Yang terjadi sebenarnya adalah kita LUPA; bahwa saat kita telah mendapatkan apa yang kita inginkan, di sisi lain, itu artinya kita sedang merelakan suatu hal untuk dilepaskan...
Pagi ini saya berpikir,
Mengapa banyak orang yang masih merasa hampa padahal ia sudah memiliki apa yang ia inginkan?
Mengapa banyak orang yang masih bersedih padahal ia punya banyak alasan untuk bahagia?
Mengapa banyak orang yang selalu merasa kekurangan ketika bahkan ia memiliki lebih dari cukup?
Kau tahu, cukup adalah cukup. tidak kurang dan tidak lebih.
Seseorang pernah menyampaikan ini kepda saya: Jika sedikit sudah cukup, maka untuk apa banyak?
awalnya saya tidak mengerti apa maksudnya. Tapi setelah saya renungkan lagi, saya pikir dia benar; jika sesuatu yang sedikit sudah mencukupkan, maka saya tidak perlu lebih banyak lagi.
Karena sedikit tidak selalu berarti kurang; dan banyak tidak selalu berarti cukup; tapi cukup adalah cukup, tidak bisa didefinisikan dengan sedikit atau banyak. Cukup adalah kualitas, bukan kuantitas.
***
Kembali pada pertanyaan-pertanyaan tadi...
Mengapa ketika kita memiliki semua hal yang kita inginkan, kita tidak juga pernah merasa cukup?
karena mungkin, hukum yang berlaku adalah: kita yang tidak pernah diizinkan untuk memiliki semua hal.
Seorang teman berhasil mendapatkan beasiswa di salah satu universitas luar negeriyang ia mimpikan sejak lama, tapi kemudian ia harus merelakan melepaskan waktu bersama keluarganya di Indonesia.
Seorang teman yang lain bahagia akhirnya ia bisa dipertemukan dengan jodohnya dalam sebuah perkawinan yang ia hargai sebagia sebuah kesakralan, tapi kemudian, ia paham ia harus meninggalkan karirnya yang selama ini ia bangun untuk mendampingi suaminya dinas di luar Pulau Jawa
Atau ada seorang teman yang pada akhirnya mendapatkan kerjaan yang ia impikan selama ini, tapi kemudian kondisi membuatnya harus rela melepaskan studi s2 nya.
Saat kita mendapatkan suatu hal yang kita inginkan itu tidak serta-merta berarti kita 'mendapatkan', bisa jadi dengan 'mendapatkan sesuatu' adalah tanda bagi kita untuk melepaskan sesuatu.
Ada kondisi dimana kita harus melepaskan sesuatu untuk hal yang kita inginkan. Tapi kembali lagi bahwa dalam hidup berlaku konsep 'relatif' tidak ada yang baku, semua bisa terjadi dengan cara yang beragam, sehingga mungkin ada kalanya kita harus melepaskan sesuatu yang belum ingin kita lepaskan untuk sesuatu yang sesungguhnya pun belum kita inginkan.
Siapa yang bisa menebak rencana Tuhan?
Sesuatu yang belum ingin kita lepaskan bisa jadi adalah hal yang tidak terlalu baik untuk terus kita pertahankan, sebaliknya, sesuatu yang belum kita inginkan bisa jadi adalah keperluan yang belum kita sadari dan perhitungkan.
Adil?
Nilai adil yang dimiliki Tuhan tidak pernah bisa diurai oleh manusia. Saya hanya berpikir mungkin ini semua terjadi karena sesungguhnya kita memang diberikan keterbatasan "ruang" untuk mendapatkan segala hal apa yang kita inginkan. Bukan karena Tuhan terlalu pelit untuk memberikan kita banyak hal, tapi agar kita paham bahwa kita sebagai manusia memiliki keterbatasan bahkan untuk sekedar 'menerima'.
Saya mulai paham, bahwa saat saya mendapatkan sesuatu yang saya inginkan,saya tidak bisa mutlak senang, karena itu artinya saya harus bersiap untuk melepaskan apapun yang telah saya miliki sebelumnya; baik yang telah ingin saya lepaskan maupun tidak.
Saat Tuhan memberi, maka bersiaplah untuk melepaskan...
Saat Tuhan mengambil, maka bersiaplah untuk menerima...
Saat kau kehilangan, maka bersiaplah untuk sebuah kedatangan...
Saat kau dihadapkan perpisahan, maka bersiaplah untuk menyambut pertemuan...
Maka...
Jangan takut untuk melepaskan,
Jangan takut untuk kehilangan,
karena keduanya datang bersama, kedatangan dan pertemuan (yang baru)
Maka...
Mengapa banyak orang yang masih merasa hampa padahal ia sudah memiliki apa yang ia inginkan?
Mengapa banyak orang yang masih bersedih padahal ia punya banyak alasan untuk bahagia?
Mengapa banyak orang yang selalu merasa kekurangan ketika bahkan ia memiliki lebih dari cukup?
mungkin jawabannya adalah...
Karena sesungguhnya kita tidak pernah bisa memiliki semua hal yang kita inginkan; Saat sesuatu kita dapatkan, KITA SERING LUPA mempersiapkan hati untuk melepaskan suatu hal lainnya.
karena... sekali lagi...
Kita sebagai manusia sering lupa, bahwa kita penuh dengan keterbatasan, bahkan untuk sekedar 'menerima'.
Wednesday, July 8, 2015
Tuesday, June 16, 2015
PROJEK BAHAGIA!
“…Manusia yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia, dan pekerjaan yang paling dicintai Allah adalah menggembirakan seorang muslim, atau menjauhkan kesusahan darinya, atau membayarkan hutangnya, atau menghilangkan laparnya. Sungguh aku berjalan bersama saudaraku yang muslim untuk sebuah keperluan lebih aku cintai daripada beri’ktikaf di masjid ini (masjid Nabawi) selama sebulan…”
(HR. Thabrani di dalam al-Mu’jam al-Kabir, no. 13646)
Kita tidak perlu menunggu kaya untuk memberi. Tidak perlu menunggu bahagia untuk membahagiakan. Tidak perlu menunggu kuat untuk menolong.
Karena kita bisa melakukan kebaikan kapan saja tanpa harus menunggu apapun. Tuhan selalu memberi jalan untuk semua kebaikan, karena tidak diragukan lagi, DIA adalah sumber kebaikan itu sendiri. Maka dekatilah Tuhan, cari perhatiannya dengan melakukan banyak kebaikan yang Dia senangi.
Bahagia itu diciptakan, bukan ditunggu ataupun dicari. Dan salah satu keadaan yang tidak bisa diingkari sebagai sebuah alasan berbahagia adalah saat kita tahu bahwa kita adalah alasan kebahagiaan untuk orang lain.
