Friday, May 22, 2015

Sebuah Gerbong Kereta yang Penuh Rindu Ibu

Satu bulan terakhir ini berdiri bersesakan di gerbong kereta menjadi rutinitas pagi dan sore. Anehnya, saya menikmatinya. Di gerbong kereta yang penuh sesak, sering saya menemukan patahan-patahan cerita yang berserakan dan dijatuhkan Tuhan.

Kali ini, ada sepotong rindu yang dijatuhkan Tuhan kepada saya atas nama IBU.

Di suatu pagi di dalam gerbong kereta yang tertahan di stasiun Jatinegara.
Wanita di depan saya mengeluarkan smartphone nya dan me-chatt seseorang yang ia namai “momy”:

W : Maaaaa...
M : Iya sayang
W : Ma... keretanya ketahan teruuusss nih,, aku takut terlambat sampai kantor :’(
M : Makanya, kalau pagi itu mama bangunin ya langsung bangun
W : Iya... mama cepetin ajalah jam di kamarku biar aku cepat bangun
M : Iya, nanti mama cepetin

Saya tahu tidak sopan untuk ‘mencuri lihat’ percakapan seseorang, tapi posisi dan kondisi benar-benar sangat pas saat itu. (alasan)

Mendadak saya rindu ibu. Ibu yang selalu punya caranya sendiri membangunkan saya. ibu yang selalu mencium kening dan membacakan doa bangun tidur sambil menarik lembut tubuh saya hingga terduduk, walau dengan mata yang masih terpejam.
Saya rindu ibu. Ibu yang selalu bisa meredakan segala kelelahan hati dan pikiran saya. Setangkup roti bakar setiap malam ketika saya sibuk dengan tugas sekolah atau OSIS ketika SMA. Atau bahkan saat ini ketika saya lelah dengan segala hal yang terjadi, ketika tidur di samping ibu, semua hilang seketika.

Ibu seperti obat paling mujabarab bagi saya. Bukan, bukan ‘mungkin’, tapi senyatanya ibu memang obat termujarab untuk saya.

Seketika saya tersenyum begitu saja. mengucap syukur berkali-kali dalam hati dan berkata, ‘Tuhan, terimakasih sudah mengirimkan obat termujarab dalam hidup hamba’. Tidak ada ruang untuk menggerutu karena kereta yang tertahan, saya rela berdiri seharian ketika itu bisa membukakan jalan untuk membahagiakan ibu.

Saya berjanji akan bekerja sungguh-sungguh, bukan untuk membahagiakan ibu dengan gaji yang akan saya dapat sebagai CPNS ini, apalah arti gaji saya bagi kedua orang tua saya. Saya tahu, sangat tahu, Papah dan Ibu tidak pernah berharap untuk dibelikan apapun dengan gaji yang saya miliki, tidak pernah. Yang mereka inginkan hanya melihat anaknya bisa berdiri tegak dengan kakinya sendiri, kuat, kokoh; mereka hanya ingin tahu bahwa anak-anak mereka akan baik-baik saja saat waktu menjaga dan merawat kami telah habis. Walau bagi saya, saya tidak akan pernah bisa sempurna kuat tanpa mereka.

Mungkin saya anak yang paling payah. Tapi Tuhan tahu, setiap hari saya selalu berusaha untuk tidak mudah menangis karena mungkin papah dan ibu berharap tidak memiliki anak perempuan yang cengeng. Setiap hari saya berusaha untuk tidak mengeluh banyak hal yang tidak menyamankan, karena mungkin papah dan ibu tidak pernah ingin memiliki anak penggerutu. Setiap hari saya berusaha untuk melakukan hal sendiri, karena papah dan ibu selalu menginginkan anaknya mandiri. Setiap hari saya selalu berusaha tersenyum kepada sebanyak orang, karena papah dan ibu menginginkan anaknya menjadi orang yang bisa membahagiakan orang lain.

Setiap hari Tuhan tahu bahwa saya selalu berusaha menjadi anak yang diinginkan oleh Papah dan Ibu. Tapi saya yakin, papah dan ibu pun tahu.


Sunday, May 17, 2015

Sepuluh Tahun Bersepuluh


Dan jika ku ingat-ingat, mungkin sudah sepuluh tahun ini kita saling mengenal...

Wahai para perempuanku,
dengan segala keunikan dan kelebihan masing-masing yang kalian miliki.
Terimakasih sudah tetap untuk saling menjaga hubungan ini selama sepuluh tahun terakhir hidup kita.

Entahlah kita ini apa,
dan apa pentingnya untuk mendefinisikan kita bersepuluh ini apa.

Tapi yang jelas, setidaknya kita pantas merayakan sepuluh tahun waktu yang kita punya untuk tidak memilih saling meninggalkan.

Di kehidupan saat ini yang tak memungkinkan kita untuk bersua enam hari dalam seminggu seperti saat kita berseragam abu-abu,
Sangat mungkin kita menemukan orang lain yang jauh memahami diri kita, dan kita paham itu bukan hal yang harus dipusingkan.
Karena di jalur kehidupan kita yang sudah berbeda, maka memilih untuk tetap menjaga dan menyapa, adalah lebih dari cukup.

Aku percaya bahwa Tuhan akan menambah nikmatNya ketika kita bersyukur.

Maka aku bersyukur untuk kalian.

Terimakasih atas hal-hal yang telah dibagi selama ini,
Terimakasih atas nasihat untuk saling mengingatkan kebaikan,
Terimakasih atas waktu untuk saling menyapa dan bertanya keadaan,
Terimakasih atas kebersamaan untuk saling menguatkan,

Terimakasih.

Dan selamat 10 TAHUN untuk kita bersepuluh, Vermes!

Teruntuk Mantan Teman Sebangku

Ditemukan oleh seseorang yang memang kita harapkan untuk menemukan kita bukanlah perkara mudah. Ada kekuatan yang memiliki hak penuh untuk mengatur pertemuan itu, tidak lain adalah Tuhan.


Maka jika pagi ini gue melihat kalian duduk berdua bersandingan. Mengucap ikatan suci saling menjaga dan menerima satu sama lain untuk saling menguatkan. Maka gue yakin, kebersamaan kalian adalah bentuk kehendak Tuhan.

Cinta kalian diizinkan.

Suci Astri,
Bahkan gue lupa kenapa sepuluh tahun yang lalu kita bisa duduk satu meja. Saat itu, gue enggak pernah berpikir kalau lo bakal menjadi salah satu orang yang akan gue sayangi dan gue jaga selayaknya keluarga seperti saat ini. Gue lupa apa dulu kita pernah bertengkar atau sekedar diam-diaman?
Mungkin...
Mungkin sepuluh tahun yang lalu, hanya sebuah alasan sederhana yang membuat kita saling bertemu. Mungkin kalau kita masih mampu untuk mengingat, hanya sebuah alasan sederhana yang membuat lo duduk di sebelah gue, satu meja.

Tapi bukankah ini menjadi sangat ajaib?

Bahwa Tuhan selalu punya cerita untuk mempertemukan manusia.

Bahwa sebuah alasan sederhana bisa menciptakan sebuah hubungan keluarga yang semoga bisa bertahan hingga kita tak akan menangisi kepergian yang lainnya kelak. Karena kita tahu, kepergian itu di luar kuasa kita, bukan karena ego, bukan karena marah, bukan karena lelah untuk memaafkan, tapi karena sesederhana 'kematian'.

Maka pagi ini gue menyadari satu hal, untuk tidak pernah lupa memperhitungkan sebuah kesederhanaan.
Dan apapun alasan sederhana yang terjadi sepuluh tahun lalu yang membuat lo jadi teman sebangku gue, gue bersyukur. :)

Uci... Selamat ya...

Selamat karena lo diizinkan Tuhan untuk bersama seseorang yang memang lo inginkan. Selamat karena lo diizinkan untuk mencintai orang yang memang ingin lo cintai. Jika lo paham akan keberuntungan ini, maka janji ke gue buat menjaga agar selamanya lo tetap menjadi wanita yang beruntung.

