Tuesday, December 7, 2010

Ketika semua itu menjadi cerita kita





Saya heran. Tidak habis fikir.
Sampai akhirnya saya berada di satu titik—walau masih dalam keheranan—bahwa (ternyata) saya terberkati.
Beberapa tahun yang lalu, saya adalah mahkluk yang ingin selalu terlihat benar di mata semua orang; dan ternyata itu adalah sebuah kesalahan.

Saya terlalu senang. Tidak sabar. Sangat menanti yang namanya KKN.
Dalam pikiran saya, tiga momen besar di masa kuliah adalah: OSPEK, KKN dan WISUDA. saya punya segudang cerita tentang masa OSPEK saya di tiga tahun yang lalu. Hanya tiga hari. Dan sangat berkesan.

Buku catatan sudah saya siapkan untuk menyatat semua yang akan terjadi nanti ketika KKN. Pasti menjadi momen yang tidak terlupakan. Menyenangkan. Tidak terbayangkan.

Dan kenyataannya; memang ”sangat tidak terbayangkan”.

Diberi kepercayaan untuk menjadi seorang kormasit (kordinator mahasiswa sub unit), saya pasrah. Tapi, saya berfikir lagi, mungkin akan banyak pelajaran yang akan saya dapatkan melalui kondisi ini.
Saya bersyukur, ada tiga sahabat—Puspa, Noe, Tiara—yang selalu siap menopang keletihan dan kelemahan saya saat KKN. Dan ada empat orang lainnya yang mempunyai karakteristik berbeda. Kirun yang cenderung cuek dan galak, Aryo si buku biru berjalan, Asrul yang perhatian, si pemilik senyum-choki-sitohang, dan Afi si misterius sang belahan hati mas jumal (hehehee maaf fi...). Setidaknya mereka menjadi alasan bagi saya untuk tetap tersenyum setiap harinya. Terimaksih teman-teman.

Saya tidak tahu apakah kalian merasakan hal yang sama dengan diri saya atau tidak. Tapi ini bukanlah KKN yang saya bayangkan. Seandainya saya bisa menangis, mungkin hampir setiap hari saya menangis. Tapi kenyataannya, saya hanya bisa duduk di teras pondokan bersama laptop saya di pagi hari ketika yang lain masih tertidur. Sekedar menumpahkan beban yang saya rasakan. Lagi, kalian yang memaksa saya untuk tetap tersenyum.
Saya ingin menulis ini semua. Dengan sederhana, dan dengan jujur.
Betapa setiap hari ketika saya membuka mata, rasa takutlah yang pertama menyapa saya. Lantas, rasa bingung yang menyapa kemudian. Saya pasrah. Tapi bukan itu yang ingin saya tuliskan di catatan ini.

Ini tentang kalian.









Beberapa kali saya merasa terpojok dan terasing. Tapi kalian selalu merubahnya menjadi hangat seakan saya berada di antara pelukan. Beberapa kali saya merasakan kebencian yang dalam. Tapi (lagi) kalian membuatnya jadi mudah untuk dimaafkan. Beberapa kali saya ingin menangis sejadinya, memaki, menyalahkan, dan segala hujatan yang ingin saya keluarkan. Dan kalian, membuat saya lebih memilih untuk menertawakan itu semua dibanding menyesalinya.







Saya sedih, ketika saya merasakan mereka menilai kita hanya dari ”tampak” kita didepan mereka. Saya marah ketika kita seperti bagian lain dari KITA yang sesungguhnya. Saya benci ketika harus dinilai oleh mereka yang tidak pernah mau untuk mengenal kita lebih dalam. Perasaan saya kacau saat itu.
Tapi ternyata benar. Waktu adalah obat terampuh untuk menyebuhkan luka. Luka itu tidak lagi menjadi sesuatu yang menyakitkan, tapi berubah menjadi sesuatu yang penuh dengan pelajaran untuk menjadi manusia yang bisa memaafkan dan saling menerima kekurangan.

Pada awalnya, saya terlalu sibuk mendengar penilaian mereka terhadap kita. Belakangan, saya belajar, bahwa tidak semua penilaian orang lain terhadap diri kita harus selalu kita dengar. Mereka berhak menilai. Dan kita berhak untuk mengabaikan. Karena saya cukup bersyukur memiliki kalian. Akhirnya saya belajar, bahwa hanya Tuhan dan diri kitalah yang memiliki posisi tertinggi untuk menilai benar atau salahnya sesuatu yang kita kerjakan. Karena tidak ada kemutlakan di antara salah dan benar. Setidaknya itu berlaku bagi saya.