Projek Bahagia Jog-JA-Karta adalah manifestasi atas keyakinan saya akan hal di atas. Adalah mimpi saya untuk bisa memberikan manfaat bagi banyak orang. Dulu saya pernah bilang kepada seorang teman,” Gue pengen jadi orang kaya!! Biar bisa bagiin banyak duit buat nolongin orang-orang yang membutuhkan!”, dan saat itu juag teman saya membalas ucapan saya dengan sangat datar sambil membaca buku yang ada di tangannya (bahkan) tanpa melihat saya, “Kalau mau nolongin orang, ya nolongin aja, ga usah pake alasan nunggu kaya segala. Lo bisa ngelakuin banyak hal tanpa harus nunggu kaya dulu.”
Saya terdiam saat itu. “caranya?” tanya saya.
“Lo pikir aja deh sendiri, yang jelas, kalau emang niat lo buat kebaikan ya do something lah, buka sekedar wacana”, jawabnya masih sambil asik membaca buku tanpa menatap mata saya.
Dari situ saya paham, (seharusnya) saya bisa melakukan banyak hal untuk bisa membantu banyak orang, dan terciptalah PROJEK BAHAGIA Jog-JA-Karta ini. Saya percaya selalu ada jalan yang baik untuk melakukan dan mencapai kebaikan,dengan keterbatasan kondisi saya, saya yakin bisa memfasilitasi teman-teman yang juga memiliki niat yang sama besar dengan saya tapi kebingungan untuk memulainya. Maka saya dan Ayunita—sahabat saya di Jogja—memutuskan untuk yang memulainya dan menggerakan harapan-harapan ini menjadi suatu hal yang nyata.
Lewat PROJEK BAHAGIA ini saya ingin membuktikan kepada banyak orang bahwa kita bisa melakukan banyak kebaikan dengan apa yang kita miliki. Banyak yang bertanya kepada saya, minimal nyumbang berapa kalau mau ikutan PROJEK BAHAGIA?
Sekali lagi, ini PROJEK BAHAGIA. PROJEK yang bertujuan untuk menciptakan kebahagiaan bagi semua yang terlibat di dalamnya. BAHAGIA tidak melulu berbicara tentang nominal uang. Bahagia akan hadir saat kita merasa ikhlas dengan apa yang kita dapat, kita berikan dan kita lakukan. Maka kami hanya menginginkan siapaun yang ingin berpartisipasi bisa melakukan apapun yang menyukseskan acara ini dengan kunci IKHLAS.
APA YANG AKAN DIWUJUDKAN DALAM PROJEK INI?
KEBAHAGIAAN TENTUNYA!! Kebahagiaan kita karena bisa membahagiakan orang lian! Maka PROJEK bahagia ini pada akhirnya akan memngumpulkan dana untuk diberikan kepada anak yatim-piatu Panti Asuhan atau Tafiz Qur'an yang memang benar-benar membutuhkan dana tersebut.
Kebahagiaan kedua adalah Kebahagiaan kita karena bisa menolong sesama muslim yang harus menjalankan ibadah salat di tempat umum seperti stasiun kereta ataupun temapt umum lainnya dengan menggunakan alat solat yang bersih dan layak. InshaAllah ini bentuk investasi amal jariyah kita yang bisa diperhitungkan oleh Allah kelak.
BAGAIMANA UNTUK BISA BERPARTISIPASI DALAM KEGIATAN INI?
Buat kamu yang ingin ikutan projek ini dan mendapatkan kebahagiaan seperti yang dijelaskan di atas, maka kamu bisa berkontribusi seperti di bawah ini:
IKHLAS menyisihkan hartanya—berapapun nominalnya
IKHLAS memberikan tenaga dan pikiran untuk turut serta turun ke lapangan melakukan survei Panti Asuhan dan Harga Alat solat, sehingga dana yang terkumpul bisa tepat sasaran dan membuahkan hasil yang maksimal sesuai harapan
IKHLAS untuk turut membantu mendistribusikan dana ke Panti asuhan yang telah disurvey dan dianggap layak untuk menerima bantuan serta mendistribusikan alat solat di temapt-tempat yang membutuhkan.
IKHLAS mendoakan agar acara ini lancar dan bisa membahagiakan sebanyak-banyaknya orang.
Sesuatu yang dinafkahkan (disadaqahkan) tidak akan mendatangkan kerugian dan marabahaya. Apa saja yang dinafkahkan akan diganti oleh Allah, bahkan akan ditambahkan karunia-Nya kepada mereka dan disempurnakan pahala bagi mereka. Janganlah takut miskin karena bershadaqah, sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik pemberi rezeki kepada hamba-Nya
Jadi, jika ingin berpartisipasi dalam kegiatan ini, kalian bisa memilih salah satu atau keseluruhan 4 poin di atas, LAKUKAN DENGAN IKHLAS DAN BAHAGIA TENTUNYA!!
Kembali lagi, tujuan akhir kegiatan ini adalah IBADAH. Maka niatkan semuanya untuk mencari keridhaan Allah yang inshaAllah akan memberikan ketenangan dan ketentraman hati bahwa setidaknya hidup kita bisa bermanfaat untuk orang lain, dan jelas itu adalah satu dari sekian banyak hal yang bisa membuat kita merasa bahagia bukan?
Jadi... mari berpartisipasi dalam PROJEK BAHAGIA Jog-JA-Karta ini!! Entah sebagai donatur, relawan (kami menyebut para relawan dengan “HAPPY PEOPLE!”) ataupun donatur skaligus relawan. Terutama untuk wilayah Jakarta sangat dibutuhkan beberapa relawan untuk survei Panti Asuhan dan pendistribusian alat-alat salat.
Bagi yang berminat bisa menghubungi
ANNISA WA/SMS/LINE : 085860048455 (JABODETABEK)
AYUNITA WA/SMS/LINE: 081228383345 (YOGYAKARTA)
(BANK yang tersedia: BRI, BNI, MANDIRI dan MUAMALAT. Nomor rekening akan diberikan sesuai permintaan)
Ar-Ra’d : 022. Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik), 023. (yaitu) surga `Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu;
Lakukan apapun yang bisa membuat kita bahagia. Bahagia itu penting, tapi betapa membosankan hanya terus memikirkan kebahagiaan diri sendiri. Lebih menyenangkan bisa bahagia karena membahagiakan orang lain.
Ummul mukminin, Kahdijah radhiallahu ‘anha juga pernah memuji sifat suaminya, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merasa takut bahwa dirinya terancam saat menerima wahyu pertama,
“Janganlah begitu, bergembiralah! Demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu, selama-lamanya. Demi Allah! Sesungguhnya, kamu telah menyambung tali persaudaraan, berbicara jujur, memikul beban orang lain, suka membantu orang yang tidak punya, menjamu tamu, dan sentiasa mendukung kebenaran.” (HR. Al-Bukhari no. 4572 dan Muslim no. 231)
dan oleh sebab itu, maukah kalian menjadi bagian dari kebahagian ini dan bergembira bersama-sama? ;)
(HR. Thabrani di dalam al-Mu’jam al-Kabir, no. 13646)
Kita tidak perlu menunggu kaya untuk memberi. Tidak perlu menunggu bahagia untuk membahagiakan. Tidak perlu menunggu kuat untuk menolong.
