharga dengan apa yang sedang kita cari.
AAMIIN.
Monday, September 23, 2019
Jatuh Cinta Saya (yang pertama dan serius)
Diam mungkin pilhan saat seseorang jatuh cinta dengan seseorang lainnya,
tapi bisa jadi waktu akan menjabarkan cerita yang panjang dari diam itu ketika waktunya tiba.
AR
Ada cerita yang ingin saya ceritakan,, masa lalu. tentang rasa yang membuat saya salah tingkah, berharap, dan mengikhlaskan.
Mereka sebut itu "Cinta".
Ini tentang pertama kali saya menyukai laki-laki dengan serius, penuh harap dan penuh pasrah.
14 Tahun umur saya saat itu or maybe almost 15th. Sebut saja namanya Arko. Kakak kelas satu tahun di atas saya.
Saya lupa kapan saya mulai memerhatikannya. Sepertinya saat saya harus ikut semacam diksar LDKS saat SMA.
Pertama kali melihat, tidak pernah terfikirkan sosok Arko akan menetap lebih dari 4 tahun di hidup saya.
Arko sosok yang... menyebalkan bagi saya saat itu. Dia adalah lawan argumentasi terkuat saya saat diksar. Mungkin begitupun saya untuk dia.
Selama diksar, tidak ada hari tanpa debat, tanpa marah-marah, dan tanpa keisengan dia agar saya dihukum oleh kakak kelas saat diksar itu.
Hingga di malam terakhir, ada hal yang membuat saya menangis, dan dialah penyebab utama mengapa saya menangis.
Entah apa yang disampaikan temen saya ke Arko. Tapi malam itu Arko menghampiri saya yang sedang menarik diri dan menyendiri.
Saat melihat dia, marah saya kembali memuncak.
"Kamu kenapa?" tanya dia.
saya hanya diam. rasanya ingin bilang "hal terbaik yang gue butuh saat ini adalah ga ngeliat wajah elu!"--tapi saya diem saja, sambil menyembunyikan wajah.
"Persembahan tim kamu bagus kok" ujar dia lagi
"Ga mikir persembahan!" jawab saya ketus
"Terus mikirin apa? mikirin saya ya?", "kalau kamu diem gini jadi ga seru"
Sumpaaaah malam itu yang bener-bener saya ingin lakukan adalah nyakar-nyakar wajah dia.
Saya lupa apa percakapan kami berikutnya. Yang jelas, rasa kesal yang sama saya bawa untuk hari berikutnya, dan berikutnya.
After diksar selesai, saya harus akui saya kehilangan sumber kekesalan saya. kehilang teman berargumentasi. kehilangan sosok yang bisa saya salahkan.
Dan entah sejak kapan, setiap saya melihat dia berkeliaran saat jam istirahat, hati saya berdebar.
"Gue kayaknya suka deh sama dia" suara gue pelan jujur meluncur kepada seorang sahabat, eh bukan tiga atau empat orang sahabat.
dan tau apa reaksi mereka... " Whaaaaaattt Nisaaaa... mata lo sakit apa gimana Sa??? Arkooo Saaa?? Ya Alloooh Saa.. ga ada yg lebih bagus dari Arko Saaa?"
iya jahat ya, temen-temen saya.
Tapi memang sih ya,,, dari dulu selera saya terhadap cowok, terutama terkait fisik, menurut temen-teman saya itu parah banget. Tapi ya namanya juga selera yaa,,,
Singkat cerita, saya memendam perasaan ke Arko hampir 4 tahun lebih. Yess, bahkan saat saya sudah kuliah kemana, Arko kuliah kemanaaa...
Saya tidak tahu apakah Arko tahu perasaan saya atau tidak, dan terus terang itu bukan yang terlalu penting untk saya ketahui.
waktu berlalu. It almost 13 years semenjak saya "jatuh cinta" kepada Arko. Apakah perasaan saya saat ini sama seperti 13 tahun yang lalu?
yah jelas, sudah tidak sama.
Arko adalah bagian dari masa lalu saya. Bagian dari proses pedewasaan saya. belajar menyayangi seseorang di luar keluarga dan sahabat kita.
Dari "jatuh cinta" saya kepada Arko saya mulai mengenal diri saya--yang tidak terlalu penting untuk megetahui apakah orang yang saya sukai juga menyukai saya atau tidak. Hal terpenting saat itu adalah perasaan yang sedang saya rasakan saat itu sendiri.
Hari ini, yang saya tahu tentang Arko adalah Arko sudah meninggal beberapa minggu yang lalu. Sakit.
dua hari sebelum Arko meninggal, sebuah akun instagram dengan namanya me-"love" salah satu foto di instagram saya. Foto suami dan anak saya.
Ntah di balik akun itu benar Arko atau bukan. Tapi teman2 mengkonfirmasi bahwa benar itu akun pribadi milik Arko.
Berita meninggalnya Arko seperti berita yang senyap senyap saya dengar di antara tumpukan kerjaan dan urusan keluarga saya. Sepersekian detik saya berucap "Innalillahi wa innalillahi roj'un" telah berpulang seseorang yang pernah saya sukai diam-diam selama empat tahun.
dan cerita tidak habis di sini,
satu hari setelah kabar meninggal Arko, saya bermimpi sedang duduk di sebuah bangku kayu, di lorong kelas perkuliahan saya..
Arko datang dan duduk di samping saya, dia bilang "Nisa,,, besok saya sudah pergi lho..."
di dalam mimpi saya, saya tau kalau Arko sudah meninggal. "Iya Ka..." jawab saya
"Nanti saya kenalkan kamu dengan calon saya ya... " katanya, sambil berdiri dan pergi menghilang di ujung lorong.
Saya bingung tentang apa makna mimpi itu,, akhirnya saya me-wa temen saya Eka,, dia yang jadi saksi keanehan saya kenapa memilih Arko...
begini kutipan wa saya:
EKA... LO SUPPER NGESELIN YAAA,,
Tuesday, June 25, 2019
Semoga Lebih Baik
Ada saatnya yang terbaik adalah meninggalkan.
Mengerti bahwa hidup bukan tentang mendapatkan semua yang kita inginkan. Tapi juga mendapatkan kebahagiaan orang-orang yang kita butuhkan untuk tetap bertahan hidup.
Setelah cukup lama hanya mendengarkan, mungkin saatnya saya menjawab dengan tulisan ini. Untuk kalian yang mungkin saat ini bersedih karena berbagai macam hal. Tapi tenanglah. Kadang kesedihan harus dirayakan. karena kesedihan adalah obat yang bisa jadi menguatkan. Paling tidak, ada cerita yang bisa dipelajari tentang bagaimana bertahan hidup di tengah ketidaknyamanan.
Mungkin saya tidak pernah ada di posisi yang saat ini kalian rasakan. Merasa dibuang. Dikhianati. Diacuhkan. Ditinggal. Tapi saya beri tahu satu kunci yang biasa saya bisikan kedalam kepala saya saat saya ada di titik lelah ingin menyerah: semua hanya untuk dilalui, dan pasti akan berlalu. Dan saya belajar bagaimana berkompromi untuk kemudian menyimpulkan; mungkin ini yang dimaksud dengan bersabar.
Maka bersabarlah, kawan. Semua hanya untuk dilalui dan diceritakan dnegan bangga suatu saat nanti. Semua akan berlalu begitu saja bahkan tanpa kamu sadari. Saya merasa tidak bisa menasehati, karena mungkin saya memang tidak bisa. Tapi semoga tulisan ini menenangkan untuk kamu yang saat ini.
Bersyukurlah ketika kamu tidak punya cukup jari untuk mensyukuri apa yang telah kamu miliki. Keluarga yang hangat, anak yang menyenangkan, pekerjaan yang layak untuk dibanggakan, teman-teman yang menguatkan dan banyak lagi. Lihatlah kebahagiaan yang sudah Tuhan berikan yang mungkin lupa kamu perhitungkan saat ini.
Tuhan selalu seimbang. Ada perhitungan Tuhan yang mungkin belum kita pahami sekarang. Tapi percayala, Tuhan tidak menciptakan umatNya hanya untuk bersedih.
La Tahzan. Jangan bersedih.
Mulailah menghitung apa yang lupa kamu hitung selama ini.
Tentang apa-apa yang membuatmu tersenyum dan tetap berjuang hingga detik ini.
Semoga menjadi lebih baik.
Mengerti bahwa hidup bukan tentang mendapatkan semua yang kita inginkan. Tapi juga mendapatkan kebahagiaan orang-orang yang kita butuhkan untuk tetap bertahan hidup.
Setelah cukup lama hanya mendengarkan, mungkin saatnya saya menjawab dengan tulisan ini. Untuk kalian yang mungkin saat ini bersedih karena berbagai macam hal. Tapi tenanglah. Kadang kesedihan harus dirayakan. karena kesedihan adalah obat yang bisa jadi menguatkan. Paling tidak, ada cerita yang bisa dipelajari tentang bagaimana bertahan hidup di tengah ketidaknyamanan.