Hari-hari terakhir, kita belajar lebih banyak hal lagi teman. Kita belajar untuk memaafkan ketika kelelahan dan keikhlasan kita terbayar dengan kesalahpahaman. Ketika sebuah harapan terpupuskan dengan kesensitifan yang berlebihan. Tidak ada satupun yang menangis saat itu. Kita lebih memilih untuk menertawakanya.






Hari-hari terakhir, kita belajar untuk lebih mengenal satu sama lain. Afi yang awalnya dinilai sangat misterius dan tampak egois, berubah 180 derajat menjadi sangat terbuka dan selalu berusaha untuk berbagi. Dan saat itu saya sadar bahwa saya telah salah menilai teman kita yang satu ini.

Hari-hari terakhir yang penuh dengan perenungan; kita memilih untuk menyelesaikan masalah-masalah dengan terhormat; dengan memaafkan.

Dua bulan kita hidup bersama. Banyak luka yang kita sulap menjadi suka untuk kita bagikan. Banyak nasihat yang saling kita berikan. Banyak pelajaran yang saling kita ajarkan. Banyak momen yang saling kita rasakan.

Dan pada akhirnya...


Kita akhiri ini semua dengan kelegaan.

dengan sebuah kesadaran bahwa dalam KKn 2 bulan ini,banyak kisah yang kita ciptakan.





Additional note:
Gara-gara kalian gue jadi ketagihan yang namanya tempura!! Padahal awalnya gue agak jijik aja ama tu makan. Kangen cabut ke pantai!! Kangen klayaban bingung malem-malem. Kangen ngajar TPA bareeeng!! Kangen minta toloong Asrul buat masukin motor! Kangen sama masakan Tiara!! Kangen ngeladenin bocil-bocil, Kangen sama curhatan Afi, Puspa n Noe!!


sayang kalian





Monday, November 29, 2010

JINGGA



Senja itu terulang dalam jingga yang samar, langitku terasa damai. Bumi menyepi.
Aku melihat awan-awan itu beriringan, melebur untuk menari bersama angin.

Hitam menang mencipta malam. Sendu bulan membingkai sepi dalam gelap. tak ada bintang.
Dan aku mengartikannya, sunyi.

Temanku di beberapa malam ini hanyalah helaan nafas dalam.
seperti menanti nasib. Bimbang tak karuan. Sampai akhirnya aku memanggil air mata.
Menatap wajah galau dalam gerakan dunia yang cepat.
Aku tertinggal,,,

Malam ini benar-benar sunyi.
Tak ada malaikat yang melayang membagikan mimpi dan harapan untukku,
bahkan kepakan sayapnya pun tak terdengar
Cahaya malamku hanyalah remang-remang, tak sampai untuk menghangatkan kalbuku.
Aku rindu,,,

Semakin sakit ketika air mata ini berteriak bahwa aku rapuh,
aku luluh,,
lumpuh,,
nyaris hancur.

Hitam tak sekuat yang ku kira. Ia lenyap perlahan ketika pagi merangkak di atas bumi.
Awan-awan baru mulai menggumpal--langit tak lagi kosong--burung-burung berlomba menembusnya satu-satu.
Remang-remang ini menjadi cahaya yang utuh.

Aku bangun.
Jingga datang. Kali ini tidak bersama senja.


Jingga datang bersama harap.

Thursday, November 18, 2010

Ketika Menulis Bukan Hanya SEKEDAR...


“Menulislah. Walau hanya selembar atau dua lembar. Menulislah. Tumpahkan pikiran anda dalam sebuah tulisan. Karena seorang sarjana hukum tidak hanya dituntut untuk bisa berbicara, namun juga menulis”
Prof. Sudikno



Kalimat itu saya tulis di notebook yang saya bawa. Tangan saya bergerak begitu saja ketika mendengar ucapan seorang guru besar yang sedang duduk di hadapan saya. Anggaplah ini cara Tuhan untuk memberikan sebuah pelajaran (lagi) kepada saya—si bodoh ini.

