Tuesday, February 17, 2015

WHEN SOMEONE LOVES YOU


Ali Bin Abi Thalib pernah berkata,”never explain yourself to anyone, because the one who likes you you wouldn’t need it, and the ones who dislikes like you wouldn’t believe it.”, couldn't more agree!!

Kita tidak perlu menjelaskan kepada semua orang tentang siapa diri kita. Seseorang yang benar-benar peduli akan selalu menemukan jalan untuk mengerti, bahkan beberapa orang telah diciptakan Tuhan untuk mengerti diri kita effortless. We can understand each other, even there’s no words.

Seperti saat seorang sahabat yang tetap bertanya “apakah kamu baik-baik saja?” walau kita sedang tertawa begitu keras. Atau saat seseorang ibu yang memeluk anaknya tiba-tiba sambil berkata “semuanya akan baik-baik saja”. Atau saat seseorang menggemgam tangan kita dan bilang, “jangan takut aku di sini”.


Mereka adalah orang-orang yang mengerti kita walau kita tidak menjelaskan sepatah katapun tentang apa yang kita rasakan, apa yang kita inginkan ataupun butuhkan, dan bahkan mereka tetap mengerti kita saat kita mencoba menipu diri kita sendiri. Dan mereka ada.

Ajaib. Terkadang saya berpikir dunia ini penuh keajaiban yang lebih sering kita ingkari. Entah karena takut terdengar seperti naif atau kita yang lebih sibuk menghitung harapan yang gagal diwujudkan dan memilih untuk tidak lagi percaya dengan keajaiban? Kemudian kita lupa bahwa ada hal-hal indah yang tidak kita minta tapi tetap diberikan oleh Tuhan dan alam semesta. Maka mari kita berfokus untuk bersyukur atas mereka yang mencintai dan TETAP MEMILIH untuk mencintai kita hingga detik ini.

Dan bagaimana untuk mereka yang memilih untuk meninggalkan kita? Just let them go.

Seseorang tetap berada di sisi kita maupun seseorang yang pada akhirnya pergi meninggalkan kita, semuanya adalah pilihan mereka. Kita tidak punya kuasa untuk tetap menahan seseorang ataupun siapapun untuk tetap dalam hidup kita. Karena saya percaya, setiap orang memiliki rumahnya masing-masing untuk di tuju. Kita bisa menjadi seperti rumah bagi seseorang, bisa jadi juga tidak.

Kita tidak pernah bisa memaksa seseorang untuk tetap tinggal, karena mungkin kita bukan rumah sebagai tujuan dia datang. Karena mungkin kita bukan orang yang sedang dicari. Jadi biarkan siapapun yang ingin pergi untuk pergi.
Saya selalu senang ketika ada seorang teman yang tiba-tiba menghubungi saya saat ia tertimpa masalah. Seseorang teman yang lain berkata, “ah dia mah dateng kalau lagi ada masalah aja, coba pas lagi seneng-seneng, lupa sama kita”. Saya memiliki pandangan yang berbeda. Bagi saya, menjadi orang yang diingat seseorang saat ia bersedih jauh lebih membanggakan, mengapa? Karena itu artinya kita adalah orang yang ia andalakan untuk menolong kesedihannya. Dia menghubungi kita karena dia percaya kita bisa menolongnya atau paling tidak membuat dirinya merasa lebih baik. Dan itu sudah cukup bagi saya untuk merasa bahagia, karena ada saya sebagai tujuan dia untuk menghapus sedihnya.

Kenapa pada akhirnya saya menulis tulisan ini? Karena kemarin seorang teman menasihati saya untuk tidak terlalu mudah melepaskan dan mengiklaskan sesuatu dan seseorang. Katanya, adakalanya kita dituntut untuk berjuang mempertahankan. Kita hanya boleh ikhlas dan pasrah membiarkan seseorang itu pergi setelah kita tahu bahwa kita cukup melakukan usaha agar dia tetap bersama kita.

Ya. Apa yang dikatakannya tidak salah, tapi kemudian saya bertanya kepadanya, bagaimana saat perjuangan yang kita lakukan tidak pernah dianggap sebagai suatu perjuangan baginya? Dan dia membalas, “kalau begitu sudah benar untuk melepaskannya, karena setidaknya, kamu sudah tahu bahwa kamu sudha cukup berusaha mempertahankannya”.
Saat ada orang-orang yang sangat mengerti diri kita tanpa sepatah kata yang kita ucapkan, Tuhan juga menyiptakan orang-orang yang sangat bisa menghargai diri kita atas hal-hal kecil yang kita lakukan—itulah orang yang pantas untuk diperjuangkan (bagi saya).

Menyukai, menyayangi dan mencintai seseorang ataupun sesuatu seharusnya tidak sulit—hanya karena kita menginginkannya. Dan melakukan hal yang ingin kita lakukan seharusnya menyenangkan dan membuat kita merasa bahagia bukan? Jadi, saya bertanya kepada diri saya sendiri, saat saya berada atau bersama seseorang, saya akan bertanya kepada diri saya, “apakah saya bahagia?” jika ya, maka saya akan bersyukur dan berjanji akan terus mempertahankan agar orang-orang ini akan tetap berada di dekat saya. Jika tidak, maka akan saya lepaskan. Kehilangan tidak lebih buruk dibanding dengan memaksakan diri untuk berada di sekitar orang-orang yang tidak membuat kita nyaman.

Bukankah hidup harusnya dihargai?

Dihargai dengan merasa bahagia.

Mengutip tulisan adik angkatan saya yang juga pujangga cinta, Jay Dewar:

“Tak ada yang lebih baik selain dua orang yang bertemu karena saling menemukan. Sama-sama berhenti karena telah selesai mencari. Tak akan ada yang pergi, sebab tahu bagaimana sulitnya mencari

Dan saya sepakat; Kebersamaan itu adalah tentang “saling” dan “sama-sama”, bukan sekedar ada karena “mengejar dan dikejar”.
Saling memperjuangkan dan sama-sama mempertahankan.


Tuesday, February 10, 2015

MEMAHAMI

Kalian tahu mengapa perempuan diciptakan rumit? mungkin karena Tuhan menciptakan laki-laki dengan kepintaran yang lebih. Perempuan itu seperrti teka-teki, dan tiap-tiap mereka memiliki tingkat kesulitan yang berbeda, maka berbeda pulalah laki-laki yang bisa menjawab teka-teki itu.