Mungkin saya tidak pernah ada di posisi yang saat ini kalian rasakan. Merasa dibuang. Dikhianati. Diacuhkan. Ditinggal. Tapi saya beri tahu satu kunci yang biasa saya bisikan kedalam kepala saya saat saya ada di titik lelah ingin menyerah: semua hanya untuk dilalui, dan pasti akan berlalu. Dan saya belajar bagaimana berkompromi untuk kemudian menyimpulkan; mungkin ini yang dimaksud dengan bersabar.
Maka bersabarlah, kawan. Semua hanya untuk dilalui dan diceritakan dnegan bangga suatu saat nanti. Semua akan berlalu begitu saja bahkan tanpa kamu sadari. Saya merasa tidak bisa menasehati, karena mungkin saya memang tidak bisa. Tapi semoga tulisan ini menenangkan untuk kamu yang saat ini.
Bersyukurlah ketika kamu tidak punya cukup jari untuk mensyukuri apa yang telah kamu miliki. Keluarga yang hangat, anak yang menyenangkan, pekerjaan yang layak untuk dibanggakan, teman-teman yang menguatkan dan banyak lagi. Lihatlah kebahagiaan yang sudah Tuhan berikan yang mungkin lupa kamu perhitungkan saat ini.
Tuhan selalu seimbang. Ada perhitungan Tuhan yang mungkin belum kita pahami sekarang. Tapi percayala, Tuhan tidak menciptakan umatNya hanya untuk bersedih.
La Tahzan. Jangan bersedih.
Mulailah menghitung apa yang lupa kamu hitung selama ini.
Tentang apa-apa yang membuatmu tersenyum dan tetap berjuang hingga detik ini.
Semoga menjadi lebih baik.
Thursday, February 14, 2019
KITA TIDAK BUTUH LEBIH, JIKA CUKUP SUDAH MENCUKUPI
Krisna kembali lagi. Saya menulis lagi.
kali ini Krisna menceritaka sebuah dongeng tentang Petani bernama sungai.
Katanya, dongeng ini dikarang khusus buat saya.
Begini ceritanya...
Di sebuah desa di atas bukit nan jauh di sana, hiduplah seorang petani bersama istri dan ibu nya yang sudah tua. Desa yang mereka tempati bernama Desa Pelangi.
Hampir semua penduduknya hidup dengan cara bertani, berkebun dan berternak. Pun dengan petani sederhana ini yang bernama Sungai.
Suatu ketika, Desa Pelangi dilanda wabah penyakit yang membuat para orang tua demam, serta anak-anak menggigil dan demam. Tak seorangpun tabib yang tau penyebab dan obat apa yang dapat menyembuhkan penyakit ini. Seluruh desa panik karena wabah itu menyerang hampir seluruh anak-anak dan orang tua di sana. Tidak luput ibu petani yang bernama Sungai tadi.
Suatu pagi Sungai berpamitan dengan istrinya sedang hamil tua untuk berladang.
“Aku harus berladang untuk mengambil beberapa jagung dan kentang sebagai makan malam kita nanti. Kau jaga ibu, ya...” ujar Sungai.
“Baik suamiku, semoga rezki yang berkah menyertaimu. Semoga jagung dan kentang yang tumbuh di ladang kita adalah terasa manis dan lezat. Aku akan jaga ibu, berladanglah dengan tenang” ucap sang istri sambil mencium punggung tangan suaminya.
“Kaupun jaga kesehatan. Jangan terlalu lelah, sebelum matahari terbenam aku sudah di rumah.”
Pergilah Sungai ke ladang dengan kereta yang ditarik oleh satu kuda miliknya.
***
Siangpun menjelang. Pintu rumah terdengar diketuk keras. Ternyata Ibu Arta tetangga sebelah.
“Ada apa Bu Arta? Apakah semua baik-baik saja?” rentet istri Sungai panik kepada tetangganya yang mengetuk pintunya denga panik juga.
“Kau sudah dengar berita saudagar kaya yang akan membagikan emas di kaki bukit?!” tanya Bu Arta denggan mata hampir keluar.
“Saudagar? Emas? Aku belum mendengar apapun” jawab istri Sungai.
“Lekas kau bereskan pakaian suamimu, Mia! agar ketika dia pulang dari ladang dia bisa langsung berangkat menuju kaki bukit! Aku sudah mengemas baju suamiku, mungkin suamimu dan suamiku bisa berangkat bersama!”
Istri Sungai diam sejenak, “tapi ibu mertuaku sedang sakit, akupun hanya menunggu hari untuk melahirkan anakku, kalau suamiku pergi siapa yang akan menjaga kami?, dan bukankah anak Bu Arta juga sedang sakit terkena wabah?”
“Kau yakin akan melewatkan kesempatan ini? Kapan lagi ada Saudagar kaya raya yang mau membagikan emas kepada keluarga petani yang tinggal di ujung bukit seperti kita ini?! Ah sudahlah, kau pikirkan lagi. Andrew anakku memang masih demam, tapi aku bisa merawatnya tanpa suamiku. Janganlah menjadi istri yang manja, Mia!”
Sepulangnya Bu Arta, Mia terduduk di ruang tamu sambil mengelus perutnya yang sudah sangat besar. “kau akan lahir kapan, Nak? Tidak apa-apa jika ayah pergi mengambil emas seperti yang kau dengar tadi dari mulut Bu Arta? Lalu bagaimana nenek yang juga sedang sakit? Apakah kau mau membantu ibu menjaga nenek juga?”.
Sore haripun tiba. Sungai datang dengan membawa hasil ladang yang banyak. Jagung dan kentang tampak lezat. Mia langsung memasak kentang dan jagung untuk makan malam di dapur. Selepas membereskan hasil ladang dan mandi, Sungai menghampiri sang ibu yang masih sakit.
“Sungai, anakku. Apakah hasil ladang kita baik?” tanya ibu Sungai yang masih lemah.
“Sagat baik, Bu. Jagung terasa sangat manis. Kentang pun sangat besar dan kualitas bagus. Mia sedang memasak sup jagung untuk makan malam kita”.
“Syukurlah. Sungai, tadi tetangga sebelah datang kesini menemui Mia, namun karena suaranya yang sangat nyaring, sedikit-sedikit ibu mendengar bahwa katanya besok akan ada saudagar kaya yang akan membagikan emas untuk keluarga petani seperti kita di kaki bukit”.
“Aku sudah mendengarnya, Bu... beberapa petani di ladang langsung pulang tadi untuk berkemas dan berangkat ke kaki bukit malam ini agar besok tidak kehabisan emas.”
“Kau tidak berangkat, Sungai?”
“Aku rasa tidak, Bu... Ibu masih sakit dan Mia sedang hamil tua mengandung anakku. Aku tak bisa meninggalkan kalian di sini begitu saja.”
“Jika ibu menjadi salah satu alasan kau tidak pergi, ibu hanya ingin bilang bahwa ibu tidak apa-apa, Sungai. Mia menjaga ibu dengan sangat baik saat kau pergi berladang. Tapi ada baiknya kau bicarakan hal ini dengan Mia, mungkin dia punya pendapat lain.”
Pembicaraan anak dan ibu itu terhenti saat makan malam sudah terhidang di atas meja. Ibu yang masih lemah ingin turut mengisi kursi makan kayu untuk menyantap hidangan sederhana namun hangat.
“Mia, sup ini sangat enak.”puji sang mertua.
“Jagungnya sudah manis, Bu,,, jadi dimasak apapun akan terasa enak”, ujar Mia sambil tersenyum. “suamiku, tadi bu Arta datang ke sini, katanya besok akan ada saudagar kaya raya yang baik hati akan membagikan emas untuk para petani seperti dirimu. Suami Bu Arta berangkat mala mini. Akupun sudah membereskan bajumu jika kau memang ingin berangkat ke situ.”
“Kau ingin aku berangkat, Istriku?” tanya Sungai.
“Aku tidak tahu. Satu sisi kita butuh emas itu, satu sisi aku ingin kau di sini saja, tapi entahlah. Mungkin kau lebih baik pergi juga, saat anak ini lahir, kita mungkin membutuhkan emas itu untuk membesarkannya.” Jawab istri Sungai sambil menunduk dan mengelus perutnya yang saat ini sudah mentok ke meja kayu mereka yang kecil.
“Bolehkah aku tidak berangkat?”tanya Sungai, lagi.
Sang istri langsung menatap mata suaminya dengan berkaca-kaca.
“Apakah tidak apa-apa jika kau tidak berangkat?”tanya istrinya lagi.
“Ada dua bidadari yang harus kujaga di sini, satu bidadari adalah ibuku, dan satu bidadari lagi adalah ibu dari calon anakku. Biarlah keluarga kita tidak mendapatkan emas, hasil ladang kita bagus, kurasa cukup untuk pemasukan keluarga kita dan tabungan jika si kecil lahir. Lagi pula ibu masih sangat lemah, dan kau Mia, bisa jadi saat aku pergi, kau akan melahirkan sendiri. Mia, istriku, kau mengandung dan menahan beban sendirian selama Sembilan bulan ini, aku tak akan sampai hati jika kau harus melahirkan anakku sendiri juga. Jadi.. Ibuku dan istriku... apakah boleh aku tetap di sini menjaga kalian?”