Berusahalah untuk jatuh cinta berkali-kali di hati yang sama, hati yang telah lo pilih di pagi ini.
Berusahalah untuk terus menjaga laki-laki yang sama, laki-laki yang duduk di sebelah lo di pagi ini.
Berusahalah untuk memperjuangkan harapan yang sama, harapan yang kalian doakan di pagi ini.
Berusahalah untuk mendapatkan keberuntungan yang sama, keberuntungan yang kalian punya di pagi ini.

Berusahalah untuk bahagia, seperti kebahagiaan yang kita punya di pagi ini.




Dan jika mungkin suatu saat lo merasa kepayahan untuk mengusahakan itu semua, lo pasti tahu siapa orang yang bisa lo hubungi (walau mungkin hanya sekedar) untuk berbagi kepayahan itu... :)

Jakarta, 17-05-2015

Vmz Sa.








Thursday, April 30, 2015

Satu Hari Sebelum Pergi... (untuk berlari lebih kencang lagi)






30 April 2015, malam terakhir menjadi warga Yogyakarta sepenuhnya.

Sebuah sore, bersama hujan dan orang-orang tersayang...

“Niat Nisa dari awal apa? Mencari kerja atau mencari jabatan?”

“Cari kerja, Om”

“Kalau begitu fokuskan untuk bekerja. Kerja, kerja dan kerja. Bekerja dengan baik, fokus dan rejeki akan mengikuti Nisa.”

Ini sepotong perbincangan saya dan Om Agung, ayah sahabat saya Puspa, saat saya bertamu untuk berpamitan meninggalkan Jogja untuk bekerja di Jakarta. Saya sudah berkawan lama dengan Puspa, bahkan sejak hari pertama masuk kuliah. Rumah Puspa juga satu komplek dengan rumah saya, sehingga saya mengenal baik orang tua Puspa: Om Agung dan Tante Hening.

“Nisa, kamu perlu ingat, bahwa di dunia ini selalu ada dua sisi: benar dan salah, suka dan duka, mudah dan susah, dan seterusnya. Jadi nanti, ketika Nisa dalam bekerja menemukan banyak halangan, kesukaran atau sesekali merasa duka, tahu apa yang harus dilakukan?”

“Dilalui dan dihadapi saja,Om!” jawab saya mantap.

“Iya, betul! dilalui saja. Dihadapi. Dinikmati. Karena hidup tidak akan selamanya bahagia, tidak selalu mudah dan terkadang kita akan melakukan kesalahan. Jadi, ketika semua hal-hal itu datang, lalui saja, karena semuanya memang bagian dari hidup dan sifatnya sementara. Diingat-ingat ya”

“Siap, Om!”

“Eh Nis, dengerin tante ya”, kali ini Tante Hening alias Istri Om Agung alias Mamah nya Puspa yang berbicara, “ nanti Nisa akan bertemu banyak orang baru, dengan segala karakter dan tujuan hidup yang berbeda-beda, pinter-pinter pilih temen ya, Nduk... cari teman yang kira-kira membuat Nisa bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi”.

“Siap, Tante... Mohon doanya ya, Tante, biar Nisa bisa nemu temen yang baik dan asik jadi bisa kerasan kerjanya”

“Iya... bener itu, kamu harus kerasan. Buat semua terasa enjoy tu lho, Nis... kalau kamu enjoy, kamu pasti kerasan.Semoga nemu jodoh ya...” lanjut Tante Hening sambil mengedipkan mata.

“Hahahahaha... Amin, Tante...”

“Pokoknya nanti ga usah milih yang macem-macem. Cari yang kira-kira serius dan mau diajak ke jenjang yang benar-benar serius!”, tante Hening penuh ekspresi.

“Ya maunya sih gitu, tante. Maunya sih cepet, tapi kan kalau jodoh udah urusannya Tuhan banget. Nisa susah ngutak-atiknya. Nisa Cuma bisa berdoa kan, Tante, Om”

“Gini ya, Nisa” kali ini Om Agung mengambil alih,”percaya saja bahwa yang namanya hidup, mati, jodoh dan rejeki itu sudah ada yang atur. Kalau kata rohaniawan di gereja Om dulu, ‘kita jangan mendikte Tuhan. Tuhan lebih tahu apa yang terbaik untuk kita dan kapan waktu yang terbaik untuk diberikan kepada kita’. Nisa sekarang fokus saja bekerja, jangan menutup hati juga, sembari berdoa untuk dipertemukan dengan jodoh terbaik di waktu yang paling baik. Udah itu saja.”

“Hehehehe... sip deh, Om... semoga waktu yang baik itu enggak terlalu lama ya, Om, Tante, hahahaha”

Saya selalu mati gaya kalau sudah berbicara soal jodoh. Hanya bisa mengaminkan semua harapan dan doa terbaik orang-orang sekitar.

Kemudian Om Agung mulai bercerita beberapa pengalaman beliau tentang konsep jodoh dan rejeki. Salah satunya adalah perjumpaannya dengan Tante Hening yang ‘begitu saja’...

“Pulang dari gereja, entah kenapa Om rasanya ingin ke Rumah Tante... padahal belum pernah ketemu, ngobrol, intinya belum pernah berhubungan sama sekali deh, Nisa! Cuma modal gambar denah rumah tante yang dikasih sama temen om. Jadi temen Om itu beberapa bulan yang lalu menceritakan tentang tante ke Om, terus dia kasih denah rumah tante ke Om. Berbulan-bulan denah itu ada di dompet om, enggak om apa-apain. Dan entah kenapa sore itu Om ingin pergi ke rumah tante”

“Wah itu serius sebelum nya om dan tante belum ada komunikasi sama sekali?”

“Belum ada, wong Tante juga enggak tahu kalau sore itu bakal kedatangan tamu, kok” sambar tante Hening sambil senyam senyum.

“Lah terus gimanaa Om? Enggak canggung tuh?” tanya saya

“Awalnya di tengah perjalanan Om sempet ragu, Nis. Sempet melipir makan sate dulu isi amunisi dan berpikir, ‘ini aku jadi pergi enggak ya?’, yo tapi habis itu, habis kenyang, ya om tancap gas ke rumah tante.”

“Hahahhaha,,, pake acara kelaperan gitu om?”

“Iya, kalau deg-deg-an biasanya laper”

“terus-terus gimana om?”

Kemudian Om Agung menceritakan detil demi detil cerita saat perjumpaan pertama dengan Tante Hening di rumah Tante Hening.

“Kami ternyata satu frekuensi. Walau itu pertama kali kami bertemu dan mengobrol ya kami merasa nyambung dan nyaman” jawab Om

“Kalau istilah anak jaman sekarang, ada chemistry nya gitu lho, Sa...” tambah Tante Hening, kemudian tante melanjutkan, “Si Om pinter, setiap mau ngajak tante pasti udah ngomong duluan sama bapaknya Tante”.

“Ya iya tho... itu bentuk keseriusan Om dan cara Om menunjukan ke Bapaknya Tante kalau Om laki-laki yang bertanggungjawab dan Om mau serius sama Tante” kali ini giliran Om Agung yang menegakkan sandaran.

“Hahahahahaha... kok kayanya sekarang jarang cowok yang bisa berani dan to the point gitu ya, Om?”

“Bukan jarang, belum nemu aja, Sa... inget kata Om tadi... Tuhan memberikan sesuatu bukan di waktu yang kita inginkan, tetapi diwaktu yang terbaik untuk hidup kita, jangan pernah mendikte Tuhan.”

