Wednesday, May 29, 2013

"MENGGENAPI"

Rabu, 29 Mei 2012




Hari ini, ada kejadian beberapa detik yang membuat saya berpikir cukup lama.
Sebuah pemandangan sepasang buta yang berjalan beriringan di pinggiran jalan di tengah siang yang terik.
Pemandangan itu hadir begitu saja di depan mata ketika saya memarkirkan mobil saya. Awalnya perhatian saya berfokus akan kekhawatiran saya jikalau sepasang buta tadi menabrak mobil saya yang terparkir. Bukan karena takut mobil saya lecet, sama sekali bukan. Tapi jelas mobil saya mengganggu jalan sepasang buta ini.Bagaimana kalau mereka terjatuh atau mungkin kesulitan mencari jalan karena terhalan sebuah mobil.

Semakin mendekat sepasang buta tadi ke arah mobil saya. Saya memutuskan untuk turun dan berniat untuk mengarahkan sepasang buta tadi, yang umurnya sudah terbilang tua. Tapi... sebelum saya turun, ternyata tongkat si Bapak sudah menyentuh mobil saya. Tampak mereka sedikit keingungan mencari "celah" jalan, dan entah mengapa, saya hanya terdiam memerhatikan.

"Pelan-pelan Pak, sepertinya ada mobil" ujar (yang kemungkinan besar)istrinya--yang juga buta
"Iya, Bu! sebentar ya... Ibu di belakang Bapak saja, jangan terlalu pinggir, kendaraannya banyak"

Perlahan demi perlahan si Bapak berjalan sambil meraba badan mobil saya. tangan kirinya meraba mobil, dan tangan kananya memegang tangan istrinya.

Saya hanya beridiri terdiam. Memerhatikan, dan memastikan mereka tidak diserempet oleh kendaraan yang lalu-lalang.

Beberapa detik kemudian mereka hilang dari tatapan saya.

Tapi dialog singkat yang keluar dari mulut mereka membuat saya tidak henti-hentinya berpikir...


Rasanya, tidak ada yang harus dipinta ketika kita telah menemukan seseorang yang menggenapi hidup kita. Dan hari ini saya sadar, bahwa arti "menggenapi" tidak selamanya berarti pasangan kita bisa menutupi kekurang yang kita miliki atau sebaliknya. Sepasang buta tadi membuat saya belajar, bahwa "menggenapi" juga berarti saling menguatkan, saling menjaga, saling percaya bahkan di dalam keadaan yang sama-sama berkekurangan.


Saat kita lemah, sesungguhnya yang kita butuhkan bukanlah orang yang kuat. Tetapi orang yang mampu menguatkan.

Saat kita jatuh, sesungguhnya yang kita butuhkan bukanlah orang yang mampu memapah atau menggendong kita. Tetapi orang yang mampu meyakinkan kita bahwa kita bisa melanjutkan perjalan.

saat kita tidak tahu, sesungguhnya yang kita butuhkan bukanlah orang yang serba tahu. Akan tetapi orang yang mampu mengarahkan kita pada jawaban.





Karena, siang ini, saya mulai paham; bahwasanya "menggenapi" bukan tentang memberi isi ke dalam wadah yang kosong. Tapi mungkin, "menggenapi" tentang memberikan makna tersendiri bahkan untuk sebuah wadah yang tak berisi apa-apa.


Bukankah Tuhan memang selalu seperti itu? memberikan makna dan kebijaksanaan tersendiri pada semua hal yang ada di bumi ini. Karena tidak ada hal yang tidak bermakna di bumi ini, mungkin yang ada adalah hal lupa kita maknai...

Wednesday, April 10, 2013

Tidak Selalu Tahu




Kita tidak pernah tahu kemana pada akhirnya kita memutuskan kaki kita untuk melangkah. Kepada siapa hati kita untuk mencintai. Atau ditempat seperti apa kita akan menghabiskan sisa waktu kita di bumi ini.

Manusia punya kebebasan untuk merencanakan kehidupan yang terindah untuk dirinya. Tapi Tuhan punya kekuasaan untuk menentukan kehidupan yan terbaik untuk umatNya. Jadi jangan takut. Jangan takut tersesat. Jangan takut dengan gelap yang sementara atau kesepian yang hanya sesaat.

Jangan takut dengan perasaan ‘tertinggal’. Karena Tuhan selalu setia berjalan beriringan bersama umat yang percaya kehadiranNya. Jangan takut untuk merasa lelah. Jangan menyerah hanya karena sedikit luka dan beban yang kau rasa membuat hidupmu payah. Jangan.