Karena kita bisa melakukan kebaikan kapan saja tanpa harus menunggu apapun. Tuhan selalu memberi jalan untuk semua kebaikan, karena tidak diragukan lagi, DIA adalah sumber kebaikan itu sendiri. Maka dekatilah Tuhan, cari perhatiannya dengan melakukan banyak kebaikan yang Dia senangi.
Bahagia itu diciptakan, bukan ditunggu ataupun dicari. Dan salah satu keadaan yang tidak bisa diingkari sebagai sebuah alasan berbahagia adalah saat kita tahu bahwa kita adalah alasan kebahagiaan untuk orang lain.
Projek Bahagia Jog-JA-Karta adalah manifestasi atas keyakinan saya akan hal di atas. Adalah mimpi saya untuk bisa memberikan manfaat bagi banyak orang. Dulu saya pernah bilang kepada seorang teman,” Gue pengen jadi orang kaya!! Biar bisa bagiin banyak duit buat nolongin orang-orang yang membutuhkan!”, dan saat itu juag teman saya membalas ucapan saya dengan sangat datar sambil membaca buku yang ada di tangannya (bahkan) tanpa melihat saya, “Kalau mau nolongin orang, ya nolongin aja, ga usah pake alasan nunggu kaya segala. Lo bisa ngelakuin banyak hal tanpa harus nunggu kaya dulu.”
Saya terdiam saat itu. “caranya?” tanya saya.
“Lo pikir aja deh sendiri, yang jelas, kalau emang niat lo buat kebaikan ya do something lah, buka sekedar wacana”, jawabnya masih sambil asik membaca buku tanpa menatap mata saya.
Dari situ saya paham, (seharusnya) saya bisa melakukan banyak hal untuk bisa membantu banyak orang, dan terciptalah PROJEK BAHAGIA Jog-JA-Karta ini. Saya percaya selalu ada jalan yang baik untuk melakukan dan mencapai kebaikan,dengan keterbatasan kondisi saya, saya yakin bisa memfasilitasi teman-teman yang juga memiliki niat yang sama besar dengan saya tapi kebingungan untuk memulainya. Maka saya dan Ayunita—sahabat saya di Jogja—memutuskan untuk yang memulainya dan menggerakan harapan-harapan ini menjadi suatu hal yang nyata.
Lewat PROJEK BAHAGIA ini saya ingin membuktikan kepada banyak orang bahwa kita bisa melakukan banyak kebaikan dengan apa yang kita miliki. Banyak yang bertanya kepada saya, minimal nyumbang berapa kalau mau ikutan PROJEK BAHAGIA?
Sekali lagi, ini PROJEK BAHAGIA. PROJEK yang bertujuan untuk menciptakan kebahagiaan bagi semua yang terlibat di dalamnya. BAHAGIA tidak melulu berbicara tentang nominal uang. Bahagia akan hadir saat kita merasa ikhlas dengan apa yang kita dapat, kita berikan dan kita lakukan. Maka kami hanya menginginkan siapaun yang ingin berpartisipasi bisa melakukan apapun yang menyukseskan acara ini dengan kunci IKHLAS.
APA YANG AKAN DIWUJUDKAN DALAM PROJEK INI?
KEBAHAGIAAN TENTUNYA!! Kebahagiaan kita karena bisa membahagiakan orang lian! Maka PROJEK bahagia ini pada akhirnya akan memngumpulkan dana untuk diberikan kepada anak yatim-piatu Panti Asuhan atau Tafiz Qur'an yang memang benar-benar membutuhkan dana tersebut.
Kebahagiaan kedua adalah Kebahagiaan kita karena bisa menolong sesama muslim yang harus menjalankan ibadah salat di tempat umum seperti stasiun kereta ataupun temapt umum lainnya dengan menggunakan alat solat yang bersih dan layak. InshaAllah ini bentuk investasi amal jariyah kita yang bisa diperhitungkan oleh Allah kelak.
BAGAIMANA UNTUK BISA BERPARTISIPASI DALAM KEGIATAN INI?
Buat kamu yang ingin ikutan projek ini dan mendapatkan kebahagiaan seperti yang dijelaskan di atas, maka kamu bisa berkontribusi seperti di bawah ini:
IKHLAS menyisihkan hartanya—berapapun nominalnya
IKHLAS memberikan tenaga dan pikiran untuk turut serta turun ke lapangan melakukan survei Panti Asuhan dan Harga Alat solat, sehingga dana yang terkumpul bisa tepat sasaran dan membuahkan hasil yang maksimal sesuai harapan
IKHLAS untuk turut membantu mendistribusikan dana ke Panti asuhan yang telah disurvey dan dianggap layak untuk menerima bantuan serta mendistribusikan alat solat di temapt-tempat yang membutuhkan.
IKHLAS mendoakan agar acara ini lancar dan bisa membahagiakan sebanyak-banyaknya orang.
Sesuatu yang dinafkahkan (disadaqahkan) tidak akan mendatangkan kerugian dan marabahaya. Apa saja yang dinafkahkan akan diganti oleh Allah, bahkan akan ditambahkan karunia-Nya kepada mereka dan disempurnakan pahala bagi mereka. Janganlah takut miskin karena bershadaqah, sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik pemberi rezeki kepada hamba-Nya
Jadi, jika ingin berpartisipasi dalam kegiatan ini, kalian bisa memilih salah satu atau keseluruhan 4 poin di atas, LAKUKAN DENGAN IKHLAS DAN BAHAGIA TENTUNYA!!
Kembali lagi, tujuan akhir kegiatan ini adalah IBADAH. Maka niatkan semuanya untuk mencari keridhaan Allah yang inshaAllah akan memberikan ketenangan dan ketentraman hati bahwa setidaknya hidup kita bisa bermanfaat untuk orang lain, dan jelas itu adalah satu dari sekian banyak hal yang bisa membuat kita merasa bahagia bukan?
Jadi... mari berpartisipasi dalam PROJEK BAHAGIA Jog-JA-Karta ini!! Entah sebagai donatur, relawan (kami menyebut para relawan dengan “HAPPY PEOPLE!”) ataupun donatur skaligus relawan. Terutama untuk wilayah Jakarta sangat dibutuhkan beberapa relawan untuk survei Panti Asuhan dan pendistribusian alat-alat salat.