Istri sungai menunduk sambil menutup matanya yang sudah basah dengan air mata. Sedangkan sang ibu hanya tersenyum sambil terus menghabiskan sup jagungnya, sambil menyeka ujung matanya yang juga basah.
Pagi itu, Sungai berangkat ke ladang. Sama seperti biasanya, Mia mengantar sampai depan pagar sambil mencium tangan suaminya. Suasana Desa Pelangi pagi itu tak seramai biasanya. Para kepala keluarga pergi ke kaki bukit untuk mendapatkan emas sang saudagar kaya. Beberapa meninggalkan anak-anak dan orang tuanya yang masih demam terkena wabah.
Sungai tetap meladang dengan tenang.
Keesokan harinya, para kepala keluarga kembali ke Desa Pelangi dengan membawa barang-barang baru. Ada yang membawa kuda baru, alat pembajak baru, makanan yang enak dan lain-lain serba baru hasil menjual emas yang mereka dapatkan.
Sungai menatap dari ladangnya. Mungkin jika aku pergi ke kaki bukit, aku bisa membawa barang-barang itu untuk istriku dan ibuku. Atau mungkin malam ini kami bia makan malam dengan santapan yang lezat. Apakah keptusanku salah? Ah sudalah, rezeki sudah ada yang mengatur.
“Pak Sungai!!”Istri Pak Sungai akan melahirkan!!” teriak dari suara wanita yang sangat ia kenal. Bu Arta!. Sungai langsung berlari dan bergegas menuju rumah.
Tampak Mia yang sedang berjuang menahan sakit di kamar di temani sang ibu yang sudah sangat membaik kondisi kesehatannya. Seorang tabib juga tampak di kamar itu.
Sungai langsung memegang tangan istrinya, menemaninya, memberikan kekuatan untuk istrinya dan calon anaknya. “Kau bisa, Mia-ku”, kemudian Sungai meletakan tangannya di atas perut Mia, “Ayo anakku, bantu bunda, segeralah keluar.”
Dan beberapa jam kemudian, terdengarlah suara tangisan anak perempuan yang sangat cantik.
Dua hari selepas Sungai dan Mia menjadi orang tua. Lagi-lagi terdengar suara pintu yang diketuk terburu-buru. Bu Arta.
“Mia!!! Mia!!! Apakah Pak Sungai ada di rumah?”
“Ya Bu,,, ada yang bisa saya bantu”, jawab Sungai dari belakang Mia.
“Endrew anakku... dia kejang-kejang!! Suamiku juga sedang sakit, kami butuh tumpangan untuk ke tabib, tolong lah...”
Bergegas Sungai menyiapkan kereta kudanya, Mia dan Anaya—gadis kecil berumur dua hari—beserta ibu Sungai diperintahkan untuk tetap di rumah.
Sungai dan keluarga Bu Arta bergegas menuju rumah tabib terdekat.
Malang tak dapat ditolak, anak Bu Arta tidak terselamatkan. Saat di rumah tabib, Edrew masih menggigil kedinginan, namun tak lama setelah masuk ruang tindakan, Endrew berhenti menggigil. Berhenti bernafas. Endrew dinyatakan meninggal.
Bu Artha serta merta lemas dan lunglai melihat anaknya yang saat ini terbujur kaku. Suami Bu Arta pun tak kalah lemas. Saat ini yang di kepala Sungai hanyalah ingin cepat-cepat memeluk anak dan istrinya.
Hari sudah sangat gelap saat Sungai kembali ke rumah. Dia melihat kamarnya, tampak si kecil Anaya yang tidur pulas di samping Mia yang juga tampak pulas.
“Kau sudah pulang, Sungai” suara ibu Sungai sedikit mengagetkan.
“Cepat mandi, akan ibu panaskan makan malam untukmu. Jangan bangunkan Mia, dia sudah sangat lelah mengurus Anaya seharian”ujar sang ibu. Sungai mengangguk dan lekas mandi kemudian duduk di kursi makan.
“Bagaimana kondisi keluarga Bu Arta?” tanya sang ibu.
“Ëndrew meninggal. Bu Arta dan suaminya sangat bersedih. Akupun, Aku tak bisa membayangkan kalau aku di posisi itu, ibu...”
“Mungkin, kalau dua hari yang lalu Bu Arta dan suaminya lebih memilih untuk merawat Endrew yang sedang demam ketimbang berangkat mencari emas... mungkin...” ucap ibu.
“Sudahlah, Bu... hidup dan mati seseorang sudah dituliskan dalam takdir yang tidak dapat diganggu-gugat. Jika takdir sudah menuliskan Endrew meninggal hari ini, maka tak ada hal lain yang bisa mengubah, sekalipun suami Bu Arta tetap tinggal di desa.”
“Tapi paling tidak, jika kemarin dia tidak berangkat, dia punya waktu lebih banyak bersama anaknya...”
“Sudahlah bu... ibu kan yang mengajari Sungai bahwa di dalam hidup itu kita akan menemukan banyak pilihan. Semua orang mengambil pilihan pasti dengan pertimbangan. Mungkin keluarga Bu Arta memang sedang membutuhkan uang saat itu.”
“Keluarga kita juga membutuhkan uang...” potong ibu.
“Ibu mengapa berkata seperti itu? Apakah ibu sebenarnya ingin Sungai ke kaki bukit untuk mendapatkan jatah emas?”
“Tidak anakku. Sesungguhnya kemarin ibu sangat bersyukur kau tidak berangkat ke kaki bukit. Ibu senang kau lebih memilih keluargamu daripada emas. Ibu bangga dengan pilihanmu. Mungkin keluarga kita tidak mempunya makanan lebih, pakaian lebih, rumah yang luas. Tapi kita punya makanan yang cukup, pakaian yang cukup dan rumah yang cukup nyaman. Kita tidak perlu lebih. Yang kita butuhkan hanya cukup. Karena cukup adalah cukup. Harta tak akan usai jika dikejar. Bisa jadi saat kau mengejar harta, kau kehilangan yang lebih berharga daripada harta yang sedang kau kejar itu. Rezki itu tak hanya uang, tak hanya emas, tak hanya makanan yang enak. Kesehatan, waktu luang bersama keluarga adalah rezki yang luar biasa dan harus disyukuri. Kelak, jika ibu sudah tidak ada, ajarkan Anaya untuk bisa merasa cukup. Ajarkan dia untuk senantiasa bersyukur untuk rezki sekecil apapun yang ia dapat. Sesungguhnya orang yang bersyukur hatinya akan selalu terasa penuh dan utuh”.
Malam semakin larut. Perbincangan ibu dan anak laki-lakinya berhenti saat priring makan malam telah kosong tak bersisa. Sungai dan keluarganya memang tidak punya makanan lebih, namun mereka punya makanan yang cukup. Dan itu sudah cukup.
***
Itu dongeng yang diceritakan oleh Krisna untukku.
Setelah sekian tahun aku berhenti menulis, dongeng Krisna membuatku untuk menulis lagi, karena mungkin, di luar sana juga banyak orang yang butuh memabaca dongeng ini.
Jakarta, 15 Februari 2019
Thursday, June 9, 2016
PRODJEK BAHAGIA #2
Prodjek Bahagia 2 adalah buah hati dari proses mencari dan memberi kebahagiaan. Prodjek Bahagia 2 adalah ihktiar kami untuk menjelaskan bahwa kebahagiaan adalah bukan tentang mencari, tapi menciptakan; bukan tentang seberapa banyak yang kita miliki, tapi tentang seberapa banyak yang bisa kita bagi.
”Katakanlah, ’Sungguh, Tuhanku melapangkan rezeki dan membatasinya bagi siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya.’ Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi Rezeki yang terbaik.”(QS Saba, 34: 39)
Di bulan Ramadhan kali ini, kami mencoba untuk menghadirkan lagi wadah kebahagiaan untuk kita semua.
Sebuah wadah berisi “ingat” bagi yang lupa bahwa ada hak orang lain di dalam harta kita.
Sebuah wadah yang berisi “pesan” bagi yang tidak tahu akan menyalurkan sebagian rejeki nya kemana.
Sebuah wadah yang berisi “harapan” bagi kita semua untuk menciptakan kebahagiaan lebih banyak lagi, dan lebih banyak lagi.
Dunia, dan semua hal yang kita khawatirkan terkadang membuat mata, telinga dan hati kita kurang peka dan lupa bahwa ada hak orang lain dalam harta kita. Kemudian waktu terasa menyempit akibat rutinitas-rutinas yang kita benarkan sebagai kewajiban tanpa sadar kita melalaikan kewajiban kita yang sesungguhnya kepada Tuhan.
Maka, saat ini dengan Prodjek Bahagia 2, kami mengajak anda untuk merenggangkan waktu sejenak dari sekedar memikirkan ‘aku ataupun saya’ saja.
Di bulan yang penuh berkah ini, Prodjek Bahagia kembali dilaksanakan untuk mengajak kita semua berbahagia bersama dengan membahagiakan orang-orang di sekitar kita. Sesungguhnya, bahagia adalah kata sifat yang anomali: semakin banyak kebahagiaan yang kita beri, semakin banyak kebahagiaan yang kita dapatkan.
