Friday, September 24, 2010

Kalian yang membuat masa itu menjadi layak untuk diceritakan



Dunia ini, panggung sandiwara…

Benarkah?
Aku rasa tidak. Tidak untuk mereka yang bisa jujur dengan dirinya sendiri. Tidak untuk mereka yang selalu bersyukur atas apa yang mereka miliki. Tidak untuk mereka yang mau mengakui dan menghargai keberhasilan orang lain. Tidak untuk mereka yang memilih untuk tidak lari dari kenyataan.

Gue duduk di pojok kelas sambil cengar-cengir. Ini adalah kali ketiga gue harus menjabat sebagai ’murid baru’. Merasa cukup berpengalaman, gue pasang muka cenganga-cengenges-ga-karuan.
Tiba-tiba datang lah seorang cewek berperawakan tinggi kurus yang pada kahir nya gue kenal dengan nama Maya menghampiri gue...
”Lo anak baru ya?”
”Iya (^.^)”
”Dari mana?”
”Balikapapan (^_^)”
”Emang NEM lo berapa?”
”36 koma (^o^)”
”Yampuuun... NEM lo Cuma 36? Pasti lo masuk kesini pake duid ya? NEM gue aja 42,...”
Zzzziiiiiiiiing!!! (*0*) gue syok...

Hari berikutnya,
”Eh anak baru! Sepatu lo beli di koprasi ya?”
”Eh iya... (^v^) habis katanya harus pake sepatu dua warna kaya gini ya?”
”Iya... emang... tapi enggak pake sepatu koprasi juga kaleeee!! Ahahahaaa”
Heh? (o.O) !! Lagi dan lagi gue syok... emang sebegitu hinanya kah murid yang pake sepatu koprasi..? emang apa salah nya pake sepatu seharga tujuh puluh ribu?? Hiiissshh!!

Seminggu di sekolah gue yang baru, gue bener-bener ngerasa ga nyaman... dijadiin cengin anak sekelas gara-gara gue engga ngerti arti kata toket, dimarahin wali kelas gara-gara gue enggak bawa al-Qur’an, Oh please, nobody told me that i had to bring Qur’an!! No one!!
Baru kali ini gue benci untuk berangkat ke sekolah... bertemu dengan manusia yang lebih mentingin materi seperti mereka...! tapi gue engga bisa berbuat apa-apa, sekarang gue kelas tiga SMP, bentar lagi udah UAS, engga bisa macem-macem gue!

Tuhan tidak pernah memberi cobaan di luar batas kemampuan umat nya... untung nya gue bertemu dengan sosok yang bernama fauziah dan imas. Dua sosok yang dikenal dengan sosok pintar sang juara kelas. Hari demi hari semakin membaik. Dari beberapa orang yang gue nilai MIN ternyata banyak juga yang baik. Gue semakin berbaur dengan temen-temen sekelas. Tapi untuk menghabiskan waktu istirahat dan membuat kelompok untuk tugas, gue enggak pernah lepas dengan fauziah, imas ataupun ... Maya! Yup! Ma-ya. Terdengar aneh sih... tapi dari sinilah gue belajar, bahwa apapun yang terjadi, kita engga berhak untuk menilai seseorang itu jelek hanya dari kesan pertama (yah walau kesan pertama nya bikin lo emosi jiwa!) pada akhirnya, bisa dibilang gue ma Maya berteman akrab, sampai detik inipun gue bisa bilang ke semua orang kalau Maya sahabat gue. Kesan nyolot dia di awal pertemuan kami ternyata efek kelemotan Maya yang emang kadar sensitifitas Maya akan hal yang harus dan seharusnya TIDAK diucapkan itu kurang banget... but over all she’s kind girl!
Kembali ke cerita.
Saat itu gue bener-bener krisis percaya diri. Bukan karena sepatu koprasi yang gue pake, tapi Nem mereka yang 40 keatas... gue ngerasa di kelas ini gue hanyalah anak daerah yang terdampar di Jakarta dunia yang bener-bener BARU buat gue!