Di satu kesempatan, saya dan adik kelas saya Lia harus mengumpulkan data-data terkait dengan kekhasan kampus kami—Fakultas Hukum UGM—sebagai bahan penyusunan buku sejarah yang akan di launching di lustrum 65 tahun fakultas kami. bermula dari celoteh ramah dosen adat saya—Ibu Puji—saya mendapatkan rekomendasi nama untuk diwawancarai terkait bahan yang ingin saya cari, “Prof Dikno saja mbak. Beliau pasti punya banyak informasi tentang bahan yang sedang kamu cari” sambil tersenyum.
Dan singkat cerita, duduklah saya dihadapan seorang…, entahlah, mungkin banyak orang menyebut beliau dengan panggilan “Prof!” atau mungkin gelar Guru Besar yang anggun tersandar dalam profilnya yang jika digambarkan membuat beliau berada di kasta tertinggi dalam struktur sosial masyarakat kampus.
Sedangkan saya? Jelas, rakyat jelata.

Saya, Lia dan Prof Dikno larut dalam sebuah perbincangan yang mencoba untuki membuka sekat-sekat waktu dan zaman. Alangkah hebatnya sejarah. Benar saja ketika presiden pertama kita, Ir. Soekarno, mengatakan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya. Karena sejarah bukan sekedar cerita, bukan sekedar jejak langkah masa lalu. Lebih dari itu. Sejarah adalah ilmu, dan ilmu adalah salah satu hal yang berharga dalam sebuah peradaban manusia.

Di sela-sela perbincangan kami mengenai “kekhasan” FH UGM, Prof Dikno mencurahkan kegelisahannya, “itulah yang membuat saya prihatin. Mengapa semakin hari dosen-dosen terasa enggan untuk menulis. Bukannya salah ketika mereka pada akhirnya lebih memilih mengaplikasikan ilmu pengetahuannya langsung pada masyarakat, tapi menulis itu tetap penting.” Lalu beliau melanjutkan, “kalian berdua jangan takut untuk menulis! Jangan pedulikan ketika ada suara-suara yang mengatakan tulisan kalian tidak bagus. Jawab saja: maklumi ketika tulisan saya tdak bagus, kan saya belum menjadi sarjana hukum.” Ujarnya sambil tertawa.

Sungguh, ada kehangatan yang mengalir di dalam tubuh saya. Maaf, bagi saya—si mahasiswa yang tidak tahu apa-apa ini—rasanya lebih nyaman memanggil beliau dengan panggilan “Bapak”, karena bagi saya, title terhebat untuk seorang laki-laki dewasa adalah sebutan Bapak. Dan bagi saya, menjadi seorang bapak yang baik jauh lebih menawan dibanding sematan apapun. Dan Prof Dikno telah menjadi bapak yang baik di mata saya.

Ilmu yang beliau miliki jelas terasa dalam santun tutur ketika beliau berbicara. Kalimat yang terlontar dari mulut beliau seperti ilmu yang terselimut nasihat. Jauh dari kesan menggurui. Lebih pada menasihati. Bukan sekedar ilmu sejarah ataupun ilmu hukum sesuai jurusan kuliah saya yang saya dapat, lebih dari itu, sebuah ilmu kehidupan.

Dituntut untuk berhubungan dengan seorang Professor ataupun guru besar bukan tidak menjadi beban dalam benak saya. Ketakutan: bagaimana kalau saya ditanyai macam-macam tentang pelajaran hukum? Bagaimana kalau nanti saya di-jutekin, bagaimana kalau saya diusir karena para professor itu terlalu sibuk? bagaimana… dan semua bagaimana yang bernilai negative melintas di benak saya. Sampai akhirnya sisi lain dari hati saya berucap: bagaimana kamu akan tahu kalau kamu belum mencoba Sa?!. Saya jadi ingat kalimat bagus dalam sebuah buku yang pernah saya baca: Terkadang, hidup itu tidak melulu untuk meraih sesuatu. Namun hakikat hidup adalah untuk mencoba; mencoba untuk melakukan, menjadi bahkan meraih sesuatu.