Bagi yang berminat bisa menghubungi
ANNISA WA/SMS/LINE : 085860048455 (JABODETABEK)
AYUNITA WA/SMS/LINE: 081228383345 (YOGYAKARTA)
(BANK yang tersedia: BRI, BNI, MANDIRI dan MUAMALAT. Nomor rekening akan diberikan sesuai permintaan)
Ar-Ra’d : 022. Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik), 023. (yaitu) surga `Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu;
Lakukan apapun yang bisa membuat kita bahagia. Bahagia itu penting, tapi betapa membosankan hanya terus memikirkan kebahagiaan diri sendiri. Lebih menyenangkan bisa bahagia karena membahagiakan orang lain.
Ummul mukminin, Kahdijah radhiallahu ‘anha juga pernah memuji sifat suaminya, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merasa takut bahwa dirinya terancam saat menerima wahyu pertama,
“Janganlah begitu, bergembiralah! Demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu, selama-lamanya. Demi Allah! Sesungguhnya, kamu telah menyambung tali persaudaraan, berbicara jujur, memikul beban orang lain, suka membantu orang yang tidak punya, menjamu tamu, dan sentiasa mendukung kebenaran.” (HR. Al-Bukhari no. 4572 dan Muslim no. 231)
dan oleh sebab itu, maukah kalian menjadi bagian dari kebahagian ini dan bergembira bersama-sama? ;)
Friday, June 12, 2015
Di Suatu Pagi....
Pagi ini saya ingin berjalan lebih lambat. Tidak ingin terburu-buru waktu. Atau mungkin lebih tepatnya, sesekali saya harus membiarkan diri saya untuk menciptakan ritme kehidupannya sendiri.
Hati ini masih sedih. Kemarin, saya harus berusaha mengikhlaskan Tab saya yang saya yakini diambil oleh sekawanan pencopet di Kopaja 502. Iya, saya berusaha untuk ikhlas. Paling tidak saya memercayai bahwa sebuah kehilangan selalu punya pesan untuk membuat kita lebih paham tentang arti menjaga dan berhati-hati.
Tapi sedih dan ikhlas adalah dua hal yang berbeda. Kau bisa melepaskan apa saja yang hilang dari hidupmu. Menerimanya dengan kelapangan hati dan meyakini bahwa mungkin memang sudah waktunya kau melepaskannya dari kehidupanmu. Tapi, siapa yang kuasa melawan sedih dari kehampaan atas sebuah kehilangan?
Aku bisa saja tertawa dan tersenyum lebar sambil mengatakan, "Ya sudahlah, mungkin memang sudah waktunya Tab itu hilang" atau, "Tidak apa-apa, aku ikhlas dan aku yakin ssemuanya akan baik-baik saja setelah ini", saya bisa melakukannya. Tapi jika saja ada yang bertanya, apakah saya sedih kehilangan Tab itu? jawabannya adalah IYA.
Sedih tidak harus punya alasan mengapa ataupun kenapa. Saat sesuatu hilang dalam hidup kita dan kita menyadari akan kehilangan itu, maka itu artinya kita harus berusaha untuk terbiasa dengan kehilangan itu, dan itu bukan perkara mudah.
***
Pagi hari, Pukul 06.35, stasiun Gondangdia, Jakarta Pusat
Menuju kantor, Jalan Thamrin.
Kehidupan di Jakarta sepertinya dimulai lebih awal. Sudah ada ratusan manusia yang bergegas menuju kantor mereka masing-masing. Banyak dari mereka yang berjalan setengah berlari. Pagi ini, saya tidak terlalu peduli. saya biarkan kaki berjalan lebih lambat. Menikmati kejanggalan yang saya bawa dalam hati pagi ini.
Langkah pertama saat kaki saya menapaki trotoar jalan menuju Tugu Tani, saya melihat ke langit. B
agi saya, langit yang tidak punya batas selalu memberikan kelegaan tersendiri di hati.
'Tuhan, apakah saya sudah di jalan yang benar untuk hidup saya?' seseorang dalam pikiran saya bertanya.
'ini bukan tentang benar dan salah, ini tentang pilihan yang sudah kau buat dan disetujui oleh Tuhan. Maka sekarang yang harus kau lakukan adalah menjalani saja.' jawab orang lain yang ada di kepala saya.
Pagi ini saya bertanya lagi dalam hati, apakah ini adalah jalan yang seharusnya saya telusuri setiap pagi? apakah yang sudah saya dapatkan beberapa bulan ini adalah hal yang benar-benar saya ingini?
Langkah saya yang pagi ini saya setting berjalan lebih lambat semakin melambat saat mata saya menemukan satu keluarga terdiri dari laki-laki dan wanita dewasa beserta seorang anak yang sedang jongkok di pinggir jalan sambil menyantap satu nasi bungkus bersama-sama. Mereka bertiga memakan sarapan mereka dengan sangat lahap. Saat saya melewatinya, saya melihat nasi putih dan telur ceplok yang menjadi sarapan mereka hari ini. Satu bungkus nasi putih berlauk satu telor ceplok untuk sarapan satu keluarga?
Kau tahu, inilah hebatnya Jakarta.
Alih-alih kau menggurutu dengan segala kompetisi yang ada di kota ini, kau bisa belajar banyak dari setiap jengkal jalan yang ada di sini. Kau akan menemukan wajah-wajah bahagia, kesepian, pengharapan, penantian dan banyak hal jika kau mau lebih peduli.
'Kau benar, ini bukan lagi tentang benar atau tidak sebuah pilihan, tapi ini tentang bagaimana kita akan menjalani hidup yang benar dan menyenangkan', seseorang dalam pikiran saya berkata lagi.
Tiba-tiba teringat dengan meja makan di sabtu pagi yang penuh dengan aneka jajanan pasar yang ibu beli di tukang sayur, masakan rumahan yang dimasak oleh bibik serta suasana yang hangat dan nyaman. Aku punya itu semua. Aku punya hal yang selalu aku anggap sederhana dan sekarang saya paham bahwa tidak semua orang bisa merasakan kesederhanaan itu.
atau mungkin, tak ada yang sederhana dalam sebuah kebersamaan keluarga?
'Apakah kau merasa lebih baik Nisa?' seseorang yang hidup dalam diriku dan aku namai Krisna bertanya pada ku.
'Semoga dengan apa yang kau lihat kau bisa paham, kehilangan akan selalu terasa menyedihkan ketika kita lupa caranya menghargai apa-apa saja yang masih diizinkan Tuhan untuk kita miliki.
'Manusia selalu seperti itu, mereka bersedih karena mereka selalu memfokuskan pada apa yang hilang, bukan apa yang masih ada dan harus dijaga.
'Manusia memang selalu seperti itu, menanyakan tentang apa yang salah atas sebuah kehilangan dibanding merelakan dan meyakinkan hal baik apa yang akan terjadi setelah kehilangan ini?