Itu kenapa tidak semua laki-laki bisa menaklukan seorang perempuan, dan tidak semua perempuan terasa menarik untuk ditaklukan oleh seorang lelaki.

hal terpenting yang harus dilakukan wanita dalam mencari pasangan adalah menjai dirinya sendiri. memperkenalkan kerumitannya dengan apa adanya agar kemudian laki-laki yang tepatlah yang akan mengerti dirinya
jadi seharusnya laki-laki yang mengaku jatuh cinta kepada wanita, tidak pernah mengatakan bahwa wanita terlalu rumit untuk dia mengerti.


*******************************

Wanita 1
“Lo pernah bilang ma gue, kalau soulmate itu kaya puzle. Sekilas mungkin ada beberapa bentuk yang sama, tapi pada akhinrnya hanya ada satu kepingan yang akan mengisi kepingan lainnya. Jadi diri lo apa adanya. Berbahagialah dengan segala kekurangan yang lo punya, karena akan ada laki-laki yang bisa sangat jatuh cinta dengan lo bahkan karena kekurangan yang lo punya itu”

Wanita 2
“Kalau kata kaka gue, seorang wanita yang merasa dirinya terlalu rumit harusnya berbahagia, karena dia hanya akan dimengerti oleh laki-laki yang pintar. Jangan terlalu sederhana jadi perempuan, apalagi berusaha menyederhanakan. Laki-laki butuh tantangan. Dan wanita yang standar-biasa-aja itu membosankan!”

Laki-laki 1
“Kami memang enggak ngebantah kalau fisik yang pertama kali kami perhatikan, tapi, pada akhirnya, kami juga nyari kenyamanan kok. Dan bentuk kenyamanan itu macem-macem. Ada laki-laki yang nyaman ketika wanitanya bisa diajak ngobrol serius, bercanda atau setema. Ada yang nyaman ketika wanitanya bisa menenangkan. Dan gue sebagai laki-laki juga harus mengakui, banyak juga cowok di luar sana yang nyaman kalau ceweknya ga banyak minta, bahkan kalau bisa dimintain, ya tapi buat gue sih itu jatohnya banci! Kalau lo macarin anak orang, ya lo usaha dong bisa nyenengin dia. Dan gue sih yakin sebenernya banyak cewek yang malah enggak nuntut macam-macem”

Wanita 3 –diam-

Wanita 2 ke Wanita 3
“Antena lo makanya dibenerin! Yang udah-udah kalau gue perhatiin, salahnya lo itu adalah kurang sensitif! Lo suka agak telat nyadarnya kalau lo lagi ada yang deketin!”

Wanita 3
“Kalau ada bengkel yang bisa benerin radar gue, udah dari kemaren gue masukin! Apa perlu gue nyoba ke ketok mejik?!”

Wanita 1
“Makanya sekarang mulai belajar lebih sensitif! Nih ya... kalau gue liatin yang bikin lo enggak sensitif itu karena lo keseringan denial kalau ada yang ngasih tahu lo lagi dideketin cowok!”

Wanita 3
“Enggak kok!”

Wanita 1
“Udeh lo diem aja dulu! Dengerin gue! Duduk anteng dulu lo. Sekarang gue tanya deh sama lo, kenapa sih lo harus sok-sok enggak mau ngaku kalau lo juga ngerasa lagi dideketin ma cowok?!”

Wanita 3
“Ya gue enggak mau keburu ke-GR-an aja, bray!”

Laki-laki 1
“Yaelah... dari jaman onta punuknya satu ampe onta punuk dua enggak berubah juga alasan lo, Kalau gitu, lo harus tingkatin ke-GR-an lo, GR dikit enggak apa-apa”

Wanita 3
“Apaan sih?! kayanya gue normal aja deh. Lagian kalau emang dia suka kenapa enggak langsung bilang aja sih?”

Laki-laki 1
“serba salah sih! kalau di-PDKT-in, lo nya lemot, giliran ada yang terang-terangan, lo katain norak! Lo tanya ma diri lo sendiri deh lo nyari cowok kaya gimana? At least mau di-PDKT-in kaya gimana?
“Oi! Cowok deketin cewek juga pake tak-tik kali!! Kami para cowok melakukan pendekatan terus kami nunggu sinyal, ni cewek suka juga ma gue?, gitu! Dan satu lagi ya, yang udah-udah kalau ada cwok yang deketin lo dan lo nya juga suka ma dia, lo tuh ngeresponnya datar banget!! Kaya ngasih lampu oren tau ga sih! cowoknya juga bakal bingung, mau maju apa mundur!”

Wanita 3
“Yaelaaaah apaan sih? emang mana yang salah sama respon gue? Udah bener juga! emang gue harus respon gimana?? Duh,,, gue enggak pengen jadi cewek norak kegatelan ya... ‘aku kangen sama kamu’ ogaaah gue... ogaaaah!!”

Laki-laki 1
“Ya enggak gitu jugaa kalii! dasar lo metromini 506, motong mulu kerjaannya! Dengerin ya... Gue tuh cowok ya,,, kalau dikasih respon macam lo kasih buat cowok yang udah-udah, gue juga sebagai cowok bakal bingung, ni cewek sebenernya nyaman ma gue sebagai temen doang apa gimana ya?, romantis enggak pernah, manja-manja juga enggak, mana kalau lo disuruh hubungin dia duluan aja susaaahnya minta ampun!”

Wanita 3
“Percayalah itu di luar kekuasaan gue!! Gue Cuma takut message yang gue kirim tu ngeganggu dia... lagian gue ga pinter nyusun kata!”

Wanita 2
“Lo emang ya! di suruh ngarang esai anti korupsi jaman Ospek lu juara, Jadi pemred kampus lo bisa, nyusun kalimat selamat pagi aja lo failed! Tuhan Maha Adil”

Wanita 3
“Solusi kaliiiii!!! Gue butuh solusi! Bukan penghakiman kaya gini!”

Laki-laki 2
“Yaudah, enggak papa. Jadi diri lo sendiri aja. Apa yang diomongin anak-anak itu emang bener sih, kadang cara lo ngerespon itu enggak jelas, lo mau apa enggak. Cuma, menurut gue itu bakal jadi tantangan tersediri buat para cowok yang mau kenal lo lebih deket. Gue boleh ya ngasih penilaian gue tentang lo?”

