Monday, July 8, 2013
Kau Cinta Pertama dan Terakhirku
Sebelumnya tak ada yang mampu
Mengajakku untuk bertahan di kala sedih
Sebelumnya kuikat hatiku
Hanya untuk aku seorang
Sekarang kau di sini hilang rasanya
Semua bimbang tangis kesepian
Reff:
Kau buat aku bertanya, kau buat aku mencari
Tentang rasa ini, aku tak mengerti
Akankah sama jadinya bila bukan kamu
Lalu senyummu menyadarkanku
Kau cinta pertama dan terakhirku
Sebelumnya tak mudah bagiku
Tertawa sendiri di kehidupan yang kelam ini
Sebelumnya rasanya tak perlu
Membagi kisahku tak ada yang mengerti
Sekarang kau di sini hilang rasanya
Semua bimbang tangis kesepian
Repeat Reff
Bila suatu saat kau harus pergi
Jangan paksa aku 'tuk cari yang lebih baik
Karena senyummu menyadarkanku
Kaulah cinta pertama dan terakhirk
Sunday, July 7, 2013
IKLAN YELLOWPAGES
Ini vidio kedua yang dibuat oleh Ham-ham,
Vidio kali ini dibuat bertiga: saya, ham-ham dan chandra dalam rangka ikutan lomba yellowpages. Ga menang sih... tapi masuk 20 besar,,, (somobong dikit ga papalah ya...) hahahaha...
narasinya rada buru-buru karena iklannya dibatasin cuma 30 detik! jadi saya ngomongnya agak blepotan...
Vidio kali ini dibuat bertiga: saya, ham-ham dan chandra dalam rangka ikutan lomba yellowpages. Ga menang sih... tapi masuk 20 besar,,, (somobong dikit ga papalah ya...) hahahaha...
narasinya rada buru-buru karena iklannya dibatasin cuma 30 detik! jadi saya ngomongnya agak blepotan...
Perempuan itu...
Perempuan itu... sering mengingkari hal-hal baik yang terjadi dalam hidupnya hanya karena hal-hal baik itu tidak sesuai dengan apa yang benar-benar ia harapkan.
Perempuan itu... sering meyakinkan dirinya kuat di saat ia benar-benar lemah
Perempuan itu... saat diam, sesungguhnya ia ingin menjelaskan banyak hal
Perempuan itu... sering merasa mengerti banyak hal, sesungguhnya ia tidak dalam tahap mengerti, tapi mencari tahu
Bahkan tidak jarang dia bertanya kepada dirinya sendiri tentang apa yang sebenarnya ia cari—karena terlalu rumit jalan pikirannya.
Perempuan itu... sering merasa bahwa apa yang ia pinta adalah hal yang sederhana, akan tetapi, (percayalah) semakin sederhana apa yang ia pinta, maka semakin rumit untuk dipahami apa yang ia inginkan.
Perempuan itu mahkluk rumit,
karena itu...
Dibutuhkan lelaki pintar untuk mengurai kerumitannya.
Untuk menjadi lebih sederhana tanpa kehilangan maknanya sebagai perempuan.
Sebuah pengakuan yang tidak cukup bisa dibanggakan untuk diakui. Terinspirasi dari cerita "Curhatan Untuk Sahabat" salah satu cerita dalam novel RECTOVERSO karya Dewi Lestari.
ada seorang wanita yang bercerita kepada sahabat laki-lakinya bahwa yang ia harapkan hanyalah seorang lelaki yang menyayanginya secara tulus, seorang laki-laki yang kapan saja mau datang dan membawakannya segelas air putih saat ia sakit. ia merasa apa yang ia inginkan adalah sesuatu yang sederhana dan tidak berlebihan.
Kenyataannya...
Ia mengharapakan seseorang yang sesungguhnya telah duduk manis di hadapannya saat ini. Seseorang yang selalu duduk manis di hadapannya tidak hanya untuk saat itu, tapi di saat ia tertawa maupun menangis selama ini. Dan yang terpenting, dia adalah seseorang yang datang ke rumahnya untuk membawakan segelas air putih saat si perempuan sakit.
Dia adalah laki-laki yang lupa diperhitungkan.
Sahabatnya sendiri.
Note: Karena mungkin, titel "sahabat" terkadang menjadi sekat untuk memberikan kemungkinan kita untuk mencintai seseorang. Mungkin.
Sunday, June 9, 2013
INVESTASI TERBAIK DALAM HIDUP
Judul tulisan kali ini adalah “INVESTASI TERBAIK DALAM HIDUP”
Narasumbernya adalah Ibu dan sedikit pelengkap dari Papah.