“Beres! Di-ca-tat! Hahaha”

Satu hari sebelum saya meninggalkan Jogjakarta menuju Jakarta untuk bekerja, saya berterimakasih bahwa takdir telah mempertemukan saya dengan orang-orang yang baik seperti mereka. Saya berterimakasih diberikan teman-teman yang tulus mengelilingi saya dan selalu menyamankan hati saya. saya berterimakasih bahwa apapun yang telah terjadi dalam hidup saya selama ini, suka maupun duka, selalu menjadi hal yang menyenangkan untuk saya ceritakan kelak.
Pada akhirnya memang akan datang waktunya di mana kita harus mengakrabi perpisahan. Tetapi jika kita paham, tak ada perpisahan yang terlalu menyedihkan jika hati kita akan tetap berjumpa dalam cinta dan doa. Tak ada jarak yang lebih jauh daripada sebuah proses saling melupakan. Tak peduli berapa puluh, ratus bahkan ribu kilometer kalian terpisah jarak oleh orang yang kalian cintai, jika itu cinta, maka Tuhan akan selalu mengaitkan hati dari masing-masing kita untuk tetap menjaga rasa kebersamaan. Kita akan belajar pada nantinya, bagaimana seseorang yang berada jauh dari kita akan selalu mampu menghapus kesedihan dan selalu mampu membuat kita bahagia. Jadi kalau kalian tanya apakah aku sedih dengan perpisahan ini? Jawabanya adalah tidak.


Toh, pada akhirnya akan ada waktunya masing-masing dari kita harus tetap pergi ke antah-berantah. Menemukan hal-hal yang sebelumnya tidak pernah kita tahu. Bertemu dengan banyak orang baru dan belajar memahami tingkah-lakunya tanpa menghakimi mereka dengan terburu-buru. Mungkin kita akan ketakutan pada awalnya. Meragukan diri sendiri untuk memulainya. Tapi adakah yang lebih buruk dari sekedar diam? Menunggu waktu yang dirasa tepat untuk meluluhkan ketakutan dan mulai melangkah saat kita benar-benar merasa nyaman? Jika kau memilih demikian, mungkin kau hanya akan menjadi sisa-sisa dari bagian yang tertinggal dan diinjak-injak oleh waktu serta kesempatan.




Malam ini saya mencoba mengingat-ingat lagi tentang saya ketika tinggi badan belum sampai 1 meter tapi mimpi saya tak pernah dibatasi kekhawatiran apapun. Saya ingin jadi sailormoon, tapi gagal karena setelah bertahun-tahun saya menerima kenyataan bahwa kucing saya tidak bisa berbicara dan memberikan alat pengubah wujud menjadi sailormoon. Kemudian saya bermimpi untuk menjadi power ranger. Berharap masih ada lowongan untuk mejadi power ranger ungu. Gagal lagi. Karena hingga saat ini power ranger ungu tidak pernah ada. Kemudian saya bercita-cita menjadi polisi wanita, dan entah kenapa kemudian saya mengubahnya menjadi dokter, kemudian dokter hewan agar bisa merawat kucing saya kalau sakit. Ternyata nilai pelajaran IPA saya tidak terlalu bagus dan saya ingin menjadi seorang hakim seperti Papah saya. impian itu semakin dekat saat saya diterima di fakultas hukum UGM. Tapi kemudian saat saya paham bahwa menjadi hakim bukanlah perkara mudah karena pertanggungjawabannya dunia akhirat, saya memilih untuk menjadi pemimpin redaksi majalah. Saya tidak yakin saya bisa menjadi pemimpin majalah yang berbau politik ataupun hukum karena itu pasti membosankan bagi saya, dan saya ubah lagi untuk menjadi pemimpin redaksi majalah fashion. Di suatu kesempatan saya bisa ambil bagian sebagai desainer yang memamerkan baju hasil olah pikir saya sendiri, dan malam itu kembali saya mengubah mimpi saya menjadi fashion designer.


Entah apa dan bagaimana, saya selalu ingin membuat sesuatu yang bisa membuat orang bahagia menjadi diri mereka apa adanya. Saya ingin menjadi fashion designer paling tidak untuk orang-orang terdekat saya. kemudian saya juga ingin mejadi penulis yang menulis sebuah buku dongeng yang—sederhana saja tujuannya—saya bisa meninabobokan anak-anak saya kelak dengan dongeng karangan ibunya sendiri.


Kemudian, di suatu siang di kantin kampus, Dekan saya bertanya kepada masing-masing dari kami tentang apa cita-cita kami. Ada yang ingin menjadi dosen, ada yang sudah diterima di OJK, ada yang ingin menjadi hakim, kemudian sampai pada gilaran saya, “Nah Nisa, apa cita-cita kamu?”

Dan saat itu saya diam sejenak. Saya tidak terlalu yakin tentang apa cita-cita saya sesungguhnya.

“Apa?” kata dekan saya mengulangi sambil menatap mata saya.

“Mmmm... Ibu rumah tangga, Pak” hening.

“Kamu tidak perlu menjadikan ibu-rumah-tangga sebagai cita-cita kamu, Nisa. Semua wanita akan mejadi ibu rumah tangga. Pikirkan hal lain yang ingin kamu lakukan. Untuk aktualisasi diri kamu, ilmu yang kamu punya”

Saya diam.

“Nisa, mau jadi penulis, Pak” jawab teman saya

“Ya! Itu bagus! Menjadi penulis tentang hal-hal sosial dalam masyarakat. Hukum, politik, sosial, budaya.” Kata Pak Dekan.

Saya masih diam. Menatap teman saya yang baru saja membantu saya menjawab tadi. Di dalam hati saya mengatakan, ‘maaf pak, mungkin mahasiswi bapak yang satu ini belum bisa diandalkan untuk menulis hal-hal yang seperti bapak katakan. Mungkin benar, di lubuk hati yang terdalam saya ingin sekali bisa menjadi penulis. Tapi bukan penulis yang seperti bapak bilang. Saya ingin menulis dongeng, cerita pengantar tidur anak-anak yang bisa membantu mereka menemukan nilai-nilai baik yang sering terlupakan untuk disampaikan. Saya ingin menjadi bagian sederhana seseorang dalam menghabiskan masa kecilnya dengan imajinasi yang bisa membuat mereka lebih mengerti tentang kesederhanaan hidup. Menyampaikan pesan sebelum ia menutup mata dan bermimpi. Saya ingin menjadi seperti itu. Karena saya tumbuh seperti itu. saya selalu ingat ibu yang selalu mendongengkan saya banyak cerita sederhana sebelum saya tertidur. Ibu yang selalu diakhir cerita menjelaskan pesan moral dari cerita tersebut kemudian mengcup kening saya dan membimbing saya untuk membaca doa sebelum tidur.


Dan saya ingin membuat banyak anak merasakan hal yang sama seperti yang saya rasakan saat itu.


Berhenti di sini, dan mari kita lihat kenyataannya saat ini: saya adala CPNS Kementerian Riset dan Tekonologi Pendidikan Tinggi. Suatu hal yang sama sekali tidak pernah menajdi bagian dari mimpi saya dan bahkan saya bayangkan sebelumnya. Apakah saya bersedih? Tidak sama sekali. Saya bahagia dan bersyukur atas rejeki yang saya dapat. Karena malam ini saya harus mulai memercayai bahwa Tuhan lebih tahu apa yang terbaik untuk saya, tahu kapan saya bisa mendapatkan apa yang saya inginkan. Saya tidak akan mencoba mendikte Tuhan. Yang saya yakini saat ini, kebaikan akan selalu mendatangkan kebaikan. Dan tiba-tiba saya mengingat hukum kekealan energi: energi tidak dapat dimusnahkan, energi bisa diubah wujudnya. Maka saya berpikir dan berharap kepada Tuhan agar saya tetap mengekalkan energi baik yang datang kepada saya, dan mengubah energi buruk menjadi energi baik di manapun saya berada dengan kekuatan penuh yang saya punya.

Hey,,, bukankah itu terdengar tidak jauh berbeda dengan tugas sailormoon dan power rangers? Mungkin saya sudah dalam proses mewujudkan mimpi saya itu, hanya saja dalam bentuk yang lebih real dan diterima dengan logika.





Saturday, April 11, 2015

HAL YANG PERLU DITULIS KARENA SAYA PELUPA

Baiklah, tulisan kali ini adalah rangkuman tentang apa-apa saja yang saya pelajari dalam satu bulan ini mengingat saya adalah orang yang sangat pelupa. Dimulai dari hal-hal yang saya baca, dari film-film yang saya tonton dan orang-orang yang saya temui.