Wanita 3
“Boleh... jujur aja, enggak usah pake sensor. Gue orangnya selo!”

Laki-laki 1
“Emangnya lo blue film, pake acara sensor?! Orang macam lo mah cocoknya film boboho! apa kartun Arale si wajah besar... cuma kalau lo si hidup datar! hahahaha"


Wanita 3
“Tuh kan! Tuh kan! Ini nih! Ini niiiiiih!! Manusia macam ini yang mengikis kepercayaandiri gue! Yang mendoktrin gue kalau gue tuh Cuma bahan ketawaan!”

Laki-laki 2
“Udah-udah... tenang... jangan emosi. Boleh ya gue giliran ngomong?, Nih ya, gue sebagai temen lo yang atleast udah lima tahun lebih kenal sama lo. Bagi gue, enggak ada yang salah sama lo, sebagai cewek lo teman yang menyenangkan. Aura lo tuh nyenengin dan mungkin itu juga yang jadi alasan kenapa lo sering diisengin sama temen-temen yang lain. Karena lo itu enggak gampang marah, bahkan cenderung ngasih respon yang di luar dugaan, so kita makin seneng ngejahilin lo.

Wanita 1
“Nah berarti mulai sekarang lo dah ngerti kalau apa-apa yang keluar dari omongan temen-temen cowok lo kaya tadi itu Cuma bercanda, jangan dimasukin ke alam bawah sadar lo kalau lo beneran kaya pacarnya boboho, enggak lah, mendingan elo kemana-mana!!.

Laki-laki 2
“Bener!. Kedua, untuk beberapa hal lo tuh bisa sangat dewasa, mau lebih mengalah, mau lebih mendengarkan, plus lo selalu memberi respon yang bagus atas masalah yang kita share ke lo, dan itu nilai positif banget! Cuma terkadang mungkin sikap dewasa lo itu ada indikasi agak mengintimadasi para lelaki yang mau deketin lo,,, kaya minder gitu deh. Tapi inget! Ini nilai positif, terus seperti itu aja menurut gue, sekalian filter, biar laki-laki yang merasa pantas aja yang mau deketin lo.

“Ketiga, walau lo terkadang sangat dewasa, bijaksana dan kadang pemikiran lo terasa jauuh sangat tua!, tapi anehnya di waktu yang sama lo bisa sangat polos untuk memahami dan menerima suatu hal, lo ceroboh, dan suka ngelakuin hal-hal yang bikin kita yang liat dan denger ceritanya ketawa.

“Dan kadang yang gue tangkep, lo tuh ngerasa kalau lo sedang ditertawakan, padahal simpelnya, karena lo lucu! Bukan karena kami tidak berempati dengan kesedihan atau kemalangan yang sedang tertimpa sama lo. Lo sering bilang ma gue, ‘kenapa sih orang pada nahan tawa kalau gue lagi curhat sedih? Padahal gue butuh ditenangin, bukan diketawain, gue juga enggak mau ngelakuin hal bodoh kaya gitu, gue malu dan bla bla bla’, sekarang gini ya, lo cerita sama satpam yang jarang ketawa gih, lo cerita pas lo geplak orang dari belakang, terus lo narik-narik tasnya yang ujung-ujungnya ternyata lo salah orang?! Apalagi kalau lo lagi cerita itu full ekspresi, kalau tu satpam enggak ketawa, iris kuping gue! So,,, berhenti mengunderestimatekan diri lo. Semua hal yang lo anggap kekurangan selama ini justru hal yang menarik dan enggak semua wanita punya. Lo unik!”



Laki-laki 1
“ih bener banget tuh! kaya lo nendang gue pas gue ketawa dengerin lo curhat nabrak lemari kaca mading! Itu bukan karena gue ga simpati ma lo, Cuma gue ngebayangin aja gitu gimana respon orang-orang yang ngeliat cwek macam lo nabrak lemari kaca! Hahahaha”


Wanita 3
“bisa dilanjut aja enggak penilaiannya gue? Enggak usah diinget-inget lagi soal nabrak-nabrak begitu”

Wanita 2
“Percaya deh sama gue, bakal ada laki-laki yang akan memahami segala keunikan lo dan menerima lo apa adanya. Menerima kecerobohan lo, ketidaksensitifan lo dan hal lainnya. Karena dia bakal lebih melihat lo sebagai pendengar yang baik, lo sebagai orang yang sangat care dengan orang lain, lo sebagai orang yang menyenangkan dan selalu berpositif thinking, trust me! He is somewhere out there.”

Wanita 1
“Tapi ya... iyasih SE-MO-GA akan ada cowok yang jatuh bangun pantang menyerah dan sangat sabar untuk menerka-nerka kode morse dan sandi-sandi lo yang enggak jelas,, tapi apa salahnya sih kalau lo bisa lebih sensitif dan belajar buat lebih paham gimana ngasih feedback signal yang clear. Nih kadang ya... gue suka katawa-tawa aja ngeliat lo balesin komen di PATH, gue yakin ada beberapa tuh yang lagi ngincer lo, tapi lo balesnya lempeng aja... lempeng lo suka sok asik, Tapi sebenernya pasti enggak asik banget tuh buat tu cowok! hahahaha

Wanita 2
“Mana feeling lo cepet banget ilang udah kaya sinyal CDMA tau gak! ‘aku enggak suka ah sama dia habisnya dia gituuu,,, ngilfilin... , kalau yang itu aku enggak mau, habisnya gituu sih,,, enggak nyaman, kayanya semua ada aja cela-nya di mata lo! Kan cowok juga manusia, Ga ada yang sempurna!”

Wanita 1
“Kalau yang gue liat, sebenernya, gampang ilfil nya itu alasan yang dibuat-buat sama dia aja sebagai pembenar dan ngeyakinin dirinya sendiri kalau dia emang enggak suka dan enggak nyaman sama cowok. Buktinya dulu, jelas-jelas cowok yang ditaksir enggak banget, masih aja ditungguin ma dia. Untung keburu lo kemana dia kemana.”