Saya tiba-tiba ingin menulis perbincangan saya dengan ibu yang tanpa ibu sadari sudah di ceritakan berulang kali. Kalau Ibu sudah bercerita—walau hal itu sudah diceritakan kepada saya beberapa kali—saya memilih untuk tetap mendengarkan. Itu dikarenakan saya selalu senang melihat wajah dan mendengar intonasi suara Ibu yang sungguh-sungguh. Mengingat saat ini saya sedang mengambil studi Magister Hukum Bisnis, jadi kali ini akan saya ceritakan tentang investasi keuangan terbaik dalam hidup versi Ibu saya. Kita tidak akan membicarakan tentang pasar modal, saham, obligasi atau efek lainnya, tidak. Kita berbicara tentang keikhlasan dan kepercayaan. Itu saja

Pesan yang selalu saya ingat dari Ibu saya adalah “Sebanyak, sebagus, secanggih dan semahal apapun hal yang orang lain miliki, milik kita tetap yang terbaik. Kita harus menyukuri apa yang kita punya. Tidak peduli barang tersebut kalah bagus, kalah canggih atau kalah mahal.” Awalnya—saat masih SD—saya berpikir ini cara Ibu agar saya dan kakak-kakak saya tidak membiasakan diri untuk meminjam barang orang lain. Kami dibiasakan untuk menggunakan dan memanfaatkan apa yang ada. Ibu dan Papah sering sekali bilang “gunakan saja yang ada dulu”. Dulu pemahaman saya memang hanya sebatas itu; bahwa gunakan saja apa yang kita miliki, jangan membiasakan meminjam barang orang lain (apalagi uang) kecuali benar-benar diperlukan. Ini adalah cara investasi yang pertama: memanfaatkan apa yang telah kita miliki, bukan sibuk mengharapkan yang tidak kita miliki
Semakin dewasa, semakin banyak orang yang saya temui dan kondisi yang saya alami, saya memahami lebih luas lagi tentang hal ini. Pesan Ibu saat itu adalah tentang menanamkan kebiasaan bersyukur kepada anak-anaknya. Ibu ingin anaknya selalu merasa bahagia dan bisa bertahan dalam kondisi apapun. Papah pun sama seperti Ibu. Kalimat pamungkas yang cukup sering Papah ucapkan kalau saya mulai meminta ini-itu adalah “Dedek itu harus bersyukur bisa hidup seperti ini, coba lihat ... (menyebutkan nama siapa saja yang relevan untuk dibandingkan)... boro-boro beli yang dedek minta, buat sekolah saja Ibunya harus minjem kesana-kemari”. Ya. Saya tumbuh dan dididik sebagai anak yang tidak dengan mudah mendapatkan apa yang saya inginkan. Setidaknya itu yang saya rasakan. Tapi ini tidak berlaku untuk kepentingan sekolah atau yang berhubungan dengan kegiatan belajar di luar sekolah. Andaikata saya butuh satu judul buku untuk sekolah, pasti saya dapat paling tidak dua atau tiga buku di samping buku yang saya perlukan. Andaikata saya butuh crayon untuk menggambar, bisa dikatakan saya memiliki crayon yang masuk 10 besar kategori crayon yang memiliki warna terlengkap di sekolah, bahkan crayon saya dulu ada rautannya! Hahaha...
Berbeda dengan barang-barang penunjang belajar, dulu, saya baru dibelikan sepeda setelah saya jatuh bangun dengan sepeda wimcycle kakak pertama saya yang sudah di-“lengser” dua kali. Saking reyotnya, saya tidak berpikir dua kali untuk melempar anjing liar yang mengejar saya dengan itu sepeda! (jangan terlalu kaget dengan kemampuan saya, mungkin ini definisi “the power of kepepet” karena saya terlalu kaget melihat dua anjing mengejar saya di belakang, refleks saya turun dari sepeda dan kemudian melempar sepeda saya setinggi mungkin ke angkasa berharap si anjing bisa terkesima dengan atraksi saya, dan saya langsung berlari sekuat tenaga—itu yang ada di pikiran saya saat itu, dan ternyata BERHASIL!! - Annisa Rahmah, 6 tahun-)
Ketika tidak ada harapan untuk mempunyai sepeda kece selain tetap setia dengan sepeda wimcycle merah yang makin reot karena saya lempar untuk tipu-tipu anjing, disaat itulah Papah tiba-tiba membelikan sepeda Olympic Gold untuk saya pergi bersekolah—walau besoknya saya jatoh dan pedalnya patah sebelah, terus besoknya saya jatuh lagi, terus beret sana-sini (“-__-)
Papah hampir selalu seperti itu, beliau baru memberikan sesuatu ketika memang sudah dianggap sangat perlu. Dulu saya agak protes dengan perlakuan seperti ini, tapi semakin dewasa, saya bersyukur Papah mendidik dengan cara yang membuat saya paham bahwa tidak semua yang kita inginkan dapat dimiliki dengan cara yang mudah. Dan karena tidak selalu mudah kita mendapatkan sesuatu, kita jadi lebih menghargai dan lebih menjaga barang tersebut. Dan ini cara investasi yang kedua; menghargai apapun yang kita miliki.