'Saat kau ingin mendapatkan satu hal, maka kau harus melepaskan yang lain, tapi terkadang kita terlalu serakah untuk terus memilikinya sementara juga ingin memiliki hal yang lain. Saat Tuhan mengambil suatu hal darimu, maka percayalah, Tuhan akan menggantikan dengan hal yang lebih baik. Tuhan hanya tak ingin kau menjadi manusia yang tamak.
'Nisa... keraguan, kebingungan dan kebimbanganmu mungkin adalah tanda bahwa mungkin kau sedang tersesat dengan segala prasangka yang ada di pikiranmu.
'Tak apa-apa... terkadang kita butuh menghilang, tersesat sedalam-dalamnya pikiran, agar kita kembali ingat apa yang sebenarnya ingin kita temukan.
'Kau tahu, Krisna, aku merasa bahwa kehilangan tabku menjadi tidak ada nilainya saat aku melihat pemndangan satu keluarga tadi. Pencopet-pencopet itu bisa saja mengambil tabku atau harta lain yang aku punya, dan percayalah aku masih bisa mengingkari kesedihan atas kehilangan-kehilanga itu. Pengingkaran kesedihan artinya aku masih mampu meredakannya. Tapi pencopet-pencopet itu mungkin tidak akan pernah memiliki hidup seberuntung aku, yang sampai-sampai aku tak mampu mengingkari kebahagiaan dan rasa syukur yang aku punya!'
Pagi ini, saat saya memilih berjalan lebih lambat. Membuka mata lebih lebar. Meberi ruang untuk hati dan pikiran berbincang, saya bisa merasakan kedamaian yang lebih penuh di dalam hati.
Kau tak akan mendapatkan apa-apa dengan meratapi kehilangan selain kesedihan yang akan menggenang di hati.
Ikhlas tidak akan mudah, tapi berusaha memahami hidup dengan melihat banyak wujud kehidupan adalah proses yang tidak mustahil.
Jangan terbiasa untuk hidup hanya di satu tempat. Bergeraklah, dan biarkan kita bertemu rupa-rupa hidup lainnya yang belum pernah kita temui sebelumnya. Agar kita paham bahwa Tuhan sudah menyiptakan keberuntungan untuk setiap orang dengan bentuknya masing-masing.
Saat kau bingung dengan kejanggalan hati seperti yang saya miliki di pagi ini, mungkin sesekali kau bisa menyiptakan ritme langkah kaki yang kalian ingini. Entah lebih cepat. Entah lebih lambat.
Berhenti sejenak tak masalah, asal bukan untuk sekedar meratapi.
Hati ini masih sedih. Kemarin, saya harus berusaha mengikhlaskan Tab saya yang saya yakini diambil oleh sekawanan pencopet di Kopaja 502. Iya, saya berusaha untuk ikhlas. Paling tidak saya memercayai bahwa sebuah kehilangan selalu punya pesan untuk membuat kita lebih paham tentang arti menjaga dan berhati-hati.
Tapi sedih dan ikhlas adalah dua hal yang berbeda. Kau bisa melepaskan apa saja yang hilang dari hidupmu. Menerimanya dengan kelapangan hati dan meyakini bahwa mungkin memang sudah waktunya kau melepaskannya dari kehidupanmu. Tapi, siapa yang kuasa melawan sedih dari kehampaan atas sebuah kehilangan?
Aku bisa saja tertawa dan tersenyum lebar sambil mengatakan, "Ya sudahlah, mungkin memang sudah waktunya Tab itu hilang" atau, "Tidak apa-apa, aku ikhlas dan aku yakin ssemuanya akan baik-baik saja setelah ini", saya bisa melakukannya. Tapi jika saja ada yang bertanya, apakah saya sedih kehilangan Tab itu? jawabannya adalah IYA.
Sedih tidak harus punya alasan mengapa ataupun kenapa. Saat sesuatu hilang dalam hidup kita dan kita menyadari akan kehilangan itu, maka itu artinya kita harus berusaha untuk terbiasa dengan kehilangan itu, dan itu bukan perkara mudah.
***
Pagi hari, Pukul 06.35, stasiun Gondangdia, Jakarta Pusat
Menuju kantor, Jalan Thamrin.
Kehidupan di Jakarta sepertinya dimulai lebih awal. Sudah ada ratusan manusia yang bergegas menuju kantor mereka masing-masing. Banyak dari mereka yang berjalan setengah berlari. Pagi ini, saya tidak terlalu peduli. saya biarkan kaki berjalan lebih lambat. Menikmati kejanggalan yang saya bawa dalam hati pagi ini.
Langkah pertama saat kaki saya menapaki trotoar jalan menuju Tugu Tani, saya melihat ke langit. B
agi saya, langit yang tidak punya batas selalu memberikan kelegaan tersendiri di hati.
'Tuhan, apakah saya sudah di jalan yang benar untuk hidup saya?' seseorang dalam pikiran saya bertanya.
'ini bukan tentang benar dan salah, ini tentang pilihan yang sudah kau buat dan disetujui oleh Tuhan. Maka sekarang yang harus kau lakukan adalah menjalani saja.' jawab orang lain yang ada di kepala saya.
Pagi ini saya bertanya lagi dalam hati, apakah ini adalah jalan yang seharusnya saya telusuri setiap pagi? apakah yang sudah saya dapatkan beberapa bulan ini adalah hal yang benar-benar saya ingini?
Langkah saya yang pagi ini saya setting berjalan lebih lambat semakin melambat saat mata saya menemukan satu keluarga terdiri dari laki-laki dan wanita dewasa beserta seorang anak yang sedang jongkok di pinggir jalan sambil menyantap satu nasi bungkus bersama-sama. Mereka bertiga memakan sarapan mereka dengan sangat lahap. Saat saya melewatinya, saya melihat nasi putih dan telur ceplok yang menjadi sarapan mereka hari ini. Satu bungkus nasi putih berlauk satu telor ceplok untuk sarapan satu keluarga?
Kau tahu, inilah hebatnya Jakarta.
Alih-alih kau menggurutu dengan segala kompetisi yang ada di kota ini, kau bisa belajar banyak dari setiap jengkal jalan yang ada di sini. Kau akan menemukan wajah-wajah bahagia, kesepian, pengharapan, penantian dan banyak hal jika kau mau lebih peduli.
'Kau benar, ini bukan lagi tentang benar atau tidak sebuah pilihan, tapi ini tentang bagaimana kita akan menjalani hidup yang benar dan menyenangkan', seseorang dalam pikiran saya berkata lagi.
Tiba-tiba teringat dengan meja makan di sabtu pagi yang penuh dengan aneka jajanan pasar yang ibu beli di tukang sayur, masakan rumahan yang dimasak oleh bibik serta suasana yang hangat dan nyaman. Aku punya itu semua. Aku punya hal yang selalu aku anggap sederhana dan sekarang saya paham bahwa tidak semua orang bisa merasakan kesederhanaan itu.
atau mungkin, tak ada yang sederhana dalam sebuah kebersamaan keluarga?