Laki-laki 2
“Dia mah tipe yang harus klik aja sebenernya, Cuma suka ditutupi dengan banyak alasan yang bikin dia ribet sendiri! hahahah”

Wanita 2
Intinya, lo harus nyaman sama diri lo sendiri. lo harus yakin lo layak buat diperjuangin. Kadang suatu hal itu hanya menunggu waktu, bukan melulu karena ada hal yang salah. Kan jodoh di tangan Tuhan, sekarang tinggal berdoa aja yang kenceng biar si jodoh itu cowok yang baik.”

Laki-laki 1
“besok lagi kalau pembahasankita masih seputar kejombloan lo, fix, mending lo minta diodohin aja sama ortu lo!”

dan suara tawa mereka pecah malam itu.

Wednesday, February 4, 2015



Mungkin benar, ada banyak hal di dunia ini yang tidak perlu dimengerti secepatnya. Terkadang kita hanya harus menunggu dan membiarkan waktu memberikan ruang bagi pikiran kita untuk memahami hal-hal itu. Maka yang harus dilakukan saat ini adalah menerima
.
Saya percaya, Tuhan menciptakan beberapa hal saling bertolak belakang sesungguhnya agar memudahkan kita untuk mendefinisikan satu dan yang lainnya; seperti kita butuh merasakan sedih untuk menghargai kebahagiaan; kita butuh tahu bagaimana rasa pahit agar kita paham bagaimana manis; kita butuh tahu bagaimana dikecewakan agar kita bersyukur ketika kita dibahagiakan, dan seterusnya.

Tapi sering yang saya temukan adalah banyak orang yang mengeluh saat matahari bersinar terlalu terik, kemudian tetap mengeluh ketika hujan terlalu sering merintik. Apa mungkin ini karena kita yang terbiasa untuk menyalahkan banyak hal bahkan semua hal?

Yang saya tahu, sedih itu manusiawi. Kadang saya membiarkan hati saya mengakui bahwa saya sedang bersedih atau kecewa. Dan saya bersyukur, saya dikelilingi orang-orang yang selalu mengajarkan saya untuk bisa menghargai semua perasaan yang kita rasakan—dan kalian salah satunya. Jika kita bisa menikmati sebuah kebahagiaan, maka seharusnya kita juga bisa belajar menikmati sebuah kesedihan. Toh seperti yang saya bilang tadi, kita butuh paham apa itu bersedih agar kita jeli bagaimana cara terbaik untuk berbahagia.

Seperti kita butuh tahu bagaimana rasanya kehilangan untuk belajar bagaimana caranya mempertahankan.
Butuh tahu bagaimana rasanya disepelekan untuk belajar bagaimana caranya menghargai.

Jadi jika kita diberi kesulitan saat ini, diberi kesedihan, diberikan kehilangan, diberikan keputus-asa-an, mungkin Tuhan sedang membantu kita untuk memahami makna sebaliknya.

Kalian tahu, kadang sayapun muak untuk terus mencoba menenangkan dan menyenangkan hati dan pikiran melalui kalimat-kalimat bersayap seperti ini. Tapi, seseorang pernah mengatakan kepada saya, sesedih apapun kondisi yang kita punya, kita tidak boleh kehilangan kepercayaan kepada kebaikan Tuhan, karena mungkin kesedihan yang kita punya adalah kesempatan yang Tuhan berikan untuk membuktikan iman yang kita punya.

Ketika kita memercayai Tuhan, bukan berarti masalah kita akan tiba-tiba menghilang, tapi setidaknya, kita bisa meminta untuk menjadi lebih kuat. Karena kita percaya, jika kita punya Tuhan, kita punya segalanya


____ _____ _____

Dear teman-teman gue yang sedang bersedih karena sebuah kehilangan, sebuah kegagalan, sebuah kelelahan, dan sebuah kekecewaan dalam bentuk apapun. Tulisan ini gue tulis buat kalian, enggak tahu bisa nolong atau enggak, tapi semoga bisa sedikit mengurangi kesedihan kalian ya...

Gue cuma mau bilang kalau bersedih itu manusiawi. Engggak ada yang salah dengan rasa ini. Tapi kalau bisa sedihnya jangan lama-lama ya... :)

Monday, February 2, 2015

Menjadi Pendengar dalam Sebuah Perjalanan


Malam ini sebuah tulisan mematik keinginan saya untuk menulis tentang sebuah “perjalanan”. Tuhan mungkin tidak bisa didengar secara langsung lewat indra telinga, tapi sering saya merasakan Tuhan sedang berbicara kepada saya dalam bentuk sebuah cerita dari seseorang yang entah siapa, yang saya temui dalam sebuah perjalanan yang saya lakukan.
Saya selalu percaya bahwa setiap manusia yang saya temui dalam hidup ini, entah hanya beberapa jam atau menit bisa saja adalah sarana Tuhan untuk menyampaikan pesan kepada saya. Tuhan ingin saya mengerti dari sebuah proses perjumpaan dan mendengarkan. Itulah mengapa saya sangat mencoba untuk tidak pernah meremehkan siapapun yang saya temui, di manapun, dan kapanpun, karena saya selalu bertanya-tanya, pesan apa yang akan disampaikan Tuhan lewat cerita mereka kepada saya.

Saya pernah mendengar cerita dari seorang kakek tua yang dengan sangat sederhana ia mengatakan betapa ia sangat mencintai istrinya. Ia bilang bahwa ia mungkin tidak cukup banyak memberikan kebahagiaan kepada istrinya yang terbukti telah setiap menemaninya menua hingga saat ini.

Saya pernah mendengar cerita dari seorang ibu yang bercerita banyak hal tentang penderitaan Tenaga Kerja Wanita yang menjadi korban kekerasan para majikannya di Malaysia. Tentang bagaimana kita harus belajar berempati dengan kesusahan orang lain dan melakukan sesuatu untuk menolong mereka.

Saya pernah mendengar cerita dari seorang supir taksi yang mengaku sangat bersyukur atas kejutan-kejutan Tuhan dalam hidupnya. Dan darinya saya belajar bagaimana kita menggunakan iman, percaya bahwa Tuhan selalu bekerja lewat cara yang tidak terduga untuk mencukupkan hambaNya.