Hampir setiap hari gue menghabisi masa SMP gue bersama Fauzia, Imas, dan Maya. Sekedar menghabiskan bekal di belakang mushola, ngerjain tugas Biologi, Fisika. Gue jarang makan di kantin. Karena gue engga akan pernah ngerti perbincangan mereka yang didominasi dengan PENSI, HP nokia terbaru, Cowok, atau apalah... yaaaa... gue cupu... i wasn’t exsist student!! I just a new-and-invisible-student!!

Dag-dig-dug-dueerr... gue berdiri di depan kelas... para orang tua sudah ada di dalam kelas untuk menerima ceramahan wali kelas tentang hasil belajar semeater pertama di kelas tiga ini.
Sampai akhirnya nyokap gue keluar...
”Bu, nilai dede gimana?”
Sejenak nyokap gue menatap gue dan mencium kening gue ”Makasih ya nak...”
Gue engga ngerti maksud ciuman nyokap gue, langsung gue rampas rapor yang ada di tangan nyokap dan.... Aaaaalllllhaaaaamduuulllliilllllaaaaaaaahhhh.... kaki gue langsung lemas...
Di kolom bawah rapor gue tertulis: Peringkat dua
Dan satu dari banyak hal yang gue tau, ini semua berkat Fauzia, Imas dan Maya yang mau belajar bareng dan ngajarin gue... makasiiiiihhh...

Entah kenapa, semenjak masuk semester dua, perlakuan temen sekelas gue mulai berubah. Sebut saja lebih baik. Tepat nya, gue sekarang lebih ’diperhitungkan’. Entah karena gue dapet peringkat atau karena sekarang gue enggak make sepatu koprasi lagi? Entah lah....

Tapi , persahabatan gue dengan fauzia, imas dan maya semakin kental. Mungkin ada konflik yang sebenernya karena kecerobohan gue, tapi pada akhirnya kami berempat berhasil menyelesaikannya dan kami berhasil mendapatkan nilai 9 untuk mata pelajaran fisika di rapor karena bel listrik yang kami buat berempat.

Dari situ gue sadar dan pada akhirnya bersyukur.... Tuhan memberikan kondisi yang tidak nyaman kepada gue agar gue menemukan orang yang pantas untuk hidup gue, dan gue menemukan mereka.

Bisa dibilang masa SMP gue adalah masa paling datar diantara masa sekolah gue lainnya. Tapi kalau difikir-fikir masa SMP paling banyak ngasih gue pelajaran. Belajar untuk tetap bertahan di tengah penolakan, belajar untuk melakukan sebuah pembuktian, dan belajar untuk menemukan orang-orang seperti fauziah, imas dan maya di tengah-tengah orang yang lebih memilih memakai satus sosial untuk memutuskan siapa yang layak menjadi teman.

Sampai sekarangpun gue masih menemukan orang-orang yang seperti itu; orang yang dikerumuni banyak ’teman’ padahal dia sendiri. Atau mungkin seseorang yang berteman dengan mereka yang menjelekan nya di belakang. Hhh... gue fikir itu semua ada karena mereka terlalu takut untuk jujur dan berdamai dengan kehidupan mereka yang sebenarnya. Atau mungkin gue yang terlalu naif? Sudahlah... bukankah hidup ini memang pilihan..?

Dari tulisan ini gue pengen ngucapin terima kasih buat Fauziah, Imas dan Maya yang udah mau nemenin si anak baru cupu ini selama kurang lebih 1 tahun. Buat Fauziah, walaupun sekarang udah jarang kontak-kontakan, tapi gue yakin lo saat ini lagi getol n semangat sama kuliah lo ya... salam buat nyokap lo, si tante spektakuler! Hehehee...
Buat Maya, kuliah yang bener lo May!! Jangan cengengesan lagi!!
Buat Imas... Cuma doa yang bisa gue kirim dari sini, semoga saat ini lo bisa ngebaca tulisan gue ditempat yang paling indah di sana... gue kangen sama lo mas... sampein salam gue buat Tuhan, bilang ke Tuhan kalau gue berterimakasih udah di izinin untuk ketemu orang seperti kalian... orang yang bisa membuat masa SMP gue menjadi suatu hal yang pantas untuk diceritakan.

Thursday, September 23, 2010

Menanti Sayap


Baru sadar kalau gue sudah sangat jauh tertinggal. Bahwa ternyata selama ini gue diam.