Dan cara ketiga ini mungkin menjadi cara yang cukup ampuh dan sudah banyak yang membuktikan.
Ibu sering bercerita tentang kehidupan di awal menikah dengan Papah. Kehidupan yang bisa dibilang cukup berkekurangan. Ada waktu di mana Ibu harus putar otak karena tidak ada uang untuk membeli susu (saat kakak pertama saya masih bayi). Atau saat Ibu harus membeli perlengkapan bayi dan lagi-lagi uangnya tidak cukup. Tapi kemudian, di akhir cerita Ibu pasti mengatakan ini “Eh tapi tau ga, Dek?! Ajaibnya, setiap Ibu butuh apa-apa ya kok pas kebetulan ada orang yang dateng ngasih barang yang Ibu perlu itu!! (dengan nada takjub)” .
“Pas Mba Arum—kakak pertama saya—kehabisan susu, Bos ibu dateng bawain susu! Dan ajaibnya lagi, mereknya sama dengan susu yang biasa Mba Arum minum! Emang ya, kita tuh ga boleh sekalipun menyangsikan pertolongan Allah! Ibu tuh mikir ya Dek, kok Allah baik banget sama Ibu,,, tapi kalau Ibu sih yakinnya begini Dek, kalau kita baik sama orang lain, Allah juga bakal baik sama kita. Itu ada di Alqur’an. Makin-makin kesini Ibu mikir lagi, Dek, sebenernya tabungan kita yang sesungguhnya itu bukan uang yang kita simpen! Tapi uang yang kita keluarkan untuk sedekah atau membantu orang lain!”
Yap! Itu cara investasi ketiga: (Keyakinan ibu saya dan saya pun mulai meyakini) Bahwa tabungan yang sesungguhnya bukanlah uang yang kita simpan di bank atau celengan, tapi justru uang yang kita sedekahkan dan kita berikan untuk menolong orang lain dalam hal kebaikan. Dan percaya saja, uang itu yang nantinya akan menolong kita di saat kita memang benar-benar membutuhkannya.

Narasumbernya adalah Ibu dan sedikit pelengkap dari Papah.
Saya tiba-tiba ingin menulis perbincangan saya dengan ibu yang tanpa ibu sadari sudah di ceritakan berulang kali. Kalau Ibu sudah bercerita—walau hal itu sudah diceritakan kepada saya beberapa kali—saya memilih untuk tetap mendengarkan. Itu dikarenakan saya selalu senang melihat wajah dan mendengar intonasi suara Ibu yang sungguh-sungguh. Mengingat saat ini saya sedang mengambil studi Magister Hukum Bisnis, jadi kali ini akan saya ceritakan tentang investasi keuangan terbaik dalam hidup versi Ibu saya. Kita tidak akan membicarakan tentang pasar modal, saham, obligasi atau efek lainnya, tidak. Kita berbicara tentang keikhlasan dan kepercayaan. Itu saja

Pesan yang selalu saya ingat dari Ibu saya adalah “Sebanyak, sebagus, secanggih dan semahal apapun hal yang orang lain miliki, milik kita tetap yang terbaik. Kita harus menyukuri apa yang kita punya. Tidak peduli barang tersebut kalah bagus, kalah canggih atau kalah mahal.” Awalnya—saat masih SD—saya berpikir ini cara Ibu agar saya dan kakak-kakak saya tidak membiasakan diri untuk meminjam barang orang lain. Kami dibiasakan untuk menggunakan dan memanfaatkan apa yang ada. Ibu dan Papah sering sekali bilang “gunakan saja yang ada dulu”. Dulu pemahaman saya memang hanya sebatas itu; bahwa gunakan saja apa yang kita miliki, jangan membiasakan meminjam barang orang lain (apalagi uang) kecuali benar-benar diperlukan. Ini adalah cara investasi yang pertama: memanfaatkan apa yang telah kita miliki, bukan sibuk mengharapkan yang tidak kita miliki
Semakin dewasa, semakin banyak orang yang saya temui dan kondisi yang saya alami, saya memahami lebih luas lagi tentang hal ini. Pesan Ibu saat itu adalah tentang menanamkan kebiasaan bersyukur kepada anak-anaknya. Ibu ingin anaknya selalu merasa bahagia dan bisa bertahan dalam kondisi apapun. Papah pun sama seperti Ibu. Kalimat pamungkas yang cukup sering Papah ucapkan kalau saya mulai meminta ini-itu adalah “Dedek itu harus bersyukur bisa hidup seperti ini, coba lihat ... (menyebutkan nama siapa saja yang relevan untuk dibandingkan)... boro-boro beli yang dedek minta, buat sekolah saja Ibunya harus minjem kesana-kemari”. Ya. Saya tumbuh dan dididik sebagai anak yang tidak dengan mudah mendapatkan apa yang saya inginkan. Setidaknya itu yang saya rasakan. Tapi ini tidak berlaku untuk kepentingan sekolah atau yang berhubungan dengan kegiatan belajar di luar sekolah. Andaikata saya butuh satu judul buku untuk sekolah, pasti saya dapat paling tidak dua atau tiga buku di samping buku yang saya perlukan. Andaikata saya butuh crayon untuk menggambar, bisa dikatakan saya memiliki crayon yang masuk 10 besar kategori crayon yang memiliki warna terlengkap di sekolah, bahkan crayon saya dulu ada rautannya! Hahaha...