Saya pernah mendengar cerita dari seorang bapak yang sedang menderita disfungsi ginjal tentang betapa ia ingin kembali ke masa sehatnya dan menghabiskan lebih banyak waktu dengan keluarganya. Iya berkata kepada saya bahwa ia akan lebih banyak mengajak istrinya untuk berjalan-jalan ke Jogja, melakukan hal-hal menyenangkan di tempat-tempat yang dulu belum sempat mereka datangi.

Atau seorang ibu paruh baya yang sangat menyenangkan, mandiri, serta pintar, tak disangka beliau adalah salah satu putri dari seorang sastrawan ternama Indonesia, Chairil Anwar.

Saya bertemu mereka dalam perjalanan-perjalanan saya yang tak terduga, dan bagi saya cerita-cerita itu selalu meninggalkan sebuah pemahaman baru dalam melihat kehidupan. Saya kemudian sadar, bahwa siapapun dapat menginspirasi siapa saja.

Itu kenapa saya sangat suka sekali mendengarkan. Saya mungkin tidak bisa memberikan jawaban atau respon yang bisa menyamankan, tapi setidaknya, terkadang bukankah seseorang hanya butuh didengarkan?


Hidup itu seperti perjalanan. Akan banyak tempat yang akan kita kunjungi. Akan banyak manusia yang akan kita temui, sekedar kita sapa atau mungkin akan kita sayangi. Kita memang tidak akan tahu kemana tujuan akhir perjalanan ini. Tapi saya percaya, keyakinan atas kebaikan akan selalu membawa kepada tempat yang baik



Monday, January 26, 2015


Semua harus dimulai dengan prasangka baik,
Saat kau mulai melangkah menuju suatu tempat yang belum pernah kau ketahui,
Saat kau mulai melakukan sesuatu yang belum pernah kau lakukan,
Saat kau mulai bertemu dengan hal-hal baru,
Maka semua harus dimulai dengan prasangka yang baik.

Hatimu harus diisi dengan prasangka yang baik,
Saat kau tidak mendapatkan apa yang kau inginkan,
Saat kau mulai lelah memperjuangkan satu hal yang terasa tidak pernah selesai,
Saat kau kehilangan hal-hal yang kau cintai,
Hatimu harus tetap diisi dengan prasangka yang baik.

Tetaplah berprasangka baik,
Saat ketulusan dibalas dengan pamrih,
Saat kejujuran dibalas dengan pengingkaran,
Saat cinta dibalas dengan kebencian,
Tetaplah berprasangka baik.

Teruslah berpikir dengan baik dan penuh kebaikan,
Karena kau memiliki hati yang tidak pernah ingkar kepada mu
Karena kau memiliki pemahaman yang tidak pernah mengelabui mu
Karena kau memiliki orang-orang yang selalu mengingatkanmu,
Maka... teruslah berpikir dengan baik dan penuh kebaikan.

Kau mungkin akan kecewa, bersedih atau mungkin terluka,
Tapi ingatlah bahwa Tuhan tidak akan pernah jahat kepada hambaNya yang baik,
Dia selalu menjadi yang paling baik untuk hidupmu.
Percayalah bahwa Ia yang memiliki obat atas segala luka
Ia yang memberikan kecukupan atas segala kebutuhan
Ia yang menjadi sumber ketenangan atas segala kecemasan.

Jadi...
Tetaplah berusaha menjadi wanita yang baik,
Karena kecantikan akan hilang ditelan tua
Karena kepintaran akan memudar oleh lupa

Tapi wanita baik akan selalu menjadi wanita yang baik.

Tuesday, January 6, 2015

Happiness from The Stranger


“each moment contain s a hundred messages from God”
-Rumi-


Terkadang kita lupa bahwa kebahagiaan sering kali lahir dari hal-hal kecil yang sederhana. Karena mungkin memang benar, bahwa kebahagiaan bukan suatu hal yang rumit. Saya kemudian menyadari, bahwa kita memang tidak bisa meletakan kebahagiaan kepada siapapun selain diri kita sendiri, tapi kita harus tetap percaya bahwa siapa saja bisa membawa kebahagiaan dalam hidup kita.
Seperti kata Rumi, bahwa setiap momen—even the simplest one—selalu terkandung pesan Tuhan.

1. Percakapan di pinggir jalan

Beberapa kali saya melihat bapak tua itu. ia membawa setumpuk keset di atas kepalanya, dan seikat kemoceng di tangan kirinya.
Tangan kanannya memegang tongkat. Bukan sebagai penopang badannya, tapi sebagai alat yang menuntun ia berjalan, menentukan kemana ia harus mengambil langkah. Iya. Bapak itu tidak bisa melihat. Dan betapa penasarannya saya dengan si bapak penjual keset dan kemoceng ini.

Beberapa kali saya melihat sosoknya melintas di sekitaran kampus UGM. Tapi saya tidak bisa menjangkaunya karena posisi saya sedang mengendarai kendaraan dari arah yang berlawanan. Sekali, dua kali, saya hanya bisa melihatnya lewat begitu saja. Tapi apakah kalian percaya dengan keberjodohan? Dengan takdir? Dengan pernyataan bahwa setiap detik tidak pernah lepas dari perhitungan Tuhan? Ya, saya mempercayainya.

Siang itu saya melihat sosok itu lagi, masih dengan tumpukan keset di kepala dan seikat kemoceng warna-warni di tangan kirinya. Kali ini kami berada di jalur yang arahnya sama. Dia ada sekitar sepuluh meter dari kendaraan saya. implusif. Saya pasang reting kiri dan menepikan kendaraan tanpa pikir panjang di ruas jalan yang tertera tanda P-SILANG (dilarang parkir). Biarlah dimarahin SKK (Sistem Keamanan Kampus) sekali-kali. Bapak ini terlalu membuat saya penasaran untuk dilewatkan hanya karena tanda dilarang parkir.

“Pak... sebentar...” kata saya mencoba menghentikan langkahnya. Bapak itu berhenti.

“Pak... saya mau beli kemocengnya, boleh?” ucap saya yang saat ini sudah berdiri di hadapan si bapak.

“Boleh, Neng... sebentar ya” bapak itu kemudian jongkok dan menurunkan tumpukan keset dari kepalanya di atas trotoar jalan. Lalu ia mulai membuka ikatan rafia yang menyatukan kemoceng-kemoceng itu.