Prodjek Bahagia 2 kali ini memiliki cakupan wilayah pesebaran yang lebih luas, karena kali ini kami dibantu oleh kawan-kawan dari Sulawesi , Sumatra, dan Kalimantan, sehingga semua hasil kebahagiaan ini akan disalurkan ke tempat-tempat tersebut. Adapun kegiatan yang kami rancang dalam Prodjek 2 ini adalah:
Bahagia Bersama Anak Yatim
Alat Solat Untuk Semua
Bercerita Kebaikan Lewat Buku dan Kemakmuran Taman Pendidikan Al-Qur’an
Memperindah Rumah Allah
Bahagia Bersama Anak Yatim
Bentuk penyaluran dana adalah secara tunai, hal ini atas dasar pertimbangan kami dan pelajaran yang kami dapat dari PRODJEK BAHAGIA #1, bahwa bantuan dalam bentuk tunai adalah bantuan yang paling flexsibel untuk dimanfaatkan dan digunakan sesuai kebutuhan yang diperlukan. Namun kami tetap akan merencanakan untuk melakukan kegiatan buka puasa bersama atau sahur bersama anak yatim di salah satu daerah lingkup PRODJEK BAHAGIA #2 ini.
Semakin banyak dana yang terkumpul, semakin banyak anak yatim yang tersenyum dan (semoga) bahagia :)
Alat Solat untuk Semua
Tidak jauh berbeda dengan PRODJEK BAHAGIA #1, kali ini kami tetap akan melaksanakan distribusi alat solat, di temapt-tempat umum. Masih banyak tempat umum yang memiliki mushola dengan fasilitas alat sholat yang kurang memadai untuk dikenakan. Beberapa tempat umum yang memiliki mushola dengan keterbatasan alat sholat antara lain di pusat perbelanjaan (pada umumnya yang sholat ibu-ibu dan mukena sangat memprihatinkan), pom bensin, dan tempat-tempat lain.
Bercerita Kebaikan Lewat Buku dan Kemakmuran Taman Pendidikan Al-Qur’an
Kekerasan dan tindak asusila rentan di usia yang masih sangat dini saat ini. Hari ini, banyak anak-anak yang tidak memiliki masa kecilnya dengan utuh. Maka, melalui Program ini, kami berencana untuk membagikan buku yang bersifat edukasi ke tempat-tempat dalam rangka pembinaan akhlak anak.
Kemudian, kami sangat paham bahwa di balik sebuah proses pembelajaran anak, harus ada sosok yang bisa turut mendidik dan mengajarkan nilai-nilai budi pekerti luhur di luar lingkungan keluarga.
Taman Pendidikan Al-Qur’an sebagai sebuah wujud pendidikan dasar bagi anak-anak dalam mempelajari Al-Qur’an merupakan suatu lembaga yang vital keberadaannya demi mewujudkan generasi yang Qur’ani. Hal tersebut masih bertolak belakang dengan kesejahteraan yang diperoleh oleh para ustad-ustadzah yang memberikan pengetahuan pada anak-anak didik dalam mempelajari Al-Qur’an. Dengan demikian, perlu adanya gerakan untuk memberikan perhatian lebih bagi para ustad-ustadzah tersebut.
”Sesungguhnya di antara amalan dan kebaikan seorang mukmin yang akan menemuinya setelah kematiannya adalah: ilmu yang diajarkan dan disebarkannya, anak shalih yang ditinggalkannya, mush-haf Alquran yang diwariskannya, masjid yang dibangunnya, rumah untuk ibnu sabil yang dibangunnya, sungai (air) yang dialirkannya untuk umum, atau shadaqah yang dikeluarkannya dari hartanya diwaktu sehat dan semasa hidupnya, semua ini akan menemuinya setelah dia meninggal dunia.” (HR. Ibnu Majah dan Baihaqi, dinilai hasan oleh Syaikh Al Albani).
Memperindah Rumah Allah
Terdapat banyak tempat ibadah yang fasilitasnya masih kurang memadai, seperti sajadah yang mulai usang karena penggunaan, tempat wudhu yang belum layak dan berbagai kekurangan yang lain. Oleh karena itu, perlu adanya kepedulian yang ekstra terhadap kondisi tempat ibadah kaum Muslim ini demi pelaksanaan ibadah yang khusyuk.
“Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. At Taubah : 18).
Bisa kebayang enggak berapa amalan jariyah yang bisa kita dapat ketika Yatim yang kita santuni bisa tumbuh menjadi manusia yang bermanfaat untuk orang lain; Buku yang kita beri senantiasa menjadi ilmu yang terus diajarkan kepada siapa saja yang membacanya; Ilmu yang bermanfaat tidak putus-putusnya disebar oleh punggawa-punggawa Islam di TPA; Dan berapa sujud yang khusyuk yang bisa kita dapat ketika dana bisa dibelikan untuk emngganti sajadah yang telah usang di sebuah masjid??
Dan ketika amalan-amalan baik itu terus mengalir untuk kita, dan bermanfaat untuk orang lain? bisakah kelak kita mendefinisikan KEBAHAGIAAN dengan sederhana?
InsyaAllah, Iya.
”Katakanlah, ’Sungguh, Tuhanku melapangkan rezeki dan membatasinya bagi siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya.’ Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi Rezeki yang terbaik.”(QS Saba, 34: 39)
Salam Bahagia
Annisa dan Ayunita
klik lin di bawah
Yang mau tahu PRODJEK BAHAGIA #1 >>
Thursday, June 2, 2016
CERITA MENTARI PAGI INI
Sebut saja namanya Mentari, yang pagi ini sudah menemui saya pagi-pagi, “Aku sudah enggak tahan sama bosku”, katanya. Maka pagi itu Mentari dan saya duduk berdua untuk mendengarkan cerita ajaib bos Mentari.
Saya tidak akan menuliskan tentang keajaiban bos Mentari di sini. Jika keajaiban itu membuat Mentari tidak betah dengan bosnya, sudahlah pasti keajaiban bos Mentari bukanlah hal yang menyenangkan untuk diceritakan. Maka kali ini saya ingin menulis tentang Mentari itu sendiri.
Mentari yang karena cerita-ceritanya kemarin dan tadi pagi, membuat saya ingin bercerita kepada banyak orang, bahwa dari Mentari saya mengerti bahwa sekian persen dari hidup adalah tentang bertahan.
Mentari adalah seorang ibu juga istri yang—sebutlah bukan keinginannya—harus merantau ke Jakarta.
“Banyak orang yang enggak tahu apa-apa menilai aku lebih mementingkan uang daripada keluarga, padahal kalaupun aku bisa milih, yo aku maunya ngumpul sama anak dan suamiku”, tutur Mentari saat lalu kepada saya dan beberapa teman saya. Saat itu saya khidmat mendengarkan Mentari. Saya tahu benar bagaimana lemahnya hati saat diserang rindu untuk orang yang terkasihi, apalagi anak kandung sendiri. Saat itu Mentari bisa menceritakan dengan selipan canda, tapi aku pikir itu hanyalah usahanya untuk membuat ceritanya tidak menjadi cerita yang menyedihkan bagi dirinya sendiri.
Mentari bercerita, bahwa di awal masa kerja dulu, hampir setiap hari dia menangis sendiri di kamar kos nya karena beban rindu yang terlalu besar untuk keluarga kecilnya di kampung halaman. Hingga di satu titik, Mentari sadar, bahwa pilihan telah dibuat dan harus dipertanggungjawabkan. Menangis kadang meringankan kesedihan, namun sedih yang terlalu larut dan berkelanjutan hanya akan melemahkan keyakinan akan kebaikan rahasia Tuhan atas jalan hidup yang telah digariskan.
Jika situasi terasa sangat sulit untuk diubah bahkan hampir tidak mungkin, maka cara pandang kitalah yang harus kita ubah, berusaha melihat hal-hal baik sekecil apapun, berusaha menyukurinya dan menerimanya dengan ikhlas, hal ini yang bisa saya pelajari dari Mentari.
Saya tahu pasti, bahwa tidak mudah melalui hari yang digelantungi rindu kepada buah hati. Itulah mengapa saya tidak pernah melihat mana yang lebih baik antara ibu bekerja dengan ibu tidak bekerja. Semua ibu adalah baik. Bekerja dan tidak bekerja adalah pilihan dari kondisi kehidupan yang tidak bisa disamakan untuk semua orang.
Teringat seorang teman mengirimkan pesan yang cukup indah bagi saya untuk dipahami:
Kita diberi rezki dapat hidup selalu di dekat suami, maka ketika kawan kita berpisah jarak dengan suami dan keluarganya, kita bilang ia menggadaikan rumah tangga demi materi. Ternyata mereka tetap hidup rukun dan bahagia dalam perjuangan rumah tangganya.
Kita diberi rezki menjadi ibu rumah tangga, maka ketika kawan kita memilih untuk bekerja di kantor, kita bilang ia menggadaikan masa depan anaknya. Ternyata ia bangun lebih pagi dari kita, belajar lebih banyak dari kita, berbicara lebih lembut kepada anak-anaknya, dan berdoa lebih khusyuk memohon kepada Tuhan untuk kehidupan anak-anaknya.