'Apakah kau merasa lebih baik Nisa?' seseorang yang hidup dalam diriku dan aku namai Krisna bertanya pada ku.
'Semoga dengan apa yang kau lihat kau bisa paham, kehilangan akan selalu terasa menyedihkan ketika kita lupa caranya menghargai apa-apa saja yang masih diizinkan Tuhan untuk kita miliki.
'Manusia selalu seperti itu, mereka bersedih karena mereka selalu memfokuskan pada apa yang hilang, bukan apa yang masih ada dan harus dijaga.
'Manusia memang selalu seperti itu, menanyakan tentang apa yang salah atas sebuah kehilangan dibanding merelakan dan meyakinkan hal baik apa yang akan terjadi setelah kehilangan ini?
'Saat kau ingin mendapatkan satu hal, maka kau harus melepaskan yang lain, tapi terkadang kita terlalu serakah untuk terus memilikinya sementara juga ingin memiliki hal yang lain. Saat Tuhan mengambil suatu hal darimu, maka percayalah, Tuhan akan menggantikan dengan hal yang lebih baik. Tuhan hanya tak ingin kau menjadi manusia yang tamak.
'Nisa... keraguan, kebingungan dan kebimbanganmu mungkin adalah tanda bahwa mungkin kau sedang tersesat dengan segala prasangka yang ada di pikiranmu.
'Tak apa-apa... terkadang kita butuh menghilang, tersesat sedalam-dalamnya pikiran, agar kita kembali ingat apa yang sebenarnya ingin kita temukan.
'Kau tahu, Krisna, aku merasa bahwa kehilangan tabku menjadi tidak ada nilainya saat aku melihat pemndangan satu keluarga tadi. Pencopet-pencopet itu bisa saja mengambil tabku atau harta lain yang aku punya, dan percayalah aku masih bisa mengingkari kesedihan atas kehilangan-kehilanga itu. Pengingkaran kesedihan artinya aku masih mampu meredakannya. Tapi pencopet-pencopet itu mungkin tidak akan pernah memiliki hidup seberuntung aku, yang sampai-sampai aku tak mampu mengingkari kebahagiaan dan rasa syukur yang aku punya!'
Pagi ini, saat saya memilih berjalan lebih lambat. Membuka mata lebih lebar. Meberi ruang untuk hati dan pikiran berbincang, saya bisa merasakan kedamaian yang lebih penuh di dalam hati.
Kau tak akan mendapatkan apa-apa dengan meratapi kehilangan selain kesedihan yang akan menggenang di hati.
Ikhlas tidak akan mudah, tapi berusaha memahami hidup dengan melihat banyak wujud kehidupan adalah proses yang tidak mustahil.
Jangan terbiasa untuk hidup hanya di satu tempat. Bergeraklah, dan biarkan kita bertemu rupa-rupa hidup lainnya yang belum pernah kita temui sebelumnya. Agar kita paham bahwa Tuhan sudah menyiptakan keberuntungan untuk setiap orang dengan bentuknya masing-masing.
Saat kau bingung dengan kejanggalan hati seperti yang saya miliki di pagi ini, mungkin sesekali kau bisa menyiptakan ritme langkah kaki yang kalian ingini. Entah lebih cepat. Entah lebih lambat.
Berhenti sejenak tak masalah, asal bukan untuk sekedar meratapi.
Sunday, June 7, 2015
tentang RINDU
Bagi saya rindu adalah tanda ketidakmampuan untuk menaklukan...
Tidak mampu untuk menaklukan jarak
Tidak mampu untuk menaklukan waktu
Bahkan tidak mampu menaklukan ketakutan untuk sekedar menyatakan rindu.
Mungkin kita bisa saja berlari dan memperkecil jarak menjadi selemparan dua pasang mata yang saling menatap. Menyatakan rasa yang disimpan rapat-rapat dalam toples kedap udara agar ia tidak rusak.
Tapi tetap bagi saya rindu adalah ketidakmampuan,
atau mungkin tentang penyesalan dari sebuah hal yang disia-siakan
Paling tidak rindu mengajarkan kita sebuah kesederhanaan yang sering terabaikan;
bahwa semua hal tidak akan selalu ada untuk selamanya
bahwa kebersamaan (ternyata) hal istimewa yang sering lupa diperhitungkan
Rindu selalu punya tujuan. Kita yang menentukan untuk terus menyimpan atau menuntaskan.
Jarak rindu dan air mata adalah dekat.
Sedekat jarak kelopak mata yang saling bersentuhan.
Kau simpan rindu di pelupuk mata,
maka air mata yang akan mengalirinya.
Karena rindu adalah ketidakmampuan,
atau mungkin...
rindu adalah pertanda dari sebuah perjuangan yang dipasrahkan.
Bekasi, 7 Juni 2015
Friday, May 22, 2015
Sebuah Gerbong Kereta yang Penuh Rindu Ibu
Satu bulan terakhir ini berdiri bersesakan di gerbong kereta menjadi rutinitas pagi dan sore. Anehnya, saya menikmatinya. Di gerbong kereta yang penuh sesak, sering saya menemukan patahan-patahan cerita yang berserakan dan dijatuhkan Tuhan.
Kali ini, ada sepotong rindu yang dijatuhkan Tuhan kepada saya atas nama IBU.
Di suatu pagi di dalam gerbong kereta yang tertahan di stasiun Jatinegara.
Wanita di depan saya mengeluarkan smartphone nya dan me-chatt seseorang yang ia namai “momy”:
W : Maaaaa...
M : Iya sayang
W : Ma... keretanya ketahan teruuusss nih,, aku takut terlambat sampai kantor :’(
M : Makanya, kalau pagi itu mama bangunin ya langsung bangun
W : Iya... mama cepetin ajalah jam di kamarku biar aku cepat bangun
M : Iya, nanti mama cepetin
Saya tahu tidak sopan untuk ‘mencuri lihat’ percakapan seseorang, tapi posisi dan kondisi benar-benar sangat pas saat itu. (alasan)
Mendadak saya rindu ibu. Ibu yang selalu punya caranya sendiri membangunkan saya. ibu yang selalu mencium kening dan membacakan doa bangun tidur sambil menarik lembut tubuh saya hingga terduduk, walau dengan mata yang masih terpejam.
Saya rindu ibu. Ibu yang selalu bisa meredakan segala kelelahan hati dan pikiran saya. Setangkup roti bakar setiap malam ketika saya sibuk dengan tugas sekolah atau OSIS ketika SMA. Atau bahkan saat ini ketika saya lelah dengan segala hal yang terjadi, ketika tidur di samping ibu, semua hilang seketika.
Ibu seperti obat paling mujabarab bagi saya. Bukan, bukan ‘mungkin’, tapi senyatanya ibu memang obat termujarab untuk saya.