Saat itu saya diam. Memperhatikan perjuangan si Bapak membuka pilinan tali raffia kemoceng-kemocengnya dengan kondisi matanya yang buta. Benar-benar diam. Kemudian saya sadar bahwa si Bapak kesulitan membuka pilinan tali yang mengikat kemoceng-kemocengnya.

“Pak, biar saya bantu...” saya berusaha sekuat tenaga agar suara saya terdengar tidak bergetar.

“Bapak rumahnya di mana?” tanya saya. mata sudah basah.

“Saya tinggal di daerah UNY, Neng!” jawab si bapak dengan nada penuh suka cita.

“Bapak jalan kaki dari UNY ke UGM?”

“Kadang jalan kaki, kadang naik bis, Neng... kalau cuacanya adem kaya sekarang, ya bapak jalan kaki.”

“Barang dagangannya dapet dari mana, Pak?”

“Ini saya yang buat, Neng, kualitas terjamin pokoknya! Hehehe, mau beli kemocengnya berapa buah, Neng?”

“Terus anak bapak di mana? Kok enggak nganterin?” tanya saya tanpa menghiraukan pertanyaan bapak tadi.

“Anak saya juga sedang jualan, Neng. Ini kita bagi-bagi tugas.”

“Bapak enggak takut jalan sendirian begini?”

“Ngapain harus takut, Neng? Kan saya lagi cari rejeki yang halal, saya enggak minta-minta, semoga jatuhnya ibadah. Jadi ngapain takut, Neng... Allah yang lindungin saya. cukup.”

Saya meletakan selembar uang di atas tangannya,

“Ini berapa Neng? Saya masih bisa sedikit-sedikit lihat tapi agak gelap” kata si bapak membolak-balik lembar uang yang saya kasih. “Bapak harus ngembaliin berapa ke eneng?”

Kemudian saya pikir penting untuk memberitahu nominal uang yang saya berikan kepada si Bapak agar ia tidak salah ambil saat membayar ongkos bis. Bisa jadi kalau kenek bis nakal, uang ini tidak dikembalikan.

“Pak... ini uang se***kian buat kemoceng dan ongkos bapak pulang, ya... ditaruh di kantong atau tempat yang aman. Jangan sampai salah ambil dan ketuker buat bayar bis atau ngasih kembalian orang yang beli dagangan, Bapak”
Kemudian bapak itu mengucapkan terimakasih dan membingkis doa untuk saya. saya membantu memilin kembali tali rafia dan menyatukan kemoceng dagangan si bapak.

Kalian tahu, sesungguhnya sayalah yang harus berterimakasih kepada si Bapak. Karena bisa mendengar kata “cukup” dari seorang buta yang (bagi saya) hidup serba kekurangan itu adalah pelajaran yang tidak ternilai harganya.
Terimakasih Tuhan. Bagaimana hanya dalam waktu beberapa menit saya bisa melihat ada keyakinan dan keberanian seorang tua renta yang buta hanya karena ia percaya bahwa ia sedang beribadah untuk Mu. Bagaimana lewat sebuah kemoceng saya bisa memahami bahwa iman tetaplah iman—tidak bisa dinilai dari strata ekonomi ataupun kemampuan fisik.
Saya jadi berpikir bahwa mungkin memang benar bahwa kebercukupan terkadang adalah bentuk ujian yang tidak kita sadari membuat kita sulit memiliki kepekaan dari rasa cukup dan syukur. Maka mungkin, atas semua kecukupan yang Tuhan titipkan ini, harusnya kita lebih sering menyapa mereka yang sering diremehkan namun pada kenyataannya mereka lebih paham bagaimana caranya bersyukur.

2. Halte Trans Jogja

Kadang, saya merasa ada suatu hal yang menyuruh saya untuk melewati atau memilih jalan tertentu. Entah kenapa, hanya tentang saya-ingin-melewati-jalan-yang-ini-saja secara tiba-tiba. Begitupun saat itu, saat saya bertemu dengan seorang ibu umur paruh baya yang lahi-lagi juga buta di parkir masjid kampus UGM.
Saya baru keluar dari ruang ATM Bank Muamalat masjid kampus UGM. Entah kenapa rencana ambil uang yang tadinya setelah makan siang, saya putuskan untuk saya lakukan sekarang. Ibu itu lewat di depan saya dengan tongkat penuntunnya. Entah kenapa saya berjalan di belakangnya siap-siaga untuk menjaga kalau-kalau ada kendaraan ngebut yang bisa membahayakan si ibu.

Saat melewati pagar, menuju pertigaan jalan, ibu itu terlihat kebingungan. Sampai akhirnya ia memutuskan menyebrang dan ... okey, saya enggak bisa untuk hanya diam saja di belakang sambil nungguin ibu itu bisa selamat menyebrang sendirian. Mengingat tidak ada orang lain lagi di sana. Saya menghampirinya.

“Ibu mau menyebrang? Mari saya bantu”
Selepas menyebrang. Saya minta pamit untuk menyebrang kembali karena kendaraan saya terpakir di sisi jalan tadi.

“Nak... halte trans rumah sakit di mana ya?” tanya si Ibu?

“Halte trans rumah sakit? Yang mana ya maksud ibu?” untuk kali ini saya akui saya agak lemot dan telat paham. Mengingat konstruksi berpikir saya terkait lokasi dan tempat memang (sangat) bermasalah.

“Iya, halte trans yang dekat rumah sakit. Kata teman saya, kalau dari masjid UGM halte trans terdekat itu yang dekat rumah sakit.”

Dan saya masih proses berpikir.

“Panti Rapih, Nak”

“Astagaaaa! Maksud ibu, ibu mau ke halte trans jogja yang di depan RS Panti Rapih? Itu di sebelah sana bu... (sambil menunjuk ke arah depan, [saya lupa ibunya tidak bisa melihat]). Maksud saya, kita balik nyebrang lagi aja Bu,, karena haltenya lebih dekat lewat jalan potong belakang rumah dosen itu...”

Ibunya hanya diam

Duh, Nisaaaaa!!! Sama orang yang bisa lihat aja belum tentu paham sama petunjuk yang lo kasih!!, saya membatin. Tahu diri. Hm...

Akhirnya kami menyebrang ke tempat semula.