Karena saat kau memilih untuk tetap berjalan dengan luka-luka itu, kau sedang memilih untuk menjadi satu dari sekian banyak manusia yang berproses menjadi kuat.

Di suatu saat ketika kau sungguh merasa sekarat, maka beristirahatlah dalam gelap. Cobalah untuk menyapa dirimu sendiri. Akuilah kelelahan yang kau punya. Gunakan air mata yang Tuhan bekalkan untuk menghapus sedihmu. Lalu berjalanlah lagi sesuai apa yang hatimu katakan. Percayalah, kaulah yang terbaik untuk kehidupanmu sendiri.

Hidup tidak akan berakhir hanya karena satu atau dua masalah yang datang.
Hidup tidak akan berhenti hanya karena satu atau dua orang yang peri meninggalkanmu. Tidak.


Hidupmu akan terus berjalan selama kau masih menginginkannya.
Hidupmu akan terus berjalan selama kau masih memperjuangkannya.
Hidupmu akan terus berjalan selama kau masih mau menerimanya sebagai berkah yang tidak semua mahkluk dapatkan.


Saya belum pernah bertemu dengan Tuhan. Belum pernah melihat Tuhan. Belum pernah mengobrol langsung bersama Tuhan.
Tapi saya percaya Tuhan tidak akan terlalu iseng untuk menciptakan manusia tanpa misi kehidupan. Tuhan menciptakan mahkluk satu dengan mahkluk lainnya, manusia satu dengan manusia lainnya tidak lain untuk saling mengenal dan memahami. Kita tidak pernah tau, sangat mungkin seorang manusia yang merasa tidak berarti tanpa ia sadari mampu menginspirasi manusia lain. Kita tidak pernah tau, saat kita menangis dan mengaku sebagai manusia terbodoh, ada manusia lain yang belajar dari kehidupan kita.

Kita tidak selalu tau dan sadar tentang ini, teman...

Kita tidak selalu tahu betapa berharganya hidup yang kita miliki...

Kita tidak selalu tahu bagaimana merasa bersyukur dan terberkati...

Kita tidak selalu tahu tentang hal-hal ini,


Terkadang saya pun begitu...


Friday, April 5, 2013

JATUH-CINTA, PATAH-HATI



Malam ini saya berpikir, mungkin benar bahwa cinta (sesungguhnya) milik manusia yang sunguh-sungguh mencintai. Manusia yang sungguh-sungguh akan bersedih ketika cintanya pergi dengan seribu alasan atau mungkin tanpa alasan sama sekali...



Siapa yang belum pernah merasakan jatuh cinta? Mungkin untuk manusia seumuran saya, pertanyaan tadi hanya sejenis retorika yang tidak perlu dijawab. Tapi ketika pertanyaan saya ubah menjadi, Siapa yang belum pernah merasakan patah hati? Mungkin ada satu, dua atau tiga manusia yang menyebut namanya, termasuk saya sendiri.
Entahlah, menjadi manusia yang tidak pernah merasakan patah hati sebenarnya bukan sebuah prestasi hidup yang cukup bisa dibanggakan (tapi cukup bisa untuk disyukuri ;p ) menurut saya. Bukan saya ingin merasakan patah hati. Tapi mungkin, setiap manusia perlu tahu tentang patah hati itu sendiri. Bukan untuk dirinya sendiri, tapi untuk menjadi penguat ketika orang terdekat kita mengalami patah hati. Untuk melahirkan empati atau simpati bagi mereka yang sedang patah hati.

Sempat saya pernah merasa sangat begitu arogan atas perasaan seseorang. Tumbuh dengan doktrin menjadi wanita yang mandiri, saya tidak terlalu sering menggantungkan kehidupan saya dengan banyak orang. Terbiasa menyembuhkan rasa lelah sendiri. Terbiasa menghilangkan rasa takut sendiri. Terbiasa untuk mengahapus rasa lemah dengan mendoktrin diri bahwa saya bisa mengerjakan semuanya sendiri. Saya tumbuh dengan rasa kepekaan yang (mungkin) tidak seharusnya. Saya tidak terlalu suka dengan adegan dramatikal dimana wanita menangis-nangis karena ditinggal lelakinya, atau sebaliknya, laki-laki yang harus mengemis-ngemis cinta wanita yang sesungguhnya tidak terlalu pantas untuk diperjuangkan. Saya terbiasa dengan putaran hidup saya yang menurut teman-teman saya terlalu logis dan kadang tidak berperasaan. Iya.. tidak berperasaan...