Seketika saya tersenyum begitu saja. mengucap syukur berkali-kali dalam hati dan berkata, ‘Tuhan, terimakasih sudah mengirimkan obat termujarab dalam hidup hamba’. Tidak ada ruang untuk menggerutu karena kereta yang tertahan, saya rela berdiri seharian ketika itu bisa membukakan jalan untuk membahagiakan ibu.
Saya berjanji akan bekerja sungguh-sungguh, bukan untuk membahagiakan ibu dengan gaji yang akan saya dapat sebagai CPNS ini, apalah arti gaji saya bagi kedua orang tua saya. Saya tahu, sangat tahu, Papah dan Ibu tidak pernah berharap untuk dibelikan apapun dengan gaji yang saya miliki, tidak pernah. Yang mereka inginkan hanya melihat anaknya bisa berdiri tegak dengan kakinya sendiri, kuat, kokoh; mereka hanya ingin tahu bahwa anak-anak mereka akan baik-baik saja saat waktu menjaga dan merawat kami telah habis. Walau bagi saya, saya tidak akan pernah bisa sempurna kuat tanpa mereka.
Mungkin saya anak yang paling payah. Tapi Tuhan tahu, setiap hari saya selalu berusaha untuk tidak mudah menangis karena mungkin papah dan ibu berharap tidak memiliki anak perempuan yang cengeng. Setiap hari saya berusaha untuk tidak mengeluh banyak hal yang tidak menyamankan, karena mungkin papah dan ibu tidak pernah ingin memiliki anak penggerutu. Setiap hari saya berusaha untuk melakukan hal sendiri, karena papah dan ibu selalu menginginkan anaknya mandiri. Setiap hari saya selalu berusaha tersenyum kepada sebanyak orang, karena papah dan ibu menginginkan anaknya menjadi orang yang bisa membahagiakan orang lain.
Setiap hari Tuhan tahu bahwa saya selalu berusaha menjadi anak yang diinginkan oleh Papah dan Ibu. Tapi saya yakin, papah dan ibu pun tahu.
Kali ini, ada sepotong rindu yang dijatuhkan Tuhan kepada saya atas nama IBU.
Di suatu pagi di dalam gerbong kereta yang tertahan di stasiun Jatinegara.
Wanita di depan saya mengeluarkan smartphone nya dan me-chatt seseorang yang ia namai “momy”:
W : Maaaaa...
M : Iya sayang
W : Ma... keretanya ketahan teruuusss nih,, aku takut terlambat sampai kantor :’(
M : Makanya, kalau pagi itu mama bangunin ya langsung bangun
W : Iya... mama cepetin ajalah jam di kamarku biar aku cepat bangun
M : Iya, nanti mama cepetin
Saya tahu tidak sopan untuk ‘mencuri lihat’ percakapan seseorang, tapi posisi dan kondisi benar-benar sangat pas saat itu. (alasan)
Mendadak saya rindu ibu. Ibu yang selalu punya caranya sendiri membangunkan saya. ibu yang selalu mencium kening dan membacakan doa bangun tidur sambil menarik lembut tubuh saya hingga terduduk, walau dengan mata yang masih terpejam.
Saya rindu ibu. Ibu yang selalu bisa meredakan segala kelelahan hati dan pikiran saya. Setangkup roti bakar setiap malam ketika saya sibuk dengan tugas sekolah atau OSIS ketika SMA. Atau bahkan saat ini ketika saya lelah dengan segala hal yang terjadi, ketika tidur di samping ibu, semua hilang seketika.
Ibu seperti obat paling mujabarab bagi saya. Bukan, bukan ‘mungkin’, tapi senyatanya ibu memang obat termujarab untuk saya.
Seketika saya tersenyum begitu saja. mengucap syukur berkali-kali dalam hati dan berkata, ‘Tuhan, terimakasih sudah mengirimkan obat termujarab dalam hidup hamba’. Tidak ada ruang untuk menggerutu karena kereta yang tertahan, saya rela berdiri seharian ketika itu bisa membukakan jalan untuk membahagiakan ibu.
Saya berjanji akan bekerja sungguh-sungguh, bukan untuk membahagiakan ibu dengan gaji yang akan saya dapat sebagai CPNS ini, apalah arti gaji saya bagi kedua orang tua saya. Saya tahu, sangat tahu, Papah dan Ibu tidak pernah berharap untuk dibelikan apapun dengan gaji yang saya miliki, tidak pernah. Yang mereka inginkan hanya melihat anaknya bisa berdiri tegak dengan kakinya sendiri, kuat, kokoh; mereka hanya ingin tahu bahwa anak-anak mereka akan baik-baik saja saat waktu menjaga dan merawat kami telah habis. Walau bagi saya, saya tidak akan pernah bisa sempurna kuat tanpa mereka.
Mungkin saya anak yang paling payah. Tapi Tuhan tahu, setiap hari saya selalu berusaha untuk tidak mudah menangis karena mungkin papah dan ibu berharap tidak memiliki anak perempuan yang cengeng. Setiap hari saya berusaha untuk tidak mengeluh banyak hal yang tidak menyamankan, karena mungkin papah dan ibu tidak pernah ingin memiliki anak penggerutu. Setiap hari saya berusaha untuk melakukan hal sendiri, karena papah dan ibu selalu menginginkan anaknya mandiri. Setiap hari saya selalu berusaha tersenyum kepada sebanyak orang, karena papah dan ibu menginginkan anaknya menjadi orang yang bisa membahagiakan orang lain.
Setiap hari Tuhan tahu bahwa saya selalu berusaha menjadi anak yang diinginkan oleh Papah dan Ibu. Tapi saya yakin, papah dan ibu pun tahu.
Sunday, May 17, 2015
Sepuluh Tahun Bersepuluh
Dan jika ku ingat-ingat, mungkin sudah sepuluh tahun ini kita saling mengenal...
Wahai para perempuanku,
dengan segala keunikan dan kelebihan masing-masing yang kalian miliki.
Terimakasih sudah tetap untuk saling menjaga hubungan ini selama sepuluh tahun terakhir hidup kita.
Entahlah kita ini apa,
dan apa pentingnya untuk mendefinisikan kita bersepuluh ini apa.
Tapi yang jelas, setidaknya kita pantas merayakan sepuluh tahun waktu yang kita punya untuk tidak memilih saling meninggalkan.
Di kehidupan saat ini yang tak memungkinkan kita untuk bersua enam hari dalam seminggu seperti saat kita berseragam abu-abu,
Sangat mungkin kita menemukan orang lain yang jauh memahami diri kita, dan kita paham itu bukan hal yang harus dipusingkan.
Karena di jalur kehidupan kita yang sudah berbeda, maka memilih untuk tetap menjaga dan menyapa, adalah lebih dari cukup.