Ternyata benar. Ketakutan saya tentang bagaimana kalau--- adalah ketakutan akan suatu hal yang bahkan belum terjadi. Orang mengatakannya sebagai sebuah ketakutan yang tidak beralasan. Dalam pertemuan yang singkat itu, saya dan Lia mendapat pelajaran yang berharga. Beruntung setelah itu Lia mendapat kesempatan mewawancarai Professor lain yang tak kalah hebat pemikirannya. Beliau adalah Prof. Soehino. Jujur, awalnya saya sempat mempunyai penilaian negative kepada Prof Hino (panggilan akrab beliau) karena memberi saya nilai C di matakuliah Ilmu Negara. Tapi, setelah saya membaca hasil wawancara Lia dengan Prof. Hino, saya harus mengakui kalau penilaian negative yang saya berikan kepada beliau hanyalah penilaian kekanak-kanakan yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Saya harus mengakui bahwa pemikiran beliau adalah pemikiran seorang pendidik yang berdedikasi atas ilmu yang ia bagikan.
Cuplikan wawancara dengan Prof Hino yang saya sukai adalah:

Tulisan-tulisan itu bukan hanya akan berguna untuk memulihkan ingatan kita sendiri sebagai penulisnya, tapi juga bisa digunakan sebagai ilmu untuk diwariskan bagi generasi yang akan datang. Tidak baik rasanya jika ilmu hanya disimpan untuk diri sendiri, ilmu itu tidak lagi punya manfaat.

Lalu dalam hasil wawancara yang Lia berikan kepada saya untuk saya olah menjadi tulisan, saya merenungi satu jawaban yang terlontar dari seorang Prof. Soehino yang memaparkan:

Orang diajar dalam institusi pendidikan berkelas tetapi hanya sekedar diajar, tidak dididik. Dosen-dosen hanya mengajar para mahasiswa, tidak mendidik juga sebagaimana mestinya. Mengajar dan mendidik adalah dua hal yang berbeda, tetapi saling mendukung. Mengajar itu hubungannya dengan ilmu dan mendidik adalah perkara membangun moral dan karakter seseorang.

Saya hanya bisa menghela nafas panjang ketika selesai membaca bahan-bahan hasil wawancara saya dan Lia dengan dua guru besar kami tersebut. Lagi dan lagi saya membenarkan ucapan yang mengatakan bahwa pengalaman adalah guru yang berharga. Pengalaman saya untuk mewawancarai dua orang guru besar ini jelas memberikan banyak pelajaran bagi saya. Pelajaran untuk saling berbagi, pelajaran untuk tidak takut dalam mencoba, dan pelajaran yang paling penting (khususnya untuk diri saya): tidak perlu takut berhadapan dengan seorang proffesor!! Walau sampai saat ini saya masih agak takut dengan salah satu professor yang juga pembimbing skripsi saya. :D (hehe…)

Lewat tulisan ini saya harap saya bisa mengaplikasikan ilmu baru yang saya dapat: ilmu untuk saling berbagi (ilmu). Dan semoga apa yang saya dapatkan—sekecil apapun itu—bisa dirasa manfaat bagi orang lain. Amin.

Friday, October 15, 2010

PERI MIMPIKU




Dia ada di balik hujan, di bawah lengkungan pelangi, di sela-sela angin yang basah.
Dia terhampar di antara bintang-bintang, dia menggantung di bulan sabit, dia terang di tengah malam.
Aku tau dia selalu ada. Mungkin di samping ku sambil tersenyum tulus. Menepuk pundakku saat lelah mulai menggoyahkan kuatku. Memelukku erat saat hati terasa getir. Mengecupku hangat saat kosong memberi hampa di jiwaku.
Aku tahu dia ada.
Disini.
Seperti sosok peri dengan sayap kokoh yang anggun, dia bisikan ku untuk jangan menyerah. Ia bernyanyi, menari dalam fikiranku. Mengajak pergi dalam khayal yang selalu ingin aku wujudkan di sisa hidupku.
...
Aku duduk sendiri di bangku ini.
Menatap lorong yang ramai namun terasa dingin menusuk.
Ingin ku pecahkan penat ini dengan air mata. Marah.
Ingin ku persalahkan alam atas segala hal yang terasa sia-sia ini.
Aku kalah.
...
Aku tahu ia ada.
Ia letakan tanganku di dadaku.
Iya berbisik, ”semuanya akan baik-baik saja sayang. Musnahkan aku. Dan biarkan aku menjadi bagian dari cerita hidupmu kelak. Ingat menara yang akan menjulang indah di malammu, ingat tanah Tuhan yang ingin kau pijak kelak, ingat itu sayang. Musnahkan aku. Dan biarkan aku menjadi bagian dari cerita hidupmu kelak”.
Detak jantungku mulai berirama.
Senyumku menang untuk hadir di wajah mengalahkan lelah
Kuatku hadir bagai raja.
Aku tahu dia ada.
...
Dia adalah mimpiku.
Terkadang aku memeluknya,
Namun terkadang dia yang memelukku.