Saya sangat suka tulisan ini. Kita memang tidak pernah cukup adil dalam menilai kehidupan seseorang. Karena kita tidak pernah cukup tahu tentang apa yang telah mereka lewati, atau kehidupan seperti apa yang sedang mereka jalani. Toh, hidup adalah tentang pilihan. Hidup adalah tentang bertanggungjawab dengan pilihan tersebut.
Kembali kepada Mentari. Pagi ini Mentari bercerita tentang bosnya yang ajaib tadi, saya melihat matanya berkaca-kaca memantulkan rasa lelah yang mungkin terasa di dalam hatinya.
“Dia itu seolah-olah orang kaya, tapi kelakuannya ngelebih-lebihi dari orang yang enggak punya! Apa-apa duid, duid, duid, heran aku, di kepalanya kok kayanya cuma duid aja tu lho, Sa!”
“Sabar, mbak... Allah itu enggak akan ngasih cobaan di luar kemampuan kita. Allah ngasih cobaan bos rese ke Mbak, karena Dia tahu kalau ngasihnya ke aku, aku belum tentu bisa sabar kaya Mbak Tari... orang kaya bosnya mbak sering-sering di al-fatihah-in aja mbak sehabis solat... Allah itu kan Maha Pembolak-balik hati manusia... siapa tahu nanti si bos bisa sadar sama kelakuannya yang keliru selama ini...” jawab saya.
“Aku sudah sangat berusaha buat bersabar, Sa... tapi kadang ya aku ga tahan juga... dan sering bingung mau cerita ke siapa... Maaf ya, Sa... kamu jadi tong sampahku pagi ini, dengerin cerita-cerita bosku yang enggak penting”
“Mungkin Allah tuh lagi menyiapkan Mbak Tari jadi orang besar nantinya... Allah kasih contoh bos yang salah saat ini, biar nanti kalau Mbak Tari jadi bos, mbak enggak melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan bos mbak saat ini”
“Amin ya, Sa...”
Saya bersyukur pagi ini Mentari menghampiri saya dengan ceritanya. Sudah lama sekali saya tidak mendengarkan. Dulu, saya bisa menghabiskan waktu berjam-jam di ruang tamu untuk mendengarkan teman-teman saya yang silih berganti bercerita tentang banyak hal. Saya suka mendengarkan. Karena saat mendengarkan saya berpikir dan menebak-nebak apa yang dipikirkan Tuhan saat menciptakan kehidupan seorang manusia. Sesedih apapun cerita itu, segetir apapun seseorang menceritakan hidupnya, tapi saya selalu yakin Tuhan Maha Baik. Seperti sebuah luka yang kita dapat, adalah untuk mengajarkan kita bagaimana caranya mengobati dan meredakan rasa sakit, juga tentang bagaimana kemudian kita paham, bahwa luka adalah sesuatu yang sementara.
Hidup itu tidak selalu mudah, maka itu berarti hidup tidak akan terus-menerus susah. Adakalanya kita di bawah, dan melihat banyak ketidak-adilan di atas sana, tapi sekali lagi, keadilan adalah hal terabstrak di dunia ini selama manusia terlalu mudah menilai seseorang sesederhana benar dan salah, hitam dan putih. Bertahanlan saat di bawah, belajarlah banyak hal, agar kelak kita paham benar bagaimana berada di atas dengan gagah, dan memberi contoh kebaikan untuk mereka yang di bawah. Amin.
Monday, May 23, 2016
Thursday, December 10, 2015
BELAJAR
Hidup itu seharusnya tentang bagaimana merasakan bahagia, bukan? Tentang proses bagaimana kita bisa mempertanggungjawabkan kesempatan hidup yang Tuhan beri sesuai dengan apa yang kita yakini benar.
Hidup itu bagi saya adalah tentang melakukan apa yang harus saya lakukan, bukan sekedar apa yang ingin saya lakukan. Dalam hidup harus ada tanggung jawab, baik kepada diri sendiri maupun orang lain. Ada kesadaran bahwa semua yang kita miliki, kita lewati, kita dapatkan, kelak akan dimintai pertanggungjawabannya. Maka saya sadar benar, bahwa hidup adalah kesempatan kita untuk belajar bertanggungjawab.
Saya belajar, bahwa hidup saya bukan hanya sekedar untuk menyenangkan semua orang atau terlihat baik di mata banyak orang. Tidak, saya pastikan saya tidak akan menjalani hidup semenyedihkan itu.
Saya belajar, bahwa benar dan salah adalah relatif di mata manusia satu dengan manusia lainnya, dan saya tidak memiliki kekuasaan untuk menjelaskan kepada semua orang kebenaran seperti apa yang saya yakini agar saya dianggap benar. Tidak, saya tidak akan menghabiskan waktu saya hanya untuk memberikan penjelasan agar seseorang menerima saya seperti itu. kebenaran bisa relatif di mata orang lain, tapi tidak bagi saya, benar adalah benar, salah adalah salah. Titik.
Saya belajar, bahwa saya tidak perlu takut menjadi minoritas. Tidak perlu takut untuk tidak memiliki banyak orang di sekeliling saya, karena teman bukan tentang proses mencari, tapi teman adalah proses menemukan dan menerima. Dulu, seseorang pernah mengatakan hal ini kepada saya, ‘Jika ada 100 dari 1000 orang yang berjuang untuk kebenaran, maka jadilah bagian dari yang 100 itu. Jika ada 50 yang berjuang untuk kebenaran, maka jadilah bagian dari yang 50 itu. jika hanya ada 10 dari 1000 yang berjuang untuk kebenaran, maka pastikan kamu ada di antara 10 itu. Dan jika hanya ada 1 orang yang berjuang untuk kebenaran, berjanjilah bahwa 1 orang itu adalah kamu. Maka mulailah untuk jujur kepada dirimu sendiri. mulailah untuk mampu mempertahankan kebenaran yang kamu yakini mulai saat ini, sekecil apapun itu, jika menurutmu benar, maka perjuangkan.’
Maka kemudian saya akan selalu mengingatkan diri saya sendiri bahwa hidup saya adalah tentang menyenangkan Tuhan dan diri saya sendiri dengan segala kebenaran yang saya yakini. Tentang menyenangkan diri sendiri dengan menyenangkan orang-orang yang sungguh-sungguh ingin saya senangkan dengan ketulusan. Bukan tentang menyenangkan orang-orang yang tidak terlalu ingin saya senangkan.
Adakalanya saya bahagia ketika bisa membahagiakan orang yang saya sayangi. Membahagiakan orang yang saya anggap pantas untuk saya bahagiakan. Bahagia ketika bisa bermanfaat untuk orang lain yang membutuhkan. Saya adalah manusia yang membahagiakan orang lain karena saya ingin, bukan karena saya butuh. Saya membahagiakan orang lain yang saya anggap pantas, bukan agar terlihat pantas.
Saya belajar, dan akan terus belajar.
Tentang bagaimana berjalan dengan tegak dan langkah ringan. Bukan dengan ketakutan-ketakuan terhadap penilaian orang.
Tentang bagaimana utnuk mengatakan tidak terhadap sesuatu yang tidak ingin saya lakukan. Bukan yang latah mengiyakan semua permintaan.
Saya punya Tuhan, dan Tuhan memberikan saya keluarga yang luar biasa, sahabat-sahabat yang tulus dan luar biasa, dan itu sudah lebih dari cukup.
*tulisan yang dibuat kala hati penuh perasaan marah dan entah harus marah kepada siapa. Huh Hah!
Sunday, December 6, 2015
KEBERUNTUNGAN
Semua pasti sepakat jika hidup itu rahasia. Seperti tentang siapa yang akan mengisi celah jemari kita dan menggenapkan hati kita. Siapa yang akan terus berusaha dengan sabar memahami tentang sisi kita yang bahkan kita sendiri tidak bisa memahami.
Tidak semua keberuntungan dua orang yang saling jatuh cinta dipahami oleh banyak orang. Mungkin keberuntungan kalian salah satunya. Atau mungkin awalnyapun kalian tidak juga punya jawaban mengapa saling mejatuhkan hati satu sama lain.
Dan tulisan ini... semoga bisa menjadi secuil pengingat bahwa pertemuan kalian berdua adalah keberuntungan bagi kalian berdua. Keberuntungan menemukan seseorang yang tepat untuk saling menjatuhkan hati. Dan pernikahan hari ini adalah bukti, bahwa pada akhirnya kalian percaya satu sama lain, bahwa hubungan ini tidak lagi (hanya) tentang memilih menjatuhkan hati kepada siapa , tapi tentang kesanggupan untuk sabar menjaga dan setia.
Lewat tulisan ini, saya ingin berterimakasih kepada mempelai wanita yang cukup banyak berbagi cerita semasa saya masih di Jogja, mulai dari buku, keluarga dan tentunya sang kekasih—yang saat ini sah menjadi suaminya. Selalu menyenangkan mendengarkan kakak yang satu ini bercerita. Lewat cerita-ceritanya saya mengerti satu hal, bahwa sebuah hubungan tidak sekedar menerima, tapi tentang komitmen untuk saling menyesuaikan dan bertahan.