Aku percaya bahwa Tuhan akan menambah nikmatNya ketika kita bersyukur.
Maka aku bersyukur untuk kalian.
Terimakasih atas hal-hal yang telah dibagi selama ini,
Terimakasih atas nasihat untuk saling mengingatkan kebaikan,
Terimakasih atas waktu untuk saling menyapa dan bertanya keadaan,
Terimakasih atas kebersamaan untuk saling menguatkan,
Terimakasih.
Dan selamat 10 TAHUN untuk kita bersepuluh, Vermes!
Teruntuk Mantan Teman Sebangku
Ditemukan oleh seseorang yang memang kita harapkan untuk menemukan kita bukanlah perkara mudah. Ada kekuatan yang memiliki hak penuh untuk mengatur pertemuan itu, tidak lain adalah Tuhan.
Maka jika pagi ini gue melihat kalian duduk berdua bersandingan. Mengucap ikatan suci saling menjaga dan menerima satu sama lain untuk saling menguatkan. Maka gue yakin, kebersamaan kalian adalah bentuk kehendak Tuhan.
Cinta kalian diizinkan.
Suci Astri,
Bahkan gue lupa kenapa sepuluh tahun yang lalu kita bisa duduk satu meja. Saat itu, gue enggak pernah berpikir kalau lo bakal menjadi salah satu orang yang akan gue sayangi dan gue jaga selayaknya keluarga seperti saat ini. Gue lupa apa dulu kita pernah bertengkar atau sekedar diam-diaman?
Mungkin...
Mungkin sepuluh tahun yang lalu, hanya sebuah alasan sederhana yang membuat kita saling bertemu. Mungkin kalau kita masih mampu untuk mengingat, hanya sebuah alasan sederhana yang membuat lo duduk di sebelah gue, satu meja.
Tapi bukankah ini menjadi sangat ajaib?
Bahwa Tuhan selalu punya cerita untuk mempertemukan manusia.
Bahwa sebuah alasan sederhana bisa menciptakan sebuah hubungan keluarga yang semoga bisa bertahan hingga kita tak akan menangisi kepergian yang lainnya kelak. Karena kita tahu, kepergian itu di luar kuasa kita, bukan karena ego, bukan karena marah, bukan karena lelah untuk memaafkan, tapi karena sesederhana 'kematian'.
Maka pagi ini gue menyadari satu hal, untuk tidak pernah lupa memperhitungkan sebuah kesederhanaan.
Dan apapun alasan sederhana yang terjadi sepuluh tahun lalu yang membuat lo jadi teman sebangku gue, gue bersyukur. :)
Uci... Selamat ya...
Selamat karena lo diizinkan Tuhan untuk bersama seseorang yang memang lo inginkan. Selamat karena lo diizinkan untuk mencintai orang yang memang ingin lo cintai. Jika lo paham akan keberuntungan ini, maka janji ke gue buat menjaga agar selamanya lo tetap menjadi wanita yang beruntung.
Berusahalah untuk jatuh cinta berkali-kali di hati yang sama, hati yang telah lo pilih di pagi ini.
Berusahalah untuk terus menjaga laki-laki yang sama, laki-laki yang duduk di sebelah lo di pagi ini.
Berusahalah untuk memperjuangkan harapan yang sama, harapan yang kalian doakan di pagi ini.
Berusahalah untuk mendapatkan keberuntungan yang sama, keberuntungan yang kalian punya di pagi ini.
Berusahalah untuk bahagia, seperti kebahagiaan yang kita punya di pagi ini.
Dan jika mungkin suatu saat lo merasa kepayahan untuk mengusahakan itu semua, lo pasti tahu siapa orang yang bisa lo hubungi (walau mungkin hanya sekedar) untuk berbagi kepayahan itu... :)
Jakarta, 17-05-2015
Vmz Sa.
Maka jika pagi ini gue melihat kalian duduk berdua bersandingan. Mengucap ikatan suci saling menjaga dan menerima satu sama lain untuk saling menguatkan. Maka gue yakin, kebersamaan kalian adalah bentuk kehendak Tuhan.
Cinta kalian diizinkan.
Suci Astri,
Bahkan gue lupa kenapa sepuluh tahun yang lalu kita bisa duduk satu meja. Saat itu, gue enggak pernah berpikir kalau lo bakal menjadi salah satu orang yang akan gue sayangi dan gue jaga selayaknya keluarga seperti saat ini. Gue lupa apa dulu kita pernah bertengkar atau sekedar diam-diaman?
Mungkin...
Mungkin sepuluh tahun yang lalu, hanya sebuah alasan sederhana yang membuat kita saling bertemu. Mungkin kalau kita masih mampu untuk mengingat, hanya sebuah alasan sederhana yang membuat lo duduk di sebelah gue, satu meja.
Tapi bukankah ini menjadi sangat ajaib?
Bahwa Tuhan selalu punya cerita untuk mempertemukan manusia.
Bahwa sebuah alasan sederhana bisa menciptakan sebuah hubungan keluarga yang semoga bisa bertahan hingga kita tak akan menangisi kepergian yang lainnya kelak. Karena kita tahu, kepergian itu di luar kuasa kita, bukan karena ego, bukan karena marah, bukan karena lelah untuk memaafkan, tapi karena sesederhana 'kematian'.
Maka pagi ini gue menyadari satu hal, untuk tidak pernah lupa memperhitungkan sebuah kesederhanaan.
Dan apapun alasan sederhana yang terjadi sepuluh tahun lalu yang membuat lo jadi teman sebangku gue, gue bersyukur. :)
Uci... Selamat ya...
Selamat karena lo diizinkan Tuhan untuk bersama seseorang yang memang lo inginkan. Selamat karena lo diizinkan untuk mencintai orang yang memang ingin lo cintai. Jika lo paham akan keberuntungan ini, maka janji ke gue buat menjaga agar selamanya lo tetap menjadi wanita yang beruntung.
Berusahalah untuk jatuh cinta berkali-kali di hati yang sama, hati yang telah lo pilih di pagi ini.
Berusahalah untuk terus menjaga laki-laki yang sama, laki-laki yang duduk di sebelah lo di pagi ini.
Berusahalah untuk memperjuangkan harapan yang sama, harapan yang kalian doakan di pagi ini.
Berusahalah untuk mendapatkan keberuntungan yang sama, keberuntungan yang kalian punya di pagi ini.
Berusahalah untuk bahagia, seperti kebahagiaan yang kita punya di pagi ini.
Dan jika mungkin suatu saat lo merasa kepayahan untuk mengusahakan itu semua, lo pasti tahu siapa orang yang bisa lo hubungi (walau mungkin hanya sekedar) untuk berbagi kepayahan itu... :)
Jakarta, 17-05-2015
Vmz Sa.
Subscribe to:
Posts (Atom)