Kejadian ini akan selalu saya ingat, saya camkan, dan saya pahami sebagai pelajaran hidup.

Sekitar tiga tahun yang lalu, sahabat saya patah hati untuk kesekian kalinya oleh lelaki yang sama. Saat itu, di patah-hati-nya yang kedua, kemudian dia jadian untuk ketiga kalinya (lagi) dengan-laki-laki-yang-sama, saya berucap “besok-besok kalau lo balikan lagi sama dia, terus lo nangis kaya gini, please jangan cari gue. Dari awal gue udah peringatin lo. Gue ga mau maksa apapun keputusan lo, gue yakin lo dah cukup dewasa untuk mengambil langkah. Tapi itu tadi... kalau dia nyakitin lo kaya kemaren-kemaren,, lo jangan hubungin gue”.


Tidak sampai sebulan, sahabat saya kembali patah hati untuk ketigakalinya. Dan bisa ditebak, yang saya lakukan adalah menghindar. Menjauh. Bukan karena tidak peduli, tapi saya menghindari hal buruk yang mungkin saya ucapkan kepada dia yang kondisinya sedang labil. Melihat tingkah depresi sahabat saya, dan kondisi saya yang “terlihat” acuh dan menjauh, sahabat saya yang lain mengajak saya berbicara.. kurang lebih pembicaraannya seperti ini...

Sahabat 1 : Lo kenapa ngejauh sih, Sa? Bukannya lo paling deket sama dia?
Saya : Gue udah peringatin dia dari awal enggak sekali-dua kali, berkali-kali, jadi biar dia belajar untuk bertanggungjawab dengan dirinya sendiri. Bertanggungjawab sama pilihannya sendiri.
Sahabat 2 : Tapi dia butuh support kita semua... kondisinya sekarang lebih parah dari yang kemarin-kemarin..
Saya : Kan ada lo berdua.
Sahabat 2 : Sa,,, lo ga bisa gitu...
Saya : Gue Cuma mau dia sadar! Dia udah dewasa! Harusnya bisa memprioritaskan mana masalah yang penting dan yang kurang penting!
Sahabat 1 : Kurang penting? Maksud lo?
Saya : Ya liat aja,,, ngapain juga harus nangisin cowok enggak penting kaya si itu!!
Sahabat 1 : Cowok itu memang enggak penting buat elo, enggak penting buat kita!! Tapi bukan berarti cowok itu enggak penting juga buat sahabat kita!! Kita enggak pernah tahu seberapa besar perasaan yang sahabat kita punya untuk cowok itu!! Lo enggak boleh egois dengan segala pemikiran lo, Sa!


Saat itu,,,

saya diam.

Saya akui bahwa apa yang dikatakan sahabat saya benar. Kita tidak pernah tahu seberapa besar rasa bahagia dan harapan yang dimiliki seseorang yang sedang jatuh cinta. Kita tidak pernah tahu seberapa besar mimpi dan janji yang menghiasi kepala-kepala mereka yang sedang mabuk asmara. Dan kemudian... kita tidak pernah tahu seberapa dalam luka yang tertinggal di hati mereka yang sedang patah hati. Ketika cinta yang membuncah-buncah tadi, harapan yang mengawang-ngawang indah pergi begitu saja tanpa permisi. Iya. Benar. Kita tidak akan pernah tahu seberapa perasaan yang disimpan oleh setiap insan ketika itu berkaitan dengan jalinan sayap cinta dan harapan. Lalu kemudian “patah” begitu saja.

Tidak ada panduan yang berlaku secara baku: bagaimana jatuh cinta yang benar; atau; bagaimana cara menghadapi patah hati yang tidak berlebihan. Tidak ada. Dan saya rasa tidak akan pernah ada. Karena sekarang saya paham, cinta datang dengan cara yang berbeda dan tidak sama antara manusia satu dengan manusia lainnya. Begitupun ketika kau merasa patah hati. Hati akan melepas ikhlas dengan jangka waktu yang berbeda ketika harapan cinta itu pecah berkeping-keping. Ditambah lagi kerja otak yang sulit diharmonisasikan dengan kondisi hati yang ingin segera melupakan kenangan-kenangan yang pernah ada.

Akan tetapi...

Lepas dari itu semua, bukankah Tuhan selalu punya rencana rahasia dibalik kehidupan manusia?

Hati itu dipilih, bukan memilih. Tak perlulah kita terlalu memaksakan diri untuk mencintai seseorang karena sebuah alasan yang diada-adakan.

Hati cukup dewasa untuk mencintai seseorang dengan “begitu saja”.