Mereka, sudah membuktikan dongengnya Frau Henny. Mmm... bukan, bukan dongeng. Mereka sudah membuktikannya bahwa itu semua bukan dongeng.

Gue berkutat di satu titik hamparan dunia. Diam.
Seharusnya gue bisa. Gue bisa (bahkan)lebih baik dari mereka. Gue bisa menginjakan kaki disetiap jengkal tanah adam ini. Tapi sayangnya gue terlalu pengecut untuk menantang dunia. Iya, rasanya gue baru saja menemukan sebuah adigium: Keberanian yang besar akan membawa mu menjadi orang besar. Dan keberanian yang kecil akan membawa mu menjadi orang kecil. Dan tampaknya kalimat kedua sedang terjadi pada diri gue.
Kesempoatan itu ada, tapi gue terlalu sibuk mencari alasan untuk tidak melihatnya.
Tuhaaaaan... jalanlah beriringan dengan hamba. Dan berikan kekuatanMu untuk menghapus kelemahan ini.

Rasanya ingin meledak.
Pertanyaan ini terus membesar seperti balon udara dan INGIN MELEDAK.
Apa yang ada di balik gunung sana? apa yang ada di bawah langit sebelah sana? apa yang ada di ujung laut sebelah sana?
ada apa?

Gue pengen bisa menemukan jawaban secepatnya.
sayangnya gue terlalu sibuk mengeluh, karena gue membiasakan menengadahkan kepala ke atas. -Dan gue menjadi lemah.

Tuhan.
Beri hamba sayap.
hamba ingin terbang dan melihat apa yang Kau ciptakan di sisi bumi sebelah sana

Beri hamba sayap.
hamba ingin mengepakan semua ketakutan

Beri hamba sayap.
hamba ingin lepas mengikuti tarian angin dan menantang cakrawala

Beri hamba sayap.
agar hamba tahu dimana Kau bangunkan sang surya setiap harinya


Tuhan...
beri hamba sayap. Agar ketika hamba lelah, hamba bisa terbang tanpa harus memilih untuk menyerah.

Thursday, June 17, 2010

blm jadi

Coba ceritakan lebih banyak kehidupan lagi!!

Aku suka.. sukaa... dan sangaaaaat suka mendengarkan orang lain bercerita. Tentang banyak hal; kehidupan, keluarga, cinta, persahabatan, dia, mereka, dan kau sendiri.

Hari ini dan mungkin sampai esok aku ingin menjadi seorang pendengar. Tapi suatu hari setelah hari esok, mungkin aku ingin menjadi seorang penulis. Seorang penulis yang menuliskan semua cerita yang pernah aku dengar dari mereka, kalian, dia dan kau sendiri.

Aku ingin membuatnya indah. aku ingin cerita-cerita ini menjadi harapan bagi semua orang yang membacanya. Karena itulah, aku ingin menjadi penulis--setidaknya, itu harapanku di detik ini.

Sebelum aku menyeritakan cerita-cerita yang aku dengar, maukah kau membaca tentang ceritaku? dan akan kucoba menggambarkan dengan jujur siapa diriku.


Baiklah, aku akan memulainya...

Bagiku, di dunia ini banyaaaaak sekali keajaiban. Di dunia ini sangat banyak sekali hadiah yang berceceran. Kau tahu apa hadiah dan keajaiban yang paling aku kagumi sampai sekarang? namanya KETULUSAN.

Aku selalu kagum ketika menemukan seseorang yang mempunyai ketulusan. seseorang yang tersenyum, bekerja, membantu dan mencintai dengan ketulusan itu menurutku adalah manusia yang hebat. Dari ketulusan, aku belajar betapa indahnya berbagi. Aku belajar betapa anggunnya kejujuran. Aku belajar betapa tangguhnya sebuah perjuangan. Dan aku belajar, ketika kita melakukan apapun di dunia ini dengan ketulusan, kita akan merasa bahagia dan dicintai sebagai diri kita sendiri (^.^)v