Berbeda dengan barang-barang penunjang belajar, dulu, saya baru dibelikan sepeda setelah saya jatuh bangun dengan sepeda wimcycle kakak pertama saya yang sudah di-“lengser” dua kali. Saking reyotnya, saya tidak berpikir dua kali untuk melempar anjing liar yang mengejar saya dengan itu sepeda! (jangan terlalu kaget dengan kemampuan saya, mungkin ini definisi “the power of kepepet” karena saya terlalu kaget melihat dua anjing mengejar saya di belakang, refleks saya turun dari sepeda dan kemudian melempar sepeda saya setinggi mungkin ke angkasa berharap si anjing bisa terkesima dengan atraksi saya, dan saya langsung berlari sekuat tenaga—itu yang ada di pikiran saya saat itu, dan ternyata BERHASIL!! - Annisa Rahmah, 6 tahun-)
Ketika tidak ada harapan untuk mempunyai sepeda kece selain tetap setia dengan sepeda wimcycle merah yang makin reot karena saya lempar untuk tipu-tipu anjing, disaat itulah Papah tiba-tiba membelikan sepeda Olympic Gold untuk saya pergi bersekolah—walau besoknya saya jatoh dan pedalnya patah sebelah, terus besoknya saya jatuh lagi, terus beret sana-sini (“-__-)
Papah hampir selalu seperti itu, beliau baru memberikan sesuatu ketika memang sudah dianggap sangat perlu. Dulu saya agak protes dengan perlakuan seperti ini, tapi semakin dewasa, saya bersyukur Papah mendidik dengan cara yang membuat saya paham bahwa tidak semua yang kita inginkan dapat dimiliki dengan cara yang mudah. Dan karena tidak selalu mudah kita mendapatkan sesuatu, kita jadi lebih menghargai dan lebih menjaga barang tersebut. Dan ini cara investasi yang kedua; menghargai apapun yang kita miliki.
Dan cara ketiga ini mungkin menjadi cara yang cukup ampuh dan sudah banyak yang membuktikan.
Ibu sering bercerita tentang kehidupan di awal menikah dengan Papah. Kehidupan yang bisa dibilang cukup berkekurangan. Ada waktu di mana Ibu harus putar otak karena tidak ada uang untuk membeli susu (saat kakak pertama saya masih bayi). Atau saat Ibu harus membeli perlengkapan bayi dan lagi-lagi uangnya tidak cukup. Tapi kemudian, di akhir cerita Ibu pasti mengatakan ini “Eh tapi tau ga, Dek?! Ajaibnya, setiap Ibu butuh apa-apa ya kok pas kebetulan ada orang yang dateng ngasih barang yang Ibu perlu itu!! (dengan nada takjub)” .
“Pas Mba Arum—kakak pertama saya—kehabisan susu, Bos ibu dateng bawain susu! Dan ajaibnya lagi, mereknya sama dengan susu yang biasa Mba Arum minum! Emang ya, kita tuh ga boleh sekalipun menyangsikan pertolongan Allah! Ibu tuh mikir ya Dek, kok Allah baik banget sama Ibu,,, tapi kalau Ibu sih yakinnya begini Dek, kalau kita baik sama orang lain, Allah juga bakal baik sama kita. Itu ada di Alqur’an. Makin-makin kesini Ibu mikir lagi, Dek, sebenernya tabungan kita yang sesungguhnya itu bukan uang yang kita simpen! Tapi uang yang kita keluarkan untuk sedekah atau membantu orang lain!”