Hingga saatnya, kita bisa memahami bahwa jatuh cinta bisa kepada siapa saja. Kapan saja. Entah kapan. Entah dengan siapa. Tanpa perkiraan yang pasti, tanpa pendugaan yang jelas. Mengalir begitu saja.

Buat dirimu yang sedang jatuh cinta, sedang merasa cukup mampu menyanyangi dan disayangi, saya ucapkan selamat menikmati keindahan itu...

Buat dirimu yang terluka, lunglai karena separuh hati yang hilang,,,
Maka bertahanlah untuk tetap menguatkan diri terus melangkah menjauhi masa lalu itu.

Atas semua rasa bahagia dan rasa sakit itu, yakinlah Tuhan sedang “mengerjakan” sesuatu untuk kebaikan hidup kita.



Saturday, February 16, 2013

Love You Forever




"I love you forever, I like you for always as long as I'm living.. my baby... you'll be"

Seorang Ibu akan selalu menganggap anaknya selayaknya bayi kecil yang harus dilindungi, dipeluk dengan hangat dan dibelai dalam kelembutan kasih sayang, seberapapun sesungguhnya kita telah tumbuh menjadi dewasa...
Seorang Ibu akan selalu mencoba sekuat tenaga untuk memberikan yang terbaik untuk anaknya, dengan cinta, dengan usaha yang kuat dan dengan keinginan yang besar, tak peduli semandiri apa anaknya telah tumbuh menjadi dewasa...
Seorang Ibu akan selalu menginginkan untuk terus menimang anaknya dalam pelukan yang hangat, nyanyian yang merdu dalam suara  yang sayup-sayup untuk mengantarkan buah hatinya lelap dalam kenyamanan...

Seorang Ibu selalu ingin menjadi malaikat pelindung bagi anaknya... melupakan putaran waktu yang diam-diam mencuri kekuatannya dan membuatnya menua dan lemah...

Tuhan... jangan biarkan aku melupakan semua ini...
Ingatkan aku untuk menjadi dewasa tanpa melupakan Ayah dan Ibuku yang semakin menua...
Ingatkan aku dengan semua pelukan, ciuman dan dongeng-dongeng yang diceritakan padaku setiap malamnya...
Ingatkan aku dengan semua peluh yang menetes di dahi mereka untuk memberikan apa yang kuperlukan atau hadian yang kuinginkan...
Ingatkan aku dengan harapan-harapan yang sering terucap lewat bibir-bibir mereka; harapan untuk melihat anak-anaknya memiliki kehidupan yang penuh dengan kebahagiaan...

Tuhan...
Jangan panggil mereka sebelum aku membuat mereka bahagia...


Jangan panggil mereka sebelum aku bisa menjadi malaikat pelindung mereka di saat-saat waktu terang-terangan mencuri kuat dan membuat mereka menua...


-Annisa-

Monday, January 21, 2013

TIPE LAKI-LAKI YANG HARUS DIAWASI

Sebenar saya sudah sekuat tenaga agar tidak menulis ini,saya takut akan menyinggung perasaan beberapa orang. Tapi, setelah saya pikir pikr lagi, demi kepentingan kaum wanita, saya beranikan untuk menulis ini.

Ini bukan tentang pengalaman pribadi saya. Bukan.
Pengalaman dari beberapa orang teman yang bercerita tentang kebingungan mengahadapi seorang laki-laki yang istilahnya sekarang "PHP" atau "Pemberi Harapan Palsu". Yah, mungkin tidak hanya laki-laki yang bisa mem-PHP-kan wanita, sebaliknya, mungkin juga di luar sana banyak wanita yang mem-PHP-kan laki-laki. Sudahlah. Tidak Penting siapa yang mem-PHP-kan siapa. Tapi, ada baiknya kita sama-sama menyimak gelagat (dalam konteks ini) laki-laki yang mencoba mem-PHP-kan wanita.