Sampai kelak ku musnahkan dia untuk tidak lagi menjadi mimpi, namun menjadi bagian dari cerita hidupku.

Tentang Mereka Yang Tidak Tahu Harus Aku Panggil Apa.





Aku tidak tahu harus menyebut mereka apa. Sungguh aku tidak tahu.
Biarlah mereka tetap menjadi “mereka”, yang kurasa, sebuah anugrah.

Lagi-lagi aku tidak tahu harus memulainya darimana. Tanggal dan hari itu aku sudah lupa. Mungkin cukup jika aku memulainya dari : Tahun 2007, Yogyakarta.

Tiara. Adalah orang pertama dari mereka yang ku temui. Disebuah hari saat test AAI. Aku masih ingat obrolan pertama dengan Tiara, ini dia:
Tiara : Eh lo anak hukum juga ya?
Aku : Iya. Lo anak hukum juga? (dengan wajah berbinar dan agak berlebihan).
Tiara : Kenalin, Tiara.
Aku : Dari tadi gue nyariin anak hukum, enggaaaaak nemu satu pun dan akhiiirrrnyaaa... iya iyaaa... gue Nisaaa... ahahahahaaa (benar-benar berlebihan)
Tiara : (diam)—(heran).
Aku : oyaaa ngomong-ngomong lo dari mana?
Tiara : Jakarta.
Aku : Yampuuuuuun samaaaa!! Ahahahaa, dari SMA mana?
Tiara : gue SMA 13.
Aku : Yaaaaaa-aaaaaampuuun!! Deketan dong ya sama SMA gue??? Gue dari SMA 12!! (Padahal SMA 12 sama SMA 13 jauh banget!!)
Tiara : heh? (semakin heran)

Yah. Kurang lebih itulah obrolan pertama gue dengan Tiara.



***

Di bawah pohon besar yang lebih dikenal dengan sebutan DPR (Di bawah Pohon Rindang) di kalangan mahasiswa hukum UGM. Disuatu siang.
Aku : Loh? Rumah lo di Amerta juga tho? Tadi siapa namanya
Puspa : Iya. Aku Puspa. Kamu di Amerta berapa?
Aku : gue amerta IV no 43 sebelah pos satpam percis!
Puspa : berarti kita tetanggaan ya.
Aku : Iyayah? Yaudah kapan-kapan kita latihan motor bareng yuuukk... (pada akhirnya gue nyesel ngajakin puspa latihan motor bareng, karena pas kita latihan berdua, puspa cuma berani 20km/jam! Sumpah, gue udah 3x puteran, dia setengah aja belum nyampe! kocak!!)
Puspa : Eh kenalin, ini temenku Noe.
Aku berjabat tangan dengan sosok yang disebut noe itu. Saat itu aku berfikir “sok letto banget sih!”, Ahahahaaa...

Itulah siang disaat aku bertemu dengan Puspa dan Noe. Di situ pun ada Tiara. Dan sepertinya tanpa aku sadari, siang itu menjadi sebuah sejarah, aku bertemu dengan mereka.



***



Setelah pertemuan itu, kami selalu berempat. Kuliah bareng, belajar bareng, jalan-jalan bareng, banyak hal yang kami lewati barengan.
Banyak tawa. Tapi juga ada air mata. Mulai dari yang kehilangan handphone, putus sama pacarnya, ditinggal pergi cowok yang baru saja menciumnya *ups, dimarahin dosen, dan masih banyak lagi. kami selalu berempat. Ada, untuk satu sama lain.



Semakin dekat ketika kami satu sub unit dalam KKN. Kami saling mengenal lebih dalam, dengan penuh kesadaran mungkin ini adalah momen terakhir kami bisa menghabiskan waktu berempat. Mulai semester 7, kami jalan masing-masing karena mata kuliah yang sudah berbeda, urusan yang sudah tidak sama, dan skripsi di depan mata. Mungkin semester 7 ini tidak akan sama dengan semester 3 dan 4 dimana kami menghabiskan waktu istirahat di Kantin Fisipol bergosip sambil ketawa cekakakan sampai dipelototin orang-orang.

Yah... bukankah hidup memang akan seperti ini. Dinamis.