Di mata saya, Ka Dewi adalah sosok wanita super cantik, menarik, baik dan menyenangkan walau sulit untuk dipungkiri kalau Ka Dewi ini agak sembrono (ya kena tilang lah, ya mobil ketabrak apalah, ya aki lupa diganti lah)hehehehe.. ampun, Kak..). Sekedipan matanya mungkin bisa meluluhlantakan hati laki-laki manapun. Seperkiraan saya, sangat mudah untuk Ka Dewi mendapatkan laki-laki sesuai keinginannya. Tapi, pada kenyataannya, Ka Dewi bertahan pada satu nama dengan sosok (ni maaf-maaf aja ya, Mas Aji) yang-agak-langka-bentuk-maupun-perangainya--adalah Kunto Aji alias Mas Aji. Entah apa yang dilihat oleh Ka Dewi dari sosok antah-berantah-ini. Sampai akhirnya di suatu perbincangan sore saya mengerti dan memahami alasannya kenapa laki-laki unik ini yang dipilih...
“Kalau aku lagi ‘dapet’ aku sadar sih, dek, aku nyebelin banget. Pernah ya waktu itu di tengah jalan aku marah-marah sama Aji gara-gara aku ga suka sama Matahari. Terus kata Aji, yaudah pake kacamata item ya? Aku bilang ‘ga mau!’ , terus Aji bilang lagi, yaudah pake jaket ya?, aku bilang ‘ga mau! Aku tuh ga suka sama Mataharinya!!’, terus Aji jawab lagi, ‘Ya terus aku harus ngapain Mataharinyaaa??’, ‘Ya diapain kek biar Mataharinya ga ada!’. ‘Yaaa manaaa aku bisaaaa!’, kalau inget itu suka ketawa sendiri aku, Dek”
Sampai situ saya diam, diam sambil mikir, gue kayanya kalau PMS ga pernah se-rese itu deh ampe minta ngilangin Matahari
“Terus, Ka? Mas Ajinya marah ya?”
“Ya gimana dia bisa marah, kan aku ngomel-ngomel terus, dek! Dia ga ada kesempatan buat marah”
“Terus... ?”
“Aku tahu aku rese, Dek... tapi kan kalau PMS kita sebagai perempuan juga ga punya kuasa ya atas hormon-hormon sensi dalam tubuh kita? Terus aku minta pulang aja karena aku ga suka sama mataharinya, padahal itu udah mau sampai ke tempat tujuan.”
“eum... akhirnya pasti mas Aji tetep tancap gas biar cepet sampai ke tujuan ya, Ka?”
“Enggak, dek. Aji Puter balik, terus kami pulang”
“Eh?! Kok sedih ya, Ka, jadi Mas Aji? Hehehe”
“Dia udah biasa, Dek... Dulu, kalau dipikir-pikir aku yang banyak sabar ngadepin tingkahnya dia, tapi makin kesini aku ngeliatnya dia mulai sabar dan lebih ngertiin aku yang makin uring-uringan. Mungkin karena faktor usia juga kali ya, Dek. Cewek itu cepat matangnya, cepet dewasanya, tapi kaya siklus lingkaran, kita cepet juga balik jadi childish lagi,,, kebalikan sama laki-laki, mereka emang telat dewasanya, tapi mereka bertahap. Ada waktunya mereka mulai mau memahami, mengerti dan mengalah sama situasi sekeliling mereka. Dan alhamdulillah ujung-ujungnya kami berdua jadi saling melengkapi gitu sekarang.”
Saya hanya tersenyum dan menghela nafas panjang saat itu.
“Hebat ya Ka, bisa bertahan selama ini sama Mas Aji”
“Hehehehe.. ga tau deh, Dek... Mungkin karena udah lama juga kali ya, Dek. Udah nyaman. Dan Kakak sendiri juga sadar kayaknya enggak semua cowok bisa meng-handle kakak kaya Aji. Ya kaya sekarang aja... pas kakak lagi ke Jakarta, Aji mau bolak-balik ke rumah ngasih makan kucing-kucing, Kakak”
“Hahahaha,,, bukan apa-apa sih, Ka... habisnya kalau Nisa perhatiin Kak Dewi sama Mas Aji itu sama-sama teledor-nya sama-sama tidak terorganisir dengan baik hidupnya, emang enggak mau nyari cowok yang lebih bisa ngemong gitu?”
“Lhooo... siapa tahu, anaknya Kakak nanti bisa lebih dewasa dan ngemong, Dek... mengingat orang tuanya ga bisa diandalkan. Kan lucu, dek, baru umur 6 tahun dia udah bilang gini ‘mama sama papa kerja aja deh, biar urusan rumah aku yang atur’, hahahaa kan lucu dek...”
“Hedeeeeeuh... malah bercandaaaa... tapi bisa jadi sih, Ka,,, mau enggak mau dia kaya adaptasi alam gitu karena Papah sama Mamahnya seleboran orangnya, terus dia menghandle hidupnya sendiri bahkan hidup orang tuanya walau dia masih kecil” *malah ikutan imajinasi*
***
Dear, Ka Dewi... entah kenapa obrolan sore itu yang ditutup dengan bibik yang maksa Ka Dewi makan sayur asem dan ikan asin sangat membekas dan terus teringat di kepala Nisa. Nisa jadi paham bahwa sebuah hubungan selalu punya warnanya masing-masing. Mungkin di luar sana banyak orang dengan sekejap saja menilai bahwa Mas Aji beruntung mendapatkan Ka Dewi,,, tapi menurut Nisa, pertemuan kalian, hubungan kalian, hingga pernikahan kalian hari ini adalah keberuntungan kalin berdua—satu sama lain—karena kalian saling melengkapi dan mengerti.
Nisa juga belajar dari Ka Dewi dan Mas Aji bahwa di dunia ini tidak ada pasangan yang sempurna, tapi ketidaksempurnaan itu sendirilah yang memberi runag bagi kita untuk belajar membuka hati, meluaskan pikiran dan kesabaran.
Kak Dewi, ditunggu cerita-cerita berikutnya ya...
Selamat untuk hari ini, kakak cantiiiiiiik banget... dan Mas Aji juga cakeeeeep banget... sneakernya... (hahahaha) Rukun-rukun ya... semoga Allah senantiasa melimpahkan keberkahan buat keluarga Ka Dewi dan Mas Aji.
Buat Kak Dewi, kalau nanti Kak Dewi lupa tentang alasan untuk tetap bersama Mas Aji, Inget ini: Mas Aji adalah lelaki yang memilih sabar untuk memahami dan menerima Ka Dewi, terutama saat Kak Dewi lagi PMS ;P
Buat Mas Aji, kalau nanti ada godaan yang membuat Ka Dewi terkesampingkan, Inget ini:Kak Dewi wanita yang setia di samping Mas Aji dalam rentang waktu yang cukup lama, walau marahnya Kak Dewi (konon katanya) serem, apalagi kalau mas Aji lupa nge-flash habis BAB ('-__-)
Sekali lagi selamat ya buat kalian berdua...
Selamat berjuang untuk bertahan dan saling mempertahankan. :)
Wednesday, November 18, 2015
ke.ti.dak.pas. ** . an
Kata mereka, hidup itu tentang bertahan di tengah ketidakpastian.
Tentang berjuang di tengah-tengah bayangan kekalahan dan harapan kemenangan.
Hidup itu, tentang bertahan dari ketidakpastian satu ke ketidakpastian lainnya.
Seorang teman (Litani Rahmasari) menulis di status PATH-nya
kemudian saya berpikir, mungkin memang benar bahwa yang kita butuhkan dalam hidup ini adalah keyakinan. Tidak peduli seberapa besar ketidakpastian yang ada di hadapan kita, jika kita yakin untuk memperjuangkannya, maka perjuangkanlah.
Kenapa kita harus terlalu takut akan kesedihan?
Beberapa kesedihan mengajarkan kita tentang kapan harus berjuang, kapan harus mengikhlaskan.
Dan mungkin... kesedihan yang paling menyedihkan adalah penyesalan karena memutuskan untuk tidak mecoba berjuang.
Tentang berjuang di tengah-tengah bayangan kekalahan dan harapan kemenangan.
Hidup itu, tentang bertahan dari ketidakpastian satu ke ketidakpastian lainnya.
Seorang teman (Litani Rahmasari) menulis di status PATH-nya
“Kalo jodoh tak lari kemana, kalau yakin jodoh dikejar aja”
kemudian saya berpikir, mungkin memang benar bahwa yang kita butuhkan dalam hidup ini adalah keyakinan. Tidak peduli seberapa besar ketidakpastian yang ada di hadapan kita, jika kita yakin untuk memperjuangkannya, maka perjuangkanlah.
Kenapa kita harus terlalu takut akan kesedihan?
Beberapa kesedihan mengajarkan kita tentang kapan harus berjuang, kapan harus mengikhlaskan.
Dan mungkin... kesedihan yang paling menyedihkan adalah penyesalan karena memutuskan untuk tidak mecoba berjuang.