Ada tiga buku yang saya tamatkan dalam beberapa waktu belakangan ini: Dilan, Sabtu Bersama Bapak dan How to Win Friends. Baiklah, mari kita mulai dengan buku pertama dan hal apa yang bisa saya pelajari dari buku ini

DILAN


Buku ini saya beli atas rekomendasi sahabat saya, Desy Eka. Tapi kalau boleh jujur, hal yang kemudian membuat saya semakin penasaran dan akhirnya membeli buku ini adalah saat saya membaca biografi penulis di belakangnya. Begini tulisannya:

Pidi Baiq mengaku sebagai imigran dari Sorga yang diselundupkan ke Bumi oleh ayahnya di Kamar Pengantin dan tegang. Di Bumi, kemudian menjadi Iman Besar The Panasdalam...
... tidak suka jus rumput. Pernah lapar, pernah ngantuk, tapi alhamdulillah semuanya bisa diatasi”


Gila! Dalam hati saya saat membaca sampul belakang buku. Saya tersenyum, dan penasaran tulisan macam apa yang bisa ditulis manusia gila macam ini.

Dan yup! Potongan biografi (kalau boleh saya sebut) asal tadi ternyata cukup mewakili isi cerita buku DILAN ini. Berkali-kali saya senyum-senyum sendiri membaca tulisannya. Saya tidak akan menuliskan tentang apa buku DILAN bercerita karena jauh lebih baik kalian membacanya sendiri, tapi bagi saya, isi buku ini segar dan menghibur. DILAN adalah nama tokoh yang diceritakan dalam buku ini, dan saya sebagai perempuan bisa menjamin, mungkin tidak ada lebih dari 10 laki-laki di nusantara ini yang punya gaya merayu dan menarik perhatian perempuan dengan pola pikir DILAN.
Jadi... buat para lelaki yang butuh refrensi buat PDKT sama perempuan, bisa baca buku DILAN. *kedip manja*


Sabtu Bersama Bapak


Buku yang konon kata beberapa teman “sedih”, menurut saya justru sangat menghibur dan penuh pesan moral tentang bagaimana kita bisa melihat sebuah hubungan pernikahan lebih luas. Paling tidak, dengan membaca buku ini saya bisa mengerti bahwa salah satu hal penting yang harus dimiliki seseorang yang akan menikah adalah kesadaran atas tanggungjawab dan kewajibannya dalam sebuah hubungan pernikahan atau keluarga.

Bagi saya buku ini memberikan sudut pandang baru bagi saya seorang perempuan bahwa hal yang penting dalam memilih pasangan adalah dengan mengetahui visi seorang laki-laki. Bahwa saat memutuskan untuk menikah maka pastikan masing-masing dari pasangan memiliki tujuan dan rencana yang jelas tentang apa yang mereka inginkan untuk pernikahannya.
Di buku ini secara eksplisit juga memberikan wawasan bahwa dalam sebuah pernikahan diperlukan kompromi-kompromi karir antara suami dan istri. Bagaimana saling berbagi peran dalam mengurus dan mendidik anak-anak. Berkeluarga lebih mirip dengan Bekerjasama, saya pikir.

Anyway, kalau boleh curcol, saya suka banget sama salah satu tokoh di buku ini: Cakra. Kenapa suka? Karena lewat tokoh ini, penulis menyampaikan pemikirannya tentang hal-hal yang penting untuk dipersiapkan para lelaki sebelum ia memutuskan untuk menikah, dan saya sebagai pembaca perempuan, berterimakasih untuk hal ini. :)
Saya sangat merekomendasikan bagi kalian semua untuk membaca buku ini

How to Win Friends and Influence People in The Digital Age



Buku ini cukup menarik dan tebal bagi saya. hahahha.

Kesimpulan yang bisa saya simpulkan dari buku ini adalah bahwa dibutuhkan keterikatan personal saat membangun sebuah hubungan apapun, tidak hanya pertemanan, tapi bisnis, pekerjaan, dan hubungan di dalam masyarakat lainnya. Buku ini menerangkan bahwa Digital Age memberikan ekses hubungan manusia satu dengan manusia lainnya kehilangan ke-“intim”-an nya. Hubungan yang dijalin dengan mengedepankan kepentingan para pihak tidak akan pernah seberhasil hubungan yang dijalin atas kedekatan personal yang tulus. Karena pada dasarnya, bahkan seorang presiden pun lebih ingin dicintai dsebagai dirinya bukan sebagai seorang presiden. Sederhananya seperti ini, ketulusan itu adalah ketika kita diterima, kita dicintai dan kita dihargai karena kita sebagai invidu, bukan karena kita sebagai pemangku posisi jabatan tertentu.

Semua orang ingin dicintai dengan tulus. Kuncinya adalah SEMUA ORANG, bukan hanya kita. Sehingga buku ini menuliskan bahwa dalam membangun sebuah hubungan yang baik, kita tidak boleh egois hanya memikirkan diri kita sendiri. Belajarlah untuk memberikan sesuatu kepada orang lain terlebih dahulu dibanding mengharapkan sesuatu dari orang lain. Belajarlah menyadari bahwa kehidupan orang lain JUGA penting untuk dihargai.

Kalau saya pribadi, saat kita ingin mendapatkan suatu hal dari orang lain, maka hal yang bisa saya lakukan adalah menberikan hal tersebut terlebih dahulu kepada orang lain. Misalnya, saya ingin perhatian yang lebih dari seseorang, maka, alih-alih saya mengatakan kepada orang tersebut, “saya ingin kamu lebih perhatian sama saya”, lebih baik hal yang saya lakukan adalah memberikan perhatian lebih besar daripada biasanya terlebih dahulu kepada orang tersebut. Karena pada bagi saya, manusia mempunyai kecendrungan untuk memberikan sesuatu berdasarkan apa yang telah mereka terima.
Cobalah untuk melihat seseorang dari keunikan dirinya sebagai individu tunggal yang hidup di bumi. Melihat setiap orang adalah mahkluk yang spesial, yang pantas untuk didengar dan dipahami. Itu cara terbaik untuk menghargai seseorang menurut saya.

Love people and they will love you back

***

Sekarang, saya akan bercerita tentang film yang saya tonton. Ada beberapa film sebenarnya, tapi ada dua film yang paling menarik bagi saya.


LOVE, ROSIE


Tema besar film ini FRIENDZONE. (permisi, saya boleh ketawa sebentar ya... “hahahahha”)

Dengan tema sefamiliar ini maka tidak penting untuk saya menceritakan detil bagaimana alur ceritanya. Tapi hal menarik yang bisa saya dapat dari film ini adalah bahwa kekosongan hati yang dimiliki oleh masing-masing orang pada akhirnya akan diisi oleh seseorang yang memang tercipta untuk memahami kita dengan cara yang sederhana.

Dalam cerita ini, Alex (Eum,, kalau saya tidak salah, nama tokoh laki-laki utamanya adalah ALEX, kalau salah maaf ya, shortterm memory banget nih saya ;p ) memiliki kebiasaan bermimpi menjadi sebuah benda. Ketika kecil, Alex bercerita kepada Rosie bahwa ia bermimpi menjadi paperclip. Rosie tertawa mendengarnya, dan Rosie mengatakan bahwa itu bukanlah masalah besar. Alex meminta Rosie untuk tidak memberitahukan kepada orang lain soal keanehan yang dia miliki, dan Rosie selalu menjaga rahasia itu dengan baik.

Oleh karena alam semesta belum mengizinkan Alex untuk bersama dengan Rosie, dan kemudian Alex berusaha untuk “mengobati” hatinya dengan memacari wanita tercantik dan terpopuler di kampusnya, suatu malam Alex bercerita kepada pacarnya itu,”Honey, tadi malam aku bermimpi menjadi anak panah”. Dan seketika pacarnya merespon negatif dengan menyuruh Alex menemui Psikolog karena kemungkinan Alex memiliki masalah kejiwaan. Saat itu Alex merasa bahwa pacarnya memberikan respon yang tidak menyamankan hatinya, kemudian ia teringat Josie.