Selanjutnya, hadiah dan keajaiban yang aku temukan di dunia ini adalah sesuatu yang aku sebut dengan KELUARGA. Aku punya orang tua yang luaaaar biasa (luar biasa bawelnya, galaknya, ribetnya, dan luar biasa sempurnanya,,, ^^), punya dua orang kakak yang luaaar biasa juga (luar biasa menguji kesabaran!! ahahaha). Aku punya Vermes (9 sahabat gue yang mmmmmuuuaaach banget n bisa diajak gila ataupun serius), punya BEIBH (4 orang sahabat aku yang kali ini sayang sekali bahwa mereka hanya bisa diajak untuk bersenang-senang!!).Aku punya Tiara, Noe, Puspa temen kental selama 3 tahun ini di Gadjah Mada. Aku punya MAHKAMAH, Aku punya temen-temen Elti yang kerjaannya cuma jalaaan n makaaan terus poto-potoan!! Punya Mba Inda, Ka Dila, Audi, Ka Gitra, Ka Ayu, daaan maaaasih banyak lagi orang-orang hebat yang kau punya. Dan aku sebut mereka keluarga. Setelah itu aku sadar bahwa aku adalah orang kaya karena aku memiliki keluarga. AKu memiliki mereka semua.

Apa keajaiban berikutnya? Berikutnya adalah .... (to be continue)

Monday, June 7, 2010

Memiliki, Mencintai Dirimu tak pernah membuat ku menyesal





7 juni 2010.

Perform PLKH Perdata.

Rasanya ingin sekali menjadi manusia yang bijak dan mengatakan: "Sudahlah, proses jauh lebih bernilai daripada hasil", aku sudah mengucapkannya. Tapi ternyata aku belum bisa membenarkan hal tersebut di dalam hati ini

Selama ini aku belajar; bahwa pembelajaran sebenarnya adalah saat kita merasakan lelah untuk mencapai sesuatu, dan pada akhirnya tersenyum ikhlas untuk menerima apapun yang terjadi. Karena kita yakin apapun itu, itu adalah nilai terbaik yang Tuhan berikan kepada kita.

AKu selalu meyakini satu hal: ketika manusia sudah berusaha sekuat tenaga, dan ia pasrahkan segala usaha dalam bentuk doa, maka tidak ada alasan bagi Tuhan untuk tidak memeberikan yang terbaik baginya.

Aku sangat percaya itu.

Aku percaya Tuhan ada di sini. di dalam jiwaku. disetiap detak jantungku, disetiap hela nafasku, disetiap sisi bumi yang ku lihat, aku tahu Tuhan ada di sana.

Malam ini ada sedikit kegalauan dari keegoanku yang sulit ku taklukan. Aku butuh Engkau Tuhan. Aku butuh sebuah hembusan tenangMu dalam nurani untuk membimbingku menjadi manusia yang ikhlas. Manusia yang akan selalu bahagia dan tersenyum karena selalu meyakini: aku memiliki Mu Tuhan.


Air mata rasanya cukup menghapus galau ini. Tapi di satu sisi aku telah berjanji kepada sang waktu untuk tidak menjadi manusia yang cengeng lagi. Aku belajar untuk lebih memilih menertawakan diri sendiri dibanding menangisi kesedihan hati. Tapi terkadang aku kalah.

Aku kalah.

Aku tak cukup kuat membendung kekecewaan ini.

Aku tak cukup tangguh memikul beban ini sambil mengarang tawa.

Aku tak cukup pintar memasang tak-tik untuk mengelabui mereka dengan kelakar yang ku ada-adakan.

Aku tak cukup memenangkan kesedihan ini Tuhan.

Aku membutuhkan Mu disini.

Aku merasa Kau menghilang dari detak jantungku

Aku merasa Kau tak larut lagi dalam darahku

Aku merasa Kau tak terikat lagi di nadiku

Tetaplah disini Tuhan. Memeluk hatiku yang rapuh dan terasa hampir hancur,

karena kekuatanku hanya diri Mu.


Tuhan. Aku tak pernah tahu lewat apa Kau ulurkan tangan-tanganMu untuk menepuk pundakku ketika ku jatuh. Untuk menghapus air mataku saat ku terluka. Untuk menemaniku kala ku sepi. Teman-teman yang selalu membagiku tawa, selalu membagiku cerita selalu hadir mengisi detik hidupku. Dan ku tahu, ada Engkau di balik itu semua.