Yap! Itu cara investasi ketiga: (Keyakinan ibu saya dan saya pun mulai meyakini) Bahwa tabungan yang sesungguhnya bukanlah uang yang kita simpan di bank atau celengan, tapi justru uang yang kita sedekahkan dan kita berikan untuk menolong orang lain dalam hal kebaikan. Dan percaya saja, uang itu yang nantinya akan menolong kita di saat kita memang benar-benar membutuhkannya.

Wednesday, May 29, 2013
"MENGGENAPI"
Rabu, 29 Mei 2012

Hari ini, ada kejadian beberapa detik yang membuat saya berpikir cukup lama.
Sebuah pemandangan sepasang buta yang berjalan beriringan di pinggiran jalan di tengah siang yang terik.
Pemandangan itu hadir begitu saja di depan mata ketika saya memarkirkan mobil saya. Awalnya perhatian saya berfokus akan kekhawatiran saya jikalau sepasang buta tadi menabrak mobil saya yang terparkir. Bukan karena takut mobil saya lecet, sama sekali bukan. Tapi jelas mobil saya mengganggu jalan sepasang buta ini.Bagaimana kalau mereka terjatuh atau mungkin kesulitan mencari jalan karena terhalan sebuah mobil.
Semakin mendekat sepasang buta tadi ke arah mobil saya. Saya memutuskan untuk turun dan berniat untuk mengarahkan sepasang buta tadi, yang umurnya sudah terbilang tua. Tapi... sebelum saya turun, ternyata tongkat si Bapak sudah menyentuh mobil saya. Tampak mereka sedikit keingungan mencari "celah" jalan, dan entah mengapa, saya hanya terdiam memerhatikan.
"Pelan-pelan Pak, sepertinya ada mobil" ujar (yang kemungkinan besar)istrinya--yang juga buta
"Iya, Bu! sebentar ya... Ibu di belakang Bapak saja, jangan terlalu pinggir, kendaraannya banyak"
Perlahan demi perlahan si Bapak berjalan sambil meraba badan mobil saya. tangan kirinya meraba mobil, dan tangan kananya memegang tangan istrinya.
Saya hanya beridiri terdiam. Memerhatikan, dan memastikan mereka tidak diserempet oleh kendaraan yang lalu-lalang.
Beberapa detik kemudian mereka hilang dari tatapan saya.
Tapi dialog singkat yang keluar dari mulut mereka membuat saya tidak henti-hentinya berpikir...
Rasanya, tidak ada yang harus dipinta ketika kita telah menemukan seseorang yang menggenapi hidup kita. Dan hari ini saya sadar, bahwa arti "menggenapi" tidak selamanya berarti pasangan kita bisa menutupi kekurang yang kita miliki atau sebaliknya. Sepasang buta tadi membuat saya belajar, bahwa "menggenapi" juga berarti saling menguatkan, saling menjaga, saling percaya bahkan di dalam keadaan yang sama-sama berkekurangan.
Saat kita lemah, sesungguhnya yang kita butuhkan bukanlah orang yang kuat. Tetapi orang yang mampu menguatkan.
Saat kita jatuh, sesungguhnya yang kita butuhkan bukanlah orang yang mampu memapah atau menggendong kita. Tetapi orang yang mampu meyakinkan kita bahwa kita bisa melanjutkan perjalan.
saat kita tidak tahu, sesungguhnya yang kita butuhkan bukanlah orang yang serba tahu. Akan tetapi orang yang mampu mengarahkan kita pada jawaban.

Karena, siang ini, saya mulai paham; bahwasanya "menggenapi" bukan tentang memberi isi ke dalam wadah yang kosong. Tapi mungkin, "menggenapi" tentang memberikan makna tersendiri bahkan untuk sebuah wadah yang tak berisi apa-apa.
Bukankah Tuhan memang selalu seperti itu? memberikan makna dan kebijaksanaan tersendiri pada semua hal yang ada di bumi ini. Karena tidak ada hal yang tidak bermakna di bumi ini, mungkin yang ada adalah hal lupa kita maknai...

Hari ini, ada kejadian beberapa detik yang membuat saya berpikir cukup lama.
Sebuah pemandangan sepasang buta yang berjalan beriringan di pinggiran jalan di tengah siang yang terik.
Pemandangan itu hadir begitu saja di depan mata ketika saya memarkirkan mobil saya. Awalnya perhatian saya berfokus akan kekhawatiran saya jikalau sepasang buta tadi menabrak mobil saya yang terparkir. Bukan karena takut mobil saya lecet, sama sekali bukan. Tapi jelas mobil saya mengganggu jalan sepasang buta ini.Bagaimana kalau mereka terjatuh atau mungkin kesulitan mencari jalan karena terhalan sebuah mobil.