Di pinggir jalan, malam hari di bawah lampu Alex me-sms Rosie,
“Hey, kemarin malam aku bermimpi menjadi anak panah” –sent-

Kemudian tidak lama kemudian Rosie membalas,
“Benarkah? Bagaimana rasanya menjadi anak panah? :D “

Lewat adegan ini saya mengambil pelajaran bahwa ketika kita bersama dengan orang yang tepat, ia akan menerima keanehan yang kita miliki tanpa berpikir bahwa itu adalah sebuah keanehan. Akan selalu ada orang yang bisa menerima kita apa adanya dan bahkan melihat kekurangan yang kita miliki sebagai suatu hal yang menarik.


THE PENGUINS OF MADAGASCAR



Saya kasih angka 8 dari 1 s/d 10 untuk film ini. Pinguinnya lucu, ceritanya lucu walau enggak masuk di akalnya itu tak terbantahkan (masa iya ada gurita bisa berubah wujud jadi manusia (“._.) ) tapi banyak banget pesan moralnya!!
Pesan moral pertama yang bisa saya ambil dari film ini adalah:

1. Sebuah pertemanan terjadi karena kita memiliki sebuah pemikiran yang sama. Saling percaya, saling menjaga dan saling menghargai satu sama lain. Menerima kelebihan dan kekurangannya. NO BODY IS PERFECT! Dalam film ini ada empat pinguin yang masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan.

Skipper : pemimpin tim yang baik, kekurangannya suka lupa dengan nama seseorang, dan Kowalski yang suka membantunya.

Kowalski: pinguins yang pintar dengan segala perhitungan yang akurat, akan tetapi dengan otaknya yang terlalu statistik, terkadang ia memaparkan kemungkina terburuk yang akan terjadi dan sering mebuat down anggota tim yang lain, akna tetapi kekurangannya ini selalu diback-up oleg Skipper yang selalu melihat kemungkinan baik yang akan terjadi walau secara statistik snagat kecil.

Rico : Teknisi yang handal, kekuranganya enggak bisa ngomong dan kemampuan otak di bawah rata-rata

Privat : Tidak memiliki kemampuan khusus, akan tetapi memiliki loyalitas yang tinggi dalam tim.

Dari empat tokoh ini saja penulisnya dengan sangat pintar menyampaikan pesan bahwa dalam sebuah tim kita tidak bisa menuntut kesempuarnaan atau menuntut hal yang sama bagi setiap anggota. Yang perlu dilakukan adalah menghargai kontribusi yang diberikan setiap anggota dalam bentuk apapun dan sebagai pemimpin harus mampu mensinergikan kelebihan maupun kekurangan yang ada di setiap masing-masing individu.

2. Skipper is my favorit penguin!! Skipper di film ini menggambarkan pemimpin tim yang selalu bisa melihat hal positif di segala keadaan. Adegan favorit saya di awal film ini adalah ketika Skipper bertanya kepada Kowalski kemungkinan apa yang bisa terjadi kepada mereka yang sedang terombang-ambing di atas bongkahan es di tengah samudra? Kowalski menjawab, “90 persen kita kan terombang-ambing entah sampai kapan di tengah samudra ini, Skipper!” , lalu Skipper melanjutkan pertanyaan, “Lalu bagaimana 10% sisanya?”, Kemudian Kowalski menjawab, “10% sisanya adalah kita sedang menuju perjalanan yang mengagumkan dan tidak terbayangkan!”, kemudian Skipper menjawab, “Baiklah, kita ambil yang 10% itu!”.

Banyak pesan moral yang disampaikan lewat tokoh Skipper. Skipper adalah contoh pemimpin yang selalu menghargai anggota timnya, sekecil apapun kontribusi yang mereka berikan. Skipper selalu berusaha untuk meyakinkan setiap teman-temannya bahwa mereka diperlukan dalam tim ini. Skipper juga memberikan pelajaran bahwa seorang pemimpin kelompok harus mampu mengambil keputusan yang tepat dan cepat dan membangun kepercayaan setiap anggotanya bahwa MEREKA BISA!.
Skipper juga sosok yang tidak egois, bagaimanapun, keselamatan teman dalam timnya adalah hal terpenting. Dia bisa menurunkan egonya saat bertemu dengan tim North Wind dan membiarkan dipimpin oleh Anjing Kutub yang lagi-lagi saya sudah lupa siapa namanya. Maaf.

3. Sangat banyak quotes menarik dalam film ini. Salah satunya adalah ketika Privat bertanya bagaimana bentuknya sekarang?, Kowalski menjawab “kau seperti monster” (ini karena Kowalski memang selalu mengatakan sesuai apa yang ada di kepalanya), kemudian Skipper memotong, “Lihatlah, tidak penting bagaimana penampilanmu saat ini, tapi lihatlah betapa mengagumkannya apa yang sudah kau perbuat, Privat!”. Itu adalah satu dari beberapa quotes yang saya suka. Karena saya selalu percaya kita sebagai mahkluk, manusia lebih tepatnya, akan dihargai akan dinilai dari apa yang kita lakukan bukan dari bagaimana kita terlihat.

Intinya... Film ini recommended banget untuk ditonton!!

Okey, karena sudah terlalu panjang, maka tulisan tentang hal-hal yang saya dapat dari orang-orang yang saya temui dilanjut ditulisan berikutnya ya,,, semoga tulisan ini bisa memberikan refrensi bacaan dan tontonan untuk kalian. 

Tuesday, March 10, 2015

KETIKA TAMAT MEMBACA 'RINDU'

Apa hal yang sering saya lakukan ketika saya bahagia? Jawabannya adalah menulis.

Saat saya merasa bahagia selepas berkumpul dengan teman-teman dan menghabiskan waktu dengan mendengarkan banyak hal serta bercerita, saya akan menulis.

Saat saya merasa bahagia selepas menyaksikan sebuah kejadian yang memberikan saya pemahaman baru, saya akan menulis.

Saat saya merasa bahagia selepas menonton sebuah film atau menamatkan sebuah buku, maka saya akan menulis.

Menulis bagi saya menjadi tempat untuk berbagii atas kebahagiaan yang saya rasakan. Atas pemahaman-pemahaman baru yang semoga bernilai baik yang saya dapatkan. Maka izinkanlah saya kali ini untuk berbagi kebahagiaan saya atas pemahaman baru yang saya dapatkan setelah menamatkan sebuah novel berjudul RINDU karya Tere Liye.

sumber : http://ruangmaknaqu.blogspot.com/2014/10/resensi-novel-rindu.html

Novel ini pemberian sahabat saya; Eka. Entahlah, mungkin Eka paham bahwa saya memang menyukai karya-karya Tere Liye. Saya mengoleksi novel-novelnya, saya jatuh cinta dengan tulisan Tere Liye sejak saya menamatkan novel karangannya yang pertama saya miliki: Aku, Kau dan sepucuk Angpao Merah. Kemudian saya terus membeli karya Tere Liye lainnya. Saya suka, saya suka dengan semua konsep yang ditawarkan Tere Liye dalam melihat kehidupan. Tentang bagaimana caranya mencintai, bagaimana caranya bermimpi, bagaimana cara menghargai kehidupan, saya selalu menyukai cara Tere Liye menyajikan itu semua dalam cerita-cerita karangannya.

Kembali pada RINDU. Novel yang memiliki 544 halaman ini memberikan kesan ‘lelah’ bagi saya saat pertama kali menerimanya dari Eka. Saya memang suka membaca karya Tere Liye, tapi sebelumnya saya harus menyatakan bahwa saya adalah pembosan. Saya tidak pernah bisa duduk diam lebih dari setengah jam hanya untuk membaca buku. Saya tidak terlalu suka cerita yang panjang, lebih tepatnya saya tidak terlalu suka melihat buku bacaan yang terlalu tebal. Karena saya selalu tidak sabaran menebak-nebak akhir cerita. Saya akui saya kurang sabar, tapi RINDU, membuat saya paham bahwa untuk memahami dan menemukan ‘keberhargaan’ sebuah buku, kita pun butuh sabar.