1. "Masih Banyak Ikan di Lautan"
Hindari laki-laki yang memiliki prinsip seperti poin di atas. Terkadang ucapan "Masih Banyak Ikan di Lautan" sering diucapakan untuk menghibur kawan atau kerabat kita yang sedang dirundung kesedihan karena putus cinta. Akan tetapi, ada baiknya mulai saat ini kita tidak mengucapkan hal ini lagi. Kenapa? Karena tak seharusnya kita menyamakan "proses pencarian pasangan" dengan "proses pencarian ikan". Dengan pola pikir seperti ini akan cenderung membuat kita gonta-ganti pasangan. Belajarlah tentang kesetiaan bersama waktu. Pemahaman mencari bukan berarti gonta-ganti. Jika kamu baru putus, berpikirlah, bahwa Tuhan sudah mempersiapkan yang terbaik untuk kamu. Atau, mantan kamu terlalu bagus untuk kamu, jadi biar bisa balikan lai sama mantan, ya kamu harus memantaskan diri kamu sendiri dulu!
Baik kamu laki-laki maupun wanita (yang sudah memiliki pasangan), mulai sekarang lihatlah pasangan kamu sebagai seseorang yang pantas di pertahankan. Karena seribu juta ikan di laut pun tidak akan memberi ketenangan di hatimu yang kosong ketika ditinggal olehnya... karena pasanganmu bukan ikan, dia sesuatu yang pantas kamu perjuangkan.

Buat yang belum punya pasangan, kalian harus ekstra hati-hati! Laki-laki yang benar-benar menginginkanmu tidak akan sibuk dengan rayuan lewat telepon, sms atau sosmed lainnya. Jika ia serius, ia pasti akan bertemu dan mengajak kamu ngobrol secara langsung. Melakukan hal-hal yang lebih patriotik dan nyata buat kamu. Satu lagi, kalau dia benar-benar mengininkan kamu, dia enggak akan malu buat nunjukin perhatiannya di depan banyak orang. Dia ingin nunjukin bahwa hanya kamu yang ia perjuangkan! Berbeda dengan si "Penebar Jaring", biasanya dia akan lebih memilih pendekatan "sembunyi-sembunyi" biar gebetan yang lain enggak tahu kalau dia lagi ngedeketin kamu dan teman-teman kamu.


2. Pembagian wilayah antara Facebook dan Twitter
Ini pengalaman sahabat saya. Suatu ketika di tengah malam saya memerhatikan timeline teman saya--yang sebut saja Bunga--dengan teman laki-laki saya juga--yang sebut saja Ular berbisa. Maklumlah perempuan, rasa penasarannya 10x lipat dari rasa penasaran laki-laki kalau sudah urusan pertemanan. Saya cek TL si Bunga. Kemudian saya cek TL si ular berbisa. Oke! Fix. Ular berbisa sedang melakukan manuver pendekatan kepada si Bunga! Tapi... saya baru ingat, kalau Ular Berbisa sudah punya pacar. Kemudian saya langsung me-Whatsapp si Bunga:

Saya : Bunga, kayaknya lo akrab banget di TL sama si Ular Berbisa?

Bunga : Iya, Sa. Akhir-akhir ini aku lagi deket sama dia. Dia baik, perhatian banget, suka ingetin aku solat, suka nelepon aku dst..

Saya : Bukannya dia jadian sama--sebut saja--Mawar?

Bunga : Dia udah putus, Sa, sama Mawar... itu dia, awal kita deket karena dia curhat soal Mawar,, kalau dia ga betah sama Mawar yang... dst...

[saya dalam hati : Ah! gue mencium gelagat busuk nih dari si Ular Berbisa! gue kenal banget nih kelakuan yang kaya begini! saya langsung buka facebook dan kembali meng-KEPO profil Ular berbisa dan si Mawar]

Benar dugaan saya!! Ular Berbisa memang udah putus sama Mawar, tapi... Ular Berbisa terus-terusan nge-wall si Mawar yang isinya rayuan dangdut pantura banget deh! kemudian saya kembali me-whatsapp si Bunga untuk meyakinkan apakah dugaan saya akan modus yang digunakan Ular Berbisa ini benar...

Saya : Bunga, si Mawar punya twitter ga?

Bunga : Enggak Sa... kenapa?

Saya : Eh Bunga... Kayanya FB lo jarang buka FB ya? kenapa?

Bunga : Semenjak putus sama Mr.X gue males Sa buka FB!


BINGGO!! Tepat dugaan saya!! si Ular berbisa ini memang paling jeli melihat kondisi. Di FB dia "ngais-ngais ke mantannya biar balikan" karena dia tahu si Bunga kurang up-to-date di FB, di twitter dia "masang jaring" buat ngisi kesepiannya dia ke Bunga, karena si mantan enggak punya twitter yang bisa merhatiin kelakuan dia!! ERRRR... cowok begini mending namanya di tip-Ex aja dari masa lalu sampai ke masa depan kalian deh, wahai para wanita!!