Semakin mendekat sepasang buta tadi ke arah mobil saya. Saya memutuskan untuk turun dan berniat untuk mengarahkan sepasang buta tadi, yang umurnya sudah terbilang tua. Tapi... sebelum saya turun, ternyata tongkat si Bapak sudah menyentuh mobil saya. Tampak mereka sedikit keingungan mencari "celah" jalan, dan entah mengapa, saya hanya terdiam memerhatikan.
"Pelan-pelan Pak, sepertinya ada mobil" ujar (yang kemungkinan besar)istrinya--yang juga buta
"Iya, Bu! sebentar ya... Ibu di belakang Bapak saja, jangan terlalu pinggir, kendaraannya banyak"
Perlahan demi perlahan si Bapak berjalan sambil meraba badan mobil saya. tangan kirinya meraba mobil, dan tangan kananya memegang tangan istrinya.
Saya hanya beridiri terdiam. Memerhatikan, dan memastikan mereka tidak diserempet oleh kendaraan yang lalu-lalang.
Beberapa detik kemudian mereka hilang dari tatapan saya.
Tapi dialog singkat yang keluar dari mulut mereka membuat saya tidak henti-hentinya berpikir...
Rasanya, tidak ada yang harus dipinta ketika kita telah menemukan seseorang yang menggenapi hidup kita. Dan hari ini saya sadar, bahwa arti "menggenapi" tidak selamanya berarti pasangan kita bisa menutupi kekurang yang kita miliki atau sebaliknya. Sepasang buta tadi membuat saya belajar, bahwa "menggenapi" juga berarti saling menguatkan, saling menjaga, saling percaya bahkan di dalam keadaan yang sama-sama berkekurangan.
Saat kita lemah, sesungguhnya yang kita butuhkan bukanlah orang yang kuat. Tetapi orang yang mampu menguatkan.
Saat kita jatuh, sesungguhnya yang kita butuhkan bukanlah orang yang mampu memapah atau menggendong kita. Tetapi orang yang mampu meyakinkan kita bahwa kita bisa melanjutkan perjalan.
saat kita tidak tahu, sesungguhnya yang kita butuhkan bukanlah orang yang serba tahu. Akan tetapi orang yang mampu mengarahkan kita pada jawaban.

Karena, siang ini, saya mulai paham; bahwasanya "menggenapi" bukan tentang memberi isi ke dalam wadah yang kosong. Tapi mungkin, "menggenapi" tentang memberikan makna tersendiri bahkan untuk sebuah wadah yang tak berisi apa-apa.
Bukankah Tuhan memang selalu seperti itu? memberikan makna dan kebijaksanaan tersendiri pada semua hal yang ada di bumi ini. Karena tidak ada hal yang tidak bermakna di bumi ini, mungkin yang ada adalah hal lupa kita maknai...
Wednesday, April 10, 2013
Tidak Selalu Tahu

Kita tidak pernah tahu kemana pada akhirnya kita memutuskan kaki kita untuk melangkah. Kepada siapa hati kita untuk mencintai. Atau ditempat seperti apa kita akan menghabiskan sisa waktu kita di bumi ini.
Manusia punya kebebasan untuk merencanakan kehidupan yang terindah untuk dirinya. Tapi Tuhan punya kekuasaan untuk menentukan kehidupan yan terbaik untuk umatNya. Jadi jangan takut. Jangan takut tersesat. Jangan takut dengan gelap yang sementara atau kesepian yang hanya sesaat.
Jangan takut dengan perasaan ‘tertinggal’. Karena Tuhan selalu setia berjalan beriringan bersama umat yang percaya kehadiranNya. Jangan takut untuk merasa lelah. Jangan menyerah hanya karena sedikit luka dan beban yang kau rasa membuat hidupmu payah. Jangan.
Karena saat kau memilih untuk tetap berjalan dengan luka-luka itu, kau sedang memilih untuk menjadi satu dari sekian banyak manusia yang berproses menjadi kuat.
Di suatu saat ketika kau sungguh merasa sekarat, maka beristirahatlah dalam gelap. Cobalah untuk menyapa dirimu sendiri. Akuilah kelelahan yang kau punya. Gunakan air mata yang Tuhan bekalkan untuk menghapus sedihmu. Lalu berjalanlah lagi sesuai apa yang hatimu katakan. Percayalah, kaulah yang terbaik untuk kehidupanmu sendiri.