Jujur, novel ini saya tamatkan selama dua bulan. Bab 1 hingga Bab 30 terasa membosankan bagi saya. tidak ada konflik yang terlalu berarti. Tidak terlalu banyak perkataan-perkataan yang bisa diresapi dan dimaknai, maka jadilah novel ini selalu saya kesampingkan dan saya buka sekali-kali jika saya sedang tidak ada kerjaan. Saya tidak terlalu ingin menamatkannya. Tapi saya kembali berpikir, tidak mungkin penerbit sebesar REPUBLIKA menerbitkan buku yang isinya biasa saja. saya mulai bertanya, ceritanya yang membosankan, atau saya yang belum bisa memahami isi ceritanya?

Maka untuk mendapatkan jawabannya, tidak lain dengan terus melanjutkan membacanya dan menamatkannya.

BAB 31. Pertanyaan pertama mulai diajukan. Pertanyaan tentang apa? Bacalah sendiri.

Selanjutnya hingga BAB 50-51 pertanyaan-pertanyaan lain mulai diajukan dan dijawab. Ada lima pertanyaan dari lima kehidupan manusia yang berbeda. Empat dari lima pertanyaan itu terjawab oleh seorang guru besar bernama Ahmad Karaeng yang akrab dipanggil Gurutta dalam cerita ini. Kemudian satu pertanyaan terakhir, sebuah pertanyaan yang berasal dari Gurutta tanpa disangka-sangka terjawab oleh seorang kelasi kapal yang patah hati. Seorang pemuda yang dangkal ilmu agamanya dan tokoh paling muda di antara tokoh utama dalam cerita ini.

Kalian tahu apa yang saya dapatkan setelah membaca novel ini khususnya di BAB 31 hingga 51? Banyak hal! Dan salah satunya adalah saya kemudian mengerti bahwa setiap manusia yang hidup dengan segala macam takdir yang ia miliki akan selalu memiliki satu atau lebih pertanyaan hidup dalam dirinya. Pertanyaan yang berbeda-beda setiap orangnya, dan terkadang kita akan menemukan jawabannya itu dari orang-orang yang kita temui dalam hidup kita. Bahkan dari seseorang yang tidak pernah kita kira, seperti kelasi rendahan yang pada akhirnya mampu menjawab pertanyaan seorang Gurutta.

Ya, kita tidak pernah tahu serumit apapun pertanyaan yang kita bawa dalam hidup bisa jadi akan menemukan jawabannya dari seorang yang memiliki tingkat pendidikan, sosial atau bahkan agama yang jauh dari kita. Itu sebabnya, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak menghargai siapapun yang kita temui dalam hidup kita, karena bisa jadi, orang yang kita sepelekan karena kemampuanyalah yang memegang jawaban atas pertanyaan kita. Bisa jadi, orang yang paling tidak kita perhitungkanlah yang akan memberikan pemahaman hidup yang lebih baik untuk kita. Bisa jadi, orang yang paling membutuhkan pertolongan kitalah yang malah akan menolong kita keluar dari kebingungan.
Bisa jadi seperti itu.

Hal lain yang saya temui dalam buku ini adalah tentang penerimaan dan sabar. Tentang bagaimana kita belajar untuk menerima takdir Tuhan yang terkadang terasa tidak adil bagi kita. Bagaimana kita bisa menerima bahwa hal yang kita inginkan tidak selalu menjadi hal yang terbaik untuk diri kita. Maka atas luka, atas rasa kecewa, atas rasa marah dan rasa bersalah, ada baiknya mulai saat ini kita belajar menerima. Menerima tidak sekedar menerima. Menerima dengan pemahaman yang baik untuk belajar mengerti bahwa atas sebuah proses hidup yang baik, atas sebuah kesalahan yang dilakukan karena ketidaktahuan, atas sebuah luka yang entah mengapa diberikan Tuhan, selalu ada pelajaran dan pesan yang ingin disampaikan Tuhan.

Dan ketika itu berasal dari Tuhan, maka itu akan selalu menjadi kebaikan. Belajarlah menerima dengan konsep yang seperti itu.

Kemudian, sabar. Dalam novel ini dituliskan bahwa sabar adalah penolong kita yang luar biasa. Bagaimana bisa? Begini, ketika kita menerima sebuah takdir Tuhan, takdir yang tidak kita inginkan, takdir yang entah mengapa dan kita tidak paham dan mengerti alasannya, bukan berarti kita jadi membenci dan tidak menyukai takdir tersebut. Jika kita bersabar, menerima, maka kelak waktu akan menjelaskan hal-hal yang tidak kita pahami sebelumnya. Dan apabila kita sabar dan menerima, waktu akan mengobati semua luka dan kecewa yang sempat kita dapatkan sebelumnya. Ingatlah bahwa pengetahuan manusia terbatas, dan sungguh, kita tidak perlu tahu seluruh hal di dunia ini.
Sabarlah, ikhlaslah.

Saya hingga detik ini yakin, atas semua hal yang selama ini saya perjuangkan namun belum bisa saya menangkan atau dapatkan adalah karena (mungkin) memang belum pantas saya dapatkan atau (mungkin) akan diganti yang lebih baik oleh Tuhan. Hal yang terus saya lakukan adalah berjuang dengan cara yang benar, agar saya mendapatkan hasil yang benar juga, walau mungkin hasilnya tidak sesuai dengan keinginan saya, karena sekali lagi saya ingin belajar memercayai bahwa hal yang saya ingini belum tentu menjadi hal terbaik bagi hidup saya. semoga pemahaman ini akan selalu saya pegang agar saya bisa belajar ikhlas saat bertemu dengan kegagalan ataupun kekecewaan dalam bentuk apapun.

Saya adalah pelupa yang akut. Saya sering melupakan nama-nama orang yang saya temui. Saya sering melupakan jalan cerita sebuah film atau buku yang saya baca. Saya sering melupakan arah jalan yang (padahal) sering saya lewati. Tapi entahlah untuk yang satu ini saya harus bersyukur atau tidak atas saya yang sebagai pelupa akut; saya sering melupakan hal-hal yang tidak menyenangkan yang terjadi dalam hidup saya. Bahkan sering saya lupa jika saya sedang marah dengan seseorang. Saya hanya tidak ingin terbiasa membenci. Saya tidak ingin merasa sedih dan kecewa terlalu lama. Maka tanpa saya sadar, saya menggunakan kemampuan saya—jika saya boleh mengakui pelupa saya sebagai sebuah kemampuan—melupakan hal-hal yang tidak menyenangkan. Saya hanya berusaha menjadikan kekurangan pelupa saya sebagai kelebihan tersendiri untuk beberapa hal.

Dan seperti yang saya nyatakan di awal, inilah yang dilakukan pelupa saat merasa bahagia; menulis.

Saya menulis agar kelak, suatu saat nanti yang entah kapan, ketika saya membaca tulisan ini lagi saya bisa merasakan bahagia yang sama seperti malam ini saat saya menuliskan ini semua. Inilah kejujurannya, saya menulis untuk diri saya sendiri sebenarnya, tapi jika tulisan ini bisa membuat orang lain juga merasa bahagia, maka kebahagiaan saya berkali-kali lipat. Adakah hal bahagia selain ketika kebahagiaan kita menjadi sumber kebahagiaan (juga) bagi orang lain?

Saya tidak perlu menjawab.