Hampir tiga tahun. Kami menghabiskan waktu bersama. Bisakah aku menyebut ini dengan persahabatan? Kami saling menerima satu sama lain. Kami saling mengisi satu sama lain. Mungkin mereka yang lebih banyak mengisi aku. Baru aku sadari, kalau diantara kami berempat, akulah yang paling “enggak nyambung” kalau ada diantara kami punya masalah percintaan (maklum tidak berpengalaman).

Entah apa yang terjadi sepuluh tahun lagi. Tapi aku ingin makna mereka akan tetap seperti makna mereka saat ini untuk ku. Semoga.






Friday, September 24, 2010

PUZZLE



Karena kita tidak pernah tahu kepada siapa hati kita akan disandingkan nantinya. Sebelum waktunya tiba.

Tuhan menyiptakan manusia berpasang-pasangan. Mungkin seperti puzzle Tuhan menciptakan sepasang hati manusia. antara satu dengan yang lainnya terlihat "mungkin" untuk dipasangkan dengan yang lainnya dan "tampak" cocok. Tapi kenyataannya, hanya akan ada satu keping yang akan "pas" dengan kepingan pasangannya.

Seorang sahabat mengatakan sesuatu kepada saya; Aku tidak akan pernah tahu bagaimana Tuhan menyeting hidupku. Jodohku mungkin adalah si A, namun sekali lagi, aku tidak pernah tahu apakah untuk bertemu dengan si A aku harus bertemu dengan si B dan C. Mungkin memang aku harus merasakan jatuh, lalu bangkit. Dan ketika aku sudah benar-benar siap, Tuhan mempertemukanku dengan pasanganku yang sesungguhnya. lalu ia melanjutkan, tapi ketika kamu memang merasa sangat yakin bahwa kamu akan bisa langsung menemukannya dengan instingmu bahwa benar "ini dia soulmateku" ya sudah, berarti kamu memang harus menunggu sampai hatimu memberikan insting itu.
Kalau memang kamu hanya akan membuka hatimu ketika kamu merasa sangat yakin, konsekuensinya kamu harus mau menunggu.

Iya. Hidup ini memang pilihan. ada banyak jalan yang bisa dipilih untuk setiap manusia menjalani hidupnya. Tujuannya satu; kebahagiaan.
Kadang, apa yang kita lakukan, apa yang kita putuskan, dan apa yang kita pilih bukanlah hal yang dianggap pantas oleh orang lain. Sejenak mungkin kita akan merasa terasingkan akan hal itu. Tapi pertanyaan berikutnya, apakah orang-orang itu adalah orang yang akan merasakan bahagia ketika kita bahagia? orang yang bisa merasakan sakit ketika kita terluka? jika jawabanya bukan, maka cukup dengarkan kata hati mu. dirimu yang sudah pasti akan merasakan semua yang terjadi didalam hidupmu. sedangkan jika jawabanya iya, maka berikan sedikit ruang dalam egomu untuk mendengar lebih bijaksana. Mereka ingin yang terbaik untuk mu.

sedikit obrolan antara dua orang sahabat yang saling mendengarkan walau memiliki pandangan yang sangat berbeda. seseorang yang lebih mengedepankan kenyataan dan siapapun yang mencoba masuk kedalam hidupnya--maka masuklah. Sedangkan seorang yang lain adalah seseorang yang terlalu hidup dalam pertimbangan dan sebuah keyakinan yang abstrak bahwa memang akan ada seseorang yang diciptakan untuknya. Dia akan menunggu sampai hatinya sendiri yang mengatakan "bahwa dia orangnya". Selama ia menunggu, hatinya tidak akan disinggahkan kepada siapa-siapa.

Adakah yang paling benar diantara keduanya?
lebih benar mungkin?
atau sedikit benar antara yang lainnya?
jawabannya tidak.
Karena sekali lagi, HIDUP ADALAH PILIHAN.
Ketika kamu mempercayai sesuatu itu benar untuk dilakukan, maka lakukanlah.
Namun ketika ada kebimbangan, maka bertanyalah. Tapi keputusan tetap di tangan kita sendiri.

Jalan apapun yang kamu pilih akan memeberikan pemandangan dan tantangan yang berbeda. Ketika kau yakin kaMu memilih jalan yang benar dan merasa ada kenyaman di dalamnya, lanjutkan perjalanan itu. dan kau akan merasa bahagia.