3. Malu-malu Kucing

Tipe kaya ini juga sering di temukan di belantara kehidupan percintaan anak muda! Mungkin beberapa dari kalian (wahai wanita) pernah mendapatkan sebuah puisi romatis nan melankolis dari seorang pria yang belum kalian kenal. Atau mendapatkan pujian lewat sms yang sebenernya bikin mata kalian agak berkedut saat membacanya alias berlebihan. Tapi, berhubung kalian wanita yang baik, bersahaja dan tidak sombong, kalian membalas dengan seadanya agar tidak menyingung perasaannya. Keesokan harinya kalian bertemu langsung dengan laki-laki yang rajin ngirim puisi tersebut. Kalian sudah siap senyum kalau-kalau dia menyapa duluan. Tapi apa daya, dia malah buang muka dan pergi saat melihat kalian.
Beberapa orang menganggapnya itu adalah bentuk rasa "salah tingkah", malu, grogi saat melihat wanita yang mereka suka. Tapi... bagi saya, bukankah seorang laki-laki harus tahu dengan jelas apa yang ia inginkan dan tidak ia inginkan? Bukankah seorang laki-laki adalah calon pemimpin keluarganya. Kalau ia tidak bisa menaklukan rasa ketakutan dan groginya saat melihat kamu, bagaimana dia menaklukan rasa-rasa negatif lainnya untuk hal yang ingin ia dapatkan di masa depan?


Kembali ke realita...

Tapi kita juga harus realistis. Enggak bisa juga kita mengeneralisasi semua lelaki dengan gelagat di atas itu menjadi lelaki yang kurang baik. (semacam) Artikel di atas hanya bentuk kepedulian saya untuk teman-teman wanita yang lain. Sudah banyak air mata yang saya dapatkan dari teman-teman terdekat yang kemudian mendoron saya menulis (semacam) artikel ini.

Bisa jadi, sebenarnya ada beberapa wanita yang sudah mengetahui gelagat 'buruk" lelakinya tapi ia seolah-olah menyimpan perasaan ini sendirian karena takut kehilangan lelakinya. Atau kalian sudah cukup ikhlas memaklumi kelakuan "nakal" pasangan kalian. Sya tidak bisa berkomentar apa-apa, karena itu sudah menjadi pilihan kalian. Dan segala pilihan tentu ada konsekuensinya kan? seberapa lama kalian akan bertahan atau terus memaklumi hal-hal yang membuat hati kalian bebal dari rasa sakit?

Ah. Mungkin ini hanya sebuah tulisan sotoy dari saya. Tapi mungkin ini bisa menjadi refrensi untuk kalian semua para wanita untuk mendapatkan lelaki yang terbaik untuk mendampingi kalian... dan berhati-hati untuk tidak mudah ke-GR-an dengan perhatian yang diberikan para lelaki.

Kalian layak mendapatkan laki-laki yang benar-benar memperjuangkan kalian dan melihat kalian sebagai satu entitas yang tunggal, unik dan berharga :)


Note: Tulisan ini bukan untuk mendeskriditkan lelaki. Bukan. Saya percaya masih ada lelaki yang baik dan tulus untuk memperjuangkan wanitanya. Tulisan ini hanya satu perspektif dari seorang wanita--yaitu saya.

Tuesday, January 15, 2013

Melepaskan...




Setelah dihubungi seorang sahabat, saya memutuskan untuk membuat tulisan ini. Tulisan ini saya buat dengan segala kejujuran dan perasaan yang saya miliki. Tentang kenaifan yang saya dan beberapa wanita lain membawa-bawa atau mungkin menyimpan dalam kehidupannya. Cinta itu sesungguhnya sederhana—tentang memberi.

___

“Dia memilihku. Aku memilihmu tanpa aku tahu apakah kau juga akan memilihku. Entah sampai kapan hati kita saling berpaling . Hinga Tuhan turun tangan untuk membolak-balik salah satu hati di antara kita, untuk saling memilih atau saling melepaskan”



Untuk kau yang tak perlu kusebut siapa. Aku tahu kau akan tahu bahwa tulisan ini untukmu. Aku yakin kau memiliki radar seperti radar milikku yang kemudian memilihmu. Kau tahu, selama ini aku berjalan sendiri sambil memeluk keyakinan bahwa hati ini hanya akan kuberikan untukmu, yang tak pernah kutahu apakah kau benar-benar menginginkannya. Kuabaikan tangan-tangan yang mencoba menggengamku, yang menawarkan untuk berjalan beriringan bersamaku agar aku tak lagi berjalan sendirian. Benar aku menolaknya. Aku menolaknya karena (sekali lagi) hatiku hanya memilihmu.