Terakhir saya ingin menuliskan tentang pengalaman saya menamatkan novel ini. Saya sempat berpikir, adakalanya kita hampir menyerah untuk menyelesaikan suatu hal—seperti saya yang hampir menyerah menuntaskan novel ini—tapi kemudian ada di mana kita seolah ‘dibisikan’ untuk terus menyelesaikannya. Jika itu terjadi dalam kehidupan kita kelak, maka, yakinilah bahwa itu petunjuk alam semesta dan Tuhan agar kita tidak lekas menyerah, karena ada hal berharga yang bisa kita dapatkan di ujung sana. Jadi... membaca saja butuh sabar, apalagi memahami dan menemukan keseruan akan kehidupan. Jika alur cerita hidup kita saat ini terasa datar dan kurang seru, maka bersabarlah. Sabar! Tetap teruskan dengan penuh harapan baik. Akan ada waktunya kalian memasuki bab baru dalam kehidupan kalian yang membuat kalian kehilangan rasa lelah dan kehilangan kesempatan untuk sekedar menggerutu!!

Monday, March 2, 2015

KUCING DAN KELINCI BUTA YANG SELALU BERSYUKUR


“kuberitahukan kau sebuah rahasia, Kucing. Semua hal di dunia ini hanyalah permainan pikiranmu. Kau akan merasa cukup jika kau berpikir kau telah cukup. Kau akan merasa bahagia jika kau berpikir kau bahagia. Begitulah yang dikatakan ibuku”



Suatu hari, di tengah hutan tampak seekor Kelinci sedang sibuk mengumpulkan daun-daun untuk makan malamnya. Tak lama kemudian, seekor Kucing datang dengan wajah masam menghampirinya.

“Hai Kelinci, apa yang sedang kau lakukan dengan daun-daun itu?” tanya Kucing.

Kelinci yang sedang sibuk memetik daun-daun berhenti lalu menoleh perlahan ke arah Kucing, “kau berbicara kepadaku?” tanya Kelinci.
“Ya. Aku berbicara kepadamu. Siapa lagi yang ada di sini selain kau dan aku.” kata Kucing kesal.
“Ah, iya. Maafkan aku. Aku hanya...”
“Apa yang akan kau perbuat dengan daun-daun itu?” potong Kucing, bertanya untuk kedua kalinya.

Kelinci mengangkat keranjang rotannya yang sudah hampir penuh terisi oleh daun. Kelinci melompat-lompat menuju Kucing. Kucing memandangi Kelinci dari ujung kaki hingga ujung telinganya yang panjang dan lebar, baju yang dikenakan Kelinci sangatlah lusuh dan kotor.

“Hey! Jangan dekat-dekat, Kelinci! Kau sungguh kotor dan bau! Nanti kau akan mengotori baju baruku” teriak Kucing.
“Ah.. Maafkan aku.” kemudian Kelinci mundur beberapa lompatan mematuhi perintah Kucing untuk tidak terlalu dekat dengannya. “Daun-daun ini adalah makan malamku dan pamanku untuk hari ini. Pamanku sedang sakit, maka aku harus mencari makan dan merawatnya.” Jelas Kelinci

Kucing diam mengamati Kelinci sekali lagi. Ada yang tampak tidak biasanya.


“Hey Kelinci, mengapa bola matamu tampak aneh?” tanya Kucing
“Aneh seperti apa? Apakah mataku tampak menyeramkan?” jawab Kelinci sambil tersenyum.
“Tidak, tidak menyeramkan, hanya saja...”
“Hey, Kucing... kau harus segera pulang, sebentar lagi malam akan datang dan hutan ini akan sangat gelap untukmu. Kau pasti tidak menyukai kegelapan kan?” ujar Kelinci.
“Aku tak ingin pulang. Aku akan membayarmu dengan banyak wortel dan daun-daunan kalau kau mengizinkan aku untuk ikut tinggal bersamamu semalam saja, wahai Kelinci”
“Bagaimana kalau kedua orang tuamu mencari-cari dirimu. Kau harus minta izin terlebih dahulu kepada mereka.”
“Orang tuaku sudah mengizinkan, dan mereka akan memberikan kau dan pamanmu dengan makanan yang banyak jika kau mengijinkan aku tinggal bersamamu malam ini.”

Akhirnya Kelinci mengizinkan Kucing untuk tinggal bersamanya. Sore itu mereka berdua menuju rumah Kelinci di tengah hutan, dan betapa terkejutnya Kucing saat tiba di depan rumah Kelinci. Rumah Kelinci hanyalah rumah pohon yang sangat kecil. Tidak ada lampu-lampu indah seperti di rumah Kucing, hanya ada beberapa lampu minyak yang menggantung di dinding rumah pohon. Di dalamnya hanya ada beberapa kursi kayu yang di ujungnya tampak ditumbuhi jamur.
“Maafkan aku, aku tidak punya ikan ataupun daging yang bisa kau makan,Kucing. Aku hanya ada beberapa wortel ini dan sayuran” ujar Kelinci.
“Tak apa-apa, aku tidak lapar” jawab Kucing pelan. Sesungguhnya ia sangatlah lapar, tapi melihat kondisi rumah Kelinci dan pamannya yang sedang terbaring sakit ia tak punya hati untuk meminta macam-macam makanan kepada Kelinci.
“Kucing, aku harus merawat pamanku sebentar, agar kau tak bosan pergilah keluar dan kau akan melihat bintang yang sangat indah” tawar Kelinci.

Kucing mengikuti saran Kelinci. Sementara Kelinci mengurus pamannya untuk makan malam, ia keluar dan duduk di depan rumah pohon. Untuk kedua kalinya Kucing terkejut melihat taburan bintang yang sangat indah di langit. Ia tidak pernah melihat langit penuh bintang seperti ini sebelumnya. Di rumahnya, cahaya bintang tampaknya tersaingi dengan benderang lampu-lampu taman dan lampu lain yang terpasang. Ia tak pernah melihat cahaya bintang sebenderang ini. Tak pernah melihat langit malam seindah ini. Saking senangnya, ia melupakan perut laparnya.

Beberapa saat kemudian, Kelinci keluar menghampiri Kucing yang masih sangat takjub dengan pemandangan langit malam itu. melihat Kelinci yang baru saja keluar dari rumah pohon, Kucingpun segera memanggilnya. “Hai Kelinci!! Duduklah di sampingku. Lihat lah langit malam ini sunggulah sangat indah!”. Kelincipun melompat ke arah kucing, tentu saja masih menjaga jarak, ia takut mengotori baju Kucing yang hingga malam inipun masih tercium sangat harum.
“Pamanmu bagaimana?” tanya Kucing kepada Kelinci.

“Paman sudah tidur. Kucing sungguh kau tidak lapar? Makanlah beberapa wortel milikku, kau belum makan sedari sore saat kita bertemu.”
“Tidak Kelinci, sungguh aku tidak lapar Sebelum aku bertemu denganmu di hutan tadi, aku sudah makan banyaaaak sekali makanan lezat! Lagipula Kucing tak makan wortel” jelas Kucing, “hey Kelinci, lihatlah ke atas, langitnya sangat indah!”

“Iya... kata ibuku langit selalu tampak indah dari hutan kami”
“kata ibumu? Mengapa harus kata ibumu? Lihatlah sendiri dengan matamu!”

“Kucing, apakah kau belum menyadarinya?”
“menyadari apa?”

“Aku tak bisa melihat. Itu mengapa bola mataku tampak aneh seperti yang kau katakan tadi sore”
Untuk keempat kalinya Kucing terkejut.
“Tapi kau tak terlihat seperti Kelinci yang buta?! Kau tak pernah menabrak pohon atau apapun saat perjalanan kita pulang. Kau pun tidak seperti Kelinci buta saat sedang merawat pamanmu”

“Begitukah?” Kelinci tersenyum,”kata ibuku,aku hanya tak bisa melihat dengan mata, tapi aku tidak buta. Aku tidak bisa melihat sedari aku masih bayi. Ibu dan ayahku mengajarkan aku dan mengenalkan aku kepada setiap sudut tempat di hutan ini hingga aku sangat hapal setiap pohon yang tumbuh ataupun setiap jengkal tanah yang kupijak.
“Kata kedua orang tua ku, aku tak perlu takut dengan kekuranganku. Tuhan Maha Adil. Jika ia memberikan kekurangan, maka bersama kekurangan itu ia karuniakan juga kelebihan. Aku tak bisa melihat, tapi pendengaranku, penciumanku dan kemapuan menghapalku sangatlah bisa aku andalkan.
“Mereka selalu bilang walau aku tidak bisa melihat dengan mataku, bukan berarti aku tidak bisa seperti kelinci lainnya. Mungkin mataku tak bisa melihat dan menangkap cahaya, tapi aku, dan siapapun akan selalu bisa melihat sesuatu lebih jelas dengan hati yang kita miliki. Penglihatan yang diberikan dari mata terkadang malah memberikan kekeliruan, sedangkan pandangan yang diberikan oleh hati, akan selalu tampak seperti apa adanya” jelas Kelinci.