Sunday, October 25, 2015
Monday, September 28, 2015
Piknik di 1818mdpl, MANGLAYANG
September, hari keduabelas dan tiga belas di tahun 2015.
Bagi saya melakukan perjalanan adalah salah satu cara kita untuk mengenal siapa diri kita lebih dalam. Tidak banyak yang menyukai jalan menanjak, begitupun saya. Tapi selalu ada alasan untuk bertemu kemudian jatuh cinta dengan punggung gunung satu dan punggung gunung lainnya. Aneh, terkadang saya berpikir, mengapa kita bisa jatuh cinta dengan sesuatu yang (padahal) di dalamnya ada hal yang tidak kita suka?
Mungkin, karena untuk mencintai suatu hal itu tidak selalu tentang segala hal yang kita suka dan kita inginkan (saja), akan tetapi sesuatu yang bisa kita pahami dan kita terima dengan apa adanya.
Perjalanan kali ini saya, Bajaj, Kiki, beserta dua teman baru saya , Stella dan Bang Binsar menuju Gunung Manglayang. Sebuah gunung dengan angka cantik berulang untuk ketinggiannya: 1818 mdpl, yang terletak di daerah Jatinangor, Bandung, Jawa Barat.
Banyak hal yang harus dipersiapkan dalam sebuah perjalanan. Kita tidak sedang berbicara tentang apa-apa saja yang harus dibawa, tapi tentang apa-apa saja yang harus disiapkan. Apa saja. Apapun bentuknya, karena banyak hal di luar dugaan yang mungkin terjadi. Banyak hal di luar harapan yang mungkin kita dapatkan. Tapi kembali lagi, bagi saya tidak ada perjalanan yang tidak bercerita, tidak ada perjalanan yang tidak mengajarkan hal baru, tidak ada perjalanan yang hanya sekedar perjalanan. Perjalanan selalu memberikan sesuatu, dan bila cukup beruntung, sebuah perjalanan akan membuka jalan untuk mengenal lebih dalam siapa kita sebenarnya.
Dari hasil pengumpulan informasi sederhana lewat blog-blog dan media internet lainnya, Manglayang pada awalnya membawa bayangan di kepala tentang sebuah piknik yang menyenangkan dengan medan tanjak yang memungkinkan saya untuk bersiul-siul lucu atau bersenandung lagu ceria sambil menatap pemandangan kebun jeruk nipis penduduk di sisi jalannya. Penanjakan yang ceria dan tidak perlu "bersusah payah". Kenyataannya? Jangankan bernyanyi, untuk bernafas saja saya sulit karena kemiringan medannya lumayan curam dan berpasir. Maka saya putuskan bernyanyi dalam hati saja.
*di sini kadang saya merasa sedih*
Dilihat dari ketinggian, Manglayang sangat cocok untuk pemula; memang.
Tapi kembali pada kalimat awal, janganlah menilai gunung dari tingginya saja, karena dibalik angka cantik 1818 nya, Manglayang menghadirkan medan tanjakan yang luar biasa ngeselin.
(kesel: kesal, merasa kesal, kesel bahasa jawa yang artinya lelah, melelahkan)
Tapi atas segala tanjakan di depan mata yang berbatu dan seolah terus-terusan menanjak, saya memilih untuk terus mendaki! (habis kalaupun mau balik, malu sama carrier kali,,, udah minjem,,, masa ga jadi naik gunung! hahaha)
Ada pertanyaan yang selalu saya lemparkan ke dalam benak saya apabila saya telah memutuskan untuk melakukan sesuatu atau telah selesai melakukan sesuatu: apa yang saya dapatkan dari ini semua?
hal ini yang muncul di kepala saya ketika suatu pagi saya melemparkan pandangan ke arah pohon-pohon hijau belantara dan bertanya dalam hati: apa yang saya dapatkan dari Manglayang dari pagi kemarin hingga pagi ini?
Lautan awan? Tidak.
Sungai bintang? Tidak.
Medan yang menyenangkan? Tidak. Tidak. Tidak. Tidaaak!!
Lalu apa?
Kemudian saya melihat keempat teman perjalanan saya. Ada Stella yang super gesit sedang sibuk merapikan barang-barang di tenda, Ada Bajaj yang selalu semangat kalau ketemu panci dan penggorengan untuk menyiapkan makanan kami (untuk yang kesekian kalinya terhitung dari sarapan kemarin saat kami memulai penanjakan), ada Bang Binsar yang punya banyak cerita tentang gunung-gunung yang sudah ia kunjungi dan Kiki yang yang selalu bereksperiman dengan campuran minuman dan makanannya. Semua unik, dan menyenangkan bisa mengenal mereka.
Lalu saya tersenyum. Tidak lagi bingung dengan jawaban atas pertanyaan "apa yang saya dapatkan?" karena saya sudah punya jawabannya :)
Perjalanan kemanapun akan menyenangkan bila bersama orang-orang yang menyenangkan. Dan lagi, seperti tulisan saya di perjalanan SEMERU, alam adalah ruang kelas yang tidak memiliki dinding batas. Gunung, laut atau hutan belantara bisa menjadi guru terbaik, tapi sama halnya dengan ruang kelas, proses belajar tidak melulu dari guru kepada muridnya. Di ruang kelas, murid bisa belajar bagaimana caranya bersosialisasi dengan sesama teman. Murid bisa belajar dari buku-buku atau gambar-gambar pahlawan yang digantung di dinding-dinding kelas. Begitupun saya sebagai murid di perjalanan ke Manglayang kali ini.
Mungkin Manglayang tidak banyak mengajarkan apa-apa selain:
1) Pakai sepatu gunung saat mendaki kalau tidak mau jatuh bangun dan kaki memar-memar setelahnya
*mandangin memar dan beberapa luka gores di kaki yang belum juga hilang*
2) Kalau didekati lebah jangan bilang "pait-pait" tapi bilang aja "sayamanis-sayamanis" dijamin lebahnya langsung pergi karena eneg ngedengernya. Eh tapi serius lho ini! Di Manglayang banyak lebah!
Sejauh itu, ya begitu-itu... tapi ada hal lain yang bisa saya pelajari selain hal-hal teknis di atas. Saya belajar bagaimana manusia bisa saling berinteraksi satu sama lain. Saling melengkapi dan menyemangati. Bagaiman saya bisa berinteraksi kepada diri saya sendiri. Menawar-nawar agar jangan dulu semangat dicabut dari kaki yang sudah terasa lelah dan nyeri saat melangkah, dan hal lain seperti...
Pelajaran pertama, kalau selama ini kita diajarkan untuk tidak menilai buku hanya dari sampulnya, maka kali ini marilah kita tidak meng-underestimate gunung dari ketinggiannya. 1818 jelas bukan angka yang menyeramkan bahkan bagi pendaki pemula seperti saya, tapi kenyataan harus ikhlas diterima dengan lapang dada, saat medan Manglayang jauh lebih ganas dari yang saya perkirakan. Tanjakan. Tanjakan. Tanjakan. Dan tanjakan.
*izin garuk-garuk tanah sembari main sama lebah dulu, boleh?*
Pelajaran kedua, saat langkah pertama sudah dibuat maka itu artinya tujuan akhir telah diputuskan. Selesaikan perjalanan, walau mungkin perjalanan berikutnya tidak membawamu kepada harapan yang diinginkan. Karena pada akhirnya saya mulai memahami bahwa hidup tidak selalu tentang mendapatkan apa yang kita inginkan, tapi juga menyelesaikan apa yang telah kita mulai. Setidaknya, dari perspektif ini saya belajar untuk bertanggungjawab dengan keputusan yang telah dibuat. Jangan pernah takut dengan medan yang terjal, berpasir atau berbatu, takutlah dengan rasa takutmu sendiri yang bila sampai kamu menangkan bisa jadi membuat mu menjadi jiwa yang kerdil, jiwa yang ketakutan dan mudah menyerah. MERDEKA!!
*entah kenapa gue berasa jadi inspektur upacara di hari kebangkitan nasional nulis kata-kata seperti ini*
Pelajaran ketiga, jangan pernah takut untuk tidak mendapatkan apa-apa. Karena atas usaha yang keras, tidak mungkin bila kita tidak mendapatkan apa-apa.
Kami memilih jalur Baru Bereum di mana pada akhirnya kami tahu jalur ini lebih sering dipilih pendaki untuk turun bukan untuk naik. Jadi, waktu itu, kemirisan dan rasa sesal yang terasa adalah saat berpapasan berkali-kali dengan orang yang turun daripada yang naik. Dan sesuatu itu tidak selalu tentang hal yang bisa ditunjukan atau bahkan sekedar diceritakan. Belajar untuk percaya dengan waktu dan proses pendewasaan yang semesta berikan kepada kita. Tenang saja. Pada akhirnya atas semua usaha yang sudah dilakukan, kita pasti mendapatkan sesuatu yang cepat atau lambat akan kita rasakan, atau paling tidak akan kita pahami nantinya.
Pelajaran keempat, ya itu tadi... kalau dihinggapi lebah jangan bilang "pait-pait", tapi "sayamanis-sayamanis", dijamin lebahnya langsung pergi: DIJAMIN!
selamat mencoba!