Hidup tidak akan berakhir hanya karena satu atau dua masalah yang datang.
Hidup tidak akan berhenti hanya karena satu atau dua orang yang peri meninggalkanmu. Tidak.
Hidupmu akan terus berjalan selama kau masih menginginkannya.
Hidupmu akan terus berjalan selama kau masih memperjuangkannya.
Hidupmu akan terus berjalan selama kau masih mau menerimanya sebagai berkah yang tidak semua mahkluk dapatkan.
Saya belum pernah bertemu dengan Tuhan. Belum pernah melihat Tuhan. Belum pernah mengobrol langsung bersama Tuhan.
Tapi saya percaya Tuhan tidak akan terlalu iseng untuk menciptakan manusia tanpa misi kehidupan. Tuhan menciptakan mahkluk satu dengan mahkluk lainnya, manusia satu dengan manusia lainnya tidak lain untuk saling mengenal dan memahami. Kita tidak pernah tau, sangat mungkin seorang manusia yang merasa tidak berarti tanpa ia sadari mampu menginspirasi manusia lain. Kita tidak pernah tau, saat kita menangis dan mengaku sebagai manusia terbodoh, ada manusia lain yang belajar dari kehidupan kita.
Kita tidak selalu tau dan sadar tentang ini, teman...
Kita tidak selalu tahu betapa berharganya hidup yang kita miliki...
Kita tidak selalu tahu bagaimana merasa bersyukur dan terberkati...
Kita tidak selalu tahu tentang hal-hal ini,
Terkadang saya pun begitu...
Friday, April 5, 2013
JATUH-CINTA, PATAH-HATI
.jpg)
Malam ini saya berpikir, mungkin benar bahwa cinta (sesungguhnya) milik manusia yang sunguh-sungguh mencintai. Manusia yang sungguh-sungguh akan bersedih ketika cintanya pergi dengan seribu alasan atau mungkin tanpa alasan sama sekali...
Siapa yang belum pernah merasakan jatuh cinta? Mungkin untuk manusia seumuran saya, pertanyaan tadi hanya sejenis retorika yang tidak perlu dijawab. Tapi ketika pertanyaan saya ubah menjadi, Siapa yang belum pernah merasakan patah hati? Mungkin ada satu, dua atau tiga manusia yang menyebut namanya, termasuk saya sendiri.
Entahlah, menjadi manusia yang tidak pernah merasakan patah hati sebenarnya bukan sebuah prestasi hidup yang cukup bisa dibanggakan (tapi cukup bisa untuk disyukuri ;p ) menurut saya. Bukan saya ingin merasakan patah hati. Tapi mungkin, setiap manusia perlu tahu tentang patah hati itu sendiri. Bukan untuk dirinya sendiri, tapi untuk menjadi penguat ketika orang terdekat kita mengalami patah hati. Untuk melahirkan empati atau simpati bagi mereka yang sedang patah hati.
Sempat saya pernah merasa sangat begitu arogan atas perasaan seseorang. Tumbuh dengan doktrin menjadi wanita yang mandiri, saya tidak terlalu sering menggantungkan kehidupan saya dengan banyak orang. Terbiasa menyembuhkan rasa lelah sendiri. Terbiasa menghilangkan rasa takut sendiri. Terbiasa untuk mengahapus rasa lemah dengan mendoktrin diri bahwa saya bisa mengerjakan semuanya sendiri. Saya tumbuh dengan rasa kepekaan yang (mungkin) tidak seharusnya. Saya tidak terlalu suka dengan adegan dramatikal dimana wanita menangis-nangis karena ditinggal lelakinya, atau sebaliknya, laki-laki yang harus mengemis-ngemis cinta wanita yang sesungguhnya tidak terlalu pantas untuk diperjuangkan. Saya terbiasa dengan putaran hidup saya yang menurut teman-teman saya terlalu logis dan kadang tidak berperasaan. Iya.. tidak berperasaan...
Kejadian ini akan selalu saya ingat, saya camkan, dan saya pahami sebagai pelajaran hidup.
Sekitar tiga tahun yang lalu, sahabat saya patah hati untuk kesekian kalinya oleh lelaki yang sama. Saat itu, di patah-hati-nya yang kedua, kemudian dia jadian untuk ketiga kalinya (lagi) dengan-laki-laki-yang-sama, saya berucap “besok-besok kalau lo balikan lagi sama dia, terus lo nangis kaya gini, please jangan cari gue. Dari awal gue udah peringatin lo. Gue ga mau maksa apapun keputusan lo, gue yakin lo dah cukup dewasa untuk mengambil langkah. Tapi itu tadi... kalau dia nyakitin lo kaya kemaren-kemaren,, lo jangan hubungin gue”.