Yogyakarta. 7 Juni 2010.

Tuesday, May 18, 2010

Masa Kecil gue: SOK TAHU BANGET SUMPAH!!




Ini tentang cerita masa lalu.

tentang Annisa kecil,

tentang beberpa cerita yang harus gue inventarisasi karena sayang untuk dilupakan, dan wajib diceritakan kepada anak cucu gue kelak.

Gue monster kecil. Pemakan segalanya, hiperaktif, dan selalu membuat teman lain susah (walau niat sebenarnya pengen nolongin). Guru gue sempet kelimpungan dan heran sendiri sama gue. Tapi yang harus digaris bawahi bahwa mereka mengakui kalau GUE ANAK YANG PINTAR!! Sampai detik ini, ada beberapa penggal kisah masa kecil yang masih gue ingat dan selalu menjadi penghibur ketika gue jenuh dengan kehidupan ODB = "orang dewasa baru".


Jaman TK

"Nisa turuun!!" teriak guru gue dari bawah sambil melambai-lambai kearah gue yang "nyangkut" di pohon (yang gue namain) sabun. "Bentar bu guruuu!!" seperti monyet gue turun dari pohon. "jangan suka naik pohon! kalau kamu jatuh bla.. bla.. bla... " petuah dari seorang guru yang prihatin dengan muridnya yangg berkelalkuan monyet.

Beberapa menit sepeninggalan guru gue. gue langsung ngajak temen-temen gue berkumpul. "Eh!! kamu tauuu gaa... ini namanya pohon sabun!! sabun ternyata terbuat dari daun pohon ini tauuuu" terang gue yang SUMPAH SO TAHU BANGET! "Kalau kalian ga percaya, coba gosok-gosok pake aer deh! entar keluar sabun tauuuu"--> gue yang masih kekeuh sok tahu. Ikhsan temen gue langsung membuktikannya. Takjub temen-temen gue yang melihat dengan mata mereka sendiri kalau emang bener tu daun ngeluarin sabun. Bak manusia purba yang baru menemukan api, semua temen-temen gue pada nyuci tangan pake tu daun sabun.

Tak ku sangka tak ku duga saudara-saudara, beberapa jam dari kegiatan cuci tangan masal dengan daun itu, temen gue yang kalau ga salah namanya Cindi langsung gatel-gatel n merah-merah tangannya. Dia nangis-nangis minta pulang, untung pembantunya siap antar jaga sama anak majikannya. jadi si cindi langsung dibawa pulang ke rumah. Setelah kepulangan Cindi, guru gue nanya, tadi Cindi maen apaan?. sebelum kenyataan terbongkar, dan dengan masih sangat sok tahu, gue teriak lantang sambil ngacungin tangan : "TADI CINDI MAENAN DI PARIT NANGKEPIN KECEBONG BU GURUUU!!!". Maaf ya Cind... ini demi kebaikan kita bersama.

***

masih di suasana TK.

waktu itu gue lagi main ayunan sama Ami. "Nis,,, jangan berdiri maen ayunannya, entar kamu jatuh lhooo" ingat ami ke gue.

"Ini seruuuu tau miiii.... kaya terbang!! Yuhuuuuuu!!" gue mengayunkan ayunan lebih tinggi lagi dengan posisi berdiri. melihat kesenangan gue, si ami iri.

"Nisa... aku juga mau kaya kamuu dong... tapi aku engga bisa ngayunnya... kamu dorongin ayunan aku dooong..." ami memelas. Akhirnya gue turun dari ayunan, terus ngajarin Ami naik sambil berdiri.

"Udah siap ya? aku dorong nih!" aba-aba dari gue ke ami.

"pelan-pelan ya nisaaa,,, aku takuuut" tambah ami. Akhirnya gue mengayun pelan, ami mulai menikamati. dorongan semakin gue kuatin dan ami mulai kesenengan.

"Ennaaaakan miiiii!!" teriak gue kepada Ami yang sedang terbang dengan ayunan ke langit 7. "Wuuuuhhuuuuuuuuuu" ami hanya menjawab seperti itu.

terbawa suasana, gue membabibuta mendorong ayunan Ami. alhasil, ami kelempar dan jatuh nyungsep bak pasir yang jaraknya 3 meter dari ayunan. MASYAALLAH!!