“Lalu di mana ayah dan ibumu sekarang? Aku tidak melihatnya sedari tadi.”

“Ayah dan ibuku sudah pergi. Mereka tertangkap oleh manusia saat ingin melepaskan rusa yang terjerat jebakan manusia. Kata paman, ibu dan ayah tidak bisa untuk tidak menolong rusa yang sedang hamil dan terlihat kesakitan, maka ayah dan ibu mengerat jaring jebakan itu. Rusa berhasil lepas, namun ayah dan ibu tertangkap oleh manusia. Itulah yang diceritakan paman kepadaku”

Kucing terdiam mendengar cerita Kelinci. Ada getir yang mengalir di hatinya saat ini.

“Walau aku tidak bisa melihat bintang dengan mataku, tapi aku bisa membayangkannya dalam pikiranku. Dulu, ibu dan ayah selalu menceritakannya dengan sangat detil, kemudian aku bisa memabayangkannya dalam pikiranku. Seperti tadi sore, walau aku tidak bisa melihat dirimu, tapi aku bisa membayangkan alangkah cantiknya baju yang kau kenakan. Bau badanmu sungguhlah harum, kau pasti cantik bagaikan seorang putri, Kucing, bajumu pastilah juga sangat indah”
Mendengar penjelasan Kelinci.

Kucing mulai membuka suara, “sungguh tak adil hidup ini kepadamu wahai Kelinci, pastilah kau sangat menderita selama ini. Kau buta sedari kau kecil dan kaupun tak punya ayah dan ibu untuk berlindung, malah kau harus merawat pamanmu yang sakit-sakitan di rumahmu yang sangat sempit dan pengap ini” kata Kucing.

“Tidak Kucing, aku tidak pernah merasa menderita. Aku bersyukur atas hidupku. Dulu, aku pernah bertanya kepada ibuku tentang mengapa Tuhan tidak memberikanku mata yang bisa melihat dunia, kemudian ibuku menjawab, Tuhan memberikanku mata yang tidak bisa melihat dunia karena Tuhan ingin aku melihat dunia dengan lebih indah daripada orang lain melihatnya. Seperti aku membayangkan indahnya langit, bisa jadi langit yang ada di bayanganku jauh lebih indah dari langit malam ini. Bajuku yang sempat kau katakan lusuh dan kotor, aku tidak pernah melihatnya seperti itu, di pikiranku, baju ini adalah baju terbaik dan tercantik yang kupunya karena baju ini dirajut oleh ibuku sendiri. aku selalu merasa hangat mengenakan baju buatan ibu. Aku selalu merasa ibu memelukku saat aku memakainya. Rumahku yang kau bilang sempit dan pengap ini, aku tak pernah merasakannya begitu, rumah pohon ini penuh dengan kenangan aku dan kedua orang tuaku. Banyak cerita dan ilmu pengetahuan yang ayahku ajarkan kepadaku sehingga aku bisa melihat dunia dengan lebih luas. Sesempit apapun yang kau lihat dengan matamu, tapi hatiku selalu merasakan rumah pohonku sangatlah luas dan lapang. Akupun tak merasa keberatan merawat pamanku yang sakit, paman adalah pengganti ayah semenjak aku tak punya kedua orang tua lagi, ia selalu merawatku dengan penuh kasih sayang, dan aku beruntung diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk membalas kebaikan hatinya dengan merawatnya saat ini
“kuberitahukan kau sebuah rahasia, Kucing. Semua hal di dunia ini hanyalah permainan pikiranmu. Kau akan merasa cukup jika kau berpikir kau telah cukup. Kau akan merasa bahagia jika kau berpikir kau bahagia. Begitulah yang dikatakan ibuku”

Kucing meneteskan air mata mendengar cerita dari Kelinci. Tiba-tiba dia rindu dengan kedua orang tuanya, pasti mereka sedang sangat khawatir mencarinya. Sungguh ia malu dengan Kelinci yang selalu bersyukur dengan kehidupan yang ia miliki walau terlihat sangat kekurangan.
Kucing mulai terisak.


“Kucing, apakah kau menangis?” tanya Kelinci.
“Aku rindu sama ayah dan ibuku... Kelinci... maaf aku telah berbohong kepadamu, sebenarnya aku kabur dari rumah karena ayah tidak membelikan boneka yang aku inginkan. Aku kesal... tapi... setelah mendengar ceritamu aku sadar betapa tidak bersyukurnya aku. Selama ini aku hidup berkecukupan, berlebih bahkan. Apa yang aku pinta ayah dan ibuku selalu berusaha untuk memenuhinya, tapi aku selalu tidak merasa cukup dan puas. Aku malu denganmu, Kelinci... yang terus bersyukur dengan kehidupan yang kau miliki. Kupikir mungkin aku tidak akan sanggup hidup bila aku menjadi dirimu” jelas Kucing sambil menangis tersedu.

“Satu hal yang harus kau ingat, Kucing, bahwa Tuhan tidak akan memberikan cobaan di luar kemampuan mahkluk ciptaanNya. Dan hal kedua yang juga sangat penting untuk kau ingat bahwa kita tidak akan selamanya bisa bersama dengan orang tua kita, Kucing. Selama mereka masih bersama kita, maka kita wajib membahagiakan mereka. Tuhan akan selalu mencintai ciptaanNya yang memperlakukan baik orang tuanya.” Lalu Kelinci melanjutkan, “besok pagi, akan aku antar kau kembali ke rumahmu, ayah dan ibumu pasti sangat khawatir.”

Keesokan harinya, Kelinci mengantar Kucing kembali ke rumahnya. Alangkah bahagianya ayah dan ibu Kucing saat melihat anak satu-satunya kembali. Sebelum pulang, Kucing memberikan banyak sayuran dan buah-buahan kepada Kelinci untuk dibawa pulang sesuai dengan janjinya. Selain itu Kucing juga menceritakan kehidupa Kelinci dan Pamannya yang hanya tinggal di rumah pohon yang sempit. Kemudian orang tua Kucing sepakat untuk membuatkan rumah yang lebih bagus untuk Kelinci dan Pamannya. Semenjak pertemuannya dengan Kelinci, perlahan demi perlahan sikap Kucing berubah semakin baik. Ia mulai lebih menghormati orang tuanya dan menghargai teman-temannya.

Terkadang kita selalu mengukur kebahagian dari hal-hal yang kita lihat, entah itu uang, jabatan, pendidikan ataupun barang-barang yang kita miliki. Padahal, Tuhan menakar kebahagiaan setiap mahkluknya dengan hal yang berbeda-beda. Sesungguhnya, seseorang yang mampu merasa cukup dan terus bersyukurlah adalah orang kaya yang sebenarnya menghargai apa yang ia miliki dan terus berbagi serta mengasihi orang lain.

Orang yang terlihat bahagia dengan segala kebercukupan harta yang ia miliki tidaklah menjamin seseorang itu benar-benar merasakan bahagia. Sebaliknya, seseorang yang terlihat sangat menderita ketika ia memiliki pemahaman kehidupan yang baik maka mungkin ia adalah orang yang paling bahagia di dunia ini.

Dan ingatlah... Tuhan telah berjanji, bahwa Dia akan menambahkan karuniaNya bagi umatNya yang bersyukur