Tidak sampai sebulan, sahabat saya kembali patah hati untuk ketigakalinya. Dan bisa ditebak, yang saya lakukan adalah menghindar. Menjauh. Bukan karena tidak peduli, tapi saya menghindari hal buruk yang mungkin saya ucapkan kepada dia yang kondisinya sedang labil. Melihat tingkah depresi sahabat saya, dan kondisi saya yang “terlihat” acuh dan menjauh, sahabat saya yang lain mengajak saya berbicara.. kurang lebih pembicaraannya seperti ini...
Sahabat 1 : Lo kenapa ngejauh sih, Sa? Bukannya lo paling deket sama dia?
Saya : Gue udah peringatin dia dari awal enggak sekali-dua kali, berkali-kali, jadi biar dia belajar untuk bertanggungjawab dengan dirinya sendiri. Bertanggungjawab sama pilihannya sendiri.
Sahabat 2 : Tapi dia butuh support kita semua... kondisinya sekarang lebih parah dari yang kemarin-kemarin..
Saya : Kan ada lo berdua.
Sahabat 2 : Sa,,, lo ga bisa gitu...
Saya : Gue Cuma mau dia sadar! Dia udah dewasa! Harusnya bisa memprioritaskan mana masalah yang penting dan yang kurang penting!
Sahabat 1 : Kurang penting? Maksud lo?
Saya : Ya liat aja,,, ngapain juga harus nangisin cowok enggak penting kaya si itu!!
Sahabat 1 : Cowok itu memang enggak penting buat elo, enggak penting buat kita!! Tapi bukan berarti cowok itu enggak penting juga buat sahabat kita!! Kita enggak pernah tahu seberapa besar perasaan yang sahabat kita punya untuk cowok itu!! Lo enggak boleh egois dengan segala pemikiran lo, Sa!
Saat itu,,,
saya diam.
Saya akui bahwa apa yang dikatakan sahabat saya benar. Kita tidak pernah tahu seberapa besar rasa bahagia dan harapan yang dimiliki seseorang yang sedang jatuh cinta. Kita tidak pernah tahu seberapa besar mimpi dan janji yang menghiasi kepala-kepala mereka yang sedang mabuk asmara. Dan kemudian... kita tidak pernah tahu seberapa dalam luka yang tertinggal di hati mereka yang sedang patah hati. Ketika cinta yang membuncah-buncah tadi, harapan yang mengawang-ngawang indah pergi begitu saja tanpa permisi. Iya. Benar. Kita tidak akan pernah tahu seberapa perasaan yang disimpan oleh setiap insan ketika itu berkaitan dengan jalinan sayap cinta dan harapan. Lalu kemudian “patah” begitu saja.
Tidak ada panduan yang berlaku secara baku: bagaimana jatuh cinta yang benar; atau; bagaimana cara menghadapi patah hati yang tidak berlebihan. Tidak ada. Dan saya rasa tidak akan pernah ada. Karena sekarang saya paham, cinta datang dengan cara yang berbeda dan tidak sama antara manusia satu dengan manusia lainnya. Begitupun ketika kau merasa patah hati. Hati akan melepas ikhlas dengan jangka waktu yang berbeda ketika harapan cinta itu pecah berkeping-keping. Ditambah lagi kerja otak yang sulit diharmonisasikan dengan kondisi hati yang ingin segera melupakan kenangan-kenangan yang pernah ada.
Akan tetapi...
Lepas dari itu semua, bukankah Tuhan selalu punya rencana rahasia dibalik kehidupan manusia?
Hati itu dipilih, bukan memilih. Tak perlulah kita terlalu memaksakan diri untuk mencintai seseorang karena sebuah alasan yang diada-adakan.
Hati cukup dewasa untuk mencintai seseorang dengan “begitu saja”.
Hingga saatnya, kita bisa memahami bahwa jatuh cinta bisa kepada siapa saja. Kapan saja. Entah kapan. Entah dengan siapa. Tanpa perkiraan yang pasti, tanpa pendugaan yang jelas. Mengalir begitu saja.
Buat dirimu yang sedang jatuh cinta, sedang merasa cukup mampu menyanyangi dan disayangi, saya ucapkan selamat menikmati keindahan itu...
Buat dirimu yang terluka, lunglai karena separuh hati yang hilang,,,
Maka bertahanlah untuk tetap menguatkan diri terus melangkah menjauhi masa lalu itu.
Atas semua rasa bahagia dan rasa sakit itu, yakinlah Tuhan sedang “mengerjakan” sesuatu untuk kebaikan hidup kita.

Subscribe to:
Posts (Atom)