Dan seketika gue meninggalkan Ami yang mulutnya bedarah-darah di bak pasir. maaf ya miii... tapi waktu itu gue terlalu takut di marahin bu devi lagi...

***

Kabur dari Ami. gue bertemu Azis. temen gue yang kacamatanya heboh bener deh. gue perhatiin si Azis yang megang pipinnya terus. "Kamu kenapa Azis?" tanya gue. "Aku sakit gigi Annisa" jawab azis mengelus pipi.

Dateng deh rasa sok tahu gue; kasian azis korbannya kali ini.

"Aku pernah baca di buku, kalau sakit gigi obatnya daun cemara!" jawab gue (tapi emang bener kok gue dibacain sama pembantu gue soal daun cemara buat sakit gigi)
niat gue dah baik tuh, ilmu juga udah bener, sayangnyaaa gue ga tahu daun cemara itu kaya apa!! pohonnya gimana!! itu salahnya!! dan sayangnya lagi Azis terlalu percaya sama gue.

"Benaran itu Annisa?" tanya azis mulai yakin.

"bener!" jawab gue pasti (SOK TAHU)

"Di sekolah ada cemara enggak ya?" tanya Azis.

"Ada" jawab gue yang SUMPAAAAAAHHHH GA ADA MATINYA DEH SOK TAHUNYA GUE!

Akhirnya, gue cabut daun pinus depan kantor kepala sekolah. terus gue gerus pake batu taman. niat gue tulus, yaitu menolong Azis--> walau lebih mengarah meracuni Azis. saat ramuan udah jadi, gue langsung menyuruh Azis buka mulut dan menunjukan gigi mana yang sakit. sempat beberapa detik tu "ramuan" mendarat di mulut aZIS, Terdengar teriakan dari guru gue "NISA!! KAMU MASUKIN APA KE MULUTNYA AZIS??!!!!" kontan gue kaget n kabur sambil narik aZIS. Azis mulai merasa "ada-yang-salah" dengan ini semua, lebih tepatnya merasa "sangat-tidak-aman" ada disamping gue.

maaf zis.

***

sebenernya, masih banyak dosa dan nestapa yang gue ciptakan di antara temen-temen kecil gue. mulai dari ketidaksengajaab gue ngejorikin temen gue ke parit pas ngumpulin kecebong. nakutin temen gue pake belalang atau mungkin ngedorong terlalu keras tetangga gue di prosotan taman komplek ampe nyungsep ke pasir. atas itu semua gue minta maaf. gue ga sengaja... beneran. semoga kalian yang sekarang entah di mana, mau memaafkan gue ya...



gue yang di tengah



gue yang paling kanan, habis itu bokap n kakak2 gue. muka gue emang rada ancur di poto ini. kata nyokap, gue baru bangun tidur siang.

Saturday, May 15, 2010

apalah itu namanya


Senandung biru menggurat sendu,
alunann bimbang menggores ragu.
Menghadirkan perasaan nan lugu,
aku menunggu mu.

Derai cahaya purnama mendominasi malam.
Sepi ini bagai kelakar hidup,
tertawa dan tersenyum dalam luka
mencoba hadirkan damai dalam jiwa

Aku percaya suara hati.
Dan aku percaya kau ada di suatu tempat dan sedang menanti.

Tuesday, May 4, 2010

SAMPAH!

apa yang kau bisa lihat dari sisi-sisi mereka yang kadang sulit ku mengerti...
sebijaksana apapun aku menempatkan diri tetap goyah aku menilainya.

kemuakan ini telah menjadi-jadi!
bagai penari latar yang tak pernah ku undang, menari-nari liar dalam kegalauan.
irama pengiringnya memekakan telinga, dentuman dan gemerincing ornamennya hanya sampah!

aku tak punya daya.

ada perasaan yang tak pernah kuragukan untuk ku buang dan menghilangkannya.
ada perasaan yang benar-benar SAMPAH!!
ada perasaan yang tidak pernah bisa ku mengerti walau setiap harinya ku makan buku-buku tolol untuk memahaminya.
ada perasaan yang benar-benar ingin ku buang, dan ku enyahkan.

dan perasaan itu "kau"!!