“Bu... ini ibu tinggal lurus saja ya... nah nanti sampe ketemu pertigaan jalan, ibu belok kanan.” Jelas saya.

“Oiya, Nak... terimakasih.”

Akhirnya si Ibu pergi berjalan ke arah yang tadi saya tunjukkan. Tapi kemudian...

“Bu....!” saya berlari kecil menyusul ibu tadi. Ibu itu berhenti.

“Bu... saya lupa, jadi di ujung jalan itu bakal ada semacam portal, nah ibu hati-hati ya melangkahnya, karena di bawahnya juga kaya ada rantai kecil gitu... jadi ibu agak tinggi aja ngelangkahnyaa...” DUH NISAAAA LO NGOMONG APAAN SIIIIH!!

Si ibu diam.

Dan okay. Saya tidak tega. Akhirnya saya memutuskan untuk...

“Bu... kalau ibu tidak keberatan, biar saya antar saja ya naik kendaraan saya ke halte trans nya, boleh ya?”
Ibu tadi masih diam. (takut kayaknya)

“Saya khawatir ibu kesulitan pas nanti ngelewatin portal. Kebetulan saya juga mau lewat ke arah sana kok. Mau ya?”

“Apa nanti tidak merepotkan?”

“Enggak apa-apa bu... mari saya antar ke kendaraan saya”

Kalian tahu, saat saya membawa ibu tadi menuju kendaraan saya, suasana tidak sesepi tadi. Ada beberapa satpam dan SKK yang jaga di pinggir jalan. Ah sudahlah, mungkin memang jalan Tuhan ketemu sama ibu ini.
Dan akhirnya sampai di halte yang dituju. Setelah saya parkir kendaraan dan membantu ibu tadi keluar dari kendaraan saya dihampiri oleh petugas trans Jogja yang juga ikut membantu menuntun si Ibu.

“Mas,, ibu ini mau ke daerah Gejayan, tolong dibantu ya” ucap saya.

“Iya, Mbak... ini......” nada petugas halte yang intinya ini-siapa-nya-mbak?

“Ibu ini tadi bingung di masjid kampus. Jadi saya bantu antarkan ke sini. Titip ya mas”, jawab saya.

Kemudian masnya tersenyum, “Siap, Mbak! Terimakasih ya!” jawab masnya semangat, “Ibu nanti tenang saja ya,, saya nanti yang ngarahin ibu biar bisa sampai ke gejayan!” lanjutnya lagi, kali ini kepada si ibu.

“inggih...” jawab si ibu

“Hahaha... sama-sama makasih mas... saya pamit” kata saya.

Kalian tahu,, perjalan dari masjid kampus UGM ke halte Trans Jogja menghabiskan waktu kurang dari lima menit. Tidak ada percakapan serius di dalam mobil. Tapi kalian tahu apa yang saya rasakan saat saya meninggalkan ibu tadi di halte trans jogja dan menitipkannya dengan petugas yang tampaknya cukup baik hati dan bisa dipercaya?
Saya merasa hati saya dipenuhi dengan kebahagiaan yang entah apa. Saya tersenyum sepanjang jalan menuju rumah. Mungkin ini bukti bahwa Tuhan benar-benar akan membantu hambaNya yang mau membantu hambaNya yang lain. Hanya karena saya membantu ibu tadi ke halte Trans Jogja yang jarak tempuhnya hanya lima menit, diganti Allah dengan mengahapus rasa sedih dan menggantinya dengan rasa bahagia yang tiba-tiba saja saya rasakan di pagi itu. Janji Allah enggak pernah bohong ya!

Teman, inilah yang saya sebut bahwa Tuhan selalu menyelipkan pelajaran, kebahagian, di tempat dan dari orang yang tidak pernah kita sangka. Inilah yang saya maksud bahwa jika kita bisa lebih peka, kita akan menemukan banyak kebahagiaan di dalam hidup kita. Kebahagiaan dari ucapan atau sekedar senyuman terimakasih orang lain yang belum pernah kita kenal sebelumnya.

Jadi mulai sekarang saya belajar untuk tidak meremehkan siapapun, dimanapun dan kapanpun, karena saya tidak pernah tahu, seberapa besar kebahagiaan yang Tuhan titipkan kepada mereka untuk diri saya. :)

Thursday, January 1, 2015

CEMAS YANG WAJAR


Krisna pernah bertanya kepada saya, tentang seberapa besar saya mempercayai keberadaan Tuhan. Saat itu saya menjawab bahwa saya tidak memiliki satuan yang tepat untuk menyatakan ukuran seberapa besar saya mempercayai Tuhan.

“Gunakan satuan ‘kecemasan’ dan gunakan dengan perbandingan terbalik”, kata Krisna.

Saya mengernyitkan dahi.

“Seberapa besar kecemasan yang ada di dalam hati dan pikiranmu. Jika kamu merasa memiliki banyak kecemasan tentang apa saja dalam hati dan pikiranmu, itu artinya kamu harus lebih mengenal siapa Tuhanmu dan belajarlah untuk lebih memercayainya.” Jelas Krisna menjawab kebingungan yang tampak di wajah saya.

“Bukankah merasa cemas adalah manusiawi?”, sanggah saya,”lalu atas dasar apa kamu mengatakan bahwa kecemasan dengan pengoprasian berbanding terbalik bisa mengukur kepercayaan kita kepada Tuhan?”

Krisna diam. Menarik nafas panjang dan membuang pandangannya ke luar.

“Kamu benar, merasa cemas adalah manusiawi. Cemas yang manusiawi timbul karena kita mengetahui bahwa sesungguhnya kita tidak mengetahui apa-apa. Dan ketidaktahuan itu seharusnya melahirkan kecemasan yang sewajarnya saja. tidak berlebih. Tidak kemudian menjadi ketakutan yang membabi buta.Cemas yang manusiawi adalah ketika kita tahu bahwa semua hal yang kita anggap kebaikan tidak selalu berarti kebaikan untuk kita. Segala hal yang kita cintai, kita sayangi, sesuatu yang ingin kita miliki belum tentu adalah sesuatu yang baik. Tapi seharusnya kecemasan berhenti di situ, Nisa.
Ketika kita memiliki rasa cemas karena ketidaktahuan, maka hal yang selanjutnya kita lakukan adalah mencari tahu.”