Akhirnya kami berlima sampai di puncak MANGLAYANG yang tak seperti puncak gunung kebanyakan. 1818mdpl. Kami berlima makan siang dnegan makanan buatan Bajaj: Spageti, puding coklat, roti bakar dan kurma Tunisia.
Menu makan kami nggak nyambung? Please ga usah dibahas. Yang penting kami bahagia.
Kami menikmati perjalanan kami walau harus melewati medan yang cukup curam dan merasa semua di luar perkiraan;
Kami menikmati perjalanan kami walau harus minum air mentah di sungai yang rasanya "ada manis-manisnya gitu" dan ada "manik-manik hitam"-nya;
Kami menikmati perjalanan kami walau di puncak kami menemukan sosok mas-mas yang sangat percaya diri dengan setelah celana pendek dan blazer, di puncak Manglayang (kita sih berprasangka baik aja, mungkin mas itu sejenis fashion blogger di alamat blog www.fashionapaajabolehdeh. com entah-lah);
Kami menikmati perjalanan kami walau saat turun harus bertemu dengan segerobolan ABG labil yang mana ceweknya berteriak ke cowoknya "Cowok mah gitu, habis manis sepah dibuang! udah minta tolong difotoin terus kita ditinggalin!" , benar-benar luar biasa anak muda jaman sekarang.
Intinya, semua hal yang terjadi tidak selalu sesuai dengan perhitungan yang kita buat, tapi jika memang benar-benar tidak sesuai dengan perhitungan kita, yang bisa kita lakukan adalah HADAPI DAN BERSENANG-SENANGLAH! Karena itu artinya ada rencana TUHAN yang lebih baik dari perhitunganmu yang sedang menunggu di depan mata!
Tuesday, September 22, 2015
Sastra dan Rasa
Tuesday, September 15, 2015
PAHAM
Kita butuh (sekali-kali) untuk terluka,
agar kita paham, alam punya caranya sendiri dalam penyembuhan.
Hingga nanti, saat kita terluka lagi, kita akan jauh lebih tenang,
lebih bijaksana, karena kita paham: cepat atau lambat, luka akan menghilang.
Kita akan menyembuhkan diri kita sendiri dari rasa sakit,
kita akan baik-baik saja.
Kemudian, kita tak terlalu takut lagi untuk terluka.
JANJI
Untuk September ini hingga nanti menyambut Januari...
Berjalan sajalah jika kau lelah untuk berlari,
berjalan lebih pelan sajalah jika lelah sudah semakin menjadi-jadi,
merangkak sajalah jika memang sudah sulit untuk sekedar berdiri,
Apasajalah...
asal jangan berhenti.
begitu saja, sudah cukup.
Annisa Rahmah
Berjalan sajalah jika kau lelah untuk berlari,
berjalan lebih pelan sajalah jika lelah sudah semakin menjadi-jadi,
merangkak sajalah jika memang sudah sulit untuk sekedar berdiri,
Apasajalah...
asal jangan berhenti.
begitu saja, sudah cukup.
Annisa Rahmah
Saturday, July 25, 2015
Rumah dan Rindu
Untuk setiap sudut yang pernah kau habiskan dengan tawa dan air mata; keramaian dan kesendirian; kesibukan dan kebosanan; atau mungkin kau habiskan untuk merebah lelah dan melepas penat, maka pantas kau sebut RUMAH. RUMAH adalah tujuan terakhir yang kau punya saat kau kebingungan untuk menentukan tujuan, karena selalu ada alasan untuk pulang ke RUMAH. Entah suasana ataupun segala hal yang ada di dalamnya.
Saat kau memutuskan untuk pergi, karena kau HARUS pergi, maka selalu saja ada sepotong hatimu yang kau tinggal di RUMAH. Sepotong hati tentang segala rasa yang bersumber dari kenangan yang kau ciptakan di dalamnya. Sepotong hati ini yang akan memanggil bagian hati yang kau bawa pergi untuk sesegera mungkin PULANG.
RUMAH bagi saya adalah sumber kerinduan.
Tempat saya menyulam waktu dalam sebuah rindu.
Tempat di mana saya merasa saya tidak perlu menjadi siapa-siapa selain diri saya sendiri.
Tempat saya akan selalu diterima kapanpun dan dalam kondisi apapun.
Tuesday, July 14, 2015
(semacam) LAPORAN PERTANGGUNGJAWABAN DANA PRODJEK BAHAGIA
Terimakasih karena telah bersedia untuk berbahagia bersama...
Terimakasih karena telah membuktikan bahwa niat baik akan selalu dibukakan jalan serta kemudahan...
Terimakasih karena telah bersedia berbagi dan menciptakan kebahagiaan yang lain kepada lebih banyak orang...
Terimakasih karea telah turut serta secara fisik maupun doa...
Terimakasih untuk semua hal yang karena kalian banyak kebahagiaan tercipta, dan semuoga juga di hati kita.
Berikut laporan pertanggungjawaban penggunaan dana yang kita kumpulkan sama-sama dan kita bagikan sama-sama dalam PRODJEK BAHAGIA di Bulan penuh cinta ini.
Total dana yang terkumpul Rp22.745.000,-
Momen-momen BAHAGIA saat menyalurkan dana umat oleh para Relawan Prodjek BAHAGIA
Santunan Panti Asuhan (Buka Puasa Bersama, Makan Sahur, Santunan Dana Kas, Santunan Paket Sembako)
Pengadaan dan distribusi Perlengkapan Shalat yang disebar di tempat-tempat umum baik di wilayah Jakarta maupun Jogjakarta
Transfer Dana untuk Korban Rohingya melalui ACT (hingga saat ini, bukti pembayarannya belum diemail, tapi insya Allah dana kita sudah sampai di ACT dan insyaAllah akan disampaikan)
Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ الْمُصَّدِّقِينَ وَالْمُصَّدِّقَاتِ وَأَقْرَضُوا اللَّهَ قَرْضاً حَسَناً يُضَاعَفُ لَهُمْ وَلَهُمْ أَجْرٌ كَرِيمٌ
“Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipat-gandakan (ganjarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak.” (Qs. Al Hadid: 18)
Sekali lagi terimakasih...
Pun kepada Allah SWT, saya bingkiskan terimakasih yang luar biasa dari hal-hal yang tak sengaja saya pelajari dalam kegiatan PRODJEK BAHAGIA ini.
Kepada kalian, para pencipta kebahagiaan,,, semoga kita bisa bertemu di Ramadhan berikutnya. Di Prodjek Bahagia selanjutnya. Dengan lebih banyak kebahagiaan yang bisa kita usahakan dan ciptakan.
Jangan lupa tersenyum,
Jangan lupa bersyukur,
Jangan lupa berbahagia...
Terimakasih karena telah membuktikan bahwa niat baik akan selalu dibukakan jalan serta kemudahan...
Terimakasih karena telah bersedia berbagi dan menciptakan kebahagiaan yang lain kepada lebih banyak orang...
Terimakasih karea telah turut serta secara fisik maupun doa...
Terimakasih untuk semua hal yang karena kalian banyak kebahagiaan tercipta, dan semuoga juga di hati kita.
Berikut laporan pertanggungjawaban penggunaan dana yang kita kumpulkan sama-sama dan kita bagikan sama-sama dalam PRODJEK BAHAGIA di Bulan penuh cinta ini.
Total dana yang terkumpul Rp22.745.000,-
Momen-momen BAHAGIA saat menyalurkan dana umat oleh para Relawan Prodjek BAHAGIA
Santunan Panti Asuhan (Buka Puasa Bersama, Makan Sahur, Santunan Dana Kas, Santunan Paket Sembako)
Pengadaan dan distribusi Perlengkapan Shalat yang disebar di tempat-tempat umum baik di wilayah Jakarta maupun Jogjakarta
Transfer Dana untuk Korban Rohingya melalui ACT (hingga saat ini, bukti pembayarannya belum diemail, tapi insya Allah dana kita sudah sampai di ACT dan insyaAllah akan disampaikan)
Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ الْمُصَّدِّقِينَ وَالْمُصَّدِّقَاتِ وَأَقْرَضُوا اللَّهَ قَرْضاً حَسَناً يُضَاعَفُ لَهُمْ وَلَهُمْ أَجْرٌ كَرِيمٌ
“Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipat-gandakan (ganjarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak.” (Qs. Al Hadid: 18)
Sekali lagi terimakasih...
Pun kepada Allah SWT, saya bingkiskan terimakasih yang luar biasa dari hal-hal yang tak sengaja saya pelajari dalam kegiatan PRODJEK BAHAGIA ini.
Kepada kalian, para pencipta kebahagiaan,,, semoga kita bisa bertemu di Ramadhan berikutnya. Di Prodjek Bahagia selanjutnya. Dengan lebih banyak kebahagiaan yang bisa kita usahakan dan ciptakan.
Jangan lupa tersenyum,
Jangan lupa bersyukur,
Jangan lupa berbahagia...
Subscribe to:
Posts (Atom)










































