Kau tahu. Di penantianku, berkali-kali kumemutuskan untuk melupakanmu. Hasrat itu datang ketika aku melihat kau berdiri bersisian dengan wanita yang jauh lebih indah daripada aku. Tak apa dengan kesendirianku selama ini, melihat kau bersama wanita yang lebih baik adalah takdir indah yang pasti akan kuterima. Walau hatiku memilihmu dan berharap kau memilihku, tapi jauh di dasar hatiku, aku hanya ingin melihat kau bahagia dengan wanita yang pantas. Siapapun dia.

Saat itu aku berjuang. Berjuang menyembuhkan rasa sakit itu sendirian. Berjuang membunuh semua harapan dan rindu yang selalu tertuju untukmu. Berjuang untuk tetap tersenyum riang ketika berpapasan denganmu. Berjuang untuk menenangkan setengah hatiku bahwa tanpa bayangmu, jiwa ini akan baik-baik saja. Berjuang untuk mengundang lupa yang kemudian membawa pergi dirimu dari kepalaku. Aku berjuang sekeras itu untuk melupakanmu, untuk menyembuhkan hatiku.

Anehnya, aku tetap tidak bisa menyerahkan hatiku pada mereka yang datang dengan genggamannya. Orang-orang di sekitarku mulai mengasihaniku. Dan akupun mulai mengasihani diriku sendiri. Tapi tidak sekalipun aku menyalahkanmu. Karena aku sadar, dari awal akulah yang memilihmu. Karena aku paham, dari awal akulah menciptakan perasaan ini sendirian. Sendirian, tanpa mencoba untuk sekedar memberitahu kepadamu tentang rasa ini. Tentang perasaan ini, akulah yang bertanggungjawab sepenuhnya. Setidaknya untuk diriku sendiri.

Wahai kau yang tak perlu kusebut namamu, lewat pembicaraan malam bersama sahabat, aku menyadari satu hal. Hati ini bukanlah milikku. Bukan sama sekali. Sesungguhnya aku salah ketika harus mengatakan bahwa aku telah memilihmu. Sesungguhnya aku tak memiliki hak untuk itu. Dan akhirnya malam ini aku sadari itu. Hatiku milik Tuhanku. Sepenuhnya milikNya. Maka malam ini aku merenungkan banyak hal; tentang aku yang menunggumu bertahun-tahun, tentang kau yang datang dan pergi, dan tentang dia serta mereka yang datang dengan ketulusan menyanjungku sebagai seorang wanita. Sampai pada satu titik penyimpulan hati dan perasaan, bahwasanya aku tak ingin menyakiti siapa-siapa termasuk hatiku sendiri. Sampai pada satu titik penyadaran bahwa aku harus melepaskan radar dan membiarkan hatiku memilih hati yang juga memilihku.

Tuhan Maha Pembolak-balik hati manusia. Hatiku, hatimu dan hatinya. Entah sampai kapan. Entah hati siapa di antara kita yang kemudian dibolak-balik untuk saling memilih atau mungkin saling melepaskan. Malam ini, lewat pembicaraan penuh makna dengan seorang sahabat, aku kemudian membisikan pada jiwaku bahwa aku melepaskanmu. Tak lagi mengharap kemungkinan-kemungkinan darimu. Datang dan pergilah sesukamu sekarang, aku sudah tidak akan terlalu peduli. Bukan karena aku lelah dengan penantian ini, bukan! Tapi tentang kepasrahan yang kulahirkan dan kesadaran yang hadir bahwa Tuhan pastilah memilihkan seseorang yang terbaik untuk menjaga hatiku kelak. Mungkin kau, mungkin dia, atau mungkin seseorang yang tak pernah kukenal selama ini.

Kau tahu wahai seseorang yang tak perlu kusebut namanya, walau selama ini aku memilih untuk terus berjalan sendiri, aku tak menyesal. Karena itu menjadikan aku menjadi wanita yang lebih kuat dan lebih pemberani. Aku tak pernah menyesal “menunggu”-mu selama beberapa tahun hidupku, karena kemudian dengan begitu aku menjaga hatiku untuk tidak kuberikan dengan mudah kepada lelaki yang menawarkan genggamannya kepadaku. Aku belajar untuk mengutuk segala perselingkuhan, bahkan sekedar berselingkuh hati. Aku memilih sendiri karena aku tidak pantas menerima segala sanjungan dari mereka sementara hatiku (dulu) terus tertuju kepadamu. Bagiku, oportunis untuk dicintai adalah hal yang tidak termaafkan. Aku ingin dicintai oleh lelaki yang jujur, dan untuk mewujudkan itu akupun harus jujur kepada diriku sendiri dan kepada siapapun. Aku tidak akan mengatakan aku cinta hanya agar aku dicintai. Bagiku mencintai seharusnya bukan untuk pengharapan dicintai. Mencintai itu untuk mengajarkan hati kita tentang keikhlasan dan ketulusan. Mencintai itu perjuangan! Saat kau memutuskan untuk mencintai sesuatu, maka saat itu kau akan memperjuangkannya.