“Mencari tahu?” tanya saya sambil menangkap pandangannya. Krisna menatap saya sebentar, kemudian melempar padangannya lagi ke luar sembari berkata,

“Ketika kamu menginginkan sesuatu maka cara mencari tahu yang terbaik adalah dengan mengusahakannya sekuat tenaga, dengan cara yang benar tentunya. Tidak dengan curang, tidak dengan menipu, tidak dengan menyakiti orang lain. Perjuangkan apa yang kau inginkan dengan cara yang benar. Karena semua proses yang benar akan menghasilkan hasil yang benar juga, walau mungkin hasil yang kamu dapat tidak sesuai yang kamu harapkan. Tapi itulah kebenarannya, bahwa hasil apapun itu akan memberitahukan kepadamu apakah sesuatu yang kamu inginkan itu terbaik untuk kamu”
Krisna masih melempar pandangannya keluar, kemudian berkata,

“Jika kamu telah melakukan semuanya dengan benar, dan hasil akhirnya masih membuat kamu cemas, maka artinya kamu belum cukup memercayai keberadaan Tuhan. Karena itu artinya kamu menyangsikan kebenaran Tuhan atas semua yang sudah Dia rancang untuk hidup kita”

Kami sama-sama menarik nafas panjang. Saya mulai bisa memahami arah pikirannya. Saya menyepakati apa yang sudah ia jelaskan.

“Nisa, kesempatan terbaik kita untuk belajar adalah saat Tuhan mengizinkan kita memiliki sesuatu sekaligus merasakan kehilangan atas sesuatu tersebut.”

“Kenapa begitu?” tanya saya.

“Karena kita akan paham pada akhirnya bahwa segala sesuatu tidak bersifat selamanya. Semua serba semnetara. Kita kemudian akan paham dan tahu bagaimana menghargai apa yang sudah kita punya dan pada akhirnya mengikhlaskan apa-apa saja yang harus hilang dan pergi tanpa rasa sedih dan menyesal. Karena kita tahu kita telah menghargai hal tersebut sebelumnya. Karena kita tahu bahwa siklus itu akan selalu ada. Saat kau mendapatkan suatu hal maka kau harus siap untuk kehilangan.”

“Dan”, Krisna melanjutkan,”dengan konsep ini kita akan sama-sama paham bahwa kehilangan adalah kegetiran yang harus bisa kita terima. Kau tak perlu takut atau cemas kehilangan sesuatu ataupun seseorang, karena pada akhirnya mereka akan hilang. Cemaslah jika kau merasa tidak bisa menghargainya dan menjaganya dengan baik, karena mungkin kau akan menyesalinya kelak.”

“Aku rasa aku sudah terbiasa dengan kehilangan, Krisna” jawabku.

“Sesungguhnya tidak ada manusia yang akan terbiasa dengan kehilangan, Nisa. Sesering apapun kamu kehilangan barang-barang yang kamu sayang, orang-orang yang kamu cintai, jika setiap dari mereka hilang satu per satu, maka kau pun akan bersedih untuk tiap-tiap mereka yang pergi, untuk setiap benda yang hilang.
Tapi sekali lagi aku ingatkan, atas kesedihan-kesedihan yang mungkin datang kelak nanti janganlah kamu cemaskan sekarang. Karena kamu harus percaya, Tuhan selalu punya cara untuk menyembuhkan luka dari sebuah kehilangan.”

“Kamu benar. Aku masih sering bersedih bahkan menangis jika mengingat Bumbum. Masih terasa getir jika mengingat Alm. Bik Tinah yang saban pagi menyapu teras rumah dan memanggil Bumbum untuk pulang jika sudah sore. Dan aku masih sedikit marah dengan angka 0.2 yang gagal menggenapi hasil kelulusan. Kadang aku berpikir, mengapa Tuhan selalu membuatku sangat bekerjakeras untuk mendapatkan sesuatu, bahkan aku tidak mendapatkan apa yang aku mau walau sudah berusaha lebih keras dari yang lain?!”

“Karena Tuhan tahu, ketika kamu mendapatkan apa yang kamu inginkan setelah berupaya sekuat tenaga, kamu akan lebih menghargainya. Begitupun ketika kamu tidak mendapatkan apa yang kamu upayakan sekuat tenaga itu, kamu tidak akan menyesalinya karena kamu paham, upaya yang kamu lakukan adalah upaya kamu mencari tahu apakah yang sedang kamu upayakan adalah baik untuk kamu miliki atau tidak. Jika pada akhirnya kamu tidak mendapatkannya, artinya itu bukan yang terbaik untuk kamu. Dan tidak semua manusia diberikan mengecap proses seperti itu, Nisa. Bersyukurlah”

Saya tersenyum. Beruntung punya sosok Krisna dalam hidup saya. Krisna selalu menjadi tempat semua pertanyaan-pertanyaan dalam hati saya berlabuh. Dia bisa menjadikan ke-abu-abua-an yang saya bawa menjadi hitam atau putih. Keraguan hilang seketika.

Krisna yang paling tahu bahwa di dalam kepala saya tidak akan pernah habis pertanyaan-pertanyaan. Dan dia yang paling tahu bagaimana cara menjelaskannya dengan sederhana.

Ya. Benar kata Krisna bahwa mungkin kita harus belajar mengurangi kecemasan kita. Ketakutan-ketakutan akan masa depan atau hal-hal abstrak yang tidak bisa selesai hanya dengan menebak-nebak. Yang harus kita lakukan adalah mencari tahu lewat usaha, dan percaya bahwa Tuhan selalu memberikan hasil yang benar atas sebuah proses yang benar pula. Tanpa menipu dan menyakiti siapapun.

Mungkin Tuhan merahasiakan masa depan agar kita bisa menghargai semua proses yang harus dilalui. Menghargai semua orang yang kita temui. Menghargai semua hal yang telah kita miliki dan mencukupkan hati kita dengan tidak terus-terusan mengharapkan hal yang belum kita punya atau kita dapatkan.

Hingga detik inipun saya masih belajar untuk mencukupkan hati. Belajar menerima semua hal yang mungkin sebenarnya masih sulit bahkan sekedar untuk saya terima. Tapi mau tidak mau kita semua harus belajar seperti itu. dan mungkin akan harus terus belajar.