Selama ini, menulis adalah hal yang selalu berhasil melegakanku. Begitupun malam ini.
Tuhan itu Maha Baik, Ia tak membiarkan hambaNya terus terkungkung kebingungan. Lewat seorang sahabat aku diingatkan untuk mengembalikan semua hal dalam hidupku kepadaNya. Hidupku. Matiku. Dan cintaku.

Sekali lagi...

Malam ini kau melepaskan perasaan “memilihmu” ini.

Aku akan mencoba memintaNya untuk menemaniku jalan beriringan. Bukankah ketika kita bersama Tuhan kita tidak akan merasakan kesepian? Bukankah ketika kita memiliki Tuhan kita memiliki segalanya?

___



Terimakasih untuk Tutut yang sudah mengingatkan saya untuk mengembalikan semua perasaan ini kepada sang Pemilik Kehidupan. Terimakasih atas kejujuran atas kerapuhan hati yang telah tersampaikan untuk saling menguatkan. Semoga lo juga diberi kekuatan untuk "melepaskan" dia. Berjuang!!

Semoga kita mendapatkan yang terbaik :)




Picture:

http://www.glogster.com/justally/let-it-go/g-6ldcd6kn9otk4rlh00tdsa0

http://thedisquiet.blogspot.com/2012/07/let-it-go.html

Saturday, January 12, 2013

BUNGA




"Mengapa setiap wanita menuntut perlakuan yang berbeda-beda satu dengan yang lain?"

"Karena wanita seperti bunga. Mereka tumbuh dan berkembang di tanah bumi yang berbeda. Mereka tumbuh dengan perlakuan alam yang tidak sama. Ada bunga dengan kelopak warna-warni. Ada bunga yang berselang duri. Mereka semua berbeda, tapi mereka tetaplah bunga"

"Kadang sulit untuk mengerti apa yang diinginkan wanita, ya?"

"Bukan, wanita tidak selalu ingin dimengerti, tapi lebih ingin dikenali. Ketika kamu sudah mengenalinya, kamu akan paham jalan pikirannya. Seperti yang kubilang tadi, wanita seperti bunga. Kalau kamu menginginkan sebatang bunga dan membawa pulang ke rumahmu, kamu harus paham cara merawatnya. Agar paham bagaimana merawatnya, kamu perlu tahu jenis bunga itu."

"Bukannya semua wanita senang bila diperhatikan?"

"Ah tidak juga. Mungkin... perhatian itu seperti air. Tidak semua jenis bunga memerlukan banyak air. Beberapa di antara mereka membutuhkan lebih banyak sinar matahari dibanding air, atau bahkan sekedar pembiaran."

"Pembiaran?"

"Iya. Ada beberapa wanita tumbuh dengan kemandirian dan kepercayaan yang besar akan kemampuan dirinya sendiri. Wanita semacam ini jangan terlalu banyak diberikan bujuk rayu, bisa muntah dia! Wanita semacam ini lebih membutuhkan pembuktian bahwa sekuat-kuatnya dia meyelesaikan masalahnya, ada saatnya ia membutuhkan seseorang mungkin hanya untuk sekedar menangis"

"Oh ya?"

"Iya. Berbeda dengan wanita yang tumbuh dan terbiasa dengan banyak perhatian dan kasih sayang. Mereka cenderung membutuhkan perhatian dan perlindungan yang lebih besar. Tapi bukan berarti mereka manja, ini hanya soal kebiasaan dan kebutuhan karena kebiasaan itu."

"Jadi wanita itu seperti bunga?"

"Iya. Dan laki-laki adalah kumbangnya"

"Memahami bunga sesungguhnya saja sulit. Apalagi memahami mahkluk berotak yang disamakan dengan bunga? bisa dua kali atau berkali-kali lipat sulitnya!"

"Jangan bermimpi untuk memiliki kalau untuk mengenali saja tidak mau!"


-sebuah percakapan di sore hari bersama seorang kawan-


picture:
http://www.hummings.com/cart/articles/main/view/Flower%20Shops_25_/
http://aavikartand.com/greeting-card-flower